Malam itu, mereka kembali ke rumah sewaan Wira, Maya ikut serta, membawa tas berisi pakaian bersih untuknya dan juga Elisa. Rumah lama mereka sudah bukan pilihan mengingat perseteruan mereka dengan warga tadi pagi. Mereka duduk mengelilingi meja makan sederhana, tubuh masih segar setelah mandi, namun suasana ruang tetap berisi sisa ketegangan. Di atas meja, terhamar bungkusan makanan jalanan dalam piring kertas berminyak. Wira, yang tadinya ragu, akhirnya ikut makan setelah Maya melemparkan pandangan yang sulit ditolak, sebuah bentuk penerimaan yang masih kaku. Maya menyuap nasi goreng, lalu menatap Wira yang duduk di seberang. "Jadi, rencananya kapan berangkat ke Jakarta?" tanyanya, suara mengunyahnya samar. "Kapan pun kalian siap," jawab Wira, suaranya netral namun matanya berpindah k

