BAB 22

2380 Kata

Suara bising mesin dek kapal yang biasanya menemani tidur Nabilla kini sudah tidak terdengar, digantikan dengan suara daratan yang mulai dapat ia tangkap. “Bangunlah” Suara bariton Bara dengan dingin membangunkan Nabilla dalam tidur pulas nya. Setelah semalam suaminya telah menguras seluruh energi Nabilla kali ini ia membiarkan istrinya menikmati tidurnya untuk beristirahat hingga pagi. “Kita sudah berlabuh” Nabilla memaksakan matanya untuk terbuka, suaminya sedang berdiri di hadapan cermin besar di kamar, sudah mengenakan pakaian lengkap dan rapi. Berbeda dengan dirinya yang masih bergelung di dalam kehangatan selimutnya. “Ini jam berapa mas?” “Jam 9 pagi waktu setempat” laki-laki itu mendekat dan respon Nabilla mendudukkan tubuhnya dengan tetap memegangi selimut untuk menutupi tubu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN