Satu minggu Hannah berkerja untuk Adam semua cukup lancar – lancar saja. Dia selalu datang on time kemudian menemani Adam sarapan, dan memastikan dia sudah selesai dengan semua tugasnya sebelum Adam pulang ke rumah karena sesuai permintaan Adam, dia mau Hannah menemaninya makan malam sekalian me-report pekerjaanya setiap hari, dan di hari keduanya bekerja akhirnya dia berhasil mengetahui bahwa yang di maksud Donat oleh Adam adalah seekor alaskan malamute betinayang...Mmm..Antara ramah atau hiperaktif. Yang pasti begitu melihat Hannah anjing itu langsung menemploknya habis–habisan seakan dia adalah sebungkus Science Diet.
Adam yang menjadi saksi atas kejadian gecul itu memberi alasan, Donat katanya tadi malam baru pulang dari rumah sakit setelah operasi usus buntu. Makanya baru sempet kenalan sama Hannah sekarang, jadi dia ecxited.
Grrrr.
Dan gak lupa juga setiap sebelum pulang Hannah menyiapkan pakaian Adam ke kantor untuk besok paginya, Hannah gak perlu repot–repot menggunakan sense of fashion-nya untuk tugas yang satu ini. Cuma ada 3 warna di lemari baju cowok itu, hitam, putih, abu-abu. Adam tidak pernah protes dengan pilihan Hannah, yang keluar dari mulutnya adalah, “Paling gak saya lebih suka pilihan kamu dari pada Mbok Ani. Jadi saya gak perlu repot – repot milih ulang baju itu sebelum di pakai.” Hannah mengutuk bunga – bunga yang tanpa permisi keluar melayang – layang dari hatinya ketika mendengar pujian yang padahal sepertinya tidak tulus itu.
Tapiiii di luar semua itu, Hannah sungguh - sungguh bersyukur karena Adam tidak pernah menyinggung – nyinggung kejadian enam tahun lalu, walau kadang Hannah penasaran juga apa yang ada pikiran cowok itu tentang kejadian bisa di bilang tak terpuji itu, namun rasa penasarannya selalu berakhir dengan omelannya pada diri sendiri, mana mungkin Adam seorang boss yang banyak pikiran tentang bisnisnya yang lagi hebring itu sempet – sempetnya mikirin kejadian yang awkwardnya seumur - umur.
Tiba di hari jumat, di hari itu Adam menjadwalkan gak ke kantor setiap minggunya. Hannah hanya menganga begitu akhirnya tau kegiatan boss-nya di luar kantor adalah nge-band, baca komik, olahraga, lari – larian sama Donat, terus melototin cartoon network sambil ngemil Pringles.
Paginya pun Hannah sudah cukup di buat ngiler dengan pemandangan Adam yang menyambutnya sambil selonjoran santai di bangku panjang yang berada di pinggiran kolam renangnya, begitu melihat Hannah berjalan ke arahnya Adam menurunkan ipad-nya, di bangku sebelah tampak seorang cowok yang sebaya dengan Adam lagi asik sama majalah otomotif dan Donat yang langsung bangun dari posisi nunggingnya begitu melihat ada yang datang, anjing itu menjulurkan lidahnya sambil mendatangi Hannah yang langsung berlutut untuk memberinya belaian, “Pagi...” sapa Hannah lalu setelah itu berdiri.
Adam membalas sapaan Hannah kompak dengan temannya yang lalu memperkenalkan diri sebagai Samuel, “Kalo hari libur saya lebih suka sarapan di sini dari pada di meja makan.” Pernyataan Adam terdengar seperti angin yang berlalu begitu saja. Hannah lebih suka tetap terpaku pada t-shirt putih yang menempel di tubuh laki – laki itu, memanjakan matanya dengan menonjolkan dua lekuk d**a bidangnya, dan celana santai selutut yang memamerkan betis seksi Adam, sturdy and hairy, daripada menyahut informasi basa – basi itu.
“Man, gue nungguin anak – anak ya...lo ke studio duluan aja...” kata Samuel tanpa mengalihkan matanya dari halaman majalah.
Seketika itu Adam ingin memakan kepala Samuel, “Bilang aja lo males beres – beres.” Balasnya, di sambut cengir kuda Samuel.
“Ini..” hentakan sandal yang di banting Adam kehadapan Hannah memecah lamunan cewek itu. Perhatiannya jatuh ke sandal yang sebesar kaki dinosaurus itu sambil jidatnya berkerut.
“Hari kamu akan sibuk, jadi mening kamu lepas sepatu hak kamu yang 20 senti ganti pakai sandal saya. Oke?”
Hannah membungkuk dan mengangkat sandal itu, “Apa gak ada yang lebih manusiawi apa ukurannya..” gerutunya, tapi alih - alih membantah, dia patuh – patuh aja melepaskan mary jane-nya yang sebenarnya hanya berukuran 5cm, dan menukarnya dengan sandal karet merk Nike milik Adam. Okelah untuk hari ini dia harus merelakan tunic dress-nya berkurang keindahannya akibat sandal dinosaurus yang sekarang diinjaknya. Dalam hati dia membayangkan kalo sandal itu adalah kepala Adam.
Cute....desis Adam dalam hati sebelum dia memutuskan berdiri dan menyuruh Hannah mengekor.
Setelah berjalan cukup jauh, melewati tuang tamu, ruang makan, masuk dapur, keluar melalui pintu belakang, melewati kamar Mbok Ani dan Mbok Jum, sampailah mereka di tempat yang di maksud Adam.
Studionya.
Sebelumnya Hannah sempat mengira yang tidak – tidak, mengingat rute panjang yang tadi di laluinya dia pikir Adam akan membawanya ke gudang yang terpencil dan paling spooky di rumahnya, dengan sarang laba – laba di sana sini, lalu berteriak seperti ibu tiri, menyuruhnya mendekam dan beberes seharian di situ sambil menahan kelaparan. Lebay ih.
Untungnya sebuah paviliun kecil dengan dinding merah bermotif batu bata yang berada di pojokan di belakang rumah Adam, membantah pikiran jelek Hannah. Terlebih begitu memasukinya, ruangan yang kira – kira berukuran 6x6 dengan dinding dilapisi peredam seperti karpet terdapat didalamnya, jangankan Hannah nenek – nenek asma aja tau itu ruangan apa.
Adam berjalan mendahului Hannah dan duduk di bangku kayu tanpa sandaran yang tersedia di situ, di sebelah kanannya sebuah gitar acoustic dan gitar listrik bersandar di dinding, di belakangnya ada sebuah drum yang di depannya ditempel stiker berlambang Rolling Stone, dan beberapa alat musik lainnya. “Saya mau sound check, kamu santai dulu aja, ntar kalo saya butuh bantuan kamu tinggal saya panggil.” kata Adam, tapi kemudian menyadari, Hannah masih berdiri di ambang pintu dan masih tertarik memperhatikan pernak – pernik yang ada di studio ini dengan matanya tanpa menghiraukan kata – kata Adam.
Dalam dua detik Adam jadi ikut terpaku dengan Hannah sebagai objeknya, entah apa yang mendasarinya untuk lebih merasa geli di banding kesal ketika asistennya itu untuk kesekian kalinya tidak memperhatikan kalimatnya. Terlebih rasa gemasnya terhadap tubuh mungil Hannah yang sepertinya akan mencelat ke Kalimantan dengan hanya sekali sentil, tapi siapa yang bisa meremehkannya jika melihat energi yang tersimpan di tatapan matanya. Adam membiarkan aliran listrik 8000volt menghuni sekujur tubuhnya dan pasrah ketika aliran itu mendorongnya secara otomatis kehadirat Hannah.
Tanpa Hannah sadar Adam sudah berdiri di hadapannya dan berjarak hanya kurang dari sepuluh senti. Hannah tersentak mundur begitu menyadarinya, punggungnya menabrak pintu yang sudah tertutup, Adam malah maju mendekat, aliran darah Hannah berhenti sekejap. Wajahnya kelihatan was was, tapi dalam hati dia menunggu tingkah yang akan Adam lakukan terhadapnya. Lalu ia terbawa untuk menekuni wajah Adam yang berada semakin dekat dengan wajahnya, mata almond dan alis tebal Adam, Hannah seperti menatap sebuah anugrah terindah dari Sang Pencipta. Impiannya 6 tahun lalu yang sudah hancur lebur, seakan ada harapan untuk tersusun kembali. Tiba – tiba Hannah merasakan hidung bangir Adam menempel pada ujung hidungnya tak cukup dengan itu wangi mint bercampur vanila dari cologne yang menempel di tubuh Adam ikut menelusup ke hidungnya, membuat dia tergoda untuk terpejam sejenak dan menikmatinya.
“Hannah...” suara Adam di tengah nafasnya yang memburu terdengar serak.
Hannah yang masih menikmati hawa Adam hanya menggumam, “Hmm..”
“Kenapa kamu tadi liatin saya kayak gitu waktu di kolam?” akhirnya Adam berhasil menanyakan pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikirannya setelah menangkap Hannah tak berkedip sambil mengarahkan bola matanya pada dirinya di kolam tadi. Adam tersenyum begitu melihat Hannah membuka matanya dan hanya tersipu setelah mendengar pertanyaan itu. Bahkan tak perlu kata – kata apa pun keluar dari bibirnya yang mungil tapi penuh itu, Adam sudah cukup melayang di buatnya. Ia memberanikan diri menaruh tangan kanannya di pipi Hannah, “Kamu tau gak apa yang saya pikirin waktu mergokin kamu ngeliatin saya di kolam tadi?” tangan kirinya perlahan naik dari pinggang, bahu dan kini mengenggam leher Hannah. Tak ada perlawanan dari Hannah. Membuat Adam semakin yakin untuk memuluskan niatnya.
Hannah menggeleng pelan, entah apa yang membuatnya tidak mendorong mundur tubuh cowok itu yang saat ini sudah dalam radius cium darinya.
Adam mengecup ujung bibir itu, dan mengarahkan bibirnya ketelinga Hannah, membuat aliran darah Hannah yang dari tadi sudah berhenti sekarang dalam proses pembekuan, “Saya berpikir...untuk ngajak kamu ke kamar, tapi saya pikir itu terlalu esktrem, jadi saya ajak kamu ke sini.” Bisik Adam, membuat Hannah terbelalak. Membuatnya sempat khawatir dengan ekspresi perempuan itu begitu dia kembali menatapnya, namun geloranya terlalu berkibar untuk menunggu Hannah memberikan ekspresi selanjutnya. Maka tanpa memberi peringatan atau pun minta persetujuan Hannah, dia langsung menempelkan bibirnya pada bibir Hannah. Dan menciuminya bertubi –tubi.
Beberapa saat Adam merasa seperti seseorang yang memaksakan kehendaknya karena Hannah tak kunjung membalas ciumannya. Tapi kemudian perlahan dia mulai merasakan pergerakan lembut dari bibir perempuan itu yang membuatnya menggeram.
Detik berikutya alam mereka sudah menyatu, Adam mendesak lidahnya ke mulut Hannah dan menjelajahinya...Kali ini tangan kanannya sudah mengingkari pinggang Hannah dan kedua tangan Hannah sudah melingkar di pundaknya, selanjutnya jari – jari Adam menarik turun resleting yang berada di belakang dress Hannah, merasakan sentakan tubuh Hannah yang hendak menolak perlakuannya, Adam langsung membuat tubuh mereka semakin merapat. Hannah merasakan kehangatan ketika telapak tangan Adam yang lebar dan kasar menyentuh langsung kulit punggungnya, sekejap dia sempat tersadar kelewat-batasannya, begitu merasakan Adam melepaskan kaitan branya. Akal sehatnya segera menyuruhnya berhenti tapi matanya malah terpejam ketika dia merasakan bibir Adam bergriliya di lehernya, tangan Adam menarik dress-nya dan branya hingga melorot kedepan. Adam berhenti bermain - main dengan leher Hannah lalu mebungkuk hingga kepalanya sampai ke tempat yang tadinya di tutupi bra, lalu menciuminya.
Oh...Tidak ada laki – laki yang dia ijinkan berbuat seperti ini, Hannah ingin menarik tubuhnya mundur, ketika tangan Adam yang satu lagi malah menyangga pinggangnya, sementara sebelahnya lagi membelai bagian di bawah tangannya yang berdekatan dengan buah dadanya. Selanjutnya Adam mengangkat tubuh Hannah, dan mendudukannya di atas sebuah piano. Dia menarik kaki Hannah hingga melingkari pinggangnya, kini tangan kanan Adam menelusup ke bawah rok Hannah. Hannah menyadari bagian atas pakaiannya benar - benar sudah melorot, namun terlalu lemas untuk mengelak reaksi tubuhnya di bawah sentuhan Adam, beberapa menit kemudian dia tak kuasa untuk menolak Adam mengeksplotasi tubuhnya.
Ketika Adam hendak menarik dress-nya lepas Hannah buru – buru teringat akan harga dirinya, dia harus berhenti, “Adam..” panggil Hannah sambil menahan dress-nya. Adam hanya menggeram lalu memasukan tangannya lebih dalam ke rok Hannah, tanpa memperdulikan asistennya yang lupa menggunakan embel – embel ‘pak’ di depan namanya, lagi pula setelah kejadian ini, di jamin hubungan profesional di antara mereka sudah menguap entah kemana.. “Stop it...” pinta Hannah.
“Adam...Please...” Hannah hendak menaruh tangannya di d**a Adam untuk mendorongnya tapi himpitan tubuh mereka terlalu sempit untuk melakukan itu. Akhirnya Hannah sengaja menunduk, menempelkan ujung kepalanya kepada d**a Adam untuk memaksakan jarak di antara tubuh mereka, Adam yang merasa aktifitasnya terganggu baru dapat membaca signal ini dan akhirnya memberi kesempatan Hannah untuk bernafas. Dia merenggangkan pelukannya, tapi membelai punggung Hannah lembut. Hannah menggunakan kesempatan itu untuk mengembalikan posisi dress-nya.
“Are you okay?” tanyanya lembut begitu Hannah mengangkat wajahnya lalu menatapnya dengan pandangan yang tak bisa di cerna.
Hannah bersusah payah mengatur nafasnya yang tersengal – sengal sebelum menyahut, “What the hell just happened..” lirihnya. Dia tidak tersenyum.
Adam menatapnya, “Are we good?”
“This is bad..” Hannah memijit – mijit kepalanya dan dia tidak sadar kata – katanya yang barusan keluar melindas Adam dengan buldoser, Adam membuang pelukannya dan pandangannya yang menajam mendarat tepat ke mata Hannah, serasa ingin menerkamnya.
“What...?” suara Adam terdengar lebih berat.
“I'm sorry..” ucap Hannah pelan.
“You are what?” tandasnya marah.
Hannah menatap bossnya itu dengan serba salah.
“You are sorry?” Nafas Adam tak beraturan, “Of course..” kalimatnya yang terakhir terdengar putus asa. Tidak pernah dia merasa sekesal ini pada perempuan yang diciumnya. Biasanya perempuan – perempuan yang menerima ciumannya akan membuat Adam kewalahan dengan serangan membabi butanya sebelum mengajak Adam untuk sesi selanjutnya di atas tempat tidur. Tapi kali ini. Dia mencium perempuan dan perempuan itu bilang kalo dia menyesal atas itu. Mendadak harga diri Adam terasa dilindas truk.
“Bukan..no...You’re a good kisser...” Hannah meloncat turun dari piano, lalu beberapa saat kemudian menutupi wajahnya dengan telapak tangannya, menarik nafas sebelum kembali menarik tangannya ke udara mempertontonkan wajahnya yang terlihat frustasi, “Tapi..Ini gak..ini gak pantes...kamu adalah boss saya..” suaranya terdengar mengambang. Sama seperti perasaan Adam sekarang.
“Gak pantes apa? Kita sudah pernah ketemu sebelumnya, kamu bukan orang asing bagi saya.” Egonya mendorong Adam untuk siap beragumen. Beberapa detik Hannah terpaksa diam karena otaknya tak mampu berproses untuk mencari sahutan yang pas bagi pernyataan Adam barusan. Terlebih ketika Adam menyebut – nyebut ‘pernah ketemu’ kayak orang yang hanya bertemu di toko buku lalu berkenalan, padahal kenyataannya tidak sesimpel itu. Mungkin buat Adam tapi gak buat Hannah.
Keheningan sementara yang sedang berlangsung itu membuat Adam memiliki jalan pikiran hampir buntu, otaknya memikirkan suatu kemungkinan yang diharapkannya salah. Ah..Gadis ini keliatannya suka mempermainkan emosinya, 3 menit lalu dia berhasil membawanya b*******h setengah mati, lalu kemudian sekarang membantingnya telak.
“Kamu benar – benar merasa bersalah dengan ini?” tanya Adam pelan – pelan, demi mendapatkan bantahan atas pemikirannya dia harus membuat Hannah berbicara.
“Mestinya sebagai perempuan saya lebih bisa menjaga diri saya. Saya...”
“Apa kamu udah punya pacar? Tunangan? Atau bahkan suami?” dengan tak sabaran Adam memotong omongan Hannah.
“Hah? Nggak. Saya cuma ngerasa, mestinya sebagai perempuan saya lebih bisa menjaga diri saya. That’s it..” Hannah sengaja mengulang pernyataannya, demi mengembalikan image-nya yang setelah kejadian ini mungkin sudah dianggap yang tidak – tidak oleh Adam.
Sementara Adam butuh sepersekian menit untuk mengotrol rasa leganya atas jawaban Hannah tentang kedudukan single-nya. Bahkan tidak menghiraukan pertanyaan yang melayang – layang dipikirannya tentang untuk apa dia peduli terhadap status asistennya itu.
“Pak Adam...”
Menyadari niat - niat Hannah merubah cara bicaranya menjadi kembali seperti semula, Adam rasanya ingin menutup kupingnya, “No no no no no no no....Don’t call me that way...no”
Hannah hanya melongo. Membuat Adam merasa harus memberi tambahan pada kalimatnya, “Saya gak mau denger kamu panggil saya ‘pak’. Pertama saya ngerasa jadi 20 tahun lebih tua, kedua, itu gak pantes setelah...hari ini.”
Alasan kedua Adam langsung menyebabkan pipi Hannah memerah, “Hmm..This is a mistake, I know I kissed you, you kissed me. But..this is unprofessional.” Hannah menarik nafas, “Mistake..Yeah? ” diamencari tanda sepakat di wajah Adam setelah menyelesaikan kalimatnya. Tapi yang ia temui malah wajah tersinggung, “Kamu anggep nyium saya itu adalah suatu kesalahan???” Adam langsung sewot setengah mati.
Hannah berusaha menghindari amukan Adam dengan berusaha menatap ke arah lain, tapi tubuh Adam yang besar menutupi pandangannya, dan jarak tubuh mereka berdua yang terlalu dekat mengintimidasinya sehingga ogah gak ogah dia harus meminimalisir pergerakannya. Aduh.
Mau pulang.
Mau pulang.
Mau pulang. Rengek Hannah dalam hati.
“Jawab Hannah.” Adam menuntut.
Suara berat Adam membuat nyali Hannah merosot sampai ke tempat yang terhina, “S-saya...” kalimat Hannah tercekat. Tiba – tiba tangan Adam kembali merangkulnya, dan tubuh mereka merapat, “Tell me...” cecarnya. Hannah menggeleng pelan, dan mengumpulkan kembali pundi – pundi keberanianya sebelum berkata, “Bukan ciumannya. Tapi pantas atau gaknya...”
Otot – otot wajah Adam mulai melonggar, perlahan dia mengaitkan kembali bra dan menaikan resleting dress Hannah. Hati Hannah bergetar menerima perlakuan itu, dia merasakan sesuatu dengan lembut membelai rambutnya, yaitu tangan Adam. “Perlakuan kamu sekarang bikin saya tersinggung, Hannah...Saya ini laki – laki yang egonya besar...” Adam berusaha menjelaskan perasaannya.
“Demi Tuhan..Please, saya merasa....” Hannah terasa berat mengakuinya tapi kalau ini satu – satu cara untuk memulihkan hubungan profesionalnya dengan Adam, baiklah... “Saya merasa seperti perempuan murahan...”
Mata Adam memicing, “Saya gak pernah nyium perempuan murahan.” Tandasnya.
Hannah mengdengus. “Perempuan mana yang rela melakukan ini sama orang yang bukan suami bahkan pacarnya...”
Senyum nakal Adam tersungging, “Mungkin karena kamu suka sama saya.”
Nafas Hannah mendadak berhenti, dia yakin wajahnya sudah semakin memerah setelah Adam kembali menatap mukanya, tiba – tiba otaknya mempermasalahkan sahutan Adam yang saat ini ingin di sangkalnya cepat - cepat, walau pun dalam hati dia ragu.
Sayangnya, kata – katanya sudah habis, setelah berdebat dengan pikirannya akhirnya Hannah memutuskan keluar dari studio itu tanpa mengucapkan permisi.
Kalau saja pintu studio gak seberat itu, mungkin sudah di bantingnya, “Hannah, nggak apa – apa?” suara Samuel mengangetkan. Dia berniat masuk ke studio dan Hannah tak sadar hampir menabrak tubuhnya.
Hannah terpaksa senyum untuk menutupi salah tingkahnya lalu beringsut meninggalkan Samuel dan bodo amat dengan tampang bingung cowok itu. Rasa ingin tahu membuat Samuel buru – buru memasuki studio, dan mendapat Adam dengan tampangnya yang keliatan tak jauh berbeda dengan air muka Hannah, sama - sama gak karuan.
“What happened??” tanya Samuel penasaran.
“I kissed her.”
“WHAT?!”