Langkah kaki memasuki ruangan kecil dimana Justin berada, ia mendekat dengan membawa bunga di tangannya, mengganti dengan yang baru seperti yang biasa ia lakukan setiap harinya. Langkah itu mendekati ranjang pasien dimana Justin saat ini terbaring koma. Tangan lenting itu menyentuh tangan Justin yang kaku pucat, lantas mencium punggung tangan Justin yang masih tak merespon. Ia juga membelai pipi Justin sesekali membenarkan poni panjang Justin. Wajah Justin benar-benar sangat pucat tak ada respon. “Justin!” Tiba-tiba suara dorongan troly masuk ke dalam kamar Justin, rupanya suster yang akan mengecek kondisi Justin. “Ibu datang lagi ke sini?” sapa suster itu sepertinya sudah tahu siapa yang sering datang membawa bunga untuk Justin. “Saya hanya merindukan anak saya Sus!” ucap wanita

