Saingat berat yang menghujat

1159 Kata
Sepertinya mimpi yang tak di ketahui maknanya itu, akan ia umbar pada Ye Jun, lalu meminta pendapat padanya. Baginya, pertanyaan yang tepat itu, dari sisi mana kita ambil kesimpulannya? Apakah tindakan Hana sudah tepat atau salah. Semacam pria bertubuh atletis, yang kadang memamerkan ketampanannya pada siswanya itu, memiliki semacam pengetahuan untuk membaca kalimat mimpi. Ia menyipitkan mata, seolah sedang meraba. Ia pegang dagunya, seakan-akan ia memang peramal yang menerawang keluh pasiennya. Ia tanya dengan penuh jujur, “Apakah di dalam mimpimu ada semacam hewan yang berusaha mendekatimu?” “Oh... Ya, benar. Kupu-kupu indah datang hinggap di pundakku,” seru Hana tambah penasaran jawaban apa yang di berikan Ye Jun. Belum selesai Hana menjelaskan peran Kupu-kupu itu di dalam mimpinya, Ye Jun sudah menebaknya. “Untung, kau tidak mengikuti arahannya!” “Kenapa?” tanya Hana setengah kaget. “Mimpi adalah kebalikannya dunia nyata, jika kau bertemu dengan hewan yang menurutmu indah, berarti ia adalah sosok negatif. Begitu sebaliknya.” “Seperti itu membaca mimpi?” Siang datang menggantikan keheningan pagi, dan telah berdenting jam istirahat yang sudah di Tunggu-tunggu. Biasanya jam istirahat seperti ini, para siswa berpencar sesuai kelompok mereka. Namun bagi kelompok yang mengatakan diri mereka Geng “Siput”, selalu hinggap di kantin pada jam istirahat. Mereka berjumlah lima, sudah cukup untuk ukuran kelompok yang paling lengkap isinya. Dua wanita sisanya pria. Paling lengkap, karena masing-masing mereka memiliki peran yang berbeda-beda. Setiap kepala menguasai dua materi pelajaran sekolah, dari itu mereka bisa bekerja sama jika ada tugas yang sulit dan mudah di kerjakan. Secara diam-diam, setahun lalu mereka di kumpulkan oleh Hana di kantin sekolah, dan Hana lah yang membentuk kelompok dan nama Geng mereka. Ketika pergi ke kantin, Hana sama sekali tak membunyikan langkah sepatunya agar mereka tak mengetahuinya, ia ingin mengejutkan mereka di kediaman mereka yaitu di kantin paling pojok kiri sekolah. Ia juga berharap telinganya mendengar cerita tentang dirinya dari Bibir-bibir anak didiknya, yang kemudian mereka memiliki separuh niat menjenguknya ke Rumah Sakit. Namun Hana lupa, ia telah memakai parfum khasnya ketika di perjalanan berangkat sekolah tadi, maka dari itu menjadi penanda utama bagi kelompok “Siput” berlendir itu. Tetapi yang pertama peka diantara mereka adalah seorang siswi yang memiliki dandanan agak tomboi, yang fasih di bidang Matematika dan Fisika. Penciumannya setajam rubah, hingga ia tahu Hana berada di sekitar mereka. “Aku mencium wangi Ibu Hana?” serunya. Akhirnya kelimanya mengendus-endus dengan mata yang menoleh-noleh mencari sosok dari arah wangi itu. Dari mereka agak ragu bahwa itu wangi Ibu Hana, sebab dalam wangi itu, semacam ada campuran bau bunga lotus, sedangkan wangi parfum Hana sama sekali tidak memiliki campuran bau itu. “Tidak, aku yakin ini wangi parfum Ibu Hana!” sanggah wanita tomboi itu. Sampai-sampai mereka bertaruh, antara benar atau salah wangi parfum itu adalah wangi parfum guru kesayangan mereka? Empat dari mereka memilih “Salah”, sebab mereka mengacu pada kondisi Hana yang masih tergeletak di Rumah Sakit. Satunya, si tomboi dengan daya ingatan kuat dan keyakinan kuat pula, akhirnya sendiri memilih bertahan. Jika tujuh menit mendatang Ibu Hana tidak di temui, maka si tomboi akan mentraktir keempat temannya. Lima detik berakhir, wangi itu masih menyengat dengan rupa yang tidak di ketahui siapa penggunanya. Tidak mungkin parfum itu berasal dari pria yang sangat gendut di belakang mereka, karena dia satu-satunya yang terdekat. Tetapi walaupun begitu, dan keempat temannya berulang kali memudarkan keyakinannya, si tomboi masih konsisten dalam keyakinannya. Meski agak Deg-degan di enam detik waktu berlanjut, si tomboi masih meyakininya. Ia tutup matanya sambil berdoa di detik ke tujuh yang tak memiliki tanda-tanda Hana ada di sekitar mereka. “Waktu habis,” seru dari mereka. “Kamu kalah... Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?” Si tomboi bangkit dari duduknya, ia bertanggung jawab akan kekalahannya. Lalu melangkah membelikan menu makanan yang biasa temannya santap pada siang hari. “Payah, aku benar-benar payah. Baru kali ini penciumanku salah.” Biasanya si tomboi hanya mencium zat kimia ketika praktik, sudah ia tahu nama dan jenis zatnya. Namun hal sepele seperti ini, ia salah dan apalagi kalah. “Benar-benar payah,” ucapnya lagi, hingga kasir kantin itu merasa ia lah di katakan payah olehnya. Ketika ia berbalik arah menuju meja tempat duduk mereka, sambil membawa jejeran makanan di nampan steinless. Perasaan kesalnya bertambah ketika seorang pria bertopi menduduki kursi di lingkaran kelompoknya. Sepertinya pria itu sedang menceramahi teman-temannya hingga mereka menatapnya serius. Namun ada yang mengganjal di lubuknya ketika ia tertatap ke sepatu yang di kenakan pria itu. Ia senyum dan sangat lega, berarti yang memenangkan tebakan tersebut adalah dia, sebab dia yakin bahwa pria yang dia anggap itu adalah Ibu Hana. Rasanya seperti ia telah lama menanti dan akhirnya menemukan yang telah ia nanti, ketika ia mengetahui pria yang bersembunyi di balik topi itu adalah Hana, sang guru kesayangannya. Ia memeluknya erat, dengan segala bentuk rupa kalimat haru dan bahagia ia ucapkan. Ia benar-benar tak percaya, guru dengan rumor yang beredar sampai di telinganya itu, telah krisis tanpa di ketahui mati atau koma selamanya, sekarang ada di depannya. Tanpa kehilangan satu bagian dari tubuhnya. “Memang Ibu sembunyi dimana?” tanyanya penasaran yang menyatu dengan rasa bangga atas dirinya, karena ternyata penciumannya tak melesat seperti biasanya. “Di depan pria gendut itu,” jawab Hana. Bau bunga lotus yang mereka cium itu, ternyata bau parfum pria gendut, jadi bau parfumnya menyatu dengan bau parfum Hana. “Oh... Pantas saja.” Selang setengah jam mereka mengobrol dengan girang, datang cewek bertubuh sexi mendekati, seakan-akan ia memamerkan bibir merah merekah dan dadanya yang agak kencang. Rupanya ia agak sinis dengan Hana, terlihat dari mimik wajahnya. “Kita kira kamu sudah tiada? Makanya aku baru saja memesan karangan bunga ucapan selamat tinggal buatmu,” ucap guru kimia itu pada Hana. “Buktinya aku masih kau lihat,” sanggah Hana tanpa menatap wajahnya. Ternyata selama ini mereka terdengar bersaing merebutkan pria yang sama, yaitu guru olahraga, Ye Jun. Padahal bagi Hana, Ye Jun bagai kepompong yang selalu dan akan tetap menjadi temannya. Tanpa lebih. Memang cewek bermake-up tebal itulah yang menganggap Hana adalah saingan beratnya dalam merebut Ye Jun. Ia pun mulai emosi ketika Hana menyanggah perkataannya, lalu menghujat Hana sejadi-jadinya, “Dengarkan aku wanita jalang... Apa kamu tidak paham tunanganmu tewas akibat kelakuanmu? Aku yakin saat perjalanan kerjanya, ia termenung memikirkan perkataanmu yang sombong. Hingga ia kehilangan konsentrasi lalu menabrak pembatas jembatan dan masuk ke sungai. Apa kamu tidak sadar akan hal itu? Pikirkan dengan angka yang selalu membalut pikiranmu!” kemudian ia pergi tanpa sehelai kata pamit, suara sepatunya menggerutu di lantai kantin. Hana yang perasa mulai memikirkan perkataan tadi. Sepertinya, memang benar apa yang di katakan guru kimia itu, ia terlalu mengekang tunangannya hingga kecelakaan maut menimpanya. Pikirannya mulai liar kembali, kisah lalu tentang janji “Sehidup Semati” itu kembali memenuhi ruang kosong kepalanya, tentang kenangannya. Mungkinkah Hana mampu membendung kesedihan dan pedih yang muncul kembali dalam pikirannya, atau malah terjerumus pada kesesatan yang sebelumnya ia lakukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN