Malam mingguan

933 Kata
Malam mingguan Hari-hari dilewati dengan sempurna. Meski belum memiliki keturunan–selama hampir tiga tahun ini, hal itu tak membuat perhatian Nathan kepada sang istri menjadi luntur. Mereka bahagia, melewati semuanya bersama. Di dalam cinta mereka percaya, bahwa suatu saat, Tuhan akan memberikan mereka keturunan jika sudah tiba waktunya. Malam ini, Nathan yang sudah lebih dulu menerima gaji bulanan, ia pun mengajak istrinya untuk mencari makan di luar. "Makan di luar, mau?" tanya Nathan, memastikan. Nadin yang tengah menyisir rambut di depan cermin pun berbalik, melihat suaminya yang sudah memakai jaket miliknya. "Hayo, Mas pasti habis gajian, kan?!" Dengan antusias, Nathan mengangguk. Tersenyum, berjalan mendekati istrinya. "Kuylah, mumpung malam minggu. Mas pengen ngajak istri jalan-jalan," katanya, "Mau?" "Mau..." Nadin berseru, berdiri dan langsung bergelayut manja di lengan suaminya. Segera mereka keluar rumah. Nathan lebih dulu naik ke atas motor, memakai helm dan mengenakannya juga pada istrinya. "Peluk!" Nathan meraih kedua tangan Nadin, membawa tangan Nadin melingkari pinggangnya. "Siap?" tanya Nathan. "Siap, Boss," jawab Nadin. Mereka tertawa kecil bersama, lalu mulai melaju dengan santai. Menikmati suasana malam minggu, melihat para anak-anak muda yang nongkrong dan berkumpul. Nathan menoleh ke samping. "Mau makan apa, um? Awas kalau jawab terserah." Nadin yang meletakkan dagunya di bahu Nathan, ia tergelak lalu mencubit kecil pinggang suaminya. "Ikan bakar, enak nih. Eh, tapi, sate juga enak. Um ... gimana kalau mie ayam? Eh, enggak-enggak. Coto! Biar anget." Nadin pun memajukan kepalanya, memeriksa wajah Nathan. Benar saja, wajah lelaki itu sudah mendatar lucu. Lagi-lagi mereka tertawa bersama. "Yang bener atuh, Neng. Jangan buat Kakang pusing tujuh bangunan," ucap Nathan bercanda. Setelah berunding, akhirnya mereka memilih untuk lebih dulu memakan lalapan, kemudian memesan martabak. "Kamu nggak mau beli anu? Itu loh, apa sih ya, yang buat keset-keset itu? Mas lupa." Nathan sungguh terlalu, berbicara santai di depan orang-orang yang sedang mengantri martabak mereka. Alhasil, mereka diliriki dengan senyum tertahan. "Apa toh, Mas. Ishh!" Nadin malu, mencubit lengan Nathan yang otomatis tertawa. Setelah pesanan martabak mereka usai, kembali lagi kedua orang itu melanjutkan perjalanan. "Singgah bentar di taman, mau nggak?" Nathan mengangguk, kemudian memberhentikan motornya di suatu taman yang cukup ramai malam ini. Turun, merangkul bahu istrinya, seraya menentang kantung martabak mereka. Duduk pada kursi di taman, dan mulai bercerita tentang kisah mereka sendiri. Tetapi, seketika Nadin melamun. Tatapannya lurus ke depan, melihat pada satu titik. "Kenapa sih, um? Kok melamun?" Nathan bertanya. Merangkul lagi bahu Nadin, lalu ia bawa kepala wanita itu bersandar di dadanya. Nadin menggeleng, tersenyum lebar dan langsung menyuap satu potong martabak manis ke mulut suaminya. "Manis ya, kayak istri Mas," celetuk Nathan, mengulum bibirnya menahan senyum. "Eleh, pret! Dasar, kang gombal," balas Nadin, kemudian mereka tergelak. Merasa sudah larut, mereka memutuskan untuk segera pulang ke rumah. "Asyik deh, jalan-jalan pake motor gini. Berasa balik lagi ke zaman pacaran," ucap Nadin yang sudah meletakkan dagunya di bahu Nathan. "Iya, sensasi masa pacarannya berasa balik lagi, 'kan?" balas Nathan, kemudian mengecup punggung tangan istrinya sembari terus mengemudi. Nadin mengulas senyum manis. "Ini nih yang aku suka dari Mas. Romantisnya nggak pernah berubah dari zaman pacaran, selalu bisa hibur aku. Tau ... aja kalau istrinya lagi sedih." Sekali lagi Nathan mengecup punggung tangan Nadin, lalu mengusapnya pelan dengan ibu jarinya. "Nggak usah sedih-sedih. Mas nggak suka lihat kamu sedih. Mending deh, kamu kesurupan, ketimbang sedih-sedih dan buat Mas nggak tenang," balas Nathan, tetapi langsung helm-nya digetok oleh Nadin. "Yakali kesurupan. Mas aja sono yang kesurupan di tengah jalan." Di detik berikutnya, Nathan dan Nadin pun tertawa. Merasa gemas, Nathan langsung menggigit jemari istrinya. "Gemes. Terkam boleh?" *** Karena ini hari minggu, datanglah Naka–adik Nathan–untuk mengunjungi rumah sang kakak. Mengajak istrinya tentu saja. Kebetulan, ada Nathan yang duduk di ruang tengah. Mengetik pada laptop yang ia letakkan di atas meja kaca. "Assalamualaikum!" Nathan menoleh. Sontak berdiri, saat melihat Naka dan Margie yang sudah memasuki rumah. "Wa'alaikumussalam. Wah, padahal baru aja Mas pengen nelpon, mau ngajak kalian ke rumah," lontar Nathan, lalu berpelukan singkat dengan sang adik. "Mbak Nadin ... mana?" tanya Margie, mencari-cari keberadaan kakak iparnya. "Oh, di dapur. Nyusul gih, lagi masak tuh dia," jawab Nathan. "Hati-hati," timpal Naka. Selalu memperingati sang istri untuk berhati-hati saat di dapur. Duduklah Nathan dan Naka bersama, mulai bercerita dan saling melontarkan isi pikiran masing-masing tentang pekerjaan. Lalu, seketika Naka menceletuk, "Rumah segede gini, kalau banyak bocilnya pasti seru." Tidak bermaksud lain, Naka benar-benar spontan mengatakan apa yang terlintas di otaknya. "InsyaAllah, suatu saat ada lebih dari dua bocil yang bakal ramein rumah ini," balas Nathan, bersikap dewasa. Nathan tersenyum, melihat sang adik. "Kalau bukan anak-anak Mas, ya anak-anak kamu dong yang harus ramein ni rumah. Anak kamu dan Margie, ya anak Mas sama Nadin juga. Iya, kan?" Mereka pun tersenyum bersama. Inilah yang membuat Naka bangga pada sang kakak. Nathan, pria itu memiliki sifat yang sangat dewasa. Apa pun itu keadaannya, dapat ia ubah bak air yang tenang. Yah, semua itu berkat sifat dan pemikirannya yang matang, yang dewasa. "Eh, ini mereka masak apa ya? Wangi banget." Dahi kedua pria itu otomatis mengernyit, menghirup aroma masakan Nadin dan Margie yang begitu wangi. "Opor," pekik kakak beradik itu. Melotot, berdiri, kemudian berlari cepat menuju dapur. "Mau opor..." Seru keduanya. "E-eh? Belum mateng. Buset!" Nadin dan Margie tertawa, melihat suami-suami mereka yang berlari seperti dua badak kesurupan menuju mereka. "Ya udah, makan kalian aja," lontar Nathan dan Naka, serentak. "Mesooom..." sahut Nadin dan Margie kompak. Menyisakan gelak tawa mereka berempat. Nadin mengedipkan sebelah mata ke arah suaminya, membalas ciuman jauh dari suami tercintanya itu. Malam minggu mereka, ditutup dengan saling bercerita, banyak hal, membuat Nadin larut dalam suka cita tak terelakkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN