Sesuai Janji Kemarin

1112 Kata
Seperti janjinya, pagi ini tepat sebelum pukul sepuluh dokter Aisyah menghampiri Ageron di ruangannya. Dia beralasan ada hal yang ingin dia laporkan kepada petugas jaga yang berjaga di depan ruangan Ageron. Petugas jaga pun mempersilahkan dokter Aisyah masuk ke ruangan Ageron.   “Permisi, Kapten.” Kata itulah yang pertama kali dokter Aisyah ucapkan saat memasuki ruangan Ageron.   Ruangan ini merupakan ruang kerja Ageron dan juga tempat dia beristirahat. Di ruangan yang berukuran lima kali lima meter ini terdapat meja panjang yang digunakan untuk rapat ataupun merencanakan strategi penyerangan ataupun penyelamatan. Ada juga sofa kecil di depan meja kerja Ageron yang sepertinya dia gunakan untuk tidur. Karena tidak terlihat tempat tidur di ruangan ini.   “Ah, kau rupanya. Ada perlu apa datang ke sini? Apakah ada hal serius yang harus di laporkan?” Tanya Ageron cuek. Dia masih fokus dengan kertas yang ada di tangannya. Sepertinya kertas yang dia pegang merupakan surat perintah dari atasan tertingginya.   ‘bisa-bisanya dia menanyakan apakah ada hal penting. Tau begini lebih baik aku pergi saja!’ gerutu dokter Aisyah dalam hati.   “Tidak ada, Kapten. Sepertinya saat ini Anda sedang sibuk. Jadi lebih baik saya kembali lain kali.” Jawab dokter Aisyah, lalu dia membalikkan badannya hendak berjalan menuju pintu keluar.   Entah kapan Ageron berdiri dari duduknya, dia sudah ada di belakang dokter Aisyah dan menahan tangannya agar tidak pergi. Karena terkejut dokter Aisyah pun hampir terjatuh. Dia membalikkan badannya dan menatap Ageron kesal. Ditatap seperti itu bukannya takut atau marah dia malah tersenyum.   “Aku yakin ada tujuan yang sangat penting sehingga membuatmu datang kemari bukan?” Tanya Ageron sambal tersenyum.   “Kan tadi sudah aku katakana, tidak ada. Jadi sebaiknya aku kembali ke ruanganku, Karen aku lihat Anda sibuk saat ini.”   “Apakah saat ini kau marah?”   “Apakah aku terlihat marah saat ini?” Tanya balik dokter Aisyah.   “Berbicara denganmu sepertinya membutuhkan kesabaran lebih ya.”   “Memangnya aku kenapa?” Tanya dokter Aisyah bingung.   “Baiklah aku menyerah. Mari duduk terlebih dahulu baru kita bicara.” Bujuk Ageron akhirnya.   Mereka berdua duduk di sofa kecil yang tadi dokter Aisyah lihat. Pandangannya pun kembali menyapu ruangan ini. Dia perhatikan lagi dengan lebih seksama. Di meja kerja Ageron terdapat satu buah pigura, dan entah kenapa dokter Aisyah sangat penasaran dengan apa yang ada di balik pigura itu.   “Kau ingin melihat apa yang ada di dalam pigura itu?” Tanya Ageron saat mengikuti arah pandang dokter Aisyah.   “Hah? Tidak perlu.”   Bukannya mendengarkan Ageron justru berdiri dan berjalan mendekati meja kerjanya dan mengambil pigura itu lalu memberikannya kepada dokter Aisyah.   “Ini foto keluargaku. Ini ibuku” tunjuk Ageron ke arah foto seorang wanita paruh baya. Rambutnya masih indah dan terawat, tapi kerutan di ujung matanya memperlihatkan berapa umurnya saat ini.   “Dan ini apakah kakak perempuanmu? Tapi kalian tidak mirip sama sekali. Kakakmu terlihat seperti orang Inggris”   “Ya, dia kakakku. Kami berbeda ayah. Ibuku pernah menikah sebelumnya dan memiliki satu orang anak perempuan dari suami sebelumnya. Tapi hal itu tidak pernah jadi masalah dalam keluarga kami.”   “Apakh ibumu bercerai dengan suami pertamanya?”   “Tidak, Ayah Andrew meninggal karena kecelakaan.”   “Oh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud…”   “Tidak masalah. Kau juga harus tahu tentang keluargaku bukan? Karena kita akan mulai dekat dan kau akan menjadi kekasihku.”   “Hah? Percaya diri sekali.”   “Tentu aku percaya diri. Kau datang ke sini karena kau ingin mengatakan ‘iya’ dan menerima tawaranku untuk menjalin hubungan bukan?” ucap Ageron mantap.   “Hahahahaha….” Dokter Aisyah pun tertawa garing. Dia jadi kikuk sendiri saat ini. “aku akan menerima tawaranmu dengan satu syarat.” Lanjutnya.   “Apa? Kau memintaku untuk dekat dengan Tuhan? Aku akan lakukan itu.”   “Bagaimana kau tahu jika aku akan meminta itu?”   “Kau itu sudah bisa aku tebak Aisyah. Jadi apapun yang kau inginkan aku sudah tahu sebelum kau katakan.”   “Hah? Tidak seru sekali jika seperti itu. Berarti aku tidak bisa berbohong bahkan merahasiakan sesuatu darimu, Kapten.”   “Aku sudah katakana panggil aku dengan namaku.”   “Tapikan saat ini kita sedang bertugas. Aku tidak mau hanya karena kita memiliki hubungan spesial, kau melupakan profesionalitas dalam bekerja.”   “Baiklah, terserah kau saja. Aku akan menuruti apapun peraturan yang kau buat. Tapi kau pun harus mengikuti semua peraturan yang aku buat. Setuju?”   “Baiklah. Jadi mulai siang ini kau harus mendekatkan diri kepada Tuhan.”   “Ajari aku semuanya!”   Dokter Aisyah pun mulai mengajari apapun yang dia tahu. Dan Ageron dengan senang hati mengikutinya. Sebenarnya dia sudah tahu semua hal-hal dasar seperti ini. Hanya saja selama ini dia tidak begitu perduli. Bahkan lupa, kedekatannya dengan dokter Aisyah membuatnya memahami lagi semuanya.   Karena terlalu asik dengan semua diskusi dan pembahasan yang mereka lakukan mereka berdua tidak sadar jika waktu berlalu begitu cepat. Sampai salah satu bawahannya mengetuk pintu ruangan dan mengatakan jika saat ini mereka harus berpatroli. Saat itulah mereka baru mengakhiri diskusi mereka.   ***   Ageron kembali ke camp dengan luka lecet dimana-mana. Baju yang dia kenakan pun sudah kotor oleh tanah. Entah apa yang terjadi saat mereka berpatroli tadi. Saat ini langit sudah gelap dan semua petugas medis sudah beristirahat di ruangan mereka masing-masing. Karena kedatangan para prajurit ini dalam kondisi terluka parah jadi mereka semua langsung sibuk kembali.   Malam ini dokter Aisyah tidak bertugas jaga, jadi sore tadi dia kembali ke kediaman orang tuanya di pinggiran kota Aleppo. Ageron mencari-cari sosok dokter Aisyah ditengah kesibukan semua tenaga medis ini. Dia ingin dokter Aisyah yang mengobati luka-lukanya. Dokter Fatma yang menyadari jika komandan pasukan ini mencari keberadaan teman sejawatnya langsung menghampiri Ageron.   “Dokter Aisyah tidak ada malam ini. Dia kembali ke kediaman orang tuanya di pinggiran kota Aleppo.”   “Oh. Aku tidak mencari dia.” Jawab Ageron dingin. Mendengar itu dokter Fatma hanya tersenyum simpul.   Saat dokter Fatma akan meninggalkan Ageron, dia menahannya.   “Apa Anda ada nomor telepon dokter Aisyah?” Tanya Ageron canggung.   “Bukankah Kapten tidak mencarinya?” goda dokter Fatma.   “Lupakan saja.” Jawab Ageron datar. Dia langsung berdiri dari duduknya dan pergi menuju ruangannya. Jika hanya luka seperti ini dia bisa mengobatinya sendiri di ruangannya. Tidak perlu ada yang dijahit.   Melihat itu dokter Fatma hanya bisa tertawa sambal menggelengkan kepalanya.   “Dasar anak muda! Egomu terlalu besar. Kau piker di umurku sekarang aku tidak bisa memahami kalian?” gumam dokter Fatma.   Dia mengambil satu buku note kecil dan pulpen yang selalu ada di kantong snelinya dan menuliskan nomor telepon dokter Aisyah di sana. Lalu dia melipat kertas itu dan mendekati salah satu prajurit dan menitipkan kertas itu untuk diberikan kepada Ageron.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN