18. Bercak Merah di Karpet

1356 Kata

Elisa membuka matanya perlahan. Suara bisik-bisik dari televisi yang masih menyala memenuhi telinganya. Cahaya pagi yang pucat menyelinap dari celah gorden, menerangi sebagian ruangan. Kemudian, sensasi itu datang, sebuah lengan yang berat dan hangat melingkari pinggangnya dengan erat, sebuah tangan yang besar tertelungkup di perutnya. Bukan tangannya. Dia membeku, lalu menoleh perlahan di atas bantal. Di sana, hanya beberapa inci darinya, ada wajah Wira. Pria itu tertidur, napasnya dalam dan teratur, wajahnya yang biasanya tegang kini terlihat lepas dalam tidur. Bulu matanya yang panjang menyentuh pipi, dan dalam cahaya lemah itu, dia terlihat lebih muda, lebih rapuh. Kemudian, kesadaran yang lebih keras menghantam. Mereka masih di ruang nonton TV, berbaring di atas karpet. Dan malam it

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN