RINTIK hujan mulai membasahi bumi. Angin berhembus cukup kencang dan membuat beberapa orang memilih untuk berteduh di bawah halte bus yang penuh sesak dengan manusia. Tidak lama, bus warna biru itu berhenti namun tak ada satupun yang naik. Tandanya, mereka semua hanya menumpang berteduh saja. Tidak ada niatan untuk naik bus sama sekali. Sedangkan terlihat dari balik kaca, supir yang sedikit kesal karena harus berhenti sejenak. Memastikan apakah ada orang yang ingin naik ke bus-nya. Kenyataannya, orang-orang itu tidak tertarik untuk baik bus. Hanya sekedar menunggu hujan reda. Setidaknya sampai hujan menjadi gerimis kecil-kecil.
Pada musim penghujan yang lebat seperti ini, payung atau jas hujan seperti kurang berfungsi. Mengapa? Karena sama saja. Mereka tidak bisa terlindung dari cipratan air hujan yang menggenang di jalanan. Pasti ada saja kendaraan yang mengenai dengan tidak punya sopan santun. Seperti yang dialami Arkana sejak keluar dari markas Jendela Kematian. Dia bahkan memilih untuk terus menerobos hujan karena sudah kepalang basah. Ada mobil kurang ajar yang melaju dengan kecepatan penuh sehingga air dalam lubang jalan berpindah ke tubuhnya.
Dengan langkah gontai, dia berjalan menyusuri jalanan yang sepi oleh manusia. Hanya ada beberapa anak pedagang asongan yang berdiri mepet di tembok-tembok gedung sambil memeluk dagangan mereka. Arkana mengeluarkan uang dari dalam saku celananya yang basah dan lecek. Dia membeli beberapa minuman dari anak-anak itu dan memberikan mereka uang yang cukup besar agar mereka bisa pulang cepat. Mereka tampak bahagia sekali, hal yang sangat Arkana sukai. Melihat orang lain bahagia.
Iya, itu Arkana. Jika namanya sudah menjadi Big Boss, maka hanya satu kemungkinan yang ada di dalam hatinya. Kekejaman yang tidak ada baiknya. Dia sangat profesional dalam bekerja. Tidak menggunakan hati, tidak menggunakan belas kasihan sama sekali. Big Boss adalah seorang ketua pembunuh bayaran. Image yang melekat dalam dirinya hanyalah pembunuh.
Arkana sempat berbelok ke sebuah rumah sakit yang dipenuhi oleh para wartawan. Lihatlah mobil-mobil dari berbagai stasiun televisi itu tumpah ruah di halamannya. Kematian ini memang menjadi buah bibir yang sangat sering diperbincangkan padahal baru beberapa jam yang lalu. Arkana bisa melihat dengan jelas kerumunan wartawan yang sedang mengejar Prada dan El yang baru saja keluar dari rumah sakit dengan dikawal ketat oleh bodyguard berjas hitam di sana. Dia juga melihat ada peti mati yang dimasukkan ke dalam ambulance. Misinya benar-benar sempurna.
Setelah itu, Arkana memilih untuk meninggalkan rumah sakit itu dan melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Selama perjalanan pulang, yang didengarnya di warung atau halte yang dilewatinya hanyalah tentang kematian Patra. Mereka masih tidak habis pikir mengapa seorang Patra lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya. Diam-diam Arkana tersenyum, dia yang cukup tahu tentang meninggalnya Patra sangat puas mendengar spekulasi masyarakat yang percaya dengan kejadian tersebut hanyalah sebuah kasus bunuh diri.
Dengan menelan mentah-mentah informasi tentang bunuh diri. Setidaknya tidak akan ada lagi investigasi lanjutan tentang kematian Patra. Itu artinya, Jendela Kematian aman. Tentu saja aman, semua itu sudah diperhitungkan. Tanpa ada bukti kekerasan atau pemberian racun sama sekali. Tidak ada yang bisa membuktikannya. Lagipula, tak ada bukti kuat atas hal itu. Tidak ada juga yang bisa membuktikan jika itu adalah trik pembunuhan.
Tidak lama kemudian, Arkana telah sampai di rumah dan mendapati Isabela sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi. Arkana yang basah kuyup hanya mengelus kepala Isabela dan sempat membuat Isabela kaget setengah mati.
"Astaga, Kak. Aku kira siapa." Ucap Isabela kaget dengan ekspresi yang menggemaskan. "Kakak kehujanan? Ya ampun, mau aku buatkan teh?" Tanya Isabela secara bertubi-tubi.
Arkana hanya bisa memandang wajah Isabela yang tampak khawatir. Dia selalu merasa bersalah kepada Isabela setiap kali pulang dari mengerjakan pekerjaan ini. Arkana selalu tidak tenang setiap kali melihat senyum Isabela. Apakah ada orang yang sedang mengincar senyuman adiknya ini? Tidak, dia tidak akan pernah mengijinkan siapapun untuk merusak kebahagiaan adiknya apapun itu alasannya.
Isabela memegang pipi Arkana dengan tangan kanannya, "Kakak kesulitan, ya? Maafkan aku."
Arkana menggeleng pelan, "Kakak tidak merasa kesulitan. Kamu harus hidup dengan baik. Makanya Kakak harus berusaha lebih keras lagi."
Setelah itu, Arkana beranjak untuk masuk ke dalam kamarnya. Namun, suara Isabela menahannya untuk masuk.
"Kak," panggil Isabela yang membuat Arkana refleks menoleh. "Apa Kakak tahu tentang kabar meninggalnya Tuan Patra?" Tanya Isabela yang membuat detak jantung Arkana berdetak lebih cepat.
"T-tidak! Memangnya dia siapa?" Tanya Arkana pura-pura tidak tahu.
Isabela menghela napas panjang, "Kakak benar-benar butuh hiburan rupanya. Tuan Patra itu orang yang akhir-akhir ini selalu dibicarakan di media. Katanya sih dekat dengan beberapa artis ternama. Aku sering melihatnya di televisi untuk wawancara. Sayangnya, dia memilih untuk bunuh diri. Entahlah, apa sesulit itu hidupnya sampai dia memilih untuk bunuh diri."
Arkana tidak bisa berkata-kata, dia hanya tersenyum kikuk. "Kalau begitu, Kakak masuk ke kamar ya. Mau mandi."
Isabela mengangkat kedua jempolnya di udara dan kembali duduk di sofa. Perempuan itu sesekali menoleh ke arah kamar kakaknya.
"Sepertinya, Kakak kelelahan." Ucap Isabela lirih dan memilih untuk pergi ke dapur. Membuatkan Arkana teh dan makanan.
Hubungan Arkana dan Isabela sangat baik. Arkana adalah kakak yang baik. Dia rela melakukan apapun untuk kebahagiaan adiknya. Arkana juga selalu memikirkan keselamatan dari Isabela. Profesinya sebagai pembunuh bayaran membuatnya tidak tenang setiap kali melihat Isabela pergi sendirian. Arkana takut jika ada orang yang akan mencelakakan Isabela karena kesalahannya. Arkana tidak tahu apakah ada orang yang mengetahui identitasnya atau tidak. Jadi, dia cukup berhati-hati dengan menyembunyikan Isabela di dalam rumah mereka yang jauh dari keramaian.
Isabela pun sangat penurut dan jarang membangkang. Itu semua karena Isabela sadar jika Arkana telah membanting tulang sejak orang tua mereka meninggal. Semua beban kehidupan Isabela harus ditanggung Arkana. Laki-laki itu selalu berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan Isabela. Arkana sudah seperti orang tua bagi Isabela. Yang menemaninya, yang menyayanginya, yang selalu memberikan kenyamanan. Bahkan sampai rela meninggalkan sekolah hanya untuk memberikan Isabela penghidupan. Padahal Isabela tahu jika sang kakak sangat pintar.
Sejak orang tua mereka meninggal, Arkana mulai bekerja serabutan. Dari menjadi kuli di pasar, pencuci piring di rumah makan, bekerja di salah satu bengkel, dan beberapa pekerjaan paruh waktu lainnya. Bahkan dia rela bekerja sepanjang hari untuk bisa mendapatkan uang untuk memberikan rumah yang layak kepada Isabela. Supaya mereka tak lagi tidur beralaskan kardus dan berpindah-pindah tempat. Lihatlah, sekarang Arkana bisa membeli apapun yang dia mau. Isabela cukup bangga kepada Arkana. Tetapi sayangnya, Isabela tidak tahu dari mana uang yang kakaknya dapatkan selama ini.
"Auw," lirih Isabela karena tidak hati-hati menuang air panas ke dalam cangkir teh.
"Kenapa?" Tanya Arkana dengan khawatir. "Ya ampun, kenapa kamu ceroboh sekali!" Marahnya setelah melihat tangan Isabela yang sedikit melepuh.
Arkana langsung membawa tangan Isabela ke wastafel, membuka keran air untuk menyiram tangan Isabela yang terkena air panas. Setelah itu, Arkana mengambil salep dari kotak P3K yang ada di dekat dapur. Isabela terus memandangi Arkana yang tampak khawatir. Seharusnya, dia tidak melamun. Pasti tidak akan merepotkan kakaknya terus.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun," ucap Arkana sambil berjongkok.
"Aku hanya ingin membuatkan secangkir teh untuk Kakak. Tetapi sayangnya tidak bisa. Aku sangat ceroboh." Jujur Isabela.
Arkana mengelus kepala Isabela sambil tertawa, "apa kamu mau makan di luar? Hujan sepertinya mulai mereda, jadi kita bisa jalan keluar. Maaf karena Kakak tidak membawa mobil milik Bos Kakak kali ini."
"Tidak masalah! Hidup sederhana asalkan bersama dengan Kakak, membuat aku bahagia." Jawab Isabela yang disambut senyuman oleh Arkana.
Dia bisa saja membeli mobil yang bagus dengan harga yang sangat mahal. Tetapi, Arkana tidak mau membuat Isabela curiga dengan pekerjaannya. Isabela pasti akan bertanya tentang berapa gaji bartender sehingga dia bisa sampai membeli mobil. Sehingga Arkana selalu berbohong jika mobilnya adalah mobil Bosnya. Lagipula, Bos kikir itu mana mungkin akan meminjamkannya mobil. Semua itu mustahil.
Mereka bersiap-siap dan berjalan dengan santai menuju ke sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah mereka. Seperti biasa, Isabela selalu memesan makanan yang paling murah karena tidak mau membebani Arkana.
"Makanlah yang kamu sukai. Kamu tidak percaya jika Kakakmu ini sudah kaya?" Ucap Arkana bercanda, namun kenyataannya memang kaya.
Isabela hanya tertawa, "lebih baik makan murah tapi setiap hari. Daripada makan makanan mahal hanya sekali."
Mereka berdua tertawa, seperti tidak pernah mempunyai beban sama sekali.
"Hai," sapa seseorang.
"Gala..." Ucap Arkana sambil bersalaman dengan laki-laki yang dipanggil Gala itu.
"Oh, maaf karena mengganggu kencanmu." Ucap Gala tidak enak. "Aku bisa pergi sekarang." Lanjutnya.
Arkana tertawa, "tidak perlu! Dia Isabela, adikku."
"Astaga maaf, aku pikir kalian sedang berkencan. Soalnya, kalian seperti pasangan pada umumnya yang terlihat romantis."
Mereka hanya tertawa dengan tebakan Gala. Setelah itu Arkana mempersilakan Gala untuk bergabung dengan mereka. Sebelumnya, Arkana sudah memperkenalkan Gala dengan Isabela. Terlihat mereka nyambung ketika berbicara. Gala sendiri adalah teman Arkana. Mereka bertemu di club karena Gala sering datang kesana. Mereka akhirnya cukup akrab dan memilih untuk berteman.
"Oh iya, aku mencarimu beberapa hari ini. Apa semua baik-baik saja? Apa kamu sakit? Aku bertanya pada temanmu, katanya kamu tidak ada keterangan." Ucap Gala yang membuat Arkana menoleh ke arah Isabela yang mengerutkan keningnya.
"Kakak tidak berangkat bekerja?" Tanya Isabela penasaran.
Arkana menatap Isabela dan sedang berusaha untuk memutar otak, "iya. Kakak bekerja di tempat lain untuk mendapatkan lebih banyak uang."
Kali ini Arkana jujur, tetapi tidak dirinya sebutkan di mana dia bekerja beberapa hari ini. Mana mungkin dia mengatakan hal sebenarnya kepada Isabela? Iya, 'kan?
~~~~~~~~~