12. Rasa Penasarannya

1353 Kata

Elisa duduk di seberang meja, menatap Wira yang sedang asyik dengan ponselnya, sesekali menyeruput kopi hitamnya. Di bawah cahaya pagi yang lembut, wajah pria itu terlihat tenang, namun ada jarak yang terasa, sebuah tembok transparan yang didirikan sejak kejadian di dapur. Pikiran Elisa melayang pada malam kemarin, pada gagang pintu kamar pria itu yang terkunci rapat, dan pada rasa penasaran yang masih menggumpal. Dia meletakkan cangkir kopinya dan terdengar bunyi yang lembut, mengembuskan napas pelan. "Kemarin kamu pulang jam berapa?" tanyanya, mencoba terdengar santai. "Sembilan," balas Wira, singkat, tanpa mengalihkan pandang dari layar. "Oh." Elisa menurunkan pandangannya ke kopinya yang masih berasap. Wira akhirnya menoleh, matanya bertemu dengan mata Elisa untuk pertama kalinya p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN