Jodoh Untuk Hana

1117 Kata
Tak lama Ye Jun tinggalkan Rumah Sakit Nanuri, jari telunjuk kiri dan kening Hana pun bergerak-gerak. Barangkali ini adalah mukjizat baginya. Bagaimana tidak, selama enam bulan ia terbaring kaku bahkan hampir mati di ranjang empuk apartemennya, dan jawaban kehidupannya kembali terlihat setelah sekitar tiga jam lebih ia berada dalam masa perawatan medis.  Tak mungkin ini bisa di ceritakan lewat perasaan kata, bahwa memang Hana mengalami mimpi yang sulit di katakan sebagai mimpi buruk atau indah. Di dalam mimpi itu, ia berdiri di antara bunga-bunga indah bermekaran, kemudian seekor kupu-kupu hinggap di pundaknya. Ia seakan berbisik pada Hana bahwa di balik pohon rimbun di depannya itu, ada pria yang tak jelas wajahnya. Ia bercahaya bagai makhluk yang tak pernah ada di dunia manusia.  Namun bisikan kupu-kupu mungil itu tak memiliki arti bagi Hana. Ia tak menjawab sama sekali, bahkan tak memiliki sedikit penasaran pada pria yang di ceritakan kupu-kupu itu. Seakan ia dituntun nalurinya agar berbalik kemudian pergi ke salah satu muara yang berada di belakangnya.  Tetapi yang jelas, Hana tidak berada di surga, apalagi neraka. Namun di suatu tempat yang sulit di jelaskan. Kupu-kupu itu kembali menepi ke dahan pohon di tepinya. Ia seakan menghentikan langkah Hana terlalu mendekati muara. Entah apa alasannya.  Lalu terdengar teriakan seorang misterius di belakang Hana. Saat ia menoleh dengan muka datar, ternyata memang benar yang di katakan kupu-kupu itu, suara itu berasal dari seorang yang sangat bercahaya. Wajahnya tak jelas, sangat buram.  “Hentikan,” ia ucapkan sekali lagi pada Hana. “Biarkan aku menunjukkan mu suatu kehidupan. Pergilah ke sisi gelap itu, berdiam disana sampai hujan turun dan embun membasahi lumut-lumut di sekitar tanah,” serunya kembali pada Hana.  Tak tahu kenapa, kakinya sulit ia gerakkan. Bahkan sangat kaku dan berat, seolah-olah kakinya telah mengakar di tepi muara itu. Hana pun mengulurkan tangannya, tanpa kata ia mengatakan “Tolong” lewat ekspresi wajahnya pada seorang misterius itu.  Hingga ia mengerak-gerakkan tubuhnya bagai memberontak, tapi tak kunjung bisa. Sekali lagi, ia paksakan hati yang terbelenggu dan akhirnya ia bisa mengatakan “Tolong...,” dengan lantang-penuh tangisan ketakutan.  Keluarga Hana kaget dalam pejaman istirahat mereka. Mereka kaget oleh teriakan mimpi Hana yang telah beralih ke dunia nyata. Kaget mereka bukan kaget biasa, sampai-sampai Papa Hana berdiri sambil mengeluarkan sedikit gerakan kungfunya. Dan untung saja sakit jantung mamanya tak kambuh juga.  Mata Hana terbuka melotot, dengan beberapa butir air mata di pipinya, nafasnya sengal tak terkendali bagai selesai lari, jari tangannya mengepal kain kasurnya dengan erat. Apa yang sedang terjadi dengan Hana? Ia bagai mayat yang kembali hidup ke dunia. Tatapannya masih kosong, hingga dasar yang tak ia pahami, mengapa ia kembali ke kehidupan yang tak ia inginkan ini.  “Kau kenapa Nak...?” ucap Bibinya sambil Mengelus-elus kepalanya. Tangis haru terlahir di mata Bibinya, ia tak percaya anak yang semata wayang yang ia cinta, telah sadarkan diri. Lebih-lebih Pamannya bersyukur, perawatan Hana hanya memakan tiga jam, itu artinya mereka tak terlalu mengeluarkan biaya yang terlalu banyak. “Husst...,” bantah Bibinya pada suaminya.  “Bibi, Paman maafkan Hana!” ucap Hana agak pelan dan masih sangat kaku.  “Kita yang salah Nak... Jadi, jangan terlalu berpikir hanya kamu saja yang salah,” sahut Bibinya sangat terharu.  Lalu Pamannya menunjukkan perut buncitnya, ia katakan, Bibi Hana akhir-akhir ini terlalu banyak memasak masakan lezat, tanpa Hana, jadinya Pamannya yang memakan semuanya, hingga buncit perutnya seakan ingin meledak.  Tanpa angin surga tertiup, hati Pamannya sontak meminta kepada istrinya untuk menutup telinganya, atau jika menolak, lebih baik keluar ruangan saja. “Kenapa kau ingin memisahkan aku dengan anak ku?” bantah istrinya sambil melototi padanya.  Pamannya yang rada lucu, memanggil istrinya itu dengan setengah tangan pendek kanannya, “Sini, sini...” ia pun membisiki istrinya, “Oh...” sahut istrinya sambil menganggukkan kepala. “Biar aku saja, kamu itu pria payah dalam hal seperti itu,” sahut kembali istrinya menegaskan.  Dengan perasaan kecewa, suaminya pun mengiyakan.  Bibinya pun duduk tenang, lalu ia mulai permintaan suaminya itu, “Hana anak ku, apa yang terjadi dengan cintamu, pernah terjadi pula dengan cinta Mama. Dulu kekasih Bibi, melebih tampannya Paman mu. Ia pekerja keras, sangat penyayang pada siapa saja. Itu yang membuat aku jatuh cinta padanya” “Tetapi Bibi dan dia tak di takdirkan bersama, keluarganya telah memilihkan wanita untuknya. Mungkin Hana akan bertanya, kenapa kami tidak melarikan diri lalu nikah di satu tempat tersembunyi, kemudian kembali ketika memiliki anak. Atau bahkan kami berencana bunuh diri? Tidak anak ku, bunuh diri bukan solusi yang tepat sayang... Karena cinta bukanlah alat atau benda yang terlihat. Jadi untuk mencari solusi dari masalah hati, maka dengan hati pula kita bisa menemukannya, bukan dengan logika” “Kamu lah yang tahu mengenai itu Nak, Bibi harap kamu segera sadar dan kembali menjalani hidup seperti biasa!”  “Bibi, telah membaca surat mu, kami pahami apa yang kamu sampaikan dalam surat itu.”  “Aku terlalu capek Bi,” sahut Hana, ia pun bangkit dari pembaringannya.  Ia melanjutkan, “Bibi dan Paman tidak paham kisah Hana dengan dia. Maka Bibi mengatakan hal itu. Saat Hana bangun tidur. Mencari penggantinya. Hana semakin merasa bersalah, semakin terang dalam hati Hana bahwa Hana lah yang bersalah. Ketika Hana mempertahankan hidup, semakin menggumpal rasa salah itu. Hana tak tahu harus bagaimana? Kehidupan Hana terdiri dari salah.” Bibinya pun memeluk erat dengan tangisnya, ketika Hana membanjiri pipinya dengan tangisnya.  Namun lain dengan Pamannya, ia hanya menggaruk-garuk kepalanya, sambil melihat anak dan istrinya berpelukan sambil menangis bagai bermain drama. Ia sedikit kebingungan, istrinya yang kurang paham maksudnya atau dia yang tak memahami bahasa seorang wanita. Yang jelas, yang ia maksud tadi pada istrinya bukan seperti itu, tetapi menghibur Hana lewat cerita-cerita rakyat, seperti kisah Sang Ratu dan Pangeran, atau kisah cinta Robot dan Manusia. Ini salah besar, ucapnya dalam hati.  Namun memang beda hati pria dan seorang wanita. Mendengar cerita haru anaknya pun, Papanya sama sekali tak merasa. Lagi pula, bukan seperti itu yang di inginkannya, walaupun Hana menceritakannya satu setengah jam, dengan satu ember air mata telah ia keluarkan, ia tetap tidak akan terharu. Sedikit pun.  Baru saja ia ingin bicara, istrinya menunjuk meski memeluk Hana. Seakan-akan istrinya memiliki mata di kepalanya hingga ia tahu suaminya akan mengacaukan pemandangan yang tak sejalan dengan pikirannya. Padahal ini mengenai hati seorang wanita, pria dilarang ikut campur di dalamnya. Ia tak akan mengerti, bagaimana sisi pedih di hati wanita itu mengemban. Air mata itu adalah pembuktian bahwa ada yang salah dalam hatinya.  Namun sebagai kepala keluarga, tentu ia sedikit mengetahui tentang perasaan dan keinginan wanita. Pamannya sangat percaya, perkataannya kali ini akan menjadi solusi, “Oh...” ucapnya lantang tiba-tiba, hingga mengagetkan Hana dan Bibinnya. “Bagaimana kalau kita saja yang mencarikan kamu pasangan?” ia percaya diri, tersenyum lebar. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN