"Kak." Pria itu terlihat keheranan karena aku tetap diam dan tidak menjawab pertanyaannya. "Ma-Maafkan aku. Aku hanya terkejut kita bertemu di sini." "Naiklah ke motorku. Aku akan mengantar Kakak pulang." Aku menggelengkan kepala karena tak ingin merepotkannya. "Tidak perlu. Aku akan menunggu bus saja." "Sampai kapan Kakak akan menunggu? Ini sudah sore, nanti Kakak pulang kemalaman. Sudahlah. Ayo, naiklah ke motorku." Aku tetap diam karena sebenarnya masih merasa ragu untuk menerima tawarannya. "Apa Kakak takut dan tidak percaya aku bisa mengantar Kakak sampai di rumah?" "Te-Tentu saja bukan begitu." "Kalau begitu cepatlah naik." "Benarkah tidak apa-apa aku menumpang?" Dia

