"Leo, pulang, yuk. Nyokap gue udah telfon, nih. Suruh gue pulang," ucap Gio.
Leo menoleh pada temannya yang satu lagi. "Deni, pulang sekarang?" tanyanya.
Cowok yang dipanggil Deni oleh Leo itu hanya mengangguk. Mereka bertiga pun keluar dari cafe menuju parkiran.
Sampai di parkiran, mereka langsung masuk ke dalam mobil. Leo menyalakan mesin mobilnya. Saat Leo hendak menjalankannya, ternyata mobilnya sama sekali tidak bergerak.
"Loh, mobil gue kenapa, nih?" gumamnya.
Gio dan Deni menatap bingung Leo. "Mobil lo kenapa, Le?" tanya Gio.
"Bentar gue cek dulu." Leo keluar dari mobilnya untuk memeriksa kondisi mobilnya.
"Sial! Ban mobil gue kempes," umpat Leo, setelah melihat ban mobil bagian belakangnya kempis.
"Kenapa Le?" tanya Deni yang sudah keluar dari mobil diikuti Gio.
"Ban mobil gue kempes." Leo menunjuk ban mobilnya yang kempis.
"Lo bawa ban cadangan nggak, Le?" tanya Gio.
Gio memang ahli jika urusan mobil dan motor. Ia sangat memahami dengan baik.
"Nggak tahu. Coba lo liat dibagasi."
Gio mengangguk, kemudian membuka bagasi mobil.
"Ada Le."
"Syukur deh. Gue jadi lega."
Gio mengambil ban cadangan dan alat pengganti ban untuk mengganti ban yang kempis.
Tak butuh waktu lama untuk Gio memperbaikinya.
"Udah selesai," ucap Gio.
"Makasih, ya, Bro."
"Sama-sama."
Setelah selesai, mereka pun kembali masuk ke dalam mobil.
"Kok bisa ban mobil lo kempes? Emang sebelum jalan lo gak cek dulu?" tanya Deni.
"Gue gak tahu, tapi seingat gue waktu datang bannya baik-baik aja kok."
"Iya sih. Soalnya waktu kita datang ban mobil lo masih baik-baik aja," timpal Gio.
"Kayaknya ada orang iseng yang mau kerjain gue."
"Siapa yang mau kerjain lo?"
Leo tampak berpikir sejenak. Mencoba menebak siapa orang iseng yang berani mengerjainya.
"Gue tahu. Kayaknya pelakunya itu manusia. Iya kan?" sahut Deni.
Gio tidak segan-segan untuk menjitak kepala Deni, karena ucapan cowok itu.
Sedangkan Leo memutar bola matanya malas.
"b**o banget lo. Tadi kan Leo bilang orang iseng, berarti manusia. Gini, nih, kalau gak pernah fokus di kelas."
Deni tertawa melihat ekspresi Leo dan Gio yang tampak kesal padanya. "Gue juga tahu. Gue cuma bercanda kali jangan anggap serius dong."
"Kayaknya gue tahu siapa pelakunya," ucap Leo.
Gio dan Deni menatap Leo penasaran. "Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan musuh bebuyutan gue."
Gio mengangguk mengerti dengan ucapan Leo. Sedangkan Deni masih dengan wajah bingungnya.
Gio menepuk pundak Deni. "Lo gak tahu?" tanyanya.
Deni menggeleng. "Enggak. Emang siapa musuhnya Leo?"
"Gio, kasih tahu dia. Malas gue ngomong sama dia."
Deni menatap Gio. "Siapa Gio?"
"Intinya dia manusia."
*****
"Bisa gak ketuk dulu sebelum masuk?" Dinda menatap kakak perempuannya tidak suka karena sudah masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ngapain lo senyum-senyum sendiri? Kesambet lo?"
"Suka-suka gue, lah. Ngapain Kak Rinda ke sini?" tanya Dinda tidak ingin basa-basi.
"Gue disuruh Mama buat panggil lo."
"Ngapain Mama panggil gue?" tanya Dinda.
"Mana gue tahu. Buruan samperin Mama di dapur."
"Iya."
"Jangan iya-iya doang. Buruan turun," ketus Rinda.
"Iya. Gak sabaran banget sih," gerutunya.
Dinda keluar dari kamarnya. Ia turun ke lantai bawah menghampiri ibunya yang sedang berada di dapur.
"Ma. Kata Kak Rinda Mama panggil aku?"
"Iya. Nih." Gina yang merupakan ibunya Dinda menyodorkan kantung kresek berisi kue.
"Ini kue kenapa Mama kasih ke aku?" tanyanya bingung.
"Kamu tolong bawain kue ini ke rumahnya Tante Sinta, ya."
"Tante Sinta, Ma?" tanya ulang Dinda.
Gina mengangguk. "Iya. Kamu mau antarin, kan?"
"Kenapa Mama gak suruh Kak Rinda aja?"
"Gue mau kerjain tugas. Udah sana antarin. Nurut sama orang tua," sahut Rinda yang sedang menuang air ke dalam gelas.
Dinda menatap Rinda tidak suka. "Ma, tapi aku gak mau, Ma."
"Kenapa gak mau?"
Dinda terdiam sejenak. Sebenarnya alasan ia tidak mau mengantar kue adalah karena Sinta adalah ibu dari Leo. Kalau ia mengantar kue untuk Sinta, itu berarti ia akan bertemu dengan Leo. Dan ia tidak mau bertemu dengan cowok itu. Ia takut kalau Leo akan mengerjainya karena tadi ia sudah mengempiskan ban mobil cowok itu.
"Aku gak mau ketemu Leo, Ma. Nanti dia jahilin aku. Mama kan tahu aku sama dia kalau ketemu kayak gimana."
"Kamu kasih kuenya ke Tante Sinta, setelah itu kamu pulang. Gak usah ketemu Leo. Gampang kan?"
"Tapi kalau Leo yang bukain pintunya gimana?"
"Dijahilin dikit gak papa. Kan kamu juga biasanya jahil. Yang penting kamu antarin kuenya. Soalnya Mama udah janji sama Tante Sinta kalau hari ini kuenya bakal diantarin."
"Ya udah aku pergi." Dinda mencium tangan Gina.
"Hati-hati bawa kuenya. Jangan sampai rusak."
"Iya."
Dinda pergi ke rumah Leo dengan berjalan kaki.
Rumah Dinda dan Leo cukup dekat karena mereka tinggal di satu kompleks. Jadi Dinda tidak perlu menggunakan kendaraan untuk pergi ke rumah cowok itu.
Dinda bukan hanya bertemu dengan Leo disekolah, tapi di sekitar rumahnya juga.
Rasanya ia lebih baik mati daripada terus bertemu dengan cowok sialan itu.
Dinda terus berjalan hingga sampai di rumah Leo.
Dinda mengetuk pintu rumah tersebut.
"Permisi."
Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Eh, Kecebong, lo ngapain disini?"
Dinda memutar bola matanya malas ketika melihat Leo yang ternyata membukakan pintu untuknya.
"Nih." Dinda menyodorkan kantong kresek tersebut
Leo menatap kantung kresek tersebut dengan kening mengerut. "Apaan nih?" tanyanya.
"Ambil. Jangan cuma diliatin doang," ketus Dinda.
"Santai dong. Gak usah ngegas." Leo segera menerima kantung kresek tersebut.
Tanpa berpamitan pada Leo, ia langsung berbalik badan hendak pulang. Namun, baru beberapa langkah, suara Sinta malah menghentikannya.
"Dinda!" Dinda membalikkan badannya, menatap Sinta sembari tersenyum.
"Sore Tante." Dinda mencium tangan Sinta.
"Sore. Antarin kue, ya?"
"Iya Tante."
"Makasih, ya."
"Kenapa buru-buru pulang? Masuk dulu Tante mau ngobrol sama kamu."
"Udah ayo masuk. Ngapain pulang cepat-cepat?" sahut Leo sambil tersenyum miring.
Dari wajahnya, Dinda yakin Leo seperti sedang merencanakan sesuatu untuknya.
"Ayo masuk bentar. Nanti Tante telfon Mama kamu kalau kamu masih ngobrol sama Tante."
"I... Iya Tan." Dengan terpaksa Dinda masuk ke dalam rumah Leo. Padahal ia ingin segera pergi, tapi karena Sinta, ia masih harus menatap wajah Leo yang menyebalkan itu.
Sinta mempersilahkan Dinda untuk duduk.
"Dinda duduk dulu, ya. Tante ke belakang dulu."
"Iya Tan."
Sinta melirik Leo yang masih berdiri. "Temenin Dinda."
"Iya Ma."
Setelah itu Sinta pergi ke dapur mengambil beberapa camilan untuk Dinda.
Leo yang tadinya berdiri mengambil duduk di depan Dinda.
"Lo tahu gak---"
"Nggak," sela Dinda.
Leo berdecak. "Gue belum selesai ngomong."
"Ya udah, buruan ngomong."
"Waktu gue keluar dari cafe, ban mobil gue kempes. Gak tahu kenapa. Padahal waktu gue pergi ban mobilnya aman-aman aja," ucap Leo.
Ia sengaja mengatakan hal itu karena ia tahu kalau Dinda lah orang yang melakukannya. Ia ingin melihat reaksi Dinda seperti apa.
"Terus kenapa lo cerita ke gue?" tanya Dinda dengan wajah tenang.
"Ya, gue cerita ke lo karena lo kan keluar lebih dulu jadi mungkin lo tahu siapa pelakunya."
Dalam hatinya Leo tidak sabar lagi ingin melihat Dinda tersinggung atau emosi. Dengan begitu, ia bisa menyudutkan Dinda.
"Gue nggak tahu," jawab Dinda singkat.
"Masa lo gak tahu? Lo kan ke parkiran pasti lo liat dong."
Dinda hanya menggeleng.
"Beneran lo gak tahu? Beneran gak liat pelakunya?" tanya Leo sekali lagi.
Dinda sangat tidak suka dengan Leo. Sudah berkali-kali ia menjawab, tapi cowok tersebut malah terus bertanya.
Ia mencoba sabar menghadapi cowok di depannya saat ini.
Ia yakin Leo hanya mencoba untuk membuatnya marah.
"Nggak. Gue gak tahu. Kalo gue tahu pun, gue nggak bakal kasih tahu, karena itu bukan urusan gue."
Leo hanya mengangguk mengerti.
Rencananya ingin membuat cewek itu marah tapi gagal.
Apa mungkin Dinda sudah tahu kalau ia ingin memancing cewek itu?
Tak lama kemudian, Sinta datang membawa minuman dan beberapa camilan.
"Kalian lagi ngomong apaan sih kok keliatannya serius banget?"
"Ngomong soal pelajaran, Tan."
"Oh iya, katanya kalian sekelas, ya?" tanya Sinta.
Dinda mengangguk. "Iya Tan. Kita sekelas."
*****
"Tan, aku pulang dulu, ya," pamit Dinda.
"Iya. Sering-sering ke sini, ya, Din."
Dinda mengangguk mengiyakan.
"Sebentar, ya, Din."
"Leo! Leo! Leo!"
"Iya Ma."
Leo yang berada di kamarnya segera turun ke lantai bawah menghampiri Sinta dan Dinda.
"Kenapa Ma?"
"Kamu anterin Dinda, ya."
"Tapi Ma---"
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Sinta memberi pelototan tajam pada Leo. Alhasil, Leo hanya bisa mengangguk pasrah.
"Nggak usah, Tan. Aku bisa pulang sendiri kok," tolak Dinda.
"Nggak. Kamu nggak boleh pulang sendirian. Apalagi kamu anak gadis, jangan sampai kamu kenapa-napa."
Sebenarnya ia ingin menolak, tapi melihat tatapan Sinta yang seolah memohon akhirnya Dinda menyetujuinya.
"Ya udah kalau gitu saya pulang dulu, Tan."
"Iya. Hati-hati, Din."
Mereka berdua pun pergi.
"Lo kenapa mau diantarin sama gue?"
"Tante Sinta udah suruh. Gak enak kalau gue nolak," jawab Dinda seadanya.
"Bilang aja lo emang mau gue antarin."
Dinda hanya memutar bola matanya malas. Tidak berniat membalas ucapan Leo.
Setelah sampai di depan rumah Dinda, ia langsung masuk begitu saja ke dalam rumah. Tanpa berpamitan pada Leo.
Leo berdecak pelan. Ia kesal karena Dinda yang langsung masuk ke dalam rumah, tanpa mengucapkan satu kata pun padanya.
"Manusia apa bukan sih? Gak bilang makasih atau apa langsung masuk rumah aja."
***********************************************