Terhitung dari tiga hari setelah kunjungan Adam kerumahnya Hannah memberi kabar bahwa dia memutuskan setuju untuk kembali berkerja sebagai asistennya. Regardless dari teror Adam yang setelah satu jam pulang dari rumah Hannah langsung memborbardirnya dengan sms dan telepon, Hannah sudah memikirkan masak – masak keputusannya. Tentu dengan jasa nasihat, masukan, serta dukungan dari Ola dan Nadine.
Hannah meminta Adam memberikannya waktu hingga hari Selasa sebelum kembali bekerja lantaran dia ingin sepuas – puasnya menghabiskan waktu bersama ibu sebelum beliau pulang ke Solo hari Seninnya.
Hari ini.
“Hati – hati ya ndok, jaga diri. Salam ibu untuk nak Adam..” ucap ibu yang kelihatannya udah kesengsem sama si ‘Nak Adam’.
“Iya ibuuu sayang....” balas Hannah sambil sumringah. Lain perasaannya waktu melihat tanda – tanda ini dari ibu waktu pertama kali, lain juga reaksinya. Kali ini dia bisa ngasih senyum tulus untuk kesan positif ibu terhadap Adam. Tadi malam pun yang di salamin udah ngirim salam duluan lewat telepon, malah menawarkan diri untuk menemani Hannah mengantar ibu ke airport. Hannah berhasil menolaknya dengan halus dengan bersikeras gak mau menyia – nyiakan usaha Ola yang sudah bela – belain absen ngantor buat nemenin Hannah.
“Mbaaak Haanaaaaah!” Shean langsung nomplok begitu melihat orang yang selama ini di kangeninnya, “I misssss youuuu superr badd mbaaak....” tinggi Shean yang hampir menyaingi Hannah membuatnya lebih mudah untuk mengeratkan pelukannya. Hannah jadi agak minder menyadari betapa kurcacinya tubuhnya ini sampai bisa kalah dengan anak SMP.
Hannah menghembuskan nafas sambal terpejam. “I miss you too,” katanya sungguh – sungguh sambil menghadiahi kecupan di rambut Shean. Saking tenggelamnya dengan moment itu dia hampir tak sadar bahwa ada dua orang lagi di ruangan itu. Setelah Shean puas dengan pelukannya dan melepasnya dia baru bisa dengan jelas melihat dua orang yang menatapnya balik.
Adam dan....entah siapa perempuan cantik itu.
Adam tau kali ini dia salah perhitungan. Mestinya sebelum Hannah sampai di rumah ini dia sudah berhasil menyingkirkan Sarah duluan. Dia sudah berniat untuk meyelesaikan baik – baik hubungannya dengan Sarah, tadi malam dia menelepon Sarah untuk bilang akan mengajaknya kesuatu tempat karena ada hal yang ingin di bicarakan, tapi sialnya kejutan datang ketika pagi – pagi cewek itu malah muncul membawakan sarapan. Alhasil, karena tak tega, mau gak mau Adam menuruti permintaan Sarah untuk breakfast bareng.
Mimpi buruk makin nyata begitu dia melihat Shean menarik tangan Hannah mendekat, bukan ke arahnya, tapi..
“Mbak Sarah, kenalin ini Mbak Hannah, asistennya Mas Adam, cantik kan?” dari nadanya Adam tau anak itu tidak berniat tulus memperkenalkan Sarah kepada Hannah, feeling Adam berkata adiknya itu hanya ingin memamerkan Hannah ke orang yang tidak di sukainya sedangkan belakangan ini orang itu berusaha keras untuk membuat Shean menyukainya.
Dulu – dulu Shean gak pernah bersikap antipati sama pacar – pacarnya, malah terkesan bodo amat. Tapi kali ini, setelah Adam mengucap kata ‘serius’, gadis itu merasa perlu untuk menseleksi siapa pun perempuan itu dan kebetulan Sarah tidak masuk dalam kriterianya. Shean selalu yakin kalo Sarah gak berbeda dengan mantan – mantan Adam sebelumnya.
Bulu kuduk Adam naik menyaksikan Shean menatap Sarah dengan puas, seumur hidupnya baru kali ini Adam melihat adiknya seantagonis itu. Tanpa di sangka – sangka Hannah menyodorkan tangannya Sarah menyambutnya dan mereka bertukar nama. Selanjutnya yang Adam lihat adalah, wajah bingung Hannah, gadis itu pasti bertanya – tanya dalam hati tentang status Sarah di sini, tapi sayangnya Shean tidak membahas lebih lanjut perkenalan itu, adiknya itu memilih kembali duduk dan menyantap sarapannya. Nanggung banget bikin deg – degannya tuh anak.
Tapi jantung Adam tetap tidak berkurang kecepatannya, baik Shean apalagi dirinya memang tidak menjawab kebingungan Hannah, tapi bukan berarti dia bisa tenang setelah itu. Selama Sarah masih ada di ruangan yang sama dengannya dan Hannah, Sarah akan tetap menjadi ancaman.
Adam tahu dia jahat ketika berfikir seperti ini, tapi... bahkan dia tidak yakin dirinya waras saat niat pertamanya untuk menjalinkan hubungan serius jatuh kepada Sarah, dan sekarang dia sadar waktu itu dia cuma butuh rebound.
Saat ini pun matanya tidak bisa terlepas dari Hannah, sedikit kesal karena pandangannya agak terhalang oleh Shean yang duduk di sebelahnya.
“Sayang,” lamunan Adam terpotong ketika mendengar panggilan sayang itu. Tanpa menengok Adam tahu hanya Sarah di ruangan ini yang memanggilnya dengan sebutan itu. Dia hanya menyahut dengan bergumam pelan, namun matanya tidak pindah dari objek sebelumnya. Hannah, dia ingin melihat reaksi gadis itu. “Sayang, kamu kok bengong sih...” kali ini Sarah menggenggam tangannya, tapi Adam merasa seperti seseorang yang menampar pipinya.
Dia melihat Hannah tak bereaksi sama sekali, kenapa? Dia gak peduli? Gak cemburu?
Bah! Cemburu? You wish! Yang dipikrkan dari tadi malah keliatan anteng – anteng aja tuh. Fine.
FINE! Kalau memang dia gak sepeduli itu. Adam mengangkat tangan Sarah dan menciumnya, cowok itu memastikan Hannah mendengar bunyi kecupan barusan, “Iya sayang, aku lagi mikir hari ini mau ngajak kamu kemana...” akhirnya dia mengalihkan tatapannya kepada Sarah.
Sarah tersenyum manis, tapi andai dia tau, gula yang mengandung seribu kalori per butir pun tidak akan cukup manis untuk meredakan getir pada hati pacarnya itu, “Aku mau main ke kantor kamu aja...Boleh kan?”
“Of course.”
“Hmm..Pardon,” Hannah berdiri dari tempat duduknya, “I need to use a restroom.” Tanpa menunggu jawaban dia beringsut.