“Jadi ini nomor ponselmu?” Tanya Aksa. “Hehehe. Iya.” “Astaga, jahil sekali kamu. Aku tak mengenali suaramu sama sekali.” “Ahaha. Aku putus asa malam itu. Aku tak tahan jika harus diam untuk merindu. Dan akhirnya aku memberanikan diri untuk menghubungimu.” “Ya ampun, bahkan setiap malam kau berisik sekali.” “Haha. Maafkan aku. rinduku yang melakukan itu.” “Sampai suatu hari kau berhenti menghubungiku, dengan bodohnya aku menunggumu untuk menggangguku.” Ungkap Aksa yang tersenyum mengingat waktu itu. “Aksa.” “Iya.” “Kau selesai dengan Nana?” “Ahh, tak perlu dibahas lagi.” “Kenapa? Kenapa kalian berpisah?” “Haruskah aku bercerita?” Elina tersenyum menggenggam tangan Aksa. “Nana mengkhianatiku. Padahal untuk mendapatkannya aku harus menyakitimu.” Jelas Aksa menatap Elina. Elina

