ARKANA selalu mengingat setiap potongan kenangan; entah yang baik atau buruk. Sebagai pengingat yang baik, Arkana tidak pernah lupa pada siapapun orang yang pernah tinggal dalam masa lalunya. Dia tumbuh dengan baik, menjadi pemuda biasa saja. Arkana tidak ingin menganggap dirinya pemuda yang tampan. Cukup sebagai pemuda yang tidak ingin berharap kepada cinta. Siapa juga yang mengharapkan seorang bartender bergaji sedikit seperti dirinya. Ditambah harus mengurus seorang adik yang masih sekolah—tepatnya kuliah.
Banyak orang menganggap bahwa, seorang Arkana tidak punya apa-apa. Hanya mempunyai sebuah rumah kecil dan sederhana. Mereka tidak akan pernah tahu bahwa seorang bartender miskin itu mempunyai usaha yang tidak main-main. Ada banyak hotel, rumah, apartemen, kondominium mewah, dan banyak lagi aset yang tidak perlu Arkana jelaskan seberapa banyaknya. Dia mungkin lebih kaya daripada para pejabat, pengusaha, atau orang kaya yang menyuruhnya.
Gedung-gedung tinggi di beberapa kota adalah gedung atas nama adik kesayangannya, Isabela. Sayangnya, selama ini tidak ada yang tahu dan mengerti bagaimana si miskin yang penuh makian itu bisa menjadi Tuan tanah yang bergelimang harta benda. Arkana tentu saja bermain cantik bersama dengan beberapa orang. Membuat mereka menjalankan bisnisnya, membungkam para petinggi dengan uang. Lalu petinggi itu akan mengembalikan uangnya lagi dengan membayarnya untuk sebuah misi.
Arkana pembunuh ulung. Dia tidak bermain semaunya. Dia melakukan permainan dengan ritme yang sangat tepat. Seperti ketika bermain piano, jika salah 'satu not' saja, pasti akan terdengar fals. Arkana pun sama, dia menggunakan kekuasaan orang yang berada di atasnya. Jalurnya seperti ini, Arkana membayar mereka, lalu mereka menutupi kejahatan Arkana. Tetapi tidak semulus itu, karena akan ada yang mengetahui tindakan dari sang petinggi. Jadi, sebelum orang serba-tahu ini berkoar sampai kemana-mana. Petinggi itu akan menyewa Big Boss sebagai eksekutor.
Petinggi merasa untung karena dia dibayar oleh Arkana. Dan Big Boss lebih beruntung karena bisa berjalan dengan sangat mudah dengan uang yang terus-menerus berputar kepada rekeningnya. Petinggi-petinggi itu tidak akan mau tahu darimana uang yang Arkana dapatkan. Mereka hanya tahu tentang cembungnya rekening mereka setiap bulannya. Padahal, mereka sedang dipermainkan oleh Arkana saja. Mereka membuat seorang Arkana kebal hukum.
Arkana tersenyum licik, laki-laki itu telah menanamkan usahanya begitu dalam. Bahkan sampai-sampai tidak ada yang menyadarinya. Dia begitu kaya raya, hanya tidak ingin terlihat kaya saja. Suatu saat, semua ini akan jatuh kepada Isabela. Menjadi hak paten adiknya itu. Barulah, pada saat itu mereka akan mengakui tentang kehebatan seorang bartender ini.
Gedung lima puluh lantai ini tidak terlalu mewah, namun cukup aman untuk bersembunyi dari panasnya matahari. Gedung paling atas tidak berpenghuni, hanya terdiri dari saru ruangan; ruangan pribadi Arkana. Tentu saja dia tidak naik dengan menggunakan lift, namun dari helikopter yang dibelinya dengan menguras semua rekening El beberapa hari lalu. Tidak lupa, Arkana membagikannya dengan semua anggota tim. Menikmati kelimpahan uang yang tidak bisa mereka dapat dengan hanya melakukan pembunuhan saja.
Bagaimana pemerintah tidak tahu tentang usahanya ini? Apakah dia tidak membayar pajak atau apapun itu? Tentu saja Arkana selalu bermain dengan sangat rapi. Dia seorang ahli dalam strategi. Dia mempunyai banyak pesuruh yang bisa diminta kesana-kemari untuk mengurus ini dan itu. Jangan lupakan beberapa pejabat yang telah makan enak dengan uangnya? Menguntungkan, bukan?
Setelah tour ruangannya yang baru, Arkana meletakkan sebuah alat dari dalam tas hitam yang dia bawa tadi. Sebuah alat pelindung yang sempat dibawanya dari gedung Prada. Ini adalah alat pelindung buatan Ayah dan Ibunya. Walaupun Arkana tidak tahu bagaimana cara kedua orang tuanya bisa membuat alat seperti ini dan tujuannya untuk apa. Namun untunglah, alat ini tidak berfungsi kepadanya. Alat ini tidak melakukan pemindaan terhadapnya. Mungkin tidak berfungsi juga kepada Isabela.
Arkana memprogram ulang dan memasang alat pelindung gedung untuk gedung pencakar langit miliknya sendiri. Arkana dengan mudah memecahkan kode-kode sulitnya, karena semua sudah tercatat di kepalanya ketika pertama kali Ayahnya memperlihatkan benda ini kepadanya.
Setelah selesai dengan urusannya, Arkana berjalan keluar dari sana dengan helikopter miliknya. Lalu mendarat di sebuah tanah yang masih lapang. Arkana pergi dengan mengendarai mobilnya kembali. Laki-laki itu membelokkan mobil hitamnya ke arah sebuah panti rehabilitasi para pengguna narkoba. Entahlah apa yang sedang dilakukannya di sana. Namun, semua hal dalam hidup Arkana selalu mempunyai tujuan.
Laki-laki itu berjalan masuk, menuju ke pusat informasi untuk bertanya ruangan seseorang. Setelah itu, ada satu perawat yang mengantarkan Arkana untuk masuk ke sebuah ruangan di mana seorang laki-laki sedang duduk sambil diikat.
"Apa benar tidak apa-apa saya tinggalkan Tuan di sini?" Tanya perawat cantik itu dengan senyum tipisnya.
Arkana membalas senyumannya dan mengangguk, "saya tidak apa-apa di sini sendirian. Dulu, dia teman SMA saya. Seharusnya, kami bisa saling mengenal dengan baik."
Perawat itu keluar dari ruangan setelah mengangguk. Arkana tidak bisa menyembunyikan senyuman bahagianya. Laki-laki itu memang super power, mampu masuk kesini membutuhkan ijin. Lagi-lagi Arkana bermain aman dengan menggunakan para petinggi yang dibayarnya.
Pyaar. Sebuah gelas dijatuhkan ke lantai oleh laki-laki yang berada di ranjang itu. Dia sudah tahu bahwa Arkana datang ke kamarnya. Untuk itu, laki-laki itu marah.
"Tenang saja, Tuan El. Kau akan mendapatkan kehormatan untuk melihat wajah asliku. Bukankah aku sudah berbaik hati padamu dengan tidak membunuhmu. Membuatmu kehilangan satu kakimu, tidak akan terlalu buruk dibandingkan dengan mati. Iya 'kan?" Tanya Arkana yang menarik salah satu kursi untuk dia duduki.
Laki-laki yang diketahui adalah El itu membalikkan tubuhnya, "memang b******k kamu, Arkana. Jika aku tahu itu adalah kamu, sudah aku bunuh sejak lama. Harusnya kamu tahu posisimu. Dasar bocah b******n, kamu."
Arkana tertawa dengan keras ketika mendengar umpatan yang keluar dari mulut El, "anda jangan dulu merasa sombong, Tuan. Saya bisa membawa Anda masuk ke dalam permainanmu yang lebih menyenangkan daripada main rumah-rumahan seperti ini. Mungkin saya akan membawa Anda kepada Patra, kalian bisa minum teh bersama. Pasti sangat menyenangkan bukan?"
"Siapa kamu sebenarnya? Mengapa kamu menyamar menjadi salah satu dari anggota Jendela Kematian?" Tanya El dengan wajah marah.
Arkana tersenyum mengejek, "saya tidak akan menjawab Anda. Memang Anda siapa? Tidak ada alasan untuk membuka mulut ini. Ah, apa Anda tahu, saya baru saja membeli sebuah helikopter buatan luar negeri yang harganya cukup murah? Uang Anda yang melimpah ruah itu sudah menjadi aset saya sekarang. Apa Anda senang?"
"Apa maksudmu?" Tanya El dengan marah. Ingin sekali dia mendekat ke arah Arkana dan memukulnya, tetapi El tidak bisa. Kakinya tinggal satu akibat terjatuh dari lift. Lagi-lagi karena Arkana.
Arkana mendekat ke arah El yang sedikit kesakitan, "Anda selalu saja bertindak angkuh kepada siapapun. Anda berlagak menjadi manusia paling kaya di dunia. Sayangnya, Anda tidak tahu apa-apa Tuan. Anda terlalu polos dan bodoh. Ingin saya jelaskan?"
"Anda memperkerjakan saya sebagai alat untuk mengambil alih beberapa lahan yang ditunjukkan Prada kepada Anda. Sayangnya Anda tidak pernah melihat sisi lain dari saya yang sangat membenci ketidakadilan itu. Jadi, daripada Anda kehilangan teman baik maka saya mengambil alih semua usaha Anda secara diam-diam. Anda yang terus berjuang dengan Patra, memberikan seluruh aset Anda untuk saya kelola. Bukankah Anda mempercayai saya? Bukankah Anda menganggap saya sebagai pegawai yang baik?"
El tertawa mendengar ucapan Arkana, berusaha untuk menguasai dirinya sendiri. Sayangnya, Arkana lebih mampu untuk mengendalikan segalanya. Arkana paham caranya untuk bersikap. Bahkan dengan menatap El saja, Arkana bisa melihat betapa frustasinya laki-laki di depannya ini.
"Siapa kamu sebenarnya? Jawab aku!" Tandas El dengan kesal karena melihat Arkana yang begitu tenang.
Arkana tersenyum, "Anda ingin tahu siapa saya, bukan? Anda ingin melihat saya sebagai apa? Sebagai seorang pemimpin dari Jendela Kematian? Saya adalah Big Boss, orang yang ingin Anda kelabui tapi sudah mengelabui Anda lebih dulu. Menyenangkan bukan?"
El tampak membulatkan kedua bola matanya. Dia hanya mengenal Arkana sebagai pegawainya yang mengurus semua usahanya. Dia tidak berpikir tentang bagaimana mungkin seorang Arkana mampu mengkhianatinya dengan menyamar menjadi salah satu kelompok berbahaya sekelas Jendela Kematian.
"Aku sangat mempercayaimu saat itu. Harusnya kamu berterimakasih padaku yang sudah memberikanmu semua pekerjaan ini. Memangnya kamu tidak ingat dengan rumah yang kamu tempati sekarang? Jika bukan karena seluruh kebaikanku, mana mungkin kamu bisa tidur dengan nyaman di sana. Apa kamu lupa, b******k?" Teriak El dengan kesal.
El mempercayai Arkana sejak awal. Bahkan dia sangat kaget saat melihat namanya masuk ke dalam kantor polisi dengan sebuah berkas tuduhan penyalahgunaan obat terlarang. Dia tidak tahu mengapa hasil tesnya pun positif. Ditambah lagi dengan nama pelapor adalah Arkana, El sempat tidak habis pikir. Ketika mereka bertemu sebelum akhirnya El dibawa ke panti rehabilitasi ini, Arkana juga datang dengan memberitahu bahwa Arkana lah yang mendorong El ke lift itu dan akhirnya terjatuh.
"Kamu mengincar hartaku? Asetku? Kamu tidak tahu diri rupanya," ucap El dengan sangat marah.
Arkana tertawa pelan, "Anda sendiri yang telah membiarkan saya masuk ke dalam bisnis gelap Anda. Anda mengajarkan saya menjadi seorang perencana yang ulung. Anda begitu telaten mengajari saya sampai mahir. Sehingga langsung saya gunakan untuk mengelabuhi Anda. Bukankah Anda selalu mengajarkan bahwa cara paling pintar untuk mengelabuhi seseorang adalah dengan cara membuatnya percaya kepada kita. Bukankah saya sangat cepat dalam belajar?"
"Memang k*****t kamu, Arkana."
"Anda boleh berbicara seperti itu. Tetapi, simpan saja semua sumpah serapah untuk diri Anda sendiri. Saya bukan hanya seseorang yang cerdik, namun saya juga seseorang yang sangat pendendam. Untuk pertama dan terakhir akan saya katakan kepada Anda, saya putra dari Landra dan Puspita."
El membulatkan matanya lebar-lebar, dia ingat dengan siapa keduanya. El akhirnya mengerti, memahami, dan mencerna dengan baik mengapa Arkana melakukan semuanya. Dendam apa yang Arkana simpan sampai membuatnya berada di sini. Ternyata El tidak bisa memangkas semua akar yang akan membuat dirinya tersandung berulangkali.
"K-kamu salah paham!" Ucap El terbata.
Arkana memasang wajah datarnya, "saya tidak pernah salah paham. Saya hanya pandai mengingat. Khusus untuk Anda, saya tidak akan membunuh dengan terburu-buru."
"Selamat menikmati surga Anda, Tuan El."
~~~~~~~~~~~