TERKADANG kita terlalu sombong karena bisa mengalahkan seseorang yang menurut kita mengganggu. Tapi karena kesombongan itu yang pada akhirnya membuat kita tidak awas dan waspada. Seharusnya, apapun keadaannya, kita tidak boleh begitu saja terlena dan membiarkan orang lain akhirnya memakan kita sampai habis. Seperti apa yang terjadi pada Gala yang hanya bisa terdiam seperti orang bodoh di depan gedung putih, gedungnya yang megah dengan banyak sekali bodyguard di sana.
Gala yang memasang perangkat itu; perangkap berupa bom yang meledak dengan intensitas ledakan yang besar. Tentu saja dirinya tidak merakitnya sendiri, namun membelinya dengan harga fantastis dari pasar gelap yang sudah dipersiapkannya sejak lama—hanya untuk menunggu momen yang tepat, meledakkan orang-orang yang menyebalkan untuknya. Sayangnya, dia tidak tahu apakah keduanya mati atau tidak. Seharusnya dia bisa memastikan keadaan keduanya sekarang. Tapi entah bagaimana, semua orang seperti terjebak dalam dunia mimpi.
Bagaimana tidak? Ada ledakan yang besar semalam di depan gedungnya. Ledakan yang membuat mobil yang terparkir di depan sana meledak dan seharusnya membunuh dua orang di dalamnya. Namun paginya, ketika dia datang untuk melihat TKP, semuanya sudah sama seperti semula. Tidak ada bekas ledakan sama sekali. Tidak ada serpihan sedikitpun yang berasal dari ledakan mobil itu. Tidak ada darah atau apapun yang berhubungan dengan kejadian malam tadi.
Lebih anehnya lagi, tidak ada orang yang menjadi saksi mata sama sekali. Bahkan polisi sudah menghentikan penyelidikannya begitu saja, seperti tidak ada apapun yang terjadi. Polisi hanya datang untuk mengecek tanpa mengatakan apapun. Saksi matanya pun sepertinya memang tidak ada—padahal kenyataannya banyak sekali yang merekam kejadian itu semalam. Tetapi mengapa tiba-tiba tidak ada yang berani mengatakan tentang kejadian semalam?
Bukankah itu semuanya seperti telah direncanakan oleh seseorang yang sangat berpengaruh? Seseorang itu adalah seseorang yang mempunyai koneksi yang lebih luar daripada dirinya tentunya. Tentu saja, orang itu bukan orang sembarangan.
Prang! Terdengar suara benda yang menabrak tembok. Lagi-lagi sebuah gelas sudah pecah dihantamkan ke tembok dengan keras. Pelakunya adalah Gala yang merasa kesal, kecewa, marah, dan merasa jika dirinya tengah dipermainkan oleh seseorang yang tentunya mempunyai kuasa di atasnya. Dan lebih parahnya lagi, mereka seperti memegang kartunya—mungkin mengenalnya juga.
"Sialan! Siapa orang yang sudah bermain-main denganku?" Tandas Gala dengan nada suara yang sangat kesal.
Laki-laki itu mengusap wajahnya dengan kasar. Kepalanya dipukulnya karena tidak bisa memberikannya jawaban sama sekali. Padahal, dia sudah merencanakan semuanya dengan matang. Namun mengapa semuanya gagal total. Dari rencana pembunuhan terhadap Kana yang diselesaikan orang lain meskipun akhirnya perempuan itu bisa diselamatkan. Sampai pembunuhan anggota Jendela Kematian yang tampaknya lebih dari sekedar kata gagal.
"Apa yang harus aku lakukan? Ah, bagaimana jika orang itu tahu siapa aku sebenarnya! Bagaimana kalau orang itu tahu bahwa aku lah yang berada dibalik semua ini? Padahal balas dendamku belum selesai." Sambungnya dengan mengetukkan jemarinya ke mejanya.
Perasaannya menjadi gusar karena dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Jendela Kematian seperti tidak mempunya sekutu. Namun bagaimana jika kelompok seperti Jendela Kematian mempunyai bala tentara di belakangnya. Lagipula Gala tidak pernah berusaha mencari tahu berapa banyak anggota Jendela Kematian. Tidak ada yang tahu dan pernah bertemu dengan anggota kelompok itu. Sehingga tidak bisa memperkirakan seberapa kuat kelompok itu. Jadi, apa yang harus dilakukannya?
Gala mengambil jasnya, memakainya dan bergegas untuk meninggalkan ruangannya. Di depan dirinya pun sudah ditunggu oleh dua bodyguard bertubuh besar yang mengikutinya dari belakang. Mereka bertiga masuk ke dalam lift dan pintu terbuka saat mereka sudah berada di basement untuk sampai ke mobil Gala. Kedua bodyguard itu hanya berhenti di depan mobil Gala, membiarkan tuan mereka untuk masuk ke dalam kendaraannya tanpa diikuti sama sekali.
Seperti sudah bisa ditebak sejak awal, tujuan utamanya adalah datang ke rumah sakit di mana Kana tengah dirawat. Laki-laki itu masuk dan menemukan sosok perempuan yang sudah beberapa hari ini tidak dirinya temukan di manapun. Bahkan pesan yang dikirimkannya pun tidak pernah dibalas sama sekali. Seketika Gala terdiam, bingung ingin melangkah maju atau tetap berdiri di tempat.
Ah, sayangnya tatapan mereka saling bertemu dan perempuan itu langsung memutuskan kontak mata diantara mereka dengan sengaja. Gala tidak tahu harus memulai pembicaraan seperti apa dengan perempuan itu. Perempuan yang sudah mengisi hati dan harinya selama beberapa saat—tentunya masih sangat sulit untuk dilupakan, Isabela.
Jika mengingat dendamnya dan apa yang telah dilakukannya, membuat Gala merasa dirinya tidak pantas untuk Isabela. Belum lagi tentang perasaan marahnya karena Arkana telah membunuh Prada, menjadi poin yang tepat untuk memperlakukan Isabela dengan demikian. Tetapi hatinya tetap saja berdetak tidak karuan setiap kali menatap mata indah itu. Bagaimanapun, Isabela tetap perempuan yang pernah dia cintai meskipun ditutupinya dengan dendamnya.
"Isabela," lirihnya kemudian dengan senyuman canggung. Meksipun harus bertemu dengan Isabela, setidaknya dia harus tahu bagaimana keadaan Kana atau keberadaan Arkana yang tiba-tiba saja menghilang.
Gala sebenarnya ingin mengorek informasi kepada perempuan itu, mencari kemana Arkana dan salah satu rekannya menghilang. Tentu saja ada orang-orang yang membantunya untuk menghilang begitu saja tanpa jejak sama sekali. Padahal negara ini sudah menerapkan adanya alat CCTV yang dapat ditemukan di mana saja. Namun mengapa tidak ada satupun alat itu yang berfungsi untuk melihat kemana mobil ambulance itu pergi membawa Arkana dan rekannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Gala berbasa-basi sambil menatap ke arah Isabela yang tidak tertarik untuk menjawabnya. "Apa kabar Arkana? Sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. Aku—" ucapan Gala sebenarnya belum selesai. Namun sudah dipotong begitu saja oleh Isabela yang terlihat tidak tertarik dengan ucapannya.
Isabela menatap Gala dengan tatapan serius, "aku tidak peduli dengan apa yang kamu lakukan di sini. Tapi aku benar-benar tidak ingin berbicara kepadamu. Jadi, ... tolong jangan ajak aku bicara."
Rasanya menyesakkan sekali ketika orang yang kita cintai seperti tidak mengharapkan kehadiran kita dan rasa iri baru dirasakan oleh Gala—meskipun dirinya berusaha dengan keras untuk tidak terlihat sedih atau kehilangan. Sesekali Gala masih fokus menatap kecantikan Isabela, rasanya ingin mengulang lembaran yang lalu bersama.
"Kamu masih membenciku?" Tanya Gala dengan nada putus asanya. "Aku belum meminta maaf padamu dengan tulus sebelumnya. Aku mengatakan hal-hal yang menyakitimu agat kita bisa putus. Aku benar-benar minta maaf kepadamu. Tapi aku juga tidak merasa bahwa semua ini tidak benar. Aku hanya berusaha bersikap bahwa hubungan kita memang patut untuk diakhiri. Aku tidak—" sambung Gala yang kembali dipotong oleh Isabela. Kali ini perempuan itu membuka suaranya.
"Aku tidak membencimu! Jadi kamu bisa pergi." Jawab Isabela seadanya.
Berdekatan dengan Gala memang membuat Isabela merasa kesal dan muak. Apalagi ketika mengingat saat di mana Gala mengatakan kepadanya tentang perasaan yang sudah kosong. Semua itu membuat Isabela menjadi menyalahkan dirinya sendiri.
"Apa semuanya baik-baik saja? Apa yang kamu lakukan di sini? Apakah kamu sakit?" Tanya Gala lagi, seperti perhatian namun ternyata bisa saja dikategorikan sebagai mencari kesempatan untuk mengorek informasi tentang Kana atau Arkana kepada Isabela.
Isabela menoleh dengan pandangan sinisnya, "apakah itu penting? Aku berada di sini atau tidak, semuanya tidak perlu kamu tanyakan padaku. Kita sudah berakhir! Sudah lama, ... jadi berhentilah!"
Gala terdiam, namun dia bisa melihat ruangan di depannya. Ruangan yang dia ketahui sebagai ruangan seorang perempuan yang hampir dibunuhnya tetapi gagal. Karena tatapan tidak suka yang dilayangkan Isabela, akhirnya Gala pamit undur diri. Meskipun dia tidak benar-benar pergi dari sana. Dia harus tahu bagaimana perkembangan Kana. Jika memang memungkinkan, dia akan kembali membawa seorang pembunuh untuk sekalian melenyapkan perempuan itu.
Tetapi untuk saat ini, dia tidak bisa berbuat banyak kecuali diam dan menunggu. Karena bermain cepat dan terlalu terburu-buru hanya akan membuatnya selesai tanpa hasil. Menunggu sebentar lagi pun tidak masalah.
~~~~~~~~~~
Beberapa hari telah berlalu dengan sangat cepat. Isabela menatap keluar jendela ruangan rawat inap Kana. Tak ada yang berubah semenjak hari itu, hari di mana kedua laki-laki yang dia tunggu tidak kunjung datang kembali. Padahal mereka mengatakan akan segera kembali, namun tidak ada kabar juga. Mereka seperti hilang ditelan bumi. Beberapa pesan saja dikirimkan kepadanya, mengatakan tentang keadaan keduanya yang garis besarnya sama.
Arkana mengatakan bahwa sedang bekerja di luar kota dan Arond yang mendapatkan tugas dari kampus yang tidak bisa ditinggalkan. Bukankah itu adalah hal yang aneh. Apalagi ketika seseorang yang penting dalam hidup mereka masih terbaring lemah tidak berdaya di ranjang rumah sakit. Tak ada kabar apapun—kabar buruk—sehingga membuat Isabela tidak curiga sedikitpun. Perempuan itu hanya tahu bahwa keduanya sedang sibuk bekerja, tidak lebih.
Hari itu memang terlalu bersih untuk dikatakan sebagai TKP dan masuk ke dalam penyelidikan kepolisian. Tidak ada yang mengaku telah merekam di ponsel mereka. Seperti memang tidak ada kejadian apapun yang terjadi saat itu. Sehingga wajar jika tidak ada yang percaya dengan ledakan bom yang membakar satu mobil dengan dua korban di dalamnya. Karena korbannya saja memang tidak ada.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Kana yang membuka matanya saat melihat Isabela yang menatap keluar jendela sambil melamun.
Isabela yang mendengar suara pun langsung berbalik dan menatap Kana yang sudah siuman beberapa menit yang lalu. Namun perempuan itu memilih untuk mengamati Isabela yang melamun sambil mengusap kedua lengannya di depan jendela.
"Kamu sudah bangun? Syukurlah! Aku benar-benar sangat khawatir kepadamu." Lirih Isabela yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia sekaligus leganya ketika melihat Kana yang telah membuka matanya.
Kana tersenyum tipis, menatap ke seluruh sudut ruangan. Namun tidak ada satupun orang yang dikenalnya dan diharapkannya ada. Tidak ada Arkana atau Arond di sana, hanya ada Isabela yang tampak khawatir kepada dirinya.
"Hm, ... apa mereka tidak datang? Maksudku, apa mereka sibuk saat ini?" Tanya Kana kepada Isabela—menanyakan tentang keberadaan kedua laki-laki itu.
Isabela memegang tangan Kana sembari menganggukkan kepala pelan. Mata mereka saling menatap satu sama lain dan akhirnya hanya senyuman yang terukir diantara mereka.
"Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa kondisimu. Kamu harus istirahat di sini terlebih dulu. Aku akan kembali dengan doktermu. Memastikan bahwa kamu baik-baik saja." Ucap Isabela yang baru saja hendak melangkah pergi, namun tangannya digenggam oleh Kana kembali. "Apa? Kamu ingin bicara sesuatu?" Sambung Isabela sambil menatap Kana yang memegang pergelangan tangannya.
Kana menggigit bibir bawahnya dan menatap Isabela kembali, "apakah polisi akan datang untuk meminta keterangan dariku?"
Isabela berpikir sejenak dan pada akhirnya mengangguk. Beberapa polisi memang sering datang. Dan mereka ingin mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Kana. Setelah itu pun, Kana langsung melepaskan genggaman tangannya dari Isabela dan membiarkan Isabela untuk keluar dari ruangannya agar bisa menemui dokter.
Tidak lama setelah Isabela keluar untuk memanggil dokter. Ruangan yang Kana tempati tiba-tiba kosong. Tentu saja Isabela kaget dan panik secara bersamaan. Padahal Kana belum benar-benar sembuh, tapi sudah menghilang begitu saja. Para dokter dan perawat yang menangani perempuan itu pun berusaha untuk mencari melalui CCTV, namun tidak ada hasil sama sekali. Perempuan itu tidak terlihat di manapun—seperti menghilang tanpa jejak.
"Apakah dia keluar melalui jendela? Apakah itu mungkin? Perempuan itu berada di lantai tujuh, dia bisa patah tulang jika melompat dari jendela." Marah salah satu polisi kepada salah satu orang yang berada di pusat kendali, ruangan penuh CCTV yang memang tidak berfungsi secara keseluruhan dan tidak ada satupun yang menunjukkan di mana Kana berada.
Isabela sendiri hanya termenung seperti orang bodoh. Menghadapi kenyataan bahwa orang-orang yang ada disekitarnya tiba-tiba menghilang begitu saja. Meskipun kedua laki-laki itu memberikannya kabar, namun keduanya memang bersikap aneh. Sayangnya Isabela hanya mampu percaya tanpa bertanya kembali. Sampai sebuah pesan diterimanya dari seseorang yang tengah sibuk dicari oleh orang-orang di dalam ruangan ini.
Kana : Isabela, aku harus pergi karena tidak mau berurusan dengan polisi. Mereka hanya akan membuat semuanya menjadi masalah. Jadi, jika ada kesempatan, segera menyingkir dari sana. Kita akan bertemu lagi, nanti. Terimakasih karena sudah menjagaku.
Semuanya terasa janggal. Pesan yang dikirimkan kepadanya seperti bukan dari Kana. Atau mungkin ketiga pesan yang dikirimkan kepadanya itu tidak seperti mereka-mereka yang dikenal olehnya. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
"Seseorang harus tahu di mana posisinya. Mereka juga harus tahu kemana mereka tinggal dan menatap untuk seharusnya." Tandas seseorang yang mengajak bicara Isabela sambil tersenyum di dalam ruangan itu.
Laki-laki itu terlihat aneh di matanya. Namun sebisa mungkin Isabela hanya memberikan seulas senyuman saja sebagai tanda hormat semata.
"Ruangan gelap, lorong gelap, suara gemericik air yang tidak putus, aroma besi berkarat, tiupan angin kencang, rasa dingin, seorang laki-laki tinggi yang dipanggil Ayah. Apakah ada makanan enak hari ini?" Tandas laki-laki itu sambil membisikkan sesuatu di telinga Isabela.
Kata-kata itu seperti familiar, dia pernah mendengarnya. Tapi apakah dugaannya benar? Dia takut, persis seperti beberapa tahun yang lalu. Beberapa tahun yang berusaha untuk dilupakannya.
~~~~~~~~~~