2. Menjadi tak tahu malu

1235 Kata
Pov. Cantik Sepertinya malam masih panjang untukku. Aku merasakan tangannya mulai bermain di tubuh ini. Dia tak melepaskan pagutan kami saat kurasakan tangan besarnya mengelus lembut leher lalu turun ke d**a. Dia remas seraya menciumi dadaku. Dia jilat, hisap bahkan mengigit kecil yang seketika membuat tubuhku mengigil. Tanpa terasa handuk yang sedari tadi setia menutupi tubuh, kini sudah terbuka. Kurasakan tubuh mulai menikmati saat tangan pria di atas tubuhku meraba setiap jengkalnya. Dia membelai lembut seraya menciumi dadaku. Lidahnya mulai bermain di sana hingga membuatku merasakan sensai yang belum pernah kurasakan. Aku membekap mulutku berusaha keras menahan desahan. Aku tak mau terlihat seperti jalang, meski jujur tubuhku begitu menikmati setiap belaiannya. Tangan dan bibirnya bagai candu membuatku menginginkannya terus dan terus. Bolehkah aku menikmatinya? Lalu aku merasakan ciumannya mulai turun dan turun lagi hingga ke area sensitifku. Dia memainkan lidahnya di sana hingga membuatku menggigil. Aku yang tengah melayang, seketika tersadar saat merasakannya. "Aahh, jangan, aku mohon," lirihku. "Sssstttt, diamlah sayang. Biarkan aku menikmati setiap jengkal tubuhmu yang terasa sangat manis dan nikmat ini," bisiknya. Kemudian kurasakan dia kembali mempersempit jarak diantara kami hingga kurasakan tubuh kami menempel dengan sempurna. Aku membekap mulutku menahan desah saat merasakan sesuatu yang terasa akan meledak pada tubuhku. Aku sangat takut akan mengeluarkan erangan kenikmatan dari mulut ini. Aku hanya bisa melenguh seraya meremas ujung bantal saat merasakan sentuhannya pada area sensitifku. Kemudian bibirnya kembali menghisap dadaku, mencium bibirku dengan lembut. Oh, Tuhan, aku sungguh tidak sanggup menahan desahan nikmat dari mulutku, gumamku di dalam hati. "Eeeuummgghhh," rintihku seraya menggigit bibir bawah saat merasakan dia mulai melakukan penekanan. Aku merasakan sakit, seperti ada yang robek di bawah sana. Wajahku meringis. Jujur ini menyakitkan. Dadaku terasa sesak kala merasakan sakit.. "Sakit? Apakah ini pertama kalinya untukmu?" tanyanya yang hanya kubalas dengan anggukan. Mulut ini mulai menggegar karena menahan tangis. Aku tak boleh menangis, aku harus kuat, batinku. Aku merasakan Sam menempelkan keningnya pada keningku. "Terima kasih sayang, aku ingin menjadi laki-laki pertama dan terakhir yang bisa merasakan nikmatnya tubuhmu," bisiknya. Aku tak tahu apa maksud dari perkataannya. Aku masih fokus pada rasa sakit di area sensitif yang masih mendominasi. "Ini ssaaakkiitt," rintihku. "Sssshhhh tahan sayang. Ini bahkan belum semua. Sakit ini takkan lama, ini wajar terjadi saat wanita melakukan untuk pertama kalinya," katanya sambil membelai lembut wajahku. Lalu kurasakan tangannya mengenggam tanganku dan beberapa detik kemudian dia kembali melakukan penekanan. "Eeeuuhhmmmgh." Aku menggigit bibir bawah saat merasakannya untuk menahan erangan menyedihkan yang akan keluar dari mulutku. "Sakit, ini sangat menyakitkan," rintihku lirih dengan airmata yang sudah membasahi pipi. "Tahan sayang, sakit ini hanya sebentar. Sakit ini tak seberapa jika dibandingkan kenikmatan yang akan segera kamu rasakan." Aku hanya mengangguk patuh dengan wajah meringis karena menahan sakit. Keadaanku sudah sangat kacau saat itu dengan peluh yang sudah membasahi sekujur tubuh. Lalu aku merasakan Sam mulai bergerak. Gerakannya cukup lembut hingga membuatku tak terlalu merasakan kesakitan. Aku yang mulai terbiasa, tanpa sadar mendesah. Aku merasa malu dengan kemunafikanku. Wajah ini terlihat sedih tetapi, berbeda dengan tubuh bagian lain yang begitu menikmati. Aku sungguh merasa akan gila malam ini. Aku hanya meringis seraya meremas ujung bantal saat merasakan gerakan dari Sam. "Gimana sayang? Udah enggak terlalu sakit kan?" tanyanya yang masih terus menggerakan tubuhnya. Aku hanya bisa menganggukan kepala seraya menggigit bibir bawahku dengan raut wajah yang sudah mengerut akibat merasakan sakit dan nikmat sekaligus. Perlahan Sam mulai menambah ritme gerakannya hingga membuatku kembali mendesah. Hanya malam ini, aku akan menikmatinya dan menjadi jalang karena setelah ini, aku takkan mau melakukannya lagi, pikirku. Aku sudah menyerah, harga diriku telah lenyap. Kini aku tak lebih dari seorang p*****r murahan, yang tubuhnya bisa dinikmati semua lelaki asalkan mau membayar. Sakit rasanya hati ini, saat mendapati kenyataan pahit. Pov. Sam Sungguh malam yang indah ditemani cahaya temaram. Malam syahdu di mana aku dan Cantik menikmati satu sama lain. Gadis ini sungguh tidak ahli, dia payah. Entah bagaimana cara dia melayani setiap pelanggannya dengan keadaan seperti ini. Benar-benar tidak mempunyai keahlian. Meskipun dia tidak bisa apa-apa tetapi, aku tetap senang ditemaninya malam ini. Tanganku tak dapat berhenti untuk membelai setiap jengkal tubuhnya yang terasa lembut. Kuciumi d**a dan leher gadis di bawah tubuhku hingga meninggalkan tanda kecupan-kecupan kecil di sana. Kugigit bahkan hisap tubuh gadis dalam kendaliku dengan penuh semangat. Hasratku kian bergejolak dan membesar. Kemudian aku turun lagi hingga ke area sensitifnya. Aku ingin mendengar desahan merdunya yang tak kunjung keluar dari mulut manisnya. Mungkin dengan aku melakukan ini, dia akan mendesah nikmat. Aku ingin memberinya contoh bagaimana cara memberikan servis yang baik. "Ahh, jangan, aku mohon," lirihnya seraya menyentuh pucuk kepalaku. "Sssstttt, diamlah sayang. Biarkan aku menikmati setiap jengkal tubuhmu yang terasa sangat manis nan nikmat ini," bisikku sembari menatap sejenak wajah Cantik yang sudah merona merah dan intonasi napas yang sudah tak beraturan. Aku tersenyum tipis saat melihat hal itu, gadis ini sungguh terlihat sangat menggemaskan. Apalagi saat melihatnya membekap mulut mungil itu, betapa imutnya gadis ini. Bolehkan aku memilikinya? Aku sungguh tidak dapat menahannya lagi, yang kubutuhkan saat ini adalah kelembutannya. Aku ingin merasakan diriku berada di dalam tubuhnya. Aku ingin penyatuan. Membayangkannya saja sudah membuat air liurku menetes. Sial! Kemudian kubuka kakinya lebih lebar untuk memulai penyatuan. Sempurna, tempat favourite-ku sudah sangat basah. Lalu aku mulai melakukan penekanan. Tempat kesukaanku masih sangat sempit, cengkramannya begitu kuat menggigit. Namun, aku menekannya lebih kuat agar dapat masuk. "Eeeuummgghhh," rintihnya. Kurasakan tubuhnya gemetar. Tunggu! Jangan bilang kalau dia masih perawan. "Sakit? Apakah ini pertama kalinya untukmu?" Kulihat dia menganggukan kepala. Wuh, aku sangat senang mengetahui hal membahagiakan ini. Ini pertama kalinya untuk Cantik dan itu berarti dia harus menjadi milikku. Itu artinya Cantik bukan seorang pel*cur. Aku tersenyum puas seraya menempelkan kening kami. "Terima kasih sayang, aku ingin menjadi laki-laki pertama dan terakhir yang bisa merasakan nikmatnya tubuhmu," ucapku berbisik. "Ini ssaaakkiitt," lirihnya merintih. Napasku semakin kacau, aku ingin segera bergerak untuk menumpahkan semua hasrat. Aku sudah tidak sanggup menahan lagi. "Sssshhhh tahan sayang, bahkan ini belum semua. Sakit ini takkan lama, aku janji," ucapku menangkan. Kubelai wajahnya lembut, wajah cantiknya selalu berhasil menenangkan. Begitu teduh dan lugu. Kuraih dan cium telapak tangannya lalu kugenggam sebelum kembali melakukan penekanan sembari merapatkan bibir. "Eeeuuhhmmmgh," rintihnya sambil menggigit bibir bawahnya dengan d**a yang naik turun akibat intonasi napas yang sudah tak beraturan. "Sakit, ini sangat menyakitkan." Aku mengkolang kalingkan kepala. Tidak, aku benar-benar sudah tak tahan lagi. Aku harus segera bergerak atau aku akan gila. "Sssshhhh tahan sayang. Ini bahkan belum semua. Sakit ini takkan lama, ini wajar terjadi saat wanita melakukan untuk pertama kalinya," bujukku yang kembali ia balas dengan anggukan kepala. Peluh sudah membasahi sekujur tubuh kami, aku yang sudah tak sabar, tak ingin membuang waktu. Aku pun mulai bergerak meski perlahan agar Cantik tak merasakan terlalu sakit. Gerakan yang lembut, yang secara logika takkan terlalu menyakitinya. Tak berselang lama akhirnya desahan merdunya keluar membuatku semakin terhanyut dalam pesonanya. Cantik benar-benar membuatku hampir gila. Dia begitu memikat dengan semua yang ia miliki pada tubuhnya. "Gimana sayang? Udah enggak terlalu sakit kan?" Aku tersenyum puas saat melihatnya menganggukan kepala, ia mulai mengikuti alur permainanku. Kulihat lagi bibir kemerahannya lalu aku kembali melumatnya. Bibir manis ini seperti akan menjadi bagian favouriteku setelah bagian lembutnya. Malam ini sungguh memuaskan sekaligus menyenangkan. Kekesalanku yang seharian tadi membuat bad mood kini sudah lenyap. Oh s**t, Cantik! Kamu begitu nikmat. Sepertinya ini akan sulit dihentikan. Malam ini aku ingin menyentuhmu sampai aku merasa puas. Sepertinya, malam akan sangat panjang untuk kita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN