BEAR! Nama samaran itu dipakai oleh seseorang yang bernama asli Herda William. Laki-laki yang tidak mempunyai keluarga, sebatang kara, dan hidup sebagai seorang barista di sebuah kedai kopi itu mempunyai keinginan untuk bisa membangun cafe- nya sendiri. Sebuah cafe kecil yang berada di pinggir kota dengan pemandangan indahnya. Uangnya melimpah, namun dia tidak mampu memamerkannya.
Sama seperti anggota lainnya, mau sebanyak apapun uang yang mereka miliki, tidak dapat dengan mudah mereka perlihatkan kepada orang lain. Sehingga Bear berusaha untuk mengumpulkan uangnya dengan hati-hati dan akan membangun cafe- nya tahun depan setelah mendapat tempat yang dia inginkan. Namun sayangnya, sebelum impian itu bisa terwujud, Bear sudah meninggalkan dunia dengan cara yang begitu sangat menyakitkan. Terlebih untuk para anggota Jendela Kematian yang mengenalnya dengan baik, meski tidak saling mengenal wajah atau identitas.
Semua mimpi itu ditulisnya di atas tempat tidurnya—ditempel dengan note warna kuning. Bear seseorang yang sangat cerdas. Dibuktikan dari banyaknya piala yang didapatkan ketika jaman sekolah dulu. Sejak jaman sekolah, Bear sudah sangat tertarik kepada dunia sains dan bercita-cita untuk bisa berkuliah di luar negeri untuk mewujudkan keinginannya membuat obat untuk para penderita penyakit langka atau penyakit yang belum ditemukan obatnya sampai sekarang.
Bear suka melakukan eksperimen karena dianggap menyenangkan. Dirinya banyak mengikuti lomba ilmiah namun selalu ditolak karena ide-idenya dianggap ilegal. Padahal mereka tidak tahu bagaimana Bear membuatnya dan bagaimana anak remaja seumurannya dulu bisa berpikir sampai sejauh ini. Bear jenius, namun lingkungannya tidak mendukung sama sekali.
Dia dibesarkan di panti asuhan di mana para donatur sering memberi dana sumbangannya. Namun semua anak panti hanya dibiayai sampai mereka lulus SMA saja. Untuk ikut jenjang selanjutnya (kuliah) mereka harus berjuang sendiri. Bear selalu percaya diri bahwa dirinya mampu masuk ke kampus yang diinginkan dengan beasiswa, mengingat nilai sekolahnya yang bagus. Sayangnya, keberuntungan tidak memihak kepadanya. Beasiswa untuknya dialihkan kepada orang lain yang ekonominya jauh di atasnya.
Pada jamannya, yang mempunyai pengaruh yang menang. Dirinya tak akan pernah menjadi apa-apa karena tidak mempunyai koneksi. Sehingga pada akhirnya Bear keluar dari panti asuhan itu karena umurnya yang telah cukup memaksanya untuk segera keluar dan meninggalkan panti. Bear yang saat itu berusia delapan belas tahun harus mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri. Segala macam pekerjaan dilakukannya agar bisa tinggal di sebuah indekos kecil bertemankan tikus-tikus. Yang atapnya bocor ketika musim hujan.
Sampai akhirnya dia membuka sebuah toko online yang berada di aplikasi ilegal. Bear mulai meracik beberapa ramuan berbahaya untuk binatang. Awalnya Bear membuat racikan itu dengan sasaran para pemburu satwa langka agar hewan yang akan mereka buru mati tanpa merusak raganya. Secara tiba-tiba lapaknya ramai sehingga menarik perhatian. Awalnya Bear takut ketahuan polisi sehingga menutup toko online miliknya. Sampai sebuah pesan melalui email masuk.
Pesan itu dikirimkan oleh Jendela Kematian dengan nama ketuanya Big Boss, mengajaknya bergabung dalam sebuah kelompok pembunuh bayaran yang menjanjikan bagian uang sama rata. Tentu saja Bear tidak percaya pada awalnya. Dia menganggap bahwa bayaran rata hanya alat memancingnya untuk keluar dari persembunyian. Bear berpikir bahwa email Jendela Kematian itu adalah milik kepolisian.
Sampai akhirnya sebuah pesan masuk kembali ke email- nya. Memintanya untuk datang ke suatu tempat yang sudah ditentukan. Bear yang sangat penasaran pun datang, mengenakan penutup wajah keseluruhan karena diminta. Lalu muncullah orang yang menamai dirinya Big Boss. Laki-laki itu memberikan sebuah alat kecil yang tinggal ditempelkan di telinga; alat yang memanipulasi wajah asli kita. Jadi orang lain hanya melihat wajah buatan itu.
Ketika bercermin, Bear terkesima dengan wajah buatan itu. Akhirnya tanpa berpikir panjang dia bergabung dengan Jendela Kematian. Dari sana, Bear merasakan mempunyai keluarga yang begitu perhatian padanya. Ada Big Boss yang bertindak sebagai seorang Kakak yang baik dan selalu memimpin dengan tegas. Ada Happy yang mengajaknya berbicara sambil menonton film dewasa yang kadang membuatnya muak namun tertawa juga. Ada King yang menghiburnya dengan candaan garing. Dan ada Beauty yang memperhatikannya, selalu menanyakan kabarnya dan sudahkah dirinya makan atau belum.
Setidaknya, ada beberapa keinginan dan mimpi Bear yang terwujud saat bergabung dengan Jendela Kematian. Meskipun impian terbesarnya belum tercapai dengan sempurna. Rasanya akan sulit memanggil nama asli Bear setelah selama ini memanggilnya dengan nama samaran.
Big Boss menundukkan kepalanya dengan air mata yang jatuh tanpa henti membasahi pipinya. Tangan kanannya memegang sebuah chip kecil yang berada di dalam tanah; bekas tanaman hias yang berada di kamar mandinya. Pastinya polisi kurang teliti menggeledah tempat tinggal Bear. Apartemen mewah dengan aroma yang sangat dirinya kenal itu berubah berantakan dan dipenuhi dengan barang-barangnya yang berserakan kemana-mana.
Laki-laki itu mengeluarkan sebuah laptop dari dalam tasnya, membuka laptopnya dan menancapkan chip kecil itu. Big Boss melihat dengan jelas bagaimana sebuah ruangan cukup besar di dalam video itu—ruangan asing yang tidak dirinya kenal. Suara alas sepatu membentur lantai terdengar di telinganya, ada seseorang yang hendak masuk ke dalam apartement. Tentu saja dengan sigap Big Boss memasukkan laptop yang dibawanya ke dalam tasnya kembali.
Laki-laki itu melompat keluar dari balkon dan menuju ke jendela yang sudah direncanakannya untuk keluar dan masuk. Setelah merasa aman—dirinya berjalan santai dan mulai mengganti pakaiannya dengan sigap sambil berjalan. Dia tidak mau masuk ke dalam CCTV dan mendapatkan masalah. Apalagi saat ini, tampilan seorang Big Boss mirip dan sama persis dengan Arkana.
Sebuah mobil sport keluaran terbaru pun keluar dari basement, berjejal bersama dengan kendaraan lainnya yang berada di jalanan. Beberapa kendaraan berusaha menjaga jarak karena tidak mau ganti rugi jika body mobil sport itu sampai tergores sedikit saja. Mobil itu melesat dengan sangat cepat, terburu-buru dan pada akhirnya masuk ke dalam parkiran bawah tanah.
Cliring! Pintu markas terbuka ketika Big Boss menekan password yang benar. Tidak ada orang di dalam markas selain dirinya sendiri. Ah, sudah beberapa hari ini markas sepi dan terlihat sangat seram. Biasanya markas akan diisi dengan tawa dan candaan mereka semua. Terkadang Big Boss harus marah-marah karena meminta semuanya untuk diam. Tapi sekarang? Tidak ada yang terlihat sama sekali di tempat ini. Mungkin mereka semua tengah menenangkan diri masing-masing karena masih kaget dengan kematian Bear.
"Kehilangan Bear seperti mimpi buruk yang aku takutkan selama ini. Kita kehilangan satu anggota karena misi. Aku yang telah memaksa kalian untuk mengambil misi itu. Aku yang terlalu gelap mata dan tidak peduli kepada larangan kalian. Mungkin, kalau aku mendengarkan kalian sedikit saja, pasti Bear masih ada di sini. Andaikan saja aku tidak mengiyakan Bear untuk ikut penculikan Tuan El, mungkin saja Bear tidak akan tertangkap dan mati mengenaskan seperti ini." Tandas seseorang yang muncul dari balik pintu sambil memegang sebuah kaleng minuman yang beralkohol.
Tanpa basa-basi, Big Boss mengambil kaleng yang dipegang perempuan itu dan meletakkannya di atas meja.
"Tidak ada yang boleh minum ketika berada di markas. Kita sudah sepakat, bukan?" Ucap Big Boss pada Beauty yang tampak tidak baik-baik saja, terlihat dari tatapan matanya.
Beauty menghela napas panjang dan memilih untuk mendudukkan dirinya disalah satu kursi di mana mereka sering duduk secara melingkar dan memakan mi instan sambil bicara hal tidak penting. Sesekali mereka akan bertengkar karena berebut hal yang sepele.
Dengan helaan napas kasar, tangan Big Boss mampir di kepala Beauty, mengelusnya pelan—menenangkan perempuan itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Apa kita akan selesai?" Tanyanya kembali sambil menatap Big Boss yang baru saja datang dan belum sempat duduk. Bahkan dirinya pun sudah memberikan pertanyaan tentang bagaimana kelanjutan kelompok mereka.
Big Boss tersenyum hambar, "apa kamu ingin mundur sekarang? Apa kamu tidak ingin melanjutkannya lagi? Aku tidak pernah berusaha menghalang-halangi kalian semua untuk bertahan atau keluar. Jika memang itu yang terbaik menurut kalian, aku hanya bisa menyetujuinya saja."
"Jika Happy dan King keluar? Apa yang akan kamu lakukan setelah itu? Kamu akan berhenti atau bertahan sendirian?" Tanya Beauty yang sangat penasaran dengan jawaban Big Boss tentang masalah ini.
Seketika keadaan menjadi sangat hening, apalagi Big Boss hanya diam sambil menatap jemarinya sendiri. Jendela Kematian terbentuk dan ada karena adanya mereka. Namun, jika Jendela Kematian tanpa mereka; apa masih ada Jendela Kematian itu?
"Apa aku juga harus menyerah dan tunduk pada keadaan? Semua yang terjadi kepada kita seperti perang! Menyerang atau menyerah hasilnya akan sama saja. Namun setidaknya jika kita menyerang, kemungkinan terbunuh masih kurang dari seratus persen. Aku memang mengenal Bear karena menjadi rekanku. Tapi aku yang akan membalaskan semua perasaan sakit hatinya pada orang itu." Tandas Big Boss bertekad kuat.
Beauty menghapus air matanya yang jatuh kembali. Dia sudah membuat banyak sekali masalah, setidaknya itulah yang dia pikirkan. Semenjak kematian Bear, kehidupan mereka semua tidak berjalan baik. Mereka tentu saja belum bisa menerima kematian Bear. Apalagi mereka melihat bagaimana Bear begitu sangat setia menutup rapat mulutnya agar tidak menyebutkan apapun tentang Jendela Kematian dan siapa saja yang terlibat di dalamnya.
"Aku datang ke pemakaman Bear kemarin." Lirih Beauty dengan air mata yang turun ke pipinya. "Ingin sekali aku mendekati peti matinya dan memberikannya bunga mawar sambil mengucapkan selamat tinggal padanya. Tapi kakiku terlalu berat! Kita sudah berjanji dan aku tidak bisa melanggar janji itu. Untuk pertama kalinya, aku ingin melanggar janji yang telah kita buat. Tapi aku sadar bahwa itu akan membahayakan kita semua." Sambung Beauty lagi.
Big Boss menatap Beauty, "mungkin kita sempat bertemu, hanya saja tidak tahu satu sama lain. Aku pun datang kesana. Aku tidak bisa mengatakan kebaikannya. Aku tidak bisa berdiri disamping petinya untuk memberi kata-kata terbaik kepada seseorang yang baik sepertinya. Aku merasa pilu ketika orang-orang mencaci tepat di depan peti Bear. Mengatakan tentang hal yang buruk dan mendoakannya buruk juga. Rasanya sesak sekali!"
"Dia tidak punya keluarga! Dia tidak mempunyai orang-orang terdekat yang menemaninya sampai mati. Semua orang palsu dan bergunjing tanpa henti. Mereka seperti orang yang tidak pernah merasakan sedikit saja kebaikan Bear kepada mereka." Tandas Beauty lagi.
Keduanya menangis bersama dan tenggelam dalam perasaan sedih itu. Semuanya telah berlalu beberapa hari yang lalu, namun kesedihan yang mereka rasakan berlarut-larut, membuat mereka tersiksa sepanjang hari.
"Apa kalian akan tetap menangis berdua? Tidak ingin bersama-sama menangisnya?" Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik ruangan di mana mereka menyimpan semua senjata buatan King di sana.
"King," lirih Beauty yang menatap King. Laki-laki itu mendekat, lalu memberikan pelukan hangat untuk Beauty yang sudah merentangkan kedua tangannya. "Aku pikir, kita tidak akan bertemu lagi. Aku pikir kamu akan meninggalkan aku dan tidak akan kembali ke markas lagi." Sambungnya dengan isakan yang lebih kencang.
Big Boss menepuk-nepuk bahu King sambil tersenyum. Dia bersyukur karena King berada di sini.
"Apakah itu artinya kamu akan membuka hatimu untukku? Kamu mau menerimaku?" Tanya King lagi dengan percaya diri.
Tentu saja Beauty langsung melepas pelukannya dari King, "sampai kapan kamu akan berharap dengan tokoh fiksi sepertiku? Aku memang terlihat nyata, tapi kehidupan kita berbeda King. Jangan mengada-ada dan fokuslah pada tujuan kita saat ini."
Seperti biasa, Beauty menghempas semua harapan yang sudah dibangun dengan sangat indah oleh King. Tapi King tentu saja paham bahwa dunia yang dimaksud Beauty adalah dunia nyata di mana mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
"Aku juga akan bergabung!" Tanda seseorang yang keluar dari dalam lemari besar yang berada di ujung ruangan.
"Sejak kapan kamu di sana?" Kaget King karena melihat Happy yang muncul dari dalam lemari sambil mengeluarkan beberapa kantong makanan yang dibawanya. "Wah, apakah kamu sedang berkemah di dalam lemari?" Sambung King yang tidak habis pikir.
"Aku berada di dalam sejak aku mendengar suara tangisan yang begitu menyayat hati. Aku juga mendengar beberapa bait puisi tentang perempuan bernama Beauty yang selalu dianggap tokoh fiksi." Ucap Happy yang terdengar lucu untuk mereka semua.
Sebenarnya, mereka masih larut dalam kesedihan. Namun tidak ada waktu lagi untuk terus meratap dan bersedih. Sehingga mereka akhirnya memutuskan untuk bangkit. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu sebenarnya tidak ingin datang—namun rasa rindu dengan suasana di markas membuat mereka akhirnya memutuskan datang. Meskipun pada akhirnya mereka bersembunyi untuk sejenak, tetapi mereka kembali lagi dengan tujuan yang sama.
"Kita harus menemukan orang yang telah melakukan ini kepada Bear. Aku akan mencoba melacaknya!" Tandas Happy yang sudah berapi-api dan tidak sabar untuk memulai kembali kegiatannya.
"Apakah komputermu tidak rusak?" Tanya Big Boss kepada Happy yang sudah menghancurkan beberapa komputernya waktu itu.
Happy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, "ketika kalian tidak datang ke markas. Aku berusaha untuk memperbaiki semuanya dan merakit yang baru. Aku dengar, ... kamu mendapatkan barang baru? Apakah kita bisa menggunakannya."
Big Boss teringat dengan sesuatu dan akhirnya menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dirinya mengambil sebuah laptop yang berada di dalam tasnya.
"Ada sebuah chip kecil yang sudah terpasang. Kita bisa melihatnya!" Ucap Big Boss yang mendapatkan anggukan kepala dari semuanya.
Mereka kembali. Kembali untuk membalas dendam.
Tetapi, ... apakah balas dendam mereka berhasil?
~~~~~~~~~~