"Titania, arwahmu pasti dipenuhi dendam karena itu kau jadi gentayangan seperti ini. Ya, balaskan dendammu. Ibu mendukungmu, Nak. Buat mereka menderita seperti mereka yang telah membuatmu menderita." Sungguh aku tidak menyangka ibu Titania akan mengatakan itu. Bukannya berusaha menenangkan arwah putrinya, dia justru mengutarakan dukungan agar Titania membalaskan dendam pada orang-orang yang telah menyakiti dirinya. "Sylvia, apa yang harus kita lakukan?" Sylvia mengabaikanku, dia berjalan menjauhiku dan mendekati kamar yang seharusnya merupakan tempat hantu Titania berada saat ini. Pada awalnya, terlintas sebuah pertanyaan di benakku, apa yang akan dilakukan Sylvia? Pertanyaanku ini terjawab ketika melihat Sylvia mengeluarkan sebuah papan nama dari

