BAB 68 | Ruangan Bawah Tanah

1982 Kata
HUJAN tidak berhenti sejak kemarin. Volume air yang beberapa sungai pun ikut naik, ada beberapa tempat yang akhirnya ikut terendam banjir. Jalan yang biasanya mudah dilewati pun menjadi sangat sulit karena licin dan dipenuhi lumpur, bekas tanah yang hanyut ke jalanan. Terlihat lampu mobil menyorot area depan yang lumayan berkabut. Jarak pandang sangat rendah karena kabut yang menutupi seluruh areanya. Sang pengemudi memilih untuk turun. Sebelumnya sudah membentangkan payungnya agar pakaiannya tidak terlalu basah terkena air hujan. Walaupun begitu baru saja kedua kakinya turun, sepatunya terlanjur kotor disambut dengan tanah yang sangat basah. Laki-laki itu berdecak sebal dengan tatapan matanya yang fokus kepada sepasang sepatunya—memang sejak awal sudah salah menggunakan sepatu. Sudah tahu medan akan seperti ini, sudah sepantasnya menyesuaikan dengan seluruh pakaian yang digunakan. Sayangnya, laki-laki itu tidak sempat untuk mengganti pakaiannya setelah bekerja. Penerangan satu-satunya yang dia gunakan hanyalah sebuah senter yang selalu berada di dalam mobilnya. Dan selama perjalanan, yang terdengar hanyalah suara hujan dan suara dari binatang malam yang menyambut kedatangannya. Area ini sangatlah sepi. Tidak ada rumah penduduk sama sekali di kanan dan kiri jalan. Hanya ada pepohonan tinggi yang terkadang terdengar menyeramkan ketika tertiup angin kencang. Sudah lama tidak menyisir tempat ini setelah beberapa saat dirinya sibuk dengan pekerjaannya. Jika bukan karena ingin mencari tahu lebih, mungkin laki-laki itu lebih memilih untuk tidak datang. Karena dengan datang ke tempat ini seperti sedang menggugah kenangan buruk yang berusaha dilupakannya selama ini. Berat rasanya ketika melangkah dan berusaha untuk menapakkan kakinya menuju ke lokasi. Terlihat beberapa pohon yang sangat familiar di matanya, sudah tumbuh dengan sangat besar diantara pohon yang menjadi sasaran penebangan hutan yang akan digunakan sebagai lahan pemerintah. Untuk itu dirinya datang, mencari sesuatu yang jelas menjadi miliknya sebelum orang dari pemerintahan itu menemukannya. Beberapa lahan sudah diberikan tanda, bahkan diberikan sekat agar tidak ada orang yang melintasinya. Mungkin jika rumahnya masih berdiri, dirinya dan keluarganya akan tetap digusur. Diminta untuk pindah secara paksa. Laki-laki itu, Arkana, menyoroti beberapa tempat. Tidak ada tanda orang lain di sana. Lalu dirinya pun berjalan pelan menuju ke tempat di mana lokasi rumahnya yang sudah lama tidak ada bekasnya. Penanda yang jelas hanyalah pohon-pohon yang tumbuh lebih pendek dari pohon-pohon yang lainnya karena bekas rumah mereka yang memang tidak ada sama sekali. Kebakaran itu seperti memakan habis kenangan dan orang tuanya. Bahkan dirinya dan Isabela sampai tidak bisa mengubur jasad orang tua mereka sendiri. Sejak saat itu, dia berubah menjadi Arkana yang penuh dendam. Meski orang tuanya selalu memintanya menjadi seorang pemaaf. Namun dalam kejadian ini, memang orang yang telah datang ke rumah mereka dan membakar seluruh rumah tidak pantas untuk dimaafkan. Bahkan ada dua anak yang terjebak di rumah itu dan mereka dengan teganya tetap melancarkan aksinya untuk terus membakar rumah tanpa rasa belas kasihan sama sekali. Sehingga tidak ada rasa belas kasihan sama sekali ketika dirinya mendapat tawaran untuk membunuh Patra—waktu itu dan menyamarkannya menjadi bunuh diri. Dia senang, apalagi ketika media mengabarkan dengan sangat tidak bersimpati dan itu semua membuat hatinya merasa sangat puas. Jalanan menuju ke lokasi memang semakin sulit. Areanya semakin penuh dengan lumpur, jalannya semakin pelan-pelan jika tidak ingin sampai tergelincir. Beberapa tempat memang berupa jurang-jurang, tidak beda jauh dengan hutan yang lain. Sampai akhirnya Arkana berhenti tepat di sebuah tempat yang sudah lama tidak dilihatnya, bekas rumah yang sudah sama saja seperti hutan lainnya. Tempat ini adalah tempat ternyaman baginya, dulu. Tempat yang selalu menjadi tujuan utama ketika pulang dari sekolah. Tempat yang menjadi alasan mengapa dia ingin sekali tinggal di hutan karena jauh dari keramaian. Di depan rumahnya pun ada banyak sekali tanaman, pohon buah, atau sayuran yang sering mereka petik sesekali. Arkana berjongkok setelah cukup lama termenung di depan bekas rumahnya. Senternya menyorot beberapa tempat untuk menemukan sesuatu yang dicarinya saat ini. Lalu tangannya menjulur ketika akhirnya menemukan apa yang dicarinya dan mencoba membuka pintu itu dengan susah payah. Sebuah ruangan bawah tanah yang ada di bawah rumahnya dulu. Ruangan yang digunakan Ayah dan Ibunya untuk menyimpan benda penting mereka; seperti penemuan mereka yang berharga. Lalu terlihatnya sebuah alat canggih yang sampai saat ini masih berfungsi. Arkana menundukkan dirinya untuk pengenalan mata. Tentu saja semua anggota keluarga mereka terdaftar dalam teknologi yang dibuat oleh orang tua mereka. Entah mengapa mereka tidak berpikir bahwa kedua orang tua mereka mungkin saja tidak hanya pekerja biasa. Namun seorang penemu atau peneliti. Jika diingat, mereka mempunyai banyak sekali benda unik yang dulu dianggap Arkana tidak terlalu penting dan selalu dikatakan orang tua mereka sebagai permainan semata. Greg! Pintu benar-benar terbuka—menampakkan area bawah yang amat gelap. Arkana langsung meng-klik sebuah tombol sebelum masuk ke dalam, dan akhirnya lampu di dalam ruangan itu menyala. Arkana dengan tenang menjulurkan kakinya untuk masuk ke dalam dan menutup kembali ruangan itu dengan sangat pelan. Sampai ke dasar, dia hanya melihat beberapa lorong yang pernah dilihatnya dulu. Lorong-lorong yang dulu dilarang oleh kedua orang tua mereka untuk dimasuki. Arkana menyorot ruangan-ruangan itu dengan senter yang dibawanya. Berusaha untuk mencari tempat di mana barang-barang yang seringkali terlihat di rumahnya. Mungkin tidak ada yang menyangka tentang adanya ruangan bawah tanah ini. Bahkan orang-orang yang membakar habis rumahnya pun tidak tahu di mana letak ruangan bawah tahan ini. Tahu pun, mereka tidak akan pernah bisa membukanya karena menggunakan identifikasi retina. Hanya ada empat retina yang akan teridentifikasi; Ayah, Ibu, Arkana, dan tentunya Isabela. Hanya saja, Isabela tidak akan tahu banyak tentang ruangan itu karena dulu Isabela terlalu kecil. Perempuan itu hanya tahu bagaimana caranya menangis dan merengek kepadanya tentang kemana kedua orang tua mereka. Lalu mengapa mereka harus pergi dari rumah? Atau tentang alasan orang-orang jahat yang membakar rumah mereka. Benda pertama yang Arkana ambil adalah sebuah kamera usang yang sudah lama sekali tidak tersentuh. Debunya sangat tebal dan dia pun tidak yakin bahwa kamera itu masih berfungsi. Namun ketika menekan tombol power, kamera itu ternyata masih hidup. Baterainya tinggal setengah namun lensanya sudah rusak. Beberapa goresan membuat layar monitor pada kamera itu pun menjadi tidak jelas. Sehingga Arkana memutuskan untuk mengambil memori card di kamera lama itu dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Lampu otomatis pun dihidupkan agar menerangi seluruh ruangan. Terlihat jika beberapa benda unik dan sangat langka berada di sana. Dulu, dirinya tidak tahu bahwa benda-benda antik itu sangatlah mahal dan tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Dia tanya tahu bahwa orang tuanya mempunyai benda-benda yang biasanya disimpan di dalam ruang bawah tanah karena takut pecah—setidaknya itu yang mereka katakan. Padahal yang sebenarnya, mereka menyimpan harta karun bernilai fantastis jika dijualnya sekarang. Sebenarnya tidak ada niatan untuk mengambil barang-barang antik yang mungkin selamanya akan terkubur di dalam sini. Namun, mengingat benda penting dan temuan orang tuanya di dalam lorong-lorong itu, membuat Arkana berani mempertaruhkan segalanya. "Kamu jangan bilang Ibumu kalau Ayah mengajakmu masuk ke ruangan ini. Ini adalah ruangan rahasia! Kita harus merahasiakannya dari orang jahat yang akan mengambil benda milik kita yang berharga!" Ucapan Ayahnya dulu seperti berkecamuk dalam hatinya. Membuatnya merasa risau tidak jelas. "Alat ini Ayah namai Alat pelindung. Ayah akan menjualnya kepada orang kaya yang membutuhkan temuan ini. Ayah sudah tidak sabar mendapatkan uang dan bisa membelikan rumah yang layak untuk kalian atau ganti sepeda motor butut kita. Paling tidak, Ayah bisa membelikan kamu sepeda motor yang bagus. Kasihan anak Ayah selalu diejek setiap berangkat sekolah karena tidak punya motor." "Kamu harus bekerja keras meskipun sudah berkecukupan. Karena kita tak akan tahu kapan kebahagiaan yang kita miliki akan berakhir menjadi kesedihan." "Arkana, ... jika terjadi sesuatu pada Ayah dan Ibu, kamu harus menjaga Isabela dengan baik. Karena kamu yang akan menjadi satu-satunya keluarga yang dimiliki Isabela. Dia akan tumbuh dengan baik dan menjadi perempuan yang cantik. Berjanjilah kepada Ayah!" Arkana menatap seluruh koleksi milik Ayahnya, penemuan-penemuan yang selalu dikatakan Ayahnya sebagai hal remeh-temeh yang tidak akan pernah dilirik oleh orang lain. Padahal untuk saat ini, penemuan-penemuan luar biasa yang dibuat Ayahnya bisa jadi disebut penemuan besar. Dia ingat dengan semua kenangan ketika di rumahnya. Kenangan di mana rasa senang dan sedihnya dapat dibagi bersama. Ketika bebannya terlalu berat, maka kedua orang tuanya lah yang menjadi penguat. "Ada orang yang mengikuti Ayah. Kita harus bersembunyi dan matikan saja semua lampunya agar orang-orang itu tidak mengetahui rumah kita." Ucap Ayahnya saat itu yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah dengan berlari-lari menembus hujan. Saat itu Ayahnya mengatakan tentang orang yang mengikutinya. Bahkan dia mengatakan tentang ditipu oleh orang itu dan kehilangan alat paling penting yang dibuatnya kemarin. Yang dirinya kira akan menjadi uang berlimpah dan dapat mencukupi kehidupan rumah tangga yang masih kurang. Terlalu banyak orang jahat di dunia ini, sehingga tidak kaget ketika datang dengan tangan kosong tanpa bayaran sama sekali. Apalagi terlihat wajah Ayahnya yang lumayan babak belur karena mempertahankan alat yang diciptakannya. Alat yang begitu sangat berharga dan mempunyai fungsi luar biasa. Arkana membenci orang-orang itu, orang-orang yang menyakiti Ayahnya dan berusaha menipu dengan tidak tahu dirinya. Lalu mereka datang ke rumah dengan membawa mobil dan orang-orang berbadan besar. Lalu mereka membunuh orang tuanya dengan sadis dan membakar rumahnya tanpa rasa kasihan. Padahal mereka tahu bahwa ada anak-anak yang masih berada di dalam rumah. Mereka tidak peduli dan memilih untuk terus melakukan aksi jahat mereka. Arkana seperti sedang bernostalgia ndengan cerita masa lalunya yang begitu menyakitkan. Cerita yang sebenarnya tidak ingin dirinya ingat. Cerita yang selalu membekas dalam ingatannya dan mungkin Isabela juga. Mereka mempunyai masa kecil yang buruk dan kenangan yang buruk juga. "Aku benci mengatakan bahwa aku sangat merindukan kalian." Tandas Arkana ketika melihat sebuah foto yang berada di dalam laci meja. Itu foto satu-satunya yang masih dia miliki karena tidak ada lagi yang tersisa akibat kebakaran itu. "Aku sudah mengambil kembali apa yang menjadi milik kita. Aku sudah membunuh orang-orang yang telah melukai kita dan memisahkan kita. Aku dan Isabela baik-baik saja. Aku juga merawat Isabela dengan baik dan melihatnya tumbuh menjadi perempuan yang cantik. Kalian tidak perlu khawatir karena kami sudah tinggal di rumah yang nyaman dan tidak tidur lagi di emperan toko. Tetapi, ... maafkan aku karena sudah mengambil jalan yang salah. Aku tidak tahu mengapa aku mengambil pekerjaan yang memalukan seperti ini. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan." Tandas Arkana yang berbicara kosong dengan angin. Jika orang lain bisa datang ke makam orang tua mereka. Duduk sambil asik bercerita ketika rindu. Dirinya atau Isabela hanya bisa menangis dalam diam dan bicara dengan bayangan karena tidak ada makan atau tempat peristirahatan untuk kedua orang tuanya sama sekali. Mereka sudah membuat kematian orang tuanya seperti tidak pernah terjadi. Bahkan mereka menghapus seluruh data yang berhubungan dengan keluarganya. "Ayah, Ibu, mungkin kalian sudah mendengar bahwa tempat ini akan digunakan kembali. Tapi aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk tetap mempertahankan peninggalan kalian satu-satunya. Isabela belum melihat lagi ruangan ini dan tidak tahu bahwa masih ada beberapa foto dan benda milik kalian yang masih bisa kami kenang. Hanya saja, aku belum bisa memperlihatkannya kepada Isabela karena tidak tahu harus mengatakan apa. Aku hanya tidak ingin melihat Isabela menangis karena merindukan kalian. Maafkan aku karena tidak bisa melihat Isabela menangis." Tandas Arkana kembali sambil melihat ruangan itu. Setelah puas berada di dalam ruangan bawah tanah. Arkana pun memilih untuk kembali keluar setelah dia memastikan bahwa di luar sana seseorang tidak sedang mengintai dirinya. Meskipun tidak ada orang sama sekali, Arkana tidak mau sampai kecolongan dan membiarkan orang lain mengetahui tentang tempatnya yang berharga. Di luar masih hujan, bahkan semakin deras intensitasnya. Arkana menatap bayangan dirinya dengan payungnya yang membentang. Membuat siluet tubuh tegapnya dalam rintikan hujan. Senternya pun cukup terang untuk menerangi langkahnya. Arkana pun menjangkau mobilnya, masuk ke dalam mobilnya setelah membungkus sepatunya yang kotor. Mobil itu pun melaju dengan kencang, meninggalkan tempat itu. Terlihat di balik pepohonan seseorang berdiri dengan mengenakan jas hujannya, menatap mobil yang ditumpangi Arkana dan berjalan meninggalkan tempat itu. Sejak awal, orang itu telah berdiri di sana, mengamati mobil yang berhenti dan menunggu siapa pemilik mobil yang datang selarut ini ke area hutan. ~~~~~~~~~~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN