2. Obrolan Ibu-Ibu

1188 Kata
"Limah, Uak belum sarapan. Kau bisa buatkan Uak nasi goreng?" tanya Uak Sanim sebelum Limah menyentuh Tahu Sumedang di atas meja makan. "Oh, Uak belum sarapan? Baiklah, saya buatkan nasi goreng untuk Uak," sahut Halimah. "Telurnya dua, ya. Satu dikocok campur nasi satu lagi didadar. Telurnya di kulkas." "Iya, Uak," sahut Halimah segera mengambil wajan dan mengeksekusi nasi goreng pesanan Uak Sanim. Sepanjang Halimah memasak. Uak Sanim tak melepaskan pandangannya dari tubuh Halimah. Ia membayangkan hal-hal yang menyenangkan bersama Halimah. "Limah, kenapa sampai sekarang kalian belum punya anak?" tanya Uak Sanim. "Allah belum berkenan memberi saya dan Bang Ruslan anak, Uak," jawab Halimah tetap fokus dengan wajan di depannya. "Kalian sudah periksa kesuburan?" tanya Uak Sanim lagi. "Sudah, Uak. Tidak ada masalah apa-apa di antara kami. Kata Dokter, Bang Ruslan hanya terlalu lelah bekerja. Dokter menyarankan Bang Ruslan untuk cukup istirahat dan makan dengan asupan nutrisi yang seimbang," jelas Halimah sambil menuang kecap di atas nasi. "Ruslan seringkali kelelahan? Apa dia jarang memberimu nafkah batin?" tanya Uak Sanim penasaran. Halimah tertegun sesaat. Lalu kembali tersenyum. "Aduh, Uak. Bang Ruslan meski kelelahan, tetap kuat kalau memberi nafkah batin." Entah kenapa Halimah merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Uak Sanim. Uak Sanim mengelus-elus jenggot tipisnya. Saat ia sedang fokus membayangkan sesuatu tentang Halimah, Halimah berbalik dan memberikan sepiring nasi goreng pesanannya. "Ini, Uak. Nasi gorengnya sudah jadi, semoga rasanya enak." Halimah meletakkan piring nasi goreng di atas meja makan. "Kau sudah sarapan?" tanya Uak Sanim. "Belum, Uak. Tidak biasa makan pagi. Nanti sekitar jam sepuluh biasanya baru makan. Kalau begitu, Tahunya boleh saya bawa sekarang, Uak?" "Sebentar, Uak cicipi dulu nasi goreng buatanmu." Uak Sanim mulai menyendok nasi goreng. Mengunyahnya perlahan lalu memejamkan mata. "Enak sekali nasi gorengnya, Limah. Uak jadi ingin tiap pagi dibuatkan nasi goreng." Halimah tersenyum. "Alhamdulillah kalau nasi gorengnya enak. Habiskan, Uak. Saya permisi. Masih banyak yang harus saya kerjakan. Terima kasih banyak Tahunya, Uak." Halimah segera mengambil Tahu Sumedang di atas meja. Uak Sanim mau tak mau mengangguk dan membiarkan Halimah pulang. Ia tak punya alasan lagi untuk menahan Halimah di rumahnya. Di perjalanan pulang, Halimah berpapasan dengan Nenden. Ibu satu anak yang harus kehilangan suaminya karena sang suami memilih menikah lagi dengan daun muda di kampung sebelah. "Limah, kau dari mana?" tanya Nenden penuh selidik. Ia melirik keranjang Tahu Sumedang yang dibawa Halimah. "Dari rumah Uak Sanim ambil Tahu Sumedang," jawab Halimah. Raut muka Nenden berubah. "Kau itu jangan sering-sering datang ke rumah uakmu itu, Limah. Tidak baik, dia itu duda sementara kau sudah bersuami," ucap Nenden tak bisa menyembunyikan ekspresi kesalnya. Halimah heran. "Uak Sanim itu uaknya Bang Ruslan, Mbak. Lagipula, saya ke sana hanya sebentar mengambil oleh-oleh dari Sumedang. Itupun atas izin Bang Ruslan." "Aku hanya memberi saran, Limah. Sebaiknya kalau kau hendak ke rumah Uak Sanim, ajaklah suamimu itu jangan sendirian!" Nenden memalingkan wajah tak suka. "Iya, Mbak. Terima kasih sarannya. Mari, Mbak. Saya harus segera pulang, masih banyak kerjaan," pamit Halimah. Nenden tak menjawab. Ia mendelik melihat punggung Halimah dan Tahu Sumedang yang dibawanya. "Bisa-bisanya Sanim lupa memberi oleh-oleh untukku. Halimah itu masih ada suaminya jadi untuk apa dibawakan oleh-oleh. Aku yang jelas-jelas hidup sendiri ia lupakan!" Nenden menggerutu kesal dan berlalu dengan kaki di hentak-hentakkan. Sementara itu Halimah merasa aneh dengan sikap Nenden. Kenapa Nenden harus bersikap ketus seperti itu? Apa jangan-jangan Nenden cemburu? Halimah pernah mendengar jika Uak Sanim sedang menjalin hubungan asmara dengan Nenden. Tapi dibantah Uak Sanim saat Ruslan menanyakan kebenarannya. *** Sore hari di warung Ibu Sumi yang tak jauh dari rumah Halimah tampak ibu-ibu berdaster sedang melakukan rutinitas sore. Bergosip, mengasuh anak, menunggu penjual bakso lewat, menunggu penjual baju kredit atau menunggu kepulangan suaminya dari tempat kerja. Halimah pun berada di sana. Berkumpul dengan mereka. "Rin, apa suamimu sering minta tambah saat kau beri jatah malam?" celetuk Bu Joko. "Aduh, Bu Joko ini, ya. Memang kenapa?" sahut Rini malu-malu. "Kenapa wajahmu memerah? Dasar pengantin baru, masih malu-malu begitu. Sudah berapa lama kau menikah? Sudah dua minggu, kan? Bagaimana? Berapa lama suamimu main 'badminton'?" Bu Joko penasaran. "Semalam suamiku malah minta jatah tiga kali. Sudah aki-aki tapi masih kuat saja. Kadang aku lelah melayani suamiku terus-terusan," keluh Bu Sinta yang usianya sudah lima puluh tahun. Suaminya lebih tua dua puluh tahun. "Memang kau belum menopouse, Sin?" bisik Bu Joko "Tidak usah bisik-bisik, Bu Joko. Kita bisa dengar," timpal Rini dan disusul tawa yang lainnya. "Limah, berapa ronde suamimu kalau main?" Bu Joko penasaran melihat Halimah hanya senyum-senyum saja sejak tadi. Halimah tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya mantap. "Wah, Mantap betul si Ruslan, Limah!" Bu Joko tertawa. "Ini kenapa jadi membicarakan 'badminton', Bu Joko? Memangnya Pak Joko bawa mobil kemana lagi? Sudah satu minggu tidak pulang, ya!" tanya Atikah. Usianya masih dua puluh lima, seusia dengan Halimah. "Suamiku sedang mengantar barang ke Jawa sudah lima hari," jawab Bu Joko. Suaminya adalah seorang supir pabrik yang mengantar jemput barang produksi antar pulau Jawa. "Aku bingung dengan suamiku itu. Setiap pulang bawa mobil selalu minta jatah berkali-kali. Terbuat dari apa staminanya itu. Padahal aku tak pernah memberinya obat kuat," papar Bu Joko. "Wah, pantas saja Bu Joko menolak cinta Bang Sukri. Senjatanya Pak Joko tiada banding tiada tanding!" kata Bu Sinta. "Aku tak habis pikir dengan Sukri kenapa mengincar ibu-ibu sepertiku, sudah bersuami pula. Suamiku rajin memberiku nafkah lahir dan batin. Semua tercukupi. Tak mungkin aku berselingkuh dari Mas Joko." Bu Joko sedikit mengangkat dagunya. "Bu Joko meski sudah empat puluh lima tahun tapi badannya masih seperti perawan. Kencang dan padat berisi. Tak kalah montok dari Halimah," sahut Atikah. "Eh, ssstt. Ada Nenden. Kita ganti topik pembicaraan," tukas Bu Sinta yang melihat Nenden berjalan ke arah mereka. Halimah terdiam mendengar percakapan para tetangganya tentang betapa kuat dan perkasanya suami mereka. Halimah membayangkan Ruslan. Ruslan yang kuat dan perkasa bukan Ruslan yang sering terlihat letih dan tidak bertenaga. "Kau baru kelihatan, Nden. Pulang kampung atau kemana, nih?" tanya Weni sambil menyuapi balitanya. Ia sama dengan Halimah. Dari tadi hanya menyimak percakapan para tetangganya. "Oh, aku habis liburan!" sahut Nenden ikut duduk di sebelah Bu Joko. "Liburan kemana? Ke Sumedang bersama Uak Sanim, ya?" goda Atikah. "Bawa Tahu banyak pastinya. Tadi saja Halimah bawa sekeranjang besar Tahu Sumedang," timpal Weni. Sebelum Nenden menjawab terdengar teriakan penjual perabotan rumah tangga. "Panci, wajan, piring, gelas. Ayo, ibu-ibu, borong!" "Eh, Sarwan! Kau sudah sebulan baru muncul sekarang. Apa kau nikah lagi di kampung halaman?" teriak Bu Joko asal. Sarwan, sang penjual perabot menurunkan barang jualannya. "Ada yang rindu dengan saya rupanya," jawab Sarwan. "Limah, lihat badan si Sarwan, lama tak terlihat lengannya semakin kekar, ya. Pasti otot-ototnya kuat sekali," bisik Bu Joko, kali ini bisikkannya benar-benar pelan. Halimah tercekat melihat tubuh kekar Sarwan yang mengenakan kaos ketat. Lengan Sarwan yang sedikit berkeringat tampak semakin 'kuat' di mata Halimah. Sesaat Halimah terpana lalu cepat-cepat mengucap istighfar dalam hati. Ia lalu ingat Ruslan. "Bu Joko, saya pulang dulu, ya. Sepertinya saya lupa mengunci pintu rumah." Halimah cepat-cepat menuju rumahnya tanpa menunggu jawaban Bu Joko. Ia tak ingin pikirannya dipenuhi hal-hal aneh karena melihat betapa kuatnya Sarwan dilihat dari badannya yang kekar. Halimah menepuk-nepuk kepalanya agar bayangan-bayangan aneh di kepalanya segera menyingkir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN