Selama hampir dua tahun Salwa mengenal Zian, dan hampir juga menikah dengannya. Salwa belum pernah membayangkan akan ada hari yang membuatnya sholat di belakang Zian. Apalagi tahajjud seperti yang baru saja Salwa lakukan bersama Athan. Salwa selama ini bukan termasuk wanita shaliha, ia tidak pandai bersikap lembut, tidak begitu banyak melakukan amalan sunnah dan baginya cukup perkara wajib yang jangan ditinggalkan. Athan tiba-tiba berbalik, "Dua rakaat lagi?" Salwa tertegun. Cahaya sekitar memang hanya karena sebatang lilin. Namun baginya cahaya dari mata dan senyum Athan lebih terang daripada itu. Salwa ingat Zian, tidak pernah Salwa melihat sesuatu yang menakjubkan dari lelaki itu, kecuali saat dia membawa bunga untuknya. "Salwa?" Athan tersenyum lebar, "Apa kamu sedang terpesona ol

