Anin mendengar suara tawa suaminya. Satu hal yang Anin pikir suatu hari nanti dapat Anin dengar dan nikmati secara langsung, sayangnya tawa merdu itu dihasilkan lebih dulu oleh kehadiran Mutia. Rasa rendah diri membuat Anin makin tenggelam dalam luka. Dirinya telah menyiksa Hadid, dan Anin sendiri tersiksa dengan kebersamaan mereka berdua. Namun, bagaimana bisa Anin pergi saat ini, jika angkat kaki maka Mutia dan Hadid akan kumpul kebo istilahnya. Anin cinta sepenuh jiwa kepada Hadid, rasa bersalah yang ada hanyalah alibinya untuk tetap tak pergi. Anin tak mau Hadid larut dalam dosanya, Anin ingin menjaga suaminya, dengan cara yang indah, sabar. Anin membereskan dapur sambil mengalihkan pikiran, memikirkan apa yang harus dimasaknya hari ini daripada terus berjibaku antara Hadid dan Mutia.

