Bab X

1082 Kata
Hannah menghela nafas untuk apa yang di saksikannya, bersyukur makanan di piringnya sudah habis karena dia tidak beselera untuk menyuap lagi. Pertama karena dia merasa bersalah kepada Shean setelah gagal membujuk Adam, kedua dan itu sekarang menyebabkan dirinya hanya tinggal berdua dengan Adam disini. Perutnya jadi mual. Sial. Pergerakannya menjadi kaku, tidak singkron dengan pikiran – pikiran di otaknya yang sekarang bergerak lincah mengintimidasi dirinya. Bingung antara dia yang tidak becus membujuk Adam atau memang Adam yang terlalu kepala batu untuk dilunakan. Tanpa sadar dia menghela nafas keras. Lagi. Dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang memiliki jari – jari ramping dengan kuku – kuku panjang berwana nude itu. Ia melihat Adam yang sedang menatapnya, air mukanya memerah begitu dia melepaskan tangan dari wajahnya yang muram. “Saya gak suka kamu panggil saya ‘pak’, tolong berhenti. Saya mohon.” Kata Adam. Matanya berubah sayu, ujung matanya turun tanda sangat memohon. Oh pikirannya ada di masalah lain rupanya. “Kenapa?” balas Hannah pelan. Adam menatap Hannah dalam dan mendekatkan tubuhnya, “Gimana kalo kita ke tempat yang lebih private untuk bicara?” bisiknya nakal. “Dan ngebiarin kamu cium saya lagi?” sindir Hannah sambil meliriknya judes. Adam menyeringai, “Kamu mau?” Hannah melotot biarpun dia tahu maksud Adam adalah bercanda-tapi mungkin juga serius. Lalu membuang nafas seperti mengalah, “Oke saya akan stop panggil kamu ‘pak’.” Ekspresi Adam datar menanggapi bendera putih yang di kibarkan Hannah, alih – alih senang dia malah tambah kesal. Dia tidak puas dan ingin lebih dari sekedar panggilan. Tidak...tidak...Ini bukan dirinya, dia tidak pernah memohon, ya dia pernah merayu beberapa wanita, tapi tidak memohon.  Hhhmm...Sepertinya dia harus mengakui bahwa Shean benar, seleranya terhadap wanita sudah berubah, dia hampir tidak percaya dirinya sudah merubah aliran dan sekarang tergila – gila kepada seorang perempuan yang mati rasa seperti Hannah. Seseorang yang kayaknya lebih milih gantung diri dari pada menciumnya lagi. 6 tahun lalu dia mempertanyakan keawarasan temannya sendiri karena menyukai Hannah, dan sekarang dia kena batunya.  “Kamu lebih suka panggil saya ‘pak’?” tanya Adam. Sesaat Hannah mencoba mencari tahu arah pertanyaan Adam, dia menyipitkan matanya tatapannya berubah menyelidik. “Hannah saya cuma nanya, bukan minta kamu jadi isteri saya. Kamu gak perlu ngeliatin saya kayak gitu.” Adam tersinggung. Lagi – lagi. “Ya..Saya lebih suka panggil Pak Adam, dari pada gak tau mau manggil apa.” Kalimat seadanya akhirnya mencelat dari mulut Hannah. “Jadi cuma karena kamu gak tau harus manggil saya apa?” Dan saya gak mau menghilangkan profesionalitas kita, karena itu bikin saya tambah tergila – gila sama kamu dan saya tahu perasaan itu akan buat saya patah hati. Hannah melanjutkan dalam hati tapi hanya bisa mengatakan “Iya..” dengan mulutnya. “Saya punya nama.” Sahut Adam. “Saya gak pernah manggil atasan saya cuma dengan nama.” “Itu karena rata - rata mantan boss kamu gak ada yang dibawah lima puluh tahun.” “Sama aja.” Balas Hannah. “Saya belum cukup tua dengan panggilan ‘pak’,” Bola mata Hannah langsung berputar, “Saya manggil ‘pak’ bukan berati tua, tapi untuk menghormati kamu sebagai atasan saya.” “Gak tau kenapa saya ngerasa alasan kamu bukan itu.” “Hah?” “Kamu mau jaga jarak sama saya setelah saya cium kamu.” Kalimat skakmat itu meluncur ringan dan enteng dari mulut Adam. “Padahal waktu itu kamu balas cium saya.” Hannah meneguhkan posisinya untuk tetap berdiri dalam argumentasi ini, “Saya memang panggil kamu ‘Pak Adam, sejak hari pertama saya kerja.” Adam menggeleng, “Bukan itu yang saya maksud...” “So?” “Sikap kamu berubah sama saya di banding hari pertama kamu dirumah saya. Kenapa? Kenapa kamu berubah, Hannah?” cecar Adam. Hannah mendengus sambil mengangkat ujung bibirnya, “What? Itu cuma perasaan kamu aja. Berubah gimana, perasaan saya gini – gini aja...” saat ini pura – pura bego adalah yang paling tepat baginya.  “You are blowing me off, and it sucks. Kalau ciuman saya buat kamu menjauhi saya, kenapa kamu harus balas cium saya? Saya bingung, saya mau tahu jawabannya. Itu yang saya pikirin dari kemarin, Hannah.” Tandas Adam tanpa filter, pandangannya semakin mengintimidasi perasaan lawan bicaranya. Hannah terkesiap, “Sejak kapan sebuah ciuman jadi pikiran buat kamu.” “I don’t know either. Mungkin sejak itu sama kamu.”  Oh matilah...Jantung Hannah hampir copot. Oksigen yang di hirupnya mendadak menjadi sangat terbatas. Setengah mengamini bahwa Adam serius dengan kalimatnya yang keluar barusan, tapi tak ada yang bisa menutupi kemungkinan bahwa kalimat itu hanya salah satu gombalan untuk membuatnya takhluk. Lalu bisa di tebak kemudian takdirnya....dia akan bernasib tidak jauh berbeda dengan Patricia – Patricia-nya, bahkan mungkin lebih tragis. Gak. Gak. Gak boleh. Demi apa pun yang dia punya sekarang, yang tersisa, termasuk harga dirinya yang sudah capek – capek di susun setinggi mungkin, dia tidak akan membiarkan laki – laki mana pun mempermainkannya-terlebih laki - laki seperti Adam. Huh...Dia pikir dia bisa mendapatkan perempuan mana aja? Dia pikir semua perempuan pasti percaya sama mulut busuknya? Hah? Tidak kali ini. Tidak dengan dirinya yang perempuan baik – baik, berasal dari keluarga bermoral walaupun gak berlimpah harta, gak ningrat, gak terkenal, dan sangat overprotek, mereka akan mencincang – cincangnya dan mengurungnya di dalam gudang tanpa boleh kemana - mana kalau tau gadis mereka sudah dipermainkan oleh monster air yang berkedok seorang boss metropolitan. Okay I will do what I should do NOW, before it become something that ‘I should have done’. Srettt...Hannah memundurkan kursinya untuk berdiri, “Saya pamit, saya harus nyiapin baju kantor Pak Adam.” Buru – buru Adam menangkap tangan Hannah, “Kamu marah sama saya?” tanyanya sambil menancap mata Hannah dengan manik matanya.  Wajah Hannah bingung, dia menggeleng lemah. “Kenapa saya harus marah.” Sahutnya. Genggaman Adam mengendur Hannah menarik tangannya dengan terpaksa Adam membiarkan tangan mungil itu lolos seiring dengan hatinya yg serasa di tusuk – tusuk jarum. “Kelakuan kamu sama kayak waktu dulu kamu marah sama saya sama Jeremy.” Ya Tuhan dia inget! Untuk kedua kalinya jantung Hannah berhenti, kali ini bersamaan dengan panas yang menjalar di sekujur tubuhnya. Lemas. “Saya kesal karena kamu terus maksa saya untuk gak sopan sama kamu, dengan berhenti manggil kamu ‘pak’ dan kamu gak tahu betapa sulitnya itu buat saya. Saya juga marah karena menurut saya kamu terlalu proktektif sama Shean.” Entah improvisiasi itu melesat dari mana, tapi kalimat barusan gak sepenuhnya benar, terutama pada kalimat yang pertama. “Yang pertama, okay  saya gak masalah kamu panggil ‘pak’, dan meskipun kamu juga gak tau betapa sulitnya itu buat saya.” balas Adam sambil menyindir, “Yang kedua, saya senang kamu perhatian sama Shean, saya juga suka ngeliat kalian berdua akrab, tapi keputusan saya tentang Shean, bukan urusan kamu. Mestinya kamu tahu itu.” Pernyataan terakhir Adam langsung dengan paksa menyadarkan Hannah akan posisinya yang HANYALAH sebagai seorang asisten (Yang tak sengaja di cium boss-nya). Ya dia memang tidak hak untuk kesal masalah itu. Walaupun, ya dia emang kesal. “Maaf saya gak akan ikut campur lagi.” Hannah beringsut meninggalkan Adam dengan langkah tersinggung. Dasar gak punya perasaan. Teganya dia bilang begitu. Badak karatan. Kadal impoten. Bunglon kepala tujuh belas. Hannah tak bisa berhenti mengutuk. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN