"Aku buka, ya, Ca?" Tak dijawab, tetapi bibir bagian bawahnya digigit, tampak sensual di mata dia yang kini tengah membuka satu per satu kancing baju Alisya. Deg-deg ser sekali, jantung rasanya mau meledak seiring dengan terkesposnya tubuh itu. Ada jakun yang naik dan turun, ada tatapan yang mendayu-dayu, pun ada yang namanya ... apa coba itu? Yang tegak berdiri, tetapi bukan keadilan dalam negeri ini. Tak tertahankan lagi, dua bibir menyatu di detik sang lelaki menyambar dengan tanpa berpikir dua kali. "Ica ...." Uh, rasanya amat luar biasa. "Sebut nama aku, Ca ...." Iya, seperti itu. Yang telah memasuki tahap inti. Cewek di bawah kuasanya tubuh ini, dia menunduk, melihat wajah merah padam Alisya, dengan sorotan mata yang amat mematik percikan rasa di dadanya. Argh! "Ica ... s

