BAB 58 | Sejenak Bersama Kana

2003 Kata
ARKANA keluar dari club' di mana dirinya bekerja. Matanya masih fokus kepada seorang perempuan yang saat ini berdiri di ujung lorong sendirian sambil memainkan ponselnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak datang ke club' karena banyaknya agenda dan pekerjaan Jendela Kematian. Belum lagi karena beberapa masalah yang membuat mereka semua tentunya harus bekerja lebih. Mungkin tidak masalah untuk tidak menghasilkan uang selama beberapa hari. Namun masalahnya, orang-orang itu sudah mengusik kelompoknya dan itu sangat menyebalkan. Sebenarnya dia ingin langsung pergi, mengabaikan keberadaan perempuan itu. Namun nampaknya, Arkana tidak bisa melakukannya. Laki-laki itu pun memilih berdiri di depan perempuan berambut cokelat itu, menunggunya untuk bicara lebih dulu. Setidaknya membiarkan perempuan itu untuk menyampaikan maksud dan tujuan datang ke tempat ini selain untuk clubbing. Jika datang untuk sekedar happy-happy atau bersenang-senang, tentunya bukan berada di luar, 'kan? Tetapi masuk ke dalam. Perempuan itu tersenyum, menatap Arkana yang menatapnya dingin—seperti biasa. Perempuan itu tidak terganggu karena Arkana melakukan itu hampir kepada seluruh spesies perempuan yang diketahuinya selain Isabela, adik kandung Arkana sendiri. Walaupun begitu, Arkana memang sosok yang menyenangkan ketika beberapa kali diajak bicara atau bercerita. Sehingga perempuan itu tidak pernah menyerah sama sekali untuk mendekati Arkana. Meskipun mereka baru beberapa kali bertemu. "Mau minum kopi bersamaku? Aku punya rekomendasi tempat yang bagus untuk pukul dua dini hari." Tandas perempuan itu yang sangat antusias, Kana. Arkana menatap Kana serius, "hm, ... seharusnya kamu tidur di rumah. Ini terlalu dini untuk keluar dari rumah dan bangun dari tempat tidur. Lalu, kenapa masih datang ke club'? Kamu mengatakan kepada Isabela tentang perubahanmu. Salah satunya tidak datang ke club'." "Iya, ... memang. Tapi tidak ada larangan untuk menjemputmu dan mengajakmu pergi. Aku sangat suka minum kopi, apalagi dini hari seperti ini. Aku bersyukur karena beberapa kedai kopi ada yang buka selama 24 jam. Setidaknya mereka mendukung para manusia insomnia untuk tidak tidur." Sambung Kana dengan sangat antusias. Arkana menghela napas panjang, mengeluarkan ponselnya untuk mengetikkan pesan kepada orang yang pastinya sedang menunggu dirinya di rumah, Isabela. Arkana tidak mau membuat Isabela terjaga sepanjang malam hanya untuk menunggunya. Tetapi Isabela tidak pernah mendengarkannya. Dia selalu menunggu Arkana pulang untuk sekedar memastikan bahwa Kakaknya itu baik-baik saja. "Bicara pada Isabela?" Tanya Kana penasaran sambil melongok ke arah ponsel Arkana yang layarnya masih menyala. Tentu saja Arkana buru-buru untuk menutup ponselnya, memasukkan benda pipih itu ke dalam sakunya sebelum menarik tangan Kana dan mengajaknya segera keluar melewati lorong gelap yang memang biasanya menjadi jalan alternatif untuk para tamu menuju ke club'. "Kamu membawa mobil, bukan?" Tanya Arkana yang masih memegang tangan Kana dan ditariknya menuju ke basement di mana mobil-mobil mewah berjajar rapi di sana. Kana menganggukkan kepalanya, memberikan kuncinya pada Arkana. Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil Kana bersama, dengan Arkana yang bertindak sebagai pengemudi mobilnya. Keduanya memasang seat belt ke tubuh masing-masing dan barulah mobil itu berjalan pelan meninggalkan basement. Selama perjalanan, tidak ada yang bicara satu sama lain. Arkana fokus menyetir sambil sesekali memantau pesannya yang tidak dibalas Isabela. Entah perempuan itu ketiduran atau memang marah padanya karena tidak pulang malam ini. Namun dia punya kegiatan lainnya, meksipun bersama dengan Kana. Dia benci mengatakan bahwa berada disamping seorang Kana, membuatnya menjadi diri sendiri. Dia bisa diam ketika tidak ingin bicara, bisa marah ketika sedang kesal, bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dirinya lakukan ketika dia adalah seorang Kakak. Arkana sudah lama sekali melupakan dirinya yang sebenarnya membutuhkan sedikit saja rasa senang. Arkana juga ingin menikmati hidupnya. Namun tentu saja semua itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Sehingga Arkana seringkali mengabaikan keinginan yang ada di dalam dirinya. Jika Isabela ingin kebebasan untuk bisa pergi kemana-mana. Arkana juga ingin menikmati hidupnya dengan melakukan apapun yang dianggap dirinya nyaman. Seperti akhirnya mengikuti kata hatinya untuk sekedar pergi bersama Kana. "Kamu tinggal di mana?" Tanyanya dengan masih fokus pada jalanan yang lumayan ramai di pukul dua dini hari ini. Mungkin banyak orang yang keluar malam akhir-akhir ini. Pantas saja beberapa polisi merazia para pengemudi yang dikhawatirkan mabuk dan sedang berkendara. Kana menoleh ke arah Arkana yang baru saja membuka suaranya lebih dulu, "di apartement mewah tengah kota. Kamu tahu pembangunan yang ditentang mati-matian itu. Ya, ... aku tinggal di sana. Apartement nyaman yang dihasilkan dari protes panjang masyarakat." "Tinggal sendiri?" Tanya Arkana sekali lagi. Kana menganggukkan kepalanya dengan cepat, "kedua orang tuaku adalah orang yang paling sok sibuk. Mereka bekerja tanpa henti, bahkan mungkin lupa kalau mempunyai anak satu-satunya yang sudah dewasa dan tidak membutuhkan mereka lagi. Jika aku mempunyai keluarga di rumah, mungkin aku tidak akan keluar dan pergi ke club' untuk sekedar mencari kesenangan." "Hm, ... kamu mendapatkan sebuah kesenangan di club'? Semua orang selalu mengatakan bahwa mereka berlari ke club' karena mempunyai masalah. Jadi, apakah club' adalah tempat yang bagus untuk orang-orang yang mempunyai masalah. Apakah itu lebih baik daripada datang ke dokter jiwa, psikolog, atau psikiater?" Tanya Arkana kembali. Kana tersenyum menanggapi apa yang Arkana katakan, "kadangkala, ada manusia yang ingin mempunyai teman untuk sekedar berbagi cerita buruk dan senangnya hari ini. Tapi sebagian lagi menganggap bahwa teman hanya lingkaran besar yang bisa saja menjatuhkanmu ke dalam pusaran. Aku memilih dua opsi itu sekaligus. Aku senang bercerita dan mengeluh walaupun mereka tidak peduli padaku. Aku juga sudah tahu bahwa berteman terkadang harus siap dengan konsekuensi bahwa mereka tidak benar-benar tulus." Arkana menganggukkan kepalanya. Ucapan Kana seperti menusuknya; tidak semua teman tulus. Apakah itu juga termasuk dirinya? Apakah dia juga bukan teman yang tulus? Dia bahkan sudah membuat orang tua satu-satunya dari temannya sendiri mati di tangannya. Tetapi Arkana sendiri tidak tahu bahwa itu orang tua dari Gala. Bahkan dia menyesal membunuh orang yang telah dengan sengaja membunuh kedua orang tuanya dan membuat kehidupannya dan Isabela dalam masa sulit. "Bagaimana kalau kita tidak pergi ke kedai kopi?" Tanya Arkana pada Kana yang mendapatkan kerutan di kening perempuan itu. "Apa ucapanku ada yang salah? Aku benar-benar minta maaf. Tapi bisakah kita sebentar saja datang kesana. Tak apa jika hanya lima menit at—" ucapan Kana terputus begitu saja karena ucapan Arkana yang tiba-tiba. "Bagaimana dengan apartement- mu? Kamu pernah mengajakku bermalam di sana. Apakah penawaran itu masih berlaku?" Tanya Arkana yang tidak pernah diduga oleh Kana sama sekali. Tiba-tiba pipinya berubah memerah karena malu. Jika kemarin Arkana menolaknya mentah-mentah, tapi untuk hari ini, Arkana sepertinya serius dengan ucapannya. Arkana menunggu jawabannya dan tentu saja Kana menganggukkan kepalanya. Arkana pun melajukan mobil perempuan itu ke area apartement yang dimaksud Kana sebagai tempat yang banyak di demo beberapa tahun yang lalu. Namun tetap saja gedung itu tetap berdiri tinggi menjulang. Bahkan mempunyai banyak sekali peminat disetiap tahunnya. Keduanya pun masuk ke dalam lift, bersama dengan beberapa orang. Arkana merangkul pundak Kana, menjauhkannya dari laki-laki tua yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan tidak sopannya. Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka. Mereka berdua keluar dan berjalan menuju apartement milik Kana. Apartement perempuan itu memang sangat bagus. Barang-barang yang ada di dalamnya memang menjelaskan bahwa dirinya bukan hanya sekedar kaya, tetapi memang kaya. Arkana melihat beberapa karya seni antik yang dipajang di sana. Kemungkinan besar harganya ratusan dollar. Dia pun pernah membelinya dari pasar gelap dan melelangnya kembali dengan harga empat kali lipatnya karena tingkat kesulitan ketika mendapatkannya. Arkana langsung duduk di sofa, sedangkan Kana mengambilkan minuman kaleng yang berada di dalam lemari pendingin. "Aku hanya punya ini," senyum Kana mengembang, berusaha untuk tidak terlihat gugup sama sekali. Arkana mengangkat kaleng yang berada di depannya, "kamu sangat menginspirasi sekali." Arkana kembali meletakkan minuman beralkohol itu di atas meja kembali, tidak berniat untuk meminumnya. Dia memang mempunyai toleransi alkohol yang tinggi, tapi untuk makan ini dia tidak mau minum alkohol sama sekali. Semuanya berjalan dengan cepat, ketika bibir mereka saling mengecap satu sama lain. Kana kewalahan dan tidak menyangka bahwa orang yang berada di depannya ini sangat pintar dalam berciuman. Bahkan beberapa kali Kana harus menghentikannya karena kehabisan napas. Mereka berdua seperti terbakar, merasa dunia hanya berporos kepada keduanya. Saling menikmati satu sama lain dan tersenyum sesekali karena tidak sengaja bertatapan dalam jarak yang sedekat ini. Arkana mendongakkan kepalanya, menatap Kana yang berada di bawah tubuhnya. Perempuan itu tersenyum tipis mengalungkan tangannya pada leher Arkana. "Pertama kalinya?" Tanya Arkana kemudian. Kana menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan. Arkana tertawa pelan dan beranjak dari posisi ternyamannya. "Kenapa berhenti?" Tandas Kana ketika Arkana memilih untuk duduk di tepian ranjang dan menarik salah satu bantal untuk menutupi bagian tubuhnya. "Hm, ... kamu akan menyesal jika nantinya aku bukan orang yang tepat." Tandas Arkana tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Kana beranjak dan memeluk Arkana dari belakang. Kehangatan dari tubuh masing-masing menjalar begitu saja, tanpa sekat sama sekali. Arkana pun hanya diam sambil menatap ke arah pintu. "Kadang, aku memikirkan Isabela. Bagaimana kalau dia tahu Kakaknya seperti ini." Tandas Arkana dengan senyuman masam. Kana menghela napas panjang dan masih mempertahankan posisinya untuk memeluk Arkana, "seperti apa? Kakak yang selalu menjaga dirinya mati-matian?" "Kakak yang sembarangan merusak perempuan." Tandas Arkana sambil mengelus tangan Kana yang beberapa saat lalu melingkar di perutnya. "Aku membayangkan kalau apa yang aku lakukan padamu akan dilakukan seseorang kepada Isabela juga. Aku ketakutan setiap kali melakukan apapun. Apakah nantinya akan berdampak padanya juga?" Sambung Arkana lagi. Kana menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan ucapan Arkana itu. "Realita tentang seorang Kakak yang harus sempurna di mata adiknya dan aku sangat kesulitan akan hal itu. Aku bisa menjadi diri sendiri dan terbebas dari segala tuntutan kesempurnaan itu hanya ketika aku denganmu. Itu aneh, bukan?" Tandas Arkana sekali lagi dengan tatapan nanarnya. "Kalau begitu, ... kamu boleh datang kesini ketika kamu ingin melarikan diri dari seluruh dunia. Kamu bisa menjadi dirimu sendiri, melepaskan beban yang ada di dalam hatimu, aku siap untuk menjadi penampungnya." Jawab Kana sambil mengelus pundak Arkana pelan. Arkana tersenyum tipis dan pada akhirnya mengangguk. "Kamu punya luka?" Tanya Kana ketika tadi sempat melihat luka di perut Arkana. Laki-laki itu tertegun sejenak. Dia lupa jika mempunyai luka di perut yang seharusnya tidak diketahui oleh orang lain. Arkana menutup lukanya dengan tangan. Karena bersama Kana dia sampai melupakan rasa sakitnya. "Sepertinya itu luka baru karena masih terlihat basah. Apakah luka itu karena benda tajam? Mengapa kamu sampai mempunyai lupa seperti itu? Apa kamu jagoan? Kamu mabuk dan membuat lukamu separah itu? Apa kamu bodoh?" Tandas Kana dengan berani. Tentu saja Arkana hanya diam dan tidak menjawabnya sama sekali. Dia memilih untuk tetap bungkam dan menjadikan semuanya tampak bias. "Isabela sempat bertanya padaku tentang orang mabuk apakah bisa berdarah? Dia benar-benar polos dan sangat mengkhawatirkan Kakaknya. Jadi jangan terluka jika tidak mau membuatnya khawatir." Tanda Kana yang melepaskan pelukannya dan memilih untuk masuk ke dalam selimut. "Sudah pagi, ... mau tidur?" Sambung Kana menawarkan. Arkana hanya menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya pelan. Laki-laki itu pun bergabung dengan Kana, keduanya berselimut bersama. Dengan tangan Kana sebagai alas tidur bagi Arkana. Laki-laki itu mendekatkan dirinya dan terlelap karena elusan di kepalanya. Arkana sudah melewati banyak waktu sulit yang tidak pernah terpikirkan oleh remaja seusianya dulu. Arkana hanya membutuhkan waktu istirahat walaupun sebentar. Kana masih terjaga, mengelus kepala laki-laki itu yang terlelap setelan mencari posisi ternyamannya. Perempuan itu melamun, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Namun dia hanya diam dan berulangkali menghela napasnya kasar. Mengapa dia dipertemukan dengan orang yang begitu dekat dengannya? Mengapa orang itu Arkana? Perlahan namun pasti, perempuan itu memejamkan matanya. Melepaskan tangannya dari kepala Arkana dan ikut terlelap disamping laki-laki itu. Keduanya seakan menemukan cara baru untuk merehatkan segala lelah yang membelenggu mereka. Tanpa mau tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Setidaknya hari ini, Arkana sejenak bisa melepaskan bebannya. Arkana tidak perlu berpura-pura baik-baik saja atau terus terlihat kuat di depan Isabela. Dia bisa memperlihatkan sisi lelahnya kepada Kana dan meminta didengarkan keluhannya. Memang benar selama ini Arkana tidak bisa atau bahkan tidak ingin mengatakan tentang kesulitannya. Dan itulah yang membuat Arkana terbebani dan merasa lelah dengan hidupnya. Arkana tidak bisa mengatakan apapun yang diinginkan atau tidak diinginkannya. Arkana memilih untuk terlihat kuat di depan Isabela karena tidak mau membuat Isabela khawatir terhadapnya. Begitulah Arkana, selalu saja mementingkan segala hal tentang Isabela. Alih-alih mempedulikan dirinya sendiri. Mungkin itulah alasan mengapa terkadang Arkana mengkhawatirkan. ~~~~~~~~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN