BAB 6

1640 Kata
"Salwa...." Salwa duduk diam. Ia bahkan tidak sadar kalau sudah sampai di depan rumah. "Salwa, ada tempat lain yang ingin kamu kunjungi?" Salwa mengangkat wajah. Athan tampak menunggu. "Kenapa melihatku begitu?" Athan tersenyum, "Kita sudah sampai." Salwa melihat sekeliling, "Ah. Aku masuk dulu." Salwa membuka pintu, tapi Athan menahannya. "Aku sungguh hanya bercanda." Salwa mengangguk tanpa kata. Ia masuk rumah dan tidak sedetik pun melihat Athan. "Bagaimana perjalanan kalian?" sambut Mama dengan senyum mencurigakan. Salwa melewati Mama, ia langsung ke kamarnya. "Sepertinya tidak baik?" Salwa menghempaskan tubuhnya. Ia melepas jilbabnya juga melepaskan ikat rambut. Apa yang akan dilakukannya sekarang? Kenapa semuanya jadi semakin rumit? Bagaimana pun juga Athan terlihat lebih normal sebagai lelaki saat Salwa menghabiskan waktu bersamanya. Zian! Mungkin karena pernikahan mereka yang batal sebab Salwa dipertemukan dengan Athan? Supaya tidak membuat malu keluarga? Atau mungkin itu bentuk usaha Papa Mama yang melihat putri tercantiknya sedikit lagi akan gila? +++ Salwa terserang demam. Hari itu ia terlalu banyak berpikir hingga mimpi buruk dan susah tidur. Dan itu mengejutkan seisi rumah karena ia tak kunjung keluar dari kamarnya. Meta sampai harus menemani Salwa tidur beberapa malam karena ia sering menggigil oleh mimpi. Di hari ke tiga Salwa bangun, ia mulai sehat meskipun masih terbayang-bayang ketakutan akan janji pernikahan dan kewajibannya jika nanti menjadi istri Athan, lelaki aneh yang belum dikenalnya. Kepala Salwa masih terasa berat, matanya juga perih. "Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?" tuntut Meta gusar setelah menghangatkan bubur dan menghidangkannya untuk Salwa. "Baru satu hari kalian bersama Kakak langsung sakit." "Ah, tidak ada. Kami hanya makan bakso di Besment," jawab Salwa serak setelah minum. "Apa?! Kakak ke sana?" Meta memasang wajah tak percaya. "Kakak dipaksa Bang Athan?" "Aku yang membawanya ke sana," kata Salwa lemah. "Kukira dia akan mengeluh dan blablabla tapi ternyata tidak." "Wah, Kakak melakukan cara kotor untuk membuatnya tidak menyukai Kakak." "Aku hanya ingin melihat reaksinya. Dia terlalu santai." "Sekarang sudah puas?" Salwa menggeleng. "Bagaimanapun aku memikirkannya, aku tidak ingin menikah. Setidaknya bukan dengan dia. Kami berdua akan berdosa mempermainkan ikatan pernikahan." "Kak, kalian hanya mengugurkan janji antara Mama dan Tante Rika. Kalian berdua kan akan saling mengenal dulu. Pacaran setelah menikah. Mungkin saja cinta tumbuh karena kebersamaan." "Tapi dalam nikah, ada..." Salwa menghentikan kalimatnya. Ada nafkah, batin dan lahir. "Sudahlah. Kamu belum mengerti." "Kakak kemarin menyarankan aku menikah," balas Meta kukuh. "Meta mengerti Kak." "Ah, kamu membuatku makin sakit," kata Salwa beralasan. "Nanti akan aku makan buburnya." Salwa tidak ingin membahas Athan, pernikahan dan segala hal merepotkan yang membuatnya tidak bisa berhenti berpikir. Ia perlu sehat untuk mengambil keputusan waras yang melibatkan masa depannya, keputusan yang akan menentukan seperti apa masa depannya nanti. Meta merengut. "Harus habis ya. Kemarin Bang Athan diintrogasi Mama." Tapi Salwa tidak bisa menghalau rasa penasarannya. "Kenapa?" "Karena kalian jalan berdua dan Kakak jadi sakit," jawab Meta sambil berdiri dari duduknya. "Tapi kan ini bukan salahnya. Aku sakit karena kondisi tubuhku sedang tidak sehat, karena cuaca ini." Salwa memang jarang sakit, tapi perubahan ekstrim cuaca lebih mudah memengaruhinya. "Kakak membela Bang Athan?" Meta tersenyum usil, "Mulai suka ya?" Salwa membuang wajah. "Aku mengatakan yang sebenarnya." "Oh, Meta lupa. Kemarin Bang Athan menawarkan untuk membawa dokter ke rumah, memeriksa Kakak." Salwa bekernyit, "Lalu? Kakak tidak merasa ada yang datang selain kamu." "Mama menolaknya." Meta kembali duduk dengan ceritanya yang belum selesai. "Padahal Bang Athan sudah membawa temannya itu ke sini." "Kenapa?" "Dokternya laki-laki. Cakep dan sedikit melambai. Kata Mama itu mungkin pacar asli Bang Athan." Salwa tertawa lemah. "Benarkah? Lalu bagaimana?" "Apanya yang bagaimana?" tanya Meta polos. "Apa Mama Papa membatalkan pernikahan kami?" "Tidak. Kata Mama, kalian akan menikah sebentar dan bercerai." "Apa?" Salwa terkejut. "Benar Mama mengatakan itu?" "Iya." "Apa Papa setuju?" Salwa pikir orang tuanya lebih baik, ternyata mereka tetap manusiawi. Mungkin mereka peduli gangguan mental yang akan mengancam Salwa kalau bersuamikan lelaki yang tidak bisa menghadirkan keturunan untuk mereka. "Ya. Kalau kalian tidak segera punya keturunan selama 3 bulan." Meta mencondongkan tubuh sedikit, "Mama Papa mengklaim Bang Athan homoseksual." "Dia mengaku tidak. Dan marah ketika aku menanyakannya," kata Salwa dengan nada semula. "Marah?" ulang Meta ragu. "Terlihat marah," ralat Salwa. "Dia bilang tidak suka wanita." "Tidak suka wanita bukan berarti dia menyukai lelaki Kak." "Tidak suka wanita bukan berarti tidak bisa produktif, Meta." "Oh ya?" Salwa kembali berbaring. "Kami akan menikah. Hanya perlu 3 bulan kan." Meta tersenyum lagi. "Padahal Bang Athan itu tipe Meta. Dia baik, sepertinya sabar, unyu, pintar masak, mapan. Apa yang kurang?" Salwa menggeleng. Athan memang sempurna, tapi dia ganjil, bercandanya dan seriusnya tidak bisa Salwa bedakan. "Kurang normal, mungkin?" Meta tertawa. "Mungkin dia istimewa." Salwa menghabiskan bubur saat Meta meninggalkan kamarnya. Lalu ia melihat ponselnya yang tergeletak tak berbatre. Mati karena sudah 3 hari tidak dicharge. Salwa menghidupkan lagi ponselnya setelah mandi, dan benda itu penuh notifikasi masuk. Beberapa masih tentang belasungkawa atas putusnya hubungan dengan Zian. Beberapa kalimat suka cita atas lulusnya. Pesan dari Meta. Sisanya Athan. Salwa membuka pesan dari Athan yang dikirim berkala. "Kamu sakit?" "Mau aku panggilkan dokter?" "Bagaimana kondisimu?" "Jangan-jangan ponsel ini mati? Atau pemiliknya yang... Bercanda." Salwa tersenyum sendiri. Tiba-tiba ada telepon masuk. "Assalamu'alaikum." "Waalaikumsalam. Masih hidup? Alhamdulillah. Bagaimana kabarmu?" Salwa tersenyum. "Lebih baik." "Alhamdulillah. Aku sedang bekerja, semoga cepat sembuh." "Terima kasih." "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Salwa melepas ponsel dengan perasaan lucu. Sudah lama sekali Salwa tidak sakit, dan Athan tampaknya peduli. Ia pikir Athan tidak akan serepot itu untuk menanyakan kabarnya. Tapi sikapnya menjelaskan ancaman Mama lebih berbahaya daripada dosen penguji. Mungkin kalau bukan untuk saling mencintai, mereka dipertemukan untuk berteman baik. Athan lelaki yang cukup bertanggung jawab, lebih bertanggung jawab dari pada Zian pecundang jaman now. Tapi bagaimana kalau dia menganggap serius tanggung jawab untuk menafkahi Salwa lahir batin? +++ Salwa membuka selimut nyamannya, sakit itu berlalu, ia pulih dengan cepat. Salwa menggaruk kepala, menambah kusut rambutnya yang selama sakit belum tersentuh sisir. Tiba-tiba ia memikirkan Athan, dan yang Meta katakan. Mungkin Salwa memang harus menerimanya. Athan mungkin tidak seburuk prasangkanya, dan pernikahan, Salwa penasaran reaksi Zian seandainya pecundang itu melihat pasangan menikah Salwa. Tapi ia malah tidak akan mengundang Zian, karena sebaik apapun Athan terlihat, yang menghuni hati Salwa masih Zian. Balas dendam tidak akan merubah hal buruk yang telah terjadi menjadi baik, tidak ada gunanya selain membuang energi. Salwa tidak suka melakukan hal yang akan sia-sia. Salwa tidak melihat Athan satu kalipun setelah jatuh sakit, Mama melarang keras kontak langsung diantara mereka. Beliau juga mengatakan alasannya, Mama masih sangsi Salwa dan Athan tidak akan berubah pikiran untuk membatalkan pernikahan yang sudah mereka persiapkan. Jadi, semuanya hanya dikonfirmasi via telepon. Diakui Salwa, ada sedikit rasa penasaran tentang penampilan lelaki itu nanti, sampai hari pernikahan mereka tiba. Apakah Athan akan memotong rambutnya, atau dia akan mengenakan softlens, atau mungkin sedikit lebih kurus. Salwa mengeleng, ia tidak suka kalau hasil karyanya sia-sia karena berat badan Athan berkurang. Salwa mengunjungi tukang jahit kepercayaannya setiap hari, memastikan ukuran dan hal lain sesuai dengan permintaannya, dan Athan tidak boleh merusaknya. Salwa terkenal sebagai pribadi perfeksionis, ia bersedia memantau langsung pesanannya saat dikerjakan. +++ Salwa mendongak. Di balik kaca ruang kerjanya Nina mengelus perut sambil menunjukkan jam. Salwa sampai lupa waktu makan siang. Ia suka bekerja dan membuat nyaman pikirannya dari berbagai hal rumit lain tentang pernikahan, tentang perasaan. "Ada sesuatu yang ingin kamu makan?" tawar Salwa berdiri hendak pergi. Nina lebih dulu menerobos masuk dengan wajah cemberut meletakkan bungkusan di meja Salwa. "Apa ini?" tanya Salwa kembali duduk melihat tas jinjing yang tadi dibawa Nina berpindah ke mejanya. "Makanan." Salwa bekernyit, sebaik apa dirinya sebagai bos sampai pegawai mentraktirnya makan siang. "Untukku?" "Ya. Dari Bang Athan." "Kapan dia datang?" Salwa melihat kaca tembus pandang di belakang Nina dan tidak ada siapa-siapa di sana. "Dia sudah pergi." Salwa sedikit kecewa. Akhir-akhir ini Athan hanya menghubungi dan bicara seperlunya, aneh rasanya mendapatkan sedikit sikap normal Athan yang juga aneh. Salwa tersenyum sendiri, ia benar-benar menilai aneh segala perilaku Athan. "Sebenarnya Kakak sama Bang Athan ada hubungan apa? Sepertinya dia suka Kakak," tanya Nina masih dengan nada merajuk. Salwa tergelak pelan. "Tidak ada hubungan spesial, hanya seperti Nina dengan seorang pembeli." "Bohong, kan. Kalau Kakak memesan makanan ini, kenapa Kakak masih bertanya ini untuk Kakak atau bukan." Salwa kehilangan kendali untuk tertawa, ia melepaskannya sementara membiarkan saja Nina penasaran sambil cemberut menunggu penjelasannya. "Kalau Athan suka padaku, Nina bisa berhenti menyukainya?" goda Salwa sambil kembali duduk. "Mungkin, entahlah," jawabnya ragu. Salwa membuka rantang itu lagi, kontan aromanya menyebar. "Kalau Athan jadi kekasihku, apa Nina akan membenciku?" "Perasaan itu tidak bisa dipaksa untuk berhenti meski kita tersakiti olehnya. Nina tidak akan menyalahkan Kakak ataupun Bang Athan," jelasnya masam. Salwa diam. Dirinya paling paham hal itu. Salwa masih sempat berpikir tentang Zian dalam hari-hari yang akan mendekatkannya dengan Athan. Lelaki itu masih begitu Salwa kasihi, tapi bukan kesalahan Salwa jika ia menampilkan dirinya yang tegar demi harga diri. Kurun waktu yang mengikat Salwa sebagai istri bagi lelaki aneh bernama Athan itu, menyiksa, sama parah dengan bekas pengkhianatan Zian. Tapi Salwa keras kepala, ia tidak menangis, tidak akan ada tangisan berharganya untuk pecundang itu lagi dan tidak ada alasan bagi Salwa menangis untuk Athan. Diantara tersakiti itu, Salwa mengukuhkan sikap percaya dirinya. Bertahan harus dilakukan diri sendiri, jika mengharap orang lain itu dilindungi bukan bertahan. "Kak?" Nina meringis, "Kakak cemburu kalau Nina suka Bang Athan?" Salwa menggeleng, apa haknya untuk cemburu. "Kalau Bang Athan jadi pacar Nina?" Salwa menatap Nina lama. Ia tahu itu tidak akan terjadi. Salwa juga tidak ingin membatalkan pernikahan lagi. Perasaan apa yang ia miliki untuk Athan lebih dari status pasangan asing yang para mama paksakan untuk diterimanya. "Nina, pacaran itu haram. Dan Athan sepertinya tidak akan menyayangimu lebih dari adik perempuan." "Kakak juga pernah pacaran. Lebih dari satu tahun malah," tambahnya kemudian meninggalkan ruangan Salwa. "Kasus kita berbeda. Yah, karena aku sudah bisa menebak akhir harapanmu. Harusnya kamu berterimakasih padaku," kata Salwa pelan yang jelas tidak akan Nina dengar. +++
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN