TRAUMA buruk selalu sulit untuk dilupakan dari ingatan. Kepalanya pusing kembali karena mengingat tentang kasus masa lalu yang telah melemparkan dirinya dan Isabela ke jalanan. Memaksanya menjadi manusia tangguh—kakak yang bertanggungjawab penuh kepada adiknya kala itu. Padahal Arkana tidak punya apa-apa, tidak memiliki sedikitpun harta untuk dia gunakan. Dan semua itu terasa masih segar dalam ingatan.
Arkana tidak akan pernah mungkin melupakan orang-orang yang telah ikut andil dalam pembakaran rumahnya. Orang yang telah menghancurkan masa depannya, begitupula adiknya. Dia juga tidak akan melupakan bagaimana rupa mereka. Rupa mereka begitu jelas di dalam kepalanya. Membuatnya ingin membunuh dan menerkam mereka. Jika dulu membunuh seseorang hanyalah sebuah keinginan, sekarang bisa menjadi kenyataan.
Telinga Arkana masih dengan jelas mendengarkan suara jeritan dan kesakitan dari orang tuanya. Dia juga mendengarkan tertawaan keras dari orang jahat itu. Orang yang sikapnya seperti binatang. Tidak punya belas kasihan dan tidak mempunyai perasaan sama sekali.
Arkana mengusap wajahnya lagi, terdengar suara musik yang terus menggema di dalam ruangan ini. Suara sepatu-sepatu bersentuhan dengan lantai pun terdengar cukup mendominasi. Terlihat di atas sebuah panggung kecil dengan kelap-kelip lampu warna-warninya, seorang perempuan dengan mengenakan bikini berlenggak-lenggok dan menari, meminta para laki-laki mendekat dan memberikan uang mereka.
Lantai dansa semakin riuh oleh tepukan tangan para laki-laki kurang belaian yang datang malam ini. Arkana mengenal banyak orang di sini, orang-orang kesepian ber-uang yang mencari teman tidur, para suami yang bosan dengan istrinya, atau para tua bangka yang sudah hampir mati tetapi masih doyan daun muda. Semua jenis orang-orang b******k bercampur menjadi satu.
"Hai, Bro, lama enggak ketemu." Sapa seorang laki-laki berjas hitam yang baru saja mendekatinya.
Arkana tersenyum samar, "dari mana aja? Ngurus bisnis lagi?"
"Iya lah, biasa. Kamu tahu sendiri jika sudah berhubungan dengan orang tua, mereka seringkali memaksa anaknya untuk melakukan apapun yang mereka suka." Curhat Gala yang membuat Arkana tertawa.
"Itu artinya, orang tuamu peduli pada masa depanmu, kawan."
"Iya, kurang lebih begitu. Berusaha mempertahankan eksistensi saja. Tapi, lumayan lah. Semua sudah diatur sedemikian rupa. Aku hanya tinggal menempati posisi dan ya~ berlagak seperti bos."
Arkana menepuk pelan bahu Gala yang terus membuatnya tertawa. Mereka adalah dua orang yang saling mengenal karena club ini. Arkana sebagai bartender dan Gala sebagai salah satu tamu VVIP yang sangat dekat dengan Arkana. Laki-laki itu selalu datang menemui Arkana, mengobrol dengan temannya—Arkana—jauh lebih menyenangkan daripada menikmati waktunya dengan gadis-gadis bayaran yang selalu ditawarkan kepadanya.
Arkana meletakkan sebuah gelas berisi air mineral di atas meja. Tepatnya di depan Gala yang sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.
"Air mineral? Lagi?" Tanya Gala yang mengangkat gelasnya di hadapan Arkana yang sedang melayani tamu lainnya.
Arkana mengangguk menanggapi pertanyaan dari Gala. Membuat Gala hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Aku seperti anak remaja yang baru saja menginjakkan kaki di sebuah club malam." Ucap Gala dengan tertawa. "Bagaimana kalau aku laporkan kepada Tuan Kasmir?" Ancamnya dengan wajah yang menyebalkan.
Tuan Kasmir sendiri adalah pemilik dari club malam ini. Dan itu artinya adalah bos dari Arkana yang dikenal sebagai tuan kaya raya yang banyak mempunyai simpanan gadis-gadis muda.
"Aku tidak takut dengan perjaka tua itu." Jawab Arkana dengan santai lalu meletakkan segelas minuman berwarna bening kepada orang di depannya.
Gala mengangguk dengan wajah mengejek, "apa tidak salah dengan kata perjaka di depan kata tua yang kau katakan sebelumnya?"
"Sialan!" Umpat Arkana lalu mulai tertawa kembali. "Kau tahu, perjaka yang aku maksud itu adalah laki-laki yang belum menikah."
"Yaps! Walaupun begitu, dia sudah berulang kali kawin, bukan?"
"Heh, jaga bicaramu! Kalau ada yang dengar bagaimana?"
Gala mengangkat kedua bahunya acuh, "kau mungkin akan dipecat."
"Dan aku akan meminta pekerjaan padamu sebagai Tuan yang kaya raya tetapi tidak pernah melakukan hubungan se~" ucapan Arkana terpotong karena Gala menggunakan tangannya untuk menutup mulut Arkana.
"Kamu ingin mati, hah?" Ancam Gala yang mengundang senyuman puas dari Arkana.
"Kenapa kamu tidak melakukannya?" Tanya Arkana serius. "Maksudku, banyak gadis yang menginginkan dirimu untuk bermalam. Apa kamu punya rahasia seperti impot~" lagi dan lagi ucapan Arkana terpotong. Tetapi kali ini hanya dengan tatapan membunuh dari Gala.
Gala menghela napas panjang, "aku datang ke club bukan untuk mencari gadis-gadis. Aku datang kesini hanya untuk minum air mineral. Bahkan setress ku tidak kambuh semenjak aku mengonsumsi air mineral yang kau tuangkan ke gelas."
"Oke! Kau membuatku sedikit takut." Ucap Arkana sedikit menjauh dari Gala. "Kau tidak sedang mencari pasangan guy, 'kan?" Canda Arkana kemudian.
"Hm, kurasa aku butuh juga satu." Jawab Gala yang membuat Arkana bergidik ngeri.
Gala yang mengetahui perubahan ekspresi dari Arkana langsung meralat ucapannya.
"Kamu tidak berpikir seperti apa yang aku katakan, 'kan?" Tanya Gala dengan wajah khawatir. "Hei, ayolah, aku hanya bercanda. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan sekarang. Sungguh, aku hanya bercanda." Sambung Gala dengan wajah panik.
Lalu sedetik kemudian, Arkana tertawa dengan sangat puas karena melihat wajah Gala yang panik. Gala yang merasa dikerjai hanya bisa memasang wajah sebal ke arah Arkana. Laki-laki itu langsung meminum air mineral di dalam gelasnya dengan terburu-buru. Setelah itu mereka berbicara santai tentang banyak hal yang terjadi belakangan ini.
Yang menarik perhatian Arkana adalah tentang pembahasan Gala soal kematian dari seseorang yang sering diberitakan di televisi akhir-akhir ini. Arkana menjadi teringat tentang misinya yang harus membunuh dengan senjata. Walaupun Beauty yang akan mengeksekusi misi tersebut, tetapi Arkana mulai gusar. Dia tidak fokus dengan apa yang dikatakan Gala dan memilih untuk melamun sejenak.
Lamunan Arkana buyar ketika ada tamu yang memesan minuman kepadanya. Arkana membuatkan minuman sambil memperhatikan Gala yang tengah memainkan ponselnya. Arkana merasa ada yang janggal dari cerita Gala, tetapi dia tidak bisa bertanya secara langsung kepada temannya itu. Setelah itu Gala pamit pulang karena ada panggilan mendesak, meninggalkan perasaan penasaran dalam diri Arkana.
Malam semakin larut, tetapi Arkana belum beranjak untuk pulang. Dia sudah meminta ganti shift dengan temannya dan memilih untuk pergi ke toilet dan menghubungi Happy. Selama berada di toilet, Arkana mengganti seluruh atribut yang ada di tubuhnya termasuk pakaian dan celana. Setelah itu Arkana menempelkan topeng wajah di wajahnya. Lalu pada saat keluar dari toilet Arkana sudah berubah menjadi Big Boss, ketua dari jendela kematian.
Sesekali Big Boss menatap ke arah belakang untuk memastikan tidak ada seorangpun yang melihatnya. Karena misi ini sangat berbahaya maka dia harus berhati-hati. Setelah memastikan semuanya, akhirnya Big Boss masuk ke dalam markas besar mereka. Laki-laki itu menemukan Happy yang sedang sibuk dengan komputernya dan juga alat yang sudah dirancangnya untuk membuat topeng wajah seluruh anggota jendela kematian.
"Kau sudah menerima pesanku?" Tanya Big Boss kepada Happy yang sedang duduk sambil tersenyum.
"Aku sudah merancang semuanya seperti yang kau minta. Tetapi masih ada beberapa bagian yang perlu aku selesaikan agar purwarupa ini ini bisa kita gunakan. Aku juga sedang melakukan scanning wajah agar tidak ada yang mempunyai wajah seperti kita."
Big Boss sedikit berpikir lalu sebuah ide muncul di dalam kepalanya, "jangan! Seharusnya kau memang menyamakan wajah kita dengan orang-orang yang kemungkinan dekat dengan Tuan Prada."
"Apa itu tidak akan terlalu beresiko? Kita akan menggunakan senjata pada kasus ini. Aku tidak ingin membahayakan kalian terutama Beauty karena dia yang akan melakukan eksekusi pada misi ini." Peringat Happy yang sedikit takut dengan konsekuensi dari misi mereka kali ini.
Big Boss menggeleng pelan, "aku punya rencana."
"Apa yang sedang kalian lakukan teman-teman? Apa aku melewatkan sesuatu?" Ucap Beauty yang baru saja datang sambil tersenyum.
"Ya, hampir saja kamu ketinggalan rencana besar kita. Untunglah kamu datang tepat waktu. Oh ya Beauty Aku ingin bicara denganmu tentang misi kita kali ini. Jika kamu setuju maka aku akan melanjutkan rencana ini. Tapi jika kamu tidak menyetujuinya, aku tidak akan melakukannya."
Beauty mengerutkan keningnya bingung, "apa yang perlu aku setujui dari rencanamu? bukankah kamu yang paling handal dalam melakukan perencanaan dan juga taktik selama ini. Aku merasa juga semua rencanamu selalu berjalan dengan sempurna dan tidak membahayakan kami semua."
"Iya. tapi untuk kali ini cukup sangat beresiko karena kita akan menggunakan topeng wajah yang sama dengan beberapa orang yang dekat dengan Tuan Prada." Usul Big Boss.
"Tunggu, mengapa harus menggunakan topeng yang sama dengan beberapa orang yang dekat dengan Tuan Prada? Mengapa tidak menggunakan topeng seperti biasanya? Happy sangat pandai membuat tipikal wajah yang tidak sama dengan orang lain dan sulit untuk dikenali." Tambah King yang baru saja datang.
"Ada apa dengan wajah?" Disusul Bear dari belakang.
Setelah itu Big Boss meminta seluruh teman-temannya untuk berkumpul di satu meja. Lalu dia mulai menggambar beberapa kemungkinan dan juga gambar bagan tentang rencananya kali ini. Happy juga memberikan scanning wajah yang telah dirinya buat baru saja. Karena Big Boss Tidak mau menyia-nyiakan hasil karya Happy, tentu saja dia akan menggunakannya untuk menyempurnakan misi mereka kali ini.
"Aku tidak akan menyia-nyiakan hasil yang sudah Happy buat. Tapi tentu saja kita akan menggunakannya nya ketika di luar gedung itu. Jika kalian takut dengan resikonya, bukannya sudah terlambat? Apakah kalian akan menyerah begitu saja hanya karena takut ketahuan?" Tanya Big Boss.
Mereka mulai berpikir lalu mengangguk pelan. Mereka tentu saja paham dengan apa yang dimaksud Big Boss. Lagipula ini adalah konspirasi besar, bukan hanya tentang misi yang mereka kerjakan untuk membunuh seseorang. Tetapi ada misi lain yang harus mereka selesaikan.
"Baik kita akan menjalankan misi ini dengan serius karena semua ini juga menyangkut kelompok kita sendiri. Aku akan segera menyelesaikan tugasku begitu pula dengan kalian." Jawab Bear yang setuju.
Lalu satu persatu dari mereka menyatakan pendapat dan juga menambahkan beberapa rencana. Dan terbentuklah rencana yang matang di antara mereka. Setelah itu mereka akan mengeksekusinya dengan rapi seperti biasa.
Jendela Kematian, mulai.
~~~~~~~~~~