Part 6

1251 Kata
Dinda berjalan menyusuri koridor sekolah dengan santai. Sekolah masih tampak sepi, karena baru jam enam lewat lima menit. Biasanya sekolah akan ramai pada jam setengah tujuh. "Woi!" Dinda tersentak kaget saat seseorang menepuk pundaknya dengan cukup keras. "Sialan!" umpat Dinda. Elis tertawa sangat kencang karena berhasil membuat temannya itu terkejut. "Gak lucu!" "Sorry, Din. Jangan marah-marah gitu dong. Nanti cepat tua, loh." "Gimana gak marah-marah. Pagi-pagi udah dibikin jantungan. Untung gue gak punya riwayat penyakit jantung," ucap Dinda yang masih terlihat kesal. Elis terkekeh pelan. "Iya, maaf. Ya udah ayo ke kelas bareng." Elis merangkul Dinda, kemudian mereka berjalan menuju kelas. ***** "Selamat pagi anak-anak," salam Bu Tina yang baru saja masuk ke kelas XI Ipa 3. Murid-murid yang tadinya sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, segera mengalihkan pandangan mereka ke depan. "Pagi Bu." "Baik, sekarang Ibu akan menjelaskan ulang materi yang kemarin. Silakan kalian buka buku paketnya. Kalian buka halaman---" Ucapan Bu Tina terpotong ketika seseorang mengetuk pintu sembari memberi salam. "Selamat pagi, Bu." Tatapan Bu Tina seketika berubah tajam ketika melihat orang tersebut. "Lagi-lagi kamu, Leo. Kenapa kamu baru datang? Masih ngurus anak?" tanya Bu Tina dengan wajah sangarnya. "Iya Bu. Tadi anak saya rewel banget nggak mau ditinggal sama saya. Jadi tadi saya masih ngebujuk dia. Saya minta maaf, ya, Bu," ucap Leo dengan wajah memelas. Sontak seisi kelas tertawa karena ucapan Leo. Tapi tidak dengan Dinda, cewek itu hanya fokus pada bukunya. Dinda memang sama sekali tidak tertarik jika itu adalah tentang Leo. "Diam! Jangan ada yang tertawa!" Seisi kelas langsung diam ketika Bu Tina memukul meja memarahi mereka. Bu Tina beralih menatap Leo. "Karena kamu datang terlambat, kamu harus dapat hukuman. Sekarang kamu ke lapangan dan lari keliling lapangan sepuluh kali." Leo membulatkan matanya. "Apa Bu? Sepuluh kali? Bu saya mohon lima putaran aja. Emangnya Ibu nggak kasihan sama saya? Di mana hati nurani Ibu sebagai manusia? Apakah ibu tidak ada rasa peduli sama sekali?" ucap Leo memasang wajah memelas. Berharap Bu Tina mau mengurangi hukumannya. "Tidak usah akting. Saya tidak akan kurangi hukumannya. Sekarang kamu ke lapangan dan jalani hukuman kamu. Kalau tidak saya tambahkan hukumannya. Mau kamu?" Leo segera menggeleng. "Tidak Bu." Leo pun akhirnya pergi ke lapangan untuk menjalankan hukumannya. ***** "Bu Tina emang benar-benar tega sama gue," gumam Leo. Leo baru saja selesai menjalankan hukumannya. Saat ini ia sedang duduk di tepi lapangan untuk beristirahat sejenak. Sesekali menyeka keringat di wajahnya dengan punggung tangannya. Saat Leo sedang mendumel, tiba-tiba ada seorang cewek berpakaian seragam ketat menghampirinya, lalu memberikan sebotol air mineral pada Leo. "Leo sayang nih minum dulu. Kamu pasti capek banget, kan," ujar cewek itu sembari tersenyum manis ke arah Leo. Leo menatap sejenak cewek itu, sehingga membuatnya salah tingkah. "Jangan liatin aku kayak gitu dong. Kan aku jadi malu." Leo hanya tersenyum, lalu mengambil air itu dari cewek itu. "Thank's ya Keyla." Cewek yang dipanggil Keyla oleh Leo itu hanya mengangguk sambil tersenyum malu. "Eh, Din, lo liat deh si Keyla sengaja banget deketin Leo," ujar Elis yang kebetulan melihat Leo dan Keyla. Dinda tak mendengar ucapan Elis karena ia hanya fokus memainkan ponselnya. "Din, lo denger gue gak sih?" tanya Elis sembari menyenggol lengan Dinda. Dinda menatap Elis sejenak. "Iya, kenapa sih, Lis?" "Lo liat si Keyla centil itu. Dia sengaja kasih minum buat Leo." Dinda tertawa pelan. "Lo kalau cemburu, ya, bilang aja." Elis menatap kesal Dinda. "Ish! Gue gak cemburu tahu! Lagian bentar lagi, kan, gue bakal punya pacar." "Siapa? Emangnya lo punya gebetan?" tanya Dinda mendadak ingin tahu. "Ada deh. Kepo." Elis berjalan lebih dulu meninggalkan Dinda. "Ih, Elis! Tungguin gue!" pekik Dinda. Elis terus berlari sambil tertawa. Hingga tak sadar ia menabrak seseorang. "Aduh. Sorry Fadil." Dinda yang berada di belakangnya hanya bisa menahan tawa. "I-iya. Gak pa-pa kok," ucap Fadil terbata-bata. "Dil, nggak usah gugup gitu. Elis kan jadi malu," ucap Dinda sembari tersenyum ke arah Elis. Fadil hanya tersenyum kikuk. Sedangkan Elis menyikut lengan Dinda. "Gu-gue pe-rgi du-lu." Fadil langsung pergi dari sana dengan terburu-buru. "Cie. Cie. Jadi cowoknya Fadil?" goda Dinda. "Apaan sih lo? Berhenti gangguin gue." "Iya deh. Gue gak bakalan ganggu lo, tapi gue bakalan ganggu Fadil." Dinda menoel-noel dagu Elis, mencoba menggoda temannya itu. Elis segera menghempas tangan Dinda dari dagunya. "Apaan sih lo?" Elis langsung pergi meninggalkan Dinda. Melihat Elis yang kesal, Dinda pun tertawa. "Elis, jangan marah dong." ***** Bruk! Dinda terjatuh karena ada seseorang yang menyenggolnya. "Din, lo gak papa, kan?" Elis yang berada di depan Dinda segera menoleh ke belakang. Elis membantu Dinda bangkit berdiri. "Eh, Lele! Maksud lo apa nyenggol gue? Suka banget cari masalah sama gue." "Gak sengaja," ucap Leo sembari tersenyum tipis. "Lele!" pekik Dinda kesal. Baru saja ia ingin memukul Leo, cowok itu sudah lebih dulu kabur. "Dasar ikan lele! Liat aja gue bakal balas lo." Elis mengusap pundak Dinda. Mencoba menenangkan temannya itu. "Sabar Din. Tahan emosi lo." "Gimana gak emosi. Tuh, orang emang suka cari masalah sama gue. Selalu bikin gue darah tinggi." "Ya udah sabar. Justru Leo itu sengaja kayak gitu biar lo marah. Jadi lo gak usah kepancing sama Leo." "Mendingan sekarang lo cari meja buat kita. Gue mau beli makan. Lo mau makan apa?" "Gue bakso sama es teh." "Oke. Gue beliin dulu." Setelah Elis pergi membeli makanan, Dinda mencari meja kosong. "Kayaknya semua meja udah penuh, deh," gumam Dinda ketika melihat meja-meja di kantin yang sudah terisi penuh oleh murid-murid. "Dinda!" Mendengar namanya dipanggil, Dinda segera menoleh ke sumber suara. "Vano." "Sini. Duduk sama gue aja." Dinda mengangguk. Ia pun segera menghampiri Vano. Dinda mengambil duduk di depan Vano. "Lo tadi ribut lagi sama Leo?" tanya Vano. "Iya. Kok lo tahu?" "Tadi gue sempat liat dia nyenggol lo." Dinda manggut-manggut. "Emang dia nyebelin banget, sih. Gak ada satu hari pun dia gak gangguin gue." "Udah gak usah bete lagi. Nanti cantiknya hilang," ucap Vano membuat Dinda tertawa. "Bisa aja lo." "Din, nih, bakso sama es teh lo." Elis menaruh bakso dan es teh pesanan Dinda di hadapan cewek itu. "Makasih Elis cantik." "Sama-sama." Elis mengambil duduk di samping Dinda. Dinda memakan baksonya dengan lahap. Vano yang melihat Dinda makan hanya bisa tersenyum. "Makannya pelan-pelan aja, Din. Nanti keselek baru tahu rasa lo," tegur Elis ketika melihat Dinda makan. "Lapar gue." "Uhuk... Uhuk..." Dinda tersedak karena memakan bakso dengan terburu-buru. Melihat itu, Vano segera memberikan es teh pada Dinda. "Minum dulu, Din." Dinda segera menerima kemudian meminum es teh hingga setengah. "Makasih Van." "Iya. Makannya pelan-pelan aja. Nanti keselek lagi." "Makanya kalau gue ngomong tuh dengarin. Jadinya keselek, kan," sahut Elis yang sudah tertawa. "Ketawa aja terus. Senang ya liat gue menderita?" "Enggak. Emang lucu. Iya kan, Vano?" ***** "Eh, Leo." Deni menyenggol lengan Leo. Leo yang sedang menikmati makanannya menoleh pada Deni. "Apa?" "Lo liat deh. Si Vano akrab banget sama Dinda. Kayaknya dia naksir sama Dinda." "Terus?" "Lo gak cemburu? Dinda kan kecebong lo. Emangnya lo terima kalau kecebong lo diambil orang lain?" Leo terkekeh. "Cemburu? Gue aja gak suka sama dia. Mau dia sama siapapun gue gak peduli. Karena itu bukan urusan gue." "Yakin gak cemburu?" tanya Deni lagi. Mencoba menggoda Leo. "Nanya lagi gue pukul lo." Deni tertawa. "Selow dong. Gak usah ngegas." Leo tidak peduli dengan ucapan Deni. Ia melirik sekilas ke arah Dinda dan Vano. Mereka berdua memang terlihat cukup dekat. Tapi Leo memilih tidak peduli. Ia segera mengalihkan pandangannya pada makanannya. Ia tidak akan peduli jika Dinda dekat dengan Vano atau pun memiliki hubungan lebih dengan Vano. Karena baginya itu bukanlah hal yang penting dan pantas untuk dipikirkan. ***********************************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN