Dokter Nima sudah menghela napas jengahnya beberapa kali. Dia sangat kesal dengan pihak wedding organaizer yang sampai saat ini belum juga terlihat batang hidungnya. Padahal mereka sudah membuat janji dari dua hari yang lalu. Tapi ternyata di hari mereka harus bertemu dan membahas semuanya justru seperti ini. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti acara pernikahannya bersama Ageron. Bisa-bisa semuanya akan mundur karena mereka datang terlambar atau bahkan semuanya belum siap. Berbanding terbalik dengan dokter Nima yang tampak kesal, Ageron justru masih duduk dengan santainya di cafe ini. Sepetrinya dia sangat khusuk dengan ponsel yang sedari tadi ada di genggaman tangannya. Sesekali dia menyesap kopi yang dia pesan. “Aku mau ke toilet dulu. Kalau sampe lima belas menit lagi mereka

