BAB 28 | Berita Itu Hilang

1669 Kata
PANGGILAN mendesak masuk—membuat keempat orang yang berada di dalam situasi berbeda itu terlihat gelisah. Mereka yang tengah sibuk menjalani kehidupan normal pun harus dihadapkan kepada sebuah kenyataan bahwa mereka berada di antara jurang yang akan runtuh kapan saja. Mereka mulai berpisah dari kerumunan yang dipenuhi oleh orang normal, diam-diam masuk ke dalam kehidupan lain yang dianggap orang-orang sebagai dunia fantasi. Keempat orang itu berbaur dengan orang normal lainnya, menjadi diri mereka yang lain. Mereka yang tanpa identitas, mereka yang tidak dikenal siapapun, mereka yang begitu sangat misterius, mereka yang tidak mampu ditebak siapakah karakternya hari ini. Namun mereka adalah sekelompok pembunuh yang tidak kenal takut dan sangat konsisten dalam perburuan dalam mencari uang. Mereka baru rehat sejenak, menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali setelah menjalankan misi berbahaya yang mungkin akan mengancam diri mereka sendiri. Jendela Kematian, vakum beberapa hari. Tidak ada tanda adanya mereka dalam kelompok manapun. Mereka menghilang tanpa jejak, menunggu berita mereda. Berita tentang Prada dan El. Berita yang memberikan dampak besar untuk kelompok mereka. Satunya meninggal dan satunya lagi cacat tetapi berada di panti rehabilitasi. Keduanya punya pengaruh besar dalam dunia bisnis, khususnya di negara ini. Namun saat ini, dunia mendapati kenyataan yang begitu menyeramkan ketika kedua orang berpengaruh itu hancur dalam kurun waktu yang bersamaan. Mereka hanya tahu tentang bahaya yang mengintai mereka, namun tidak mengindahkan sesuatu yang besar—yang mungkin akan menghancurkan mereka. Entah itu dari orang lain yang memburu mereka atau orang yang balas dendam. Mereka tidak akan pernah tahu. Karena pepatah lama itu seringkali benar dan sangat terbukti; sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu akan jatuh juga. Lalu, apakah semua itu akan berlaku untuk kelompok mereka yang sangat ahli? Cliring! Terdengar suara pintu yang baru saja dibuka dengan sidik jari. Muncul seorang laki-laki jangkung dengan tas gendongnya. Rambutnya terlihat basah dan sepatunya yang lusuh penuh dengan lumpur menjadi perhatian laki-laki berkacamata lain yang tengah duduk sambil menatap layar komputernya. "Kamu baru pulang dari membajak sawah?" Tanya Happy menatap tidak habis pikir ke arah King yang baru saja melepaskan sepatunya dan meletakkannya di ujung ruangan, berusaha menyembunyikan dari anggota lainnya. Bear yang baru saja muncul dari kamar mandi pun ikut nimbrung dalam pembicaraan, "Beauty akan mengomelimu habis-habisan. Pasti jejak kakimu membuat kotor area sekitar." "Eh—" kaget Happy setelah Bear mengatakan hal yang berbahaya; jejak kakimu membuat kotor area sekitar. Keduanya, King dan Bear, langsung membuka pintu. Namun di depan mereka sudah berdiri Big Boss yang membawa sebuah alat pel dengan tatapan membunuh ke arah kedua rekannya itu. "Siapa yang bertanggungjawab atas kekacauan ini?" Tandas Big Boss kepada keduanya. Tentu saja Bear menunjuk ke arah King tanpa dosa, dia tidak mau menjadi sasaran kemarahan Big Boss. Harinya sudah sangat berat, dia tidak ingin mendengarkan ocehan apalagi ceramah gratis dari ketua mereka itu. Ah, Big Boss betah sekali mengomel. Bahkan mereka menganggap bahwa Big Boss adalah orang yang mungkin bekerja di depan orang banyak yang melibatkan bicara dan bicara. King sendiri memilih menunjuk dirinya sendiri, "Happy mengirim panggilan darurat dan aku langsung datang. Di jalan hujan deras. Lalu, ... pengendara mobil sialan itu terus melajukan mobilnya dengan kencang ketika ada kolam renang di jalan. Ya, seperti yang kamu lihat sekarang, aku seperti kucing masuk got." Big Boss hanya menggelengkan kepalanya heran. Laki-laki itu pun memilih masuk ke dalam markas mereka setelah memberikan gagang pel kepada King untuk melanjutkan mengepel lantai markas yang sudah sangat kotor. Bukan hanya karena ulah sepatu King saja. Namun itu semua karena markas mereka yang beberapa hari ini tidak ditempati. "Sepertinya kalian mempunyai pekerja paruh waktu yang tidak profesional." Sindir Beauty yang baru saja muncul dari balik pintu setelah melihat King yang mengepel lantai markas yang memang dari sananya sudah kotor. King yang merasa tersindir hanya memanyunkan bibirnya, "harusnya kamu membantuku. Di mana rasa solidaritasmu? Sudah datang paling akhir, mengejek temanmu yang sedang mendapatkan musibah." Baik Bear, Happy, maupun Big Boss hanya menahan tawa. Mereka hanya bisa saling pandang dan menyenggol satu sama lain. Nyatanya, mereka sangat merindukan masa-masa di mana mereka selalu bersama. Tidak bersama selama beberapa hari saja sudah membuat mereka merindukan satu sama lain. Sudah mereka katakan sebelumnya, bahwa mereka tidak hanya bekerja, namun satu keluarga. Beberapa menit kemudian, setelah King selesai membereskan semua kekacauan karena sepatunya itu—mereka pun memulai pembahasan penting mereka. Tentang mengapa Happy mengirimkan panggilan darurat kepada keempat temannya. Karena selama mereka semua vakum, Happy memang yang paling sering berada di markas untuk mengecek segala sesuatunya. Sehingga apapun yang Happy temukan, dia akan langsung membagikannya kepada teman-temannya. Terkadang mereka pun datang bergantian untuk menemani atau mengirimkan makanan untuk Happy. Mereka duduk saling berhadapan. Terlihat raut wajah serius tanpa ada bercanda sama sekali. Jika mereka dalam mode serius, maka tidak ada lagi canda tawa seperti biasanya. Apalagi ini berurusan dengan bisnis yang berbahaya. "Maaf karena harus memberikan sinyal darurat dengan memanggil kalian kesini." Ucap Happy membuka pembicaraan diantara mereka setelah Big Boss mempersilakan temannya itu untuk berbicara. Walaupun mereka sangat akrab dan terbiasa bercanda layaknya teman dekat. Namun mereka mempunyai sopan santun untuk bertanya kepada Big Boss selaku ketua mereka agar dapat menyampaikan pendapatnya atau bicara dalam forum. Happy menatap teman-temannya secara bergantian dengan wajah khawatir, "sebenarnya aku sangat khawatir. Namun aku juga sekaligus merasa lega. Entah ini pertanda baik atau buruk. Ku harap ini pertanda yang baik untuk kita semua." Karena ucapan Happy tentang baik dan buruk, membuat mereka gusar. Karena biasanya, Happy selalu bicara to the point dan langsung pada apa yang akan mereka bahas saat itu. Tetapi kali ini, ucapannya begitu menggantung. "Semua berita atau artikel tentang kematian Prada dan semua rumor tentang kelompok kita tiba-tiba hilang begitu saja." Tandas Happy dengan tatapan serius. "Tidak mungkin semua berita itu mereda dalam kurun waktu singkat. Bahkan semua artikel itu hilang tanpa jejak. Aku pun tidak bisa mengaksesnya. Itu artinya, orang atau perusahaan pers itu sudah menghapusnya." Sambung Happy kembali. "Bukankah itu artinya kita tidak akan menjadi sorotan? Jendela Kematian aman karena tidak ada lagi artikel yang akan memberitakannya. Jadi, kita bisa bekerja dengan normal lagi dan tidak sembunyi seperti ini!" Ucap King menimpali. Beauty menggeleng pelan, "bisa jadi, mereka sudah merencanakannya! Mereka ingin menunggu kita untuk kembali dan barulah mereka akan menangkap kita. Mereka memberi umpan ikan asin dan mereka berharap kita seekor kucing yang akan memakan umpan itu." "Filosofimu memang terbaik!" Jawab King dengan memberikan jempolnya kepada perempuan yang berada tepat di depannya itu. "Lalu, ... bagaimana? Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan tetap bersembunyi terus? Lalu, bagaimana dengan misi kita yang lainnya?" Sambung King seraya melirik Big Boss yang tidak berkomentar sama sekali. Big Boss yang merasa ditatap hanya bisa menyilangkan kedua lengannya di depan d**a, "Bear pun hanya diam. Mengapa kalian mencecarku dengan tatapan seperti itu? Memangnya aku tahu apa yang orang-orang itu sedang pikirkan? Aku seorang pembunuh bayaran, bukan dukun yang bisa membaca pikiran orang lain." "Aku tidak berkomentar sama sekali untuk kasus ini. Aku tahu Happy yang paling tahu. Apakah kemungkinan ini baik atau buruk? Aku tidak tahu sama sekali perbandingannya." Sambung Bear memberikan tanggapan. "Jadi, bagaimana menurutmu?" Tanya Beauty kepada Big Boss yang tampak tenang. "Kamu bahkan diam saja dan tidak banyak bicara." Sambungnya gemas. Big Boss tersenyum simpul, "jika mereka ingin bermain, mengapa kita tidak ikut memainkan permainan mereka?" "Maksudmu? Kita menangkap ikan asin itu dan berpura-pura menjadi kucing?" Tanya King yang langsung mengadaptasi filosofi yang dibuat Beauty. Big Boss menganggukkan kepalanya pelan, "anggap saja begitu! Kita tidak bisa selamanya bersembunyi hanya karena berita yang tiba-tiba hilang tanpa jejak. Berita itu hilang tanpa menyisakan bekas sedikitpun. Tentu saja ada yang menyingkirkan berita itu dengan memberikan penawaran yang mahal kepada perusahaan pers. Tentu saja perusahaan dari yang kecil sampai yang luar biasa besar. Jadi, ... langkah apa yang harus kita ambil menurut kalian?" "Menyelidikinya," jawab Happy, King, Bear, dan Beauty serempak. "Kita akan menentukan tersangka terlebih dahulu! Kali ini, kita akan bermain polisi-polisian. Selama misi kali ini, kita akan bertindak seperti polisi yang menyelidi tersangkanya. Kita harus berpikir seperti seorang polisi, itu yang paling utama." Ucap Big Boss menjelaskan misinya. "Jika berpikiran seperti seorang polisi, kita serahkan saja pada King." Tandas Bear yang menyenggol lengan King. Sedangkan yang disenggol melotot tidak santai. "Ah, ... kenapa harus aku?" Tolak King tidak terima. Happy tertawa pelan, "ya, ... kamu sudah mendaftar sebagai polisi, 'kan? Walaupun empat kali gagal." Tawa keempat temannya pecah begitu saja, membuat King hanya bisa diam dengan wajah kesalnya. King sering sekali menjadi bulan-bulanan dari kejahilan mereka. Sehingga bukan hal baru jika King diolok-olok karena ceritanya yang bisa dikatakan dramatis. "Tidak ada hubungannya dengan kegagalanku. Jika aku bisa masuk kepolisian, sudah aku tangkap kalian semua." Tandas King dengan wajah malasnya. Namun beberapa saat kemudian, mereka semua menatap serius ke arah King yang tampak santai. King yang ditatap pun langsung menatap balik ke arah teman-temannya. "Sungguh, ... aku bukan polisi. Kalian bisa melihat sendiri bahwa tidak ada polisi yang sepertiku." Ucap King dan dijadikan tertawaan oleh semuanya. Pertemuan mereka kali ini malah dijadikan ajang untuk menertawakan King. Sedikit membuang semua hal negatif yang ada di dalam kepala masing-masing. Walaupun perasaan takut itu makin menggerogoti hati, namun mereka berusaha untuk tetap tenang. Mereka berusaha untuk tidak membuat khawatir satu sama lain. "Diantara kita tidak ada yang berkhianat, 'kan?" Tanya Happy secara tiba-tiba. Semuanya menatap balik ke arah Happy yang tampak santai. Mereka semua menggelengkan kepalanya mantap. "Oh iya, apa hukuman bagi orang yang berkhianat dari kelompok kita?" Tanya Bear kepada Big Boss. Big Boss hanya menggelengkan kepalanya, "aku tidak mengatur tentang pengkhianatan dalam peraturan yang aku buat." "Benar, Big Boss tidak pernah membuat pasal tentang seorang pengkhianat. Mengapa demikian?" Tanya King dengan penasaran, begitu pula dengan yang lainnya. Big Boss tersenyum tipis, "aku yakin jika tidak akan ada yang berkhianat dari kelompok kita. Jika ada pun, aku sendiri yang akan menghukumnya. Kalian tidak perlu ikut campur untuk yang satu itu. Karena pengkhianatan harus dibalas dengan pengkhianatan juga. Sehingga semuanya impas." Pembahasan pun ditutup, tidak mau membuat Big Boss memperlihatkan taringnya yang menyeramkan. Itu yang selalu mereka takutkan, Big Boss yang benar-benar hidup dalam raga Big Boss. ~~~~~~~~~~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN