Setelah acara sarapan pagi dan gulat selesai, Hannah langsung beringsut menuju ruang tamu untuk membereskan barang – barang yang baru di antar supir kantor untuk Adam. Karena tidak tahu apa isinya, Hannah memutuskan untuk menyusun dari ukuran terbesar sampai terkecil. Agak kewalahan dengan jumlahnya yang gak kira – kira itu, plus matanya jadi silau akibat warna – warni mencolok dari bungkusan – bungkusan itu.
Menurut informasi yang dia dapat dari Mbok Ani, dan Dian, setiap bulan Adam selalu menerima kiriman dari orang – orang yang tak terlalu dia kenal berupa, undangan grand opening, undangan launching buku, launching album, undangan premier film-karena banyak mantan Adam dari kalangan artis, Adam jadi ikutan ngetop dilingkungan itu-, sampai undangan ulang tahun. Belum lagi souvenir atau parsel dari perusahaan – perusahaan yang pernah atau yang akan berkerja sama dengan Eva Prouds,
dan…kado – kado dari secret admired.
Semua barang itu di tampung di kantor dan di antar ke rumah Adam setiap sebulan sekali. Lalu harus di seleksi kelayakannya oleh asisten Adam sebelum sampai ketujuan a.k.a tangan si bos, yang berarti tugas itu sekarang jatuh kepada dirinya.
Hannah menghembuskan nafasnya frustasi, biasanya dihadapan kado sebanyak ini dia akan senyum selebar mungkin lalu dengan nafsu membuka semuanya satu per satu. But....Ini bukan kado Natal, bukan kado ulang tahun, dan ini bukan kado untuknya, ini kado – kado untuk Adam, dan dia di bayar untuk membukanya satu per satu. Oh crap.. Di tengah – tengah lamunan frustasinya Hannah hampir melonjak ketika mendengar suara Shean.
“Hmm...hmm....You should get rid off that one...” gadis kecil itu berdiri dihadapan Hannah sambil menunjuk ke salah satu kado.
Hannah mendongak ke arah Shean kemudian matanya menelusuri tunjukan Shean, lalu celingak – celinguk mencari – cari barang yang di maksud, tapi tunjukan itu berasa abstrak. Sadar dia bukan ahli nujum yang jago mengira – ngira suatu hal, akhirnya dia menatap Shean lagi. “Hah? Yang mana?”
Shean berjalan mendekat lalu mengambil posisi duduk di samping Hannah kemudian dia hanya sudi menggunakan telunjuk dan jarinya untuk mengangkat sebuah kado mungil berwarna fuchsia dan sialnya hanya dengan memandangnya saja benda itu cukup membuat mata Hannah seperti di tusuk – tusuk tusukan sate. Shean meringis seakan alergi dengan kado yang sangat dikenalnya itu. Lalu melirik Hannah, “This one.” Ucapnya dengan nada serius.
Memandangi cara Shean mengangkat benda itu, otomatis rasa penasaran Hannah langsung on, tapi dia lebih memilih membiarkan barang itu tetap tergantung di tangan Shean, lalu mengamatinya sambil menebak – nebak asal usul ke-alergian Shean pada benda yang tampaknya tak bersalah itu. “What is that?” tanyanya setengah berbisik ala penemu harta karun di film - film.
Shean mendelik sambil akhirnya menjatuhkan benda itu, “A couple weeks ago was bra, then g-string, now I guess.....hmmm lingerie...” balas Shean. Setelah berhasil mencerna jawaban Shean dan yakin kalau dirinya tidak salah dengar Hannah langsung menganga.
“Dari Patricia mantannya Mas Adam yang paling creepy di antara semua mantan, dia selalu ngirimin underwear gitu buat neror Mas Adam. Kayaknya dia udah gila...Lagian percuma, boro – boro di liat sama Mas Adam, baru nyampe ke tangan asistennya aja udah masuk ke tempat sampah.” Dan tanpa harus di tanya Shean sudah menjelaskan panjang lebar dengan senang hati, lalu cekikikan. Bersamaan dengan itu, pikiran Hannah langsung bergeriliya kemana – mana sambil geleng – geleng kepala. Kalau tidak salah dengan pemikirannya kali ini, laki – laki sejenis Adam memang senang menyalahgunakan pesonanya.
Apa sih yang dia lakukan sampai banyak perempuan menjadi gila.
What a stupid question, Hannah jadi pengen jedotin kepalanya. Money money is power, di tambah Adam, he has the charm of a…
Whatever he has charm. He was born lucky. Ibarat King Henry VIII dia adalah Edward VI-minus mati muda.
Segala sesuatu yang dia lakukan -benar atau salah- no problem ladieees. Dan Hannah jadi berfikir tentang nasibnya sendir, kalo tidak berhati – hati bisa – bisa menjadi ‘the next Patricia’ dengan tidak menutup kemungkinan, she’s somebody during the other (s) ‘the next Patricia’.
Not gonna happen!
BUK! Plastik hitam raksasa berisi barang – barang hasil ‘seleksi’ kado – kado Adam di banting lantai dapur. Mbok Ani dan Mbok Jum akan membongkar isinya, untuk dipilih yang mana bisa mereka pakai dan yang mana yang mereka buang. (Yang pasti sesuai dengan perkataan Shean, kado Patricia-as always-akan berakhir di tempat sampah. Mbok Jum dan Mbok Ani bilang mereka gak bisa main Sumo, jadi gak pake g-string, dan di banding pake lingerie di jamin mereka lebih suka pake daster batik mereka sendiri, terus ukuran bra Patricia terlalu besar jadi gak bisa di pake juga)
“Fiuhhhh.........” Hannah bertepuk dengan menggesek – gesek tangannya sembari menghela nafas panjang. Lalu menuju tempat cuci piring untuk mencuci tangannya yang berasa sendat setelah menelanjangi bungkus – bungkus kado tadi.
“Hey,” tiba – tiba Hannah mendengar suara yang sangat tak asing tepat di belakang telinganya, efek dag dig dug di jantungnya langsung meningkat dua kali lipat begitu dia merasa di kanan-kirinya sepasang tangan bertengger di sisi tempat cuci piring mengurung tubuhnya. Dia sangat mengenali suara majikannya itu, dia juga afal wangi nafasnya, bahkan wangi parfumnya, bentuk tangannya, sampai warna kulit.... Ya Tuhan, dengan gemetar Hannah memutar keran untuk mematikan air yang tadi terasa sejuk sekarang jadi terasa sedingin es dari kutub utara. Setelah itu sebisa mungkin ia berkerja keras mengomando ekspresi wajahnya, lalu ia memutuskan balik badan.
“Akhirnya kamu ganti kostum kerja kamu juga...Nurut...” kata Adam saat berhadapan dengan Hannah.
“Pak Adam...Bukannya tadi udah ke kantor?” Hannah berusaha mendorong tubuh Adam, tapi sia – sia karena Adam tidak merubah posisinya sedikit pun dan ia sadar tenaganya yang seuprit mustahil untuk menangkal tubuh besar Adam.
“Gak jadi. Hari ini saya mau seharian sama Shean..” balas Adam. Dia tahu bahwa jawabannya itu tidak selengkap kenyataanya. Karena sebenarnya dia sengaja bolos ngantor bukan hanya ingin menghabiskan waktu bersama adiknya tapi juga bersama asistennya yang sudah membuatnya kangen setengah mati hanya dalam dua hari tak melihatnya.
Aaaaaannnd what is this?? dia sendiri bingung kenapa dia jadi gengsi untuk mengutarakan keinginannya sendiri. Pandangangannya jatuh pada gambar di kaus Hannah, “Kamu suka The Beatles?” tutur Adam lagi.
Hawa panas sudah menjalari seluruh wajah Hannah, dia hampir tidak yakin kalau dirinya masih bisa bernafas sebelum sanggup mengucapkan, “Pak...” hanya itu.
“Penasaran hari ini kamu pake sepatu apa.” Adam menatap kebawah menemukan kaki telanjang Hannah. “Kok tumben sepatunya di lepas?”
“Bisa lepasin saya, pak...” pinta Hannah dengan suara parau yang penuh perjuangan sebelum dia pingsan di pelukan cowok itu.
Adam hanya tersenyum tanpa tanggapan atas permintaan Hannah. Jantungnya berdegup sama kencangnya dengan perempuan yang di hadapannya itu. Sementara Hannah merasa perlu untuk menarik diri sebelum dia nyaris menjadi ‘the next patricia’ dan lalu kejadian di studio kemarin terulang lagi.
Di tempat ini.
Di sini.
Di dapur.
Yang berkemungkinan, Mbok Jum, atau Mbok Ani lebih parahnya lagi Shean, mondar – mandir dan memergoki perbuatan mereka.
Dan karena merasa panggilannya daritadi tidak mendapat perhatian Adam akhirnya Hannah memutuskan menaikan intonasi suaranya, “PAK ADAM!”
Kuping Adam nyaris pindah dari tempat yang semestinya, pas mendengar seruan Hannah. Dia langsung terdiam tapi matanya enggan beralih dari mata Hannah, “Kamu bisa gak jangan panggil saya ‘pak’. Saya udah bilang kan kemarin?” katanya beberapa detik kemudian.
Jidat Hannah langsung mengkerut, kepalanya mendadak pusing, matanya menjadi kabur menerima efek samping dari pesona Adam. Sementara meskipun di kepalanya melayang – layang segala cara untuk menghindar dari Adam, hatinya merasa teduh dengan jarak sedekat ini dengan cowok itu. Tapi demi membuang jauh – jauh harapan yang mungkin gak mungkin kesampean, Hannah merasa perlu mengontrol diri secepatnya.
“Aduhhhh....” geram Hannah kesal, “Gak bisaaa.”
“Why?” mata Adam menyalak.
“I can’t.” Balas Hannah.
“Why?”
“I can’t....”
“WHY?”
“I can’t!!!!!!!!!”
“Kamu kok bentak saya?” Adam melepaskan pegangannya dari pinggiran kitchen sink dan membiarkan tangannya tergantung di sebelah pahanya. Pada saat ini dia ingin sekali membolongi kepalanya sendiri demi harga dirinya yang kini sudah jatuh di kaki Hannah.
Tatapan Hannah berubah tajam dan berani, dia melangkah maju menutup ruang antara dirinya dan Adam. Lalu mengingat dia tidak memiliki kemampuan yang tidak dimiliki manusia lain, yaitu memilah – milah udara yang masuk ke hidungnya, dengan susah payah Hannah menahan nafas supaya indera pernafasannya tidak menyerap harum tubuh cowok itu. Sementara Adam menunggu – nunggu dengan tak sabar apa yang akan Hannah lakukan pada dirinya, sambil bersiap untuk menelan tubuh mungil itu bulat – bulat ketika dia malah merasa tubuhnya di dorong mundur seraya mendengar Hannah berkata.....“BACK OFF.”
Dan perlu beberapa detik untuk Adam tersadar kalau gadis itu sudah lenyap dari hadapannya.