Nabilla tidak habis pikir dengan ide gila mantan suaminya, datang ke Yogyakarta kemudian mengatakan akan menginap di rumahnya, dan itu semua dikatakan Bara dengan intonasi yang sangat tenang tanpa beban. Nabilla berfikir lebih keras, bagaimana bisa mantan suaminya itu bertindak setenang itu, padahal keinginannya saat ini sangat sulit diterima logika. Bara dan Nabilla duduk di ruang tamu rumah Nabilla, dengan Bara yang duduk di sofa panjang sedangkan Nabilla duduk di seberang Bara di kursi kayu. “Ga bisa” “Kenapa ga bisa?” “Kita pasangan yang sudah bercerai, mana mungkin bisa kita tidur dalam satu atap mas” “Buktinya kemarin kamu tidur dirumahku” “Di sini beda dengan di Jakarta, Mas” “Tidak ada yang berbeda Nabilla” “Jelas beda, mas!” Keukeuh Nabilla tak mau kalah, ia tidak akan memb

