Part 5

1243 Kata
"Din, pulang bareng gue, yuk," ajak Vano. Dinda tersenyum. "Sorry Van, gue bisa pulang sendiri kok. Gue dijemput sama kakak gue." Terlihat jelas raut wajah kecewa dari Vano. Dinda merasa tak enak dengan cowok itu. "Ya udah deh." "Sorry, ya, Van. Lain kali gue bakal pulang bareng lo kok." Vano mengembangkan senyumnya. "Oke. Gue tunggu janji lo. Kalau gitu gue balik dulu. Bye, Din." Dinda mengangguk. Setelahnya cowok itu pergi meninggalkan Dinda. "Din, mau pulang bareng gue?" tanya Elis yang baru saja selesai merapikan alat tulisnya. "Gak Lis, gue pulang sendiri aja." "Kenapa lo nggak mau? Emang Kak Rinda bakal jemput lo? Bukannya Kak Rinda kuliah?" "Rumah kita kan gak searah. Kasihan lo nanti. Gue gak mau ngerepotin lo." Elis menatap Dinda kesal. "Lo itu kan sahabat gue. Jadi lo itu sama sekali gak ngerepotin gue." "Gue bisa---" "Woi Kecebong," teriak Leo, membuat ucapan Dinda terhenti. Namun Dinda sama sekali tidak berniat untuk menoleh pada cowok itu. "Yah, dikacangin lo, Bro." "Din, pulang bareng gue aja. Lo sama sekali gak ngerepotin gue kok," ucap Elis lagi. Dinda menggeleng. Ia tidak ingin pulang dengan Elis. Karena ia tidak mau merepotkan Elis. Elis jadi kesal sendiri dengan cewek itu. Padahal menurut Elis cewek itu sama sekali tak merepotkan dirinya. "Woi, Dinda kecebong!" teriak Leo cukup keras. Akhirnya Dinda menoleh pada cowok itu. "Apaan sih lo? Nama gue Dinda bukan Kecebong." "Ayo pulang." Dinda menatap Leo dengan satu alis terangkat. Ia tidak salah dengar bukan? Leo mengajaknya pulang? "Buruan! Mau sampai kapan lo diam aja di situ?" Dinda sedikit tersentak. "Ogah! Mendingan gue pulang sendiri." Leo menatapnya malas. "Kurangin dikit gengsi lo. Emangnya lo bisa pulang sendirian?" Dinda hanya diam. Tidak berniat membalas ucapan Leo. "Gue terpaksa pulang bareng lo bukan karena kemauan gue. Ini nyokap gue yang nyuruh gue kalau gak gue mana mau antarin lo." Dinda mencebikkan bibirnya kesal. Tentu ia kesal karena mendengar ucapan Leo. Ia pikir Leo ingin mengantarnya pulang karena kemauannya sendiri, tapi ternyata karena suruhan dari Sinta. "Ya udah nggak usah kalau gitu. Gue juga gak mau kali." "Udah Din, lo pulang aja sama dia. Daripada lo sendiri," usul Elis. Dinda menggeleng, membuat Elis mendengus sebal. "Ayo. Gue nggak mau uang jajan gue dipotong," ucap Leo. Dinda tersenyum sinis. "Bukan urusan gue." "Ya udah kalau lo gak mau. Gue bakal telfon nyokap gue sekarang." Leo mengambil ponselnya hendak menelepon Sinta. Baru saja Leo ingin mencari kontak Sinta, Dinda sudah lebih dulu menahan lengan Leo. "Oke, gue pulang sama lo." Leo kembali menaruh ponselnya di saku celananya. "Gitu kek daritadi." Mereka bertiga berjalan menuju parkiran. "Din, gue pulang duluan, ya, supir gue udah jemput," pamit Elis. Dinda mengangguk. "Hati-hati, Lis." "Ayo naik." Leo melempar helmnya pada Dinda yang langsung diterima oleh Dinda. Setelah memakai helm, Dinda pun naik ke motor Leo dengan bantuan cowok itu. "Udah?" tanya Leo. "Hm." Setelahnya, Leo pun melajukan motornya. Leo mengendarai motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi, membuat Dinda jadi takut sendiri. "Eh, Lele! Jangan ngebut! Lo mau bikin gue mati, ya?" omel Dinda. "Makanya pegangan." "Ogah!" Leo menambah kecepatan motornya, sehingga Dinda berteriak. "Lele! Stop!" pekik Dinda. Walaupun mendengarnya, Leo tidak peduli. Ia masih tetap melajukan motornya. Karena kesal, Dinda pun memukul pundak Leo dengan cukup keras. "Aww! Dasar gila! Sakit Kecebong." "Makanya stop." Leo pun menepikan motornya. "Turun!" suruh Leo. "Hah?" Dinda tampak bingung. "Turun!" Dinda turun dari motor Leo. Setelahnya, Leo kembali melajukan motornya meninggalkan Dinda yang melongo. "What? Dia ninggalin gue?" "Lele! Awas aja lo gue bakal laporin Tante Sinta!" teriak Dinda. Tapi motor Leo sudah melesat jauh. Dinda menghentak-hentakkan kakinya kesal ke tanah. "Dinda!" Mendengar namanya dipanggil, Dinda segera menoleh. "Kak Rinda!" "Ngapain lo di sini?" tanya Rinda heran. "Ngemis," jawab Dinda asal. Rinda memutar bola matanya malas. "Gue tanya serius." "Gak suruh gue masuk mobil dulu, nih? Panas loh." "Buruan masuk." Dinda pun membuka pintu mobil kemudian masuk ke dalam. "Jadi lo ngapain di sini?" tanya ulang Rinda. "Nanti gue cerita kalau udah sampai rumah." "Ya udah." Rinda melajukan mobilnya. ***** "Mama." Leo mendekati Sinta yang sedang menonton televisi, kemudian mencium tangan Sinta. "Leo, kamu tadi antarin Dinda pulang, kan?" tanya Sinta memastikan. "Bukannya nanya anaknya belajar di sekolah gimana, malah nanya Kecebong." Sinta menatap Leo bingung. "Kecebong? Siapa maksud kamu?" "Dinda." "Kamu ada-ada aja. Masa Dinda dibilang kecebong." Leo terkekeh. "Kan dia emang mirip kecebong." "Terserah kamu deh. Kamu antarin Dinda sampai rumahnya, kan?" "Iya Ma." "Kalau kamu antarin Dinda sampai rumahnya, kenapa Dinda pulang sama Rinda?" Leo seketika langsung terdiam. Ia tidak tahu kalau Dinda pulang bersama Rinda. Apa mungkin Dinda meminta Rinda untuk menjemputnya? Pasti Dinda sudah memberitahu ibunya. "Itu Ma, aku---" "Mama kan udah bilang kamu harus antarin Dinda. Bisa-bisanya kamu turunin dia di pinggir jalan. Mama nggak pernah, ya, ngajarin kamu kayak gitu. Karena kamu gak nurutin suruhan Mama, uang jajan kamu Mama potong selama dua minggu." Mata Leo seketika melotot ketika mendengar kalimat terakhir Sinta. "Loh, Ma, aku kan udah antarin dia. Tahu gitu aku nggak usah antarin aja biar uang jajannya dipotong seminggu." "Tapi kamu udah ninggalin Dinda. Pokoknya Mama nggak mau tahu kamu harus minta maaf sama Dinda." "Aku bakal minta maaf sama dia, tapi uang jajan aku jangan dipotong, ya, Ma." Sinta menatapnya tajam. "Gak! Hukuman kamu tetap berjalan. Kalau kamu nggak mau minta maaf sama Dinda, motor dan mobil kamu bakalan Mama sita," ancam Sinta. Leo hanya mengangguk lemas. Bagaimana ini? Leo sangat malu jika harus meminta maaf pada cewek itu. Bisa-bisa cewek itu akan menertawakannya. Tapi kalau ia tak meminta maaf pada Dinda, maka bukan hanya uang jajannya saja yang akan dipotong tapi motor dan mobilnya juga akan disita. Mana mungkin Leo mau kedua fasilitasnya itu disita. ***** Leo berjalan kaki menuju rumah Dinda. Awalnya ia ingin pergi menggunakan motor kesayanganya, tapi Sinta tak mengijinkannya. "Tuh, cewek emang bener-bener bikin gue stres. Laporin Mama segala lagi. Jadinya gue kena semprot," gumam Leo. "Eh, Leo." Leo tersenyum. "Sore Tante. Dinda ada, Tan?" "Sore. Oh, mau ketemu Dinda. Dinda ada di dalam kok. Ayo masuk dulu." Leo mengangguk kemudian ikut masuk ke dalam. "Bentar ya, Tante panggilin dulu Dinda nya." "Iya Tante." Tak lama kemudian, Dinda pun turun ke lantai bawah. Leo yang menyadari kedatangan Dinda segera menoleh pada cewek itu. Dinda terlihat tidak suka ketika melihat wajah Leo. "Ngapain ke sini?" tanya Dinda malas. "Ya mau ketemu lo, lah." "Ngapain mau ketemu gue?" Dinda masih kesal pada cowok itu karena tadi sudah meninggalkannya di pinggir jalan. "Gu...gue mau mi...minta maaf sa..sama lo," ucap Leo terbata-bata. Dinda tertawa mendengar ucapan Leo. Apalagi melihat wajah Leo yang sepertinya menahan malu. "Lo kenapa ketawa?" tanya Leo kesal. "Nggak. Gue cuma lucu aja. Kalau lo nggak niat minta maaf nggak usah. Gue juga gak butuh lo minta maaf kok." "Gue niat kok." "Gue tahu lo itu dipaksain nyokap lo buat minta maaf ke gue, kan? Kalau lo pikir gue yang kasih tahu nyokap lo berarti lo salah besar." "Iya. Gue dipakasain nyokap gue. Karena kalau gak uang jajan gue dipotong selain itu motor dan mobil gue juga bakal disita. Kalau bukan lo yang laporin ke nyokap gue siapa lagi?" Dinda menatap sinis cowok itu. "Silakan lo pulang." "Tapi---" "Pulang." Leo mengangguk dan segera keluar dari rumah Dinda. "Jangan pernah datang ke rumah gue lagi." Brak! Dinda membanting keras pintu, sehingga Leo sedikit tersentak. "Galak amat, tuh, cewek." Leo tidak peduli jika Dinda masih marah padanya. Yang terpenting ia sudah minta maaf pada cewek itu. Urusan dimaafkan atau tidak, ia tidak akan peduli lagi. ***********************************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN