BAB 37 | Pertengkaran Menguras Hati

1507 Kata
SEBELUMNYA, mereka tidak pernah bertengkar sampai separah ini. Tidak ada bentakan, ucapan kasar, maupun ungkapan kekecewaan satu sama lain yang sepertinya baru terungkap hari ini. Isabela yang biasanya nurut dan tidak pernah membantah pun ikut menyuarakan kekesalannya kepada sang Kakak yang sudah mengatur hidupnya sampai sedemikian rupa. Wajar jika Isabela marah dan kesal, karena dia sudah dewasa namun Kakaknya memperlakukan dirinya seperti anak kecil yang harus selalu meminta ijin dan melakukan semua hal yang Kakaknya inginkan. Isabela hanya ingin menjadi remaja pada umumnya. Ah, masa remajanya sudah lewat. Dia sudah mulai dewasa dan ingin mempunyai kehidupannya sendiri, seperti gadis di luaran sana. Isabela tidak mempunyai teman, tak bisa berjalan-jalan sesuka hatinya, tak bisa menikmati hidupnya, semuanya tidak bisa dia lakukan karena dikte yang selalu Kakaknya katakan. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus terus berada di rumah, tidak boleh bicara dengan orang baru dan masih banyak lagi peraturan yang tidak masuk akal untuknya. Isabela meledak, kesal, dan menyalahkan Kakaknya. Namun, dia begitu menyesal. Bukan karena menyuarakan kemarahannya selama ini. Tetapi karena dirinya yang mungkin melukai Arkana dengan kata-katanya. Arkana bahkan tidak menjawabnya, memilih untuk masuk ke kamarnya dan membiarkannya marah-marah sendirian. Isabela akan lebih senang ketika Arkana balik marah padanya. Tapi, Arkana tidak melakukan itu. Arkana hanya diam dan mengatakan; lakukan sesuka hatinya. Isabela tidak suka ketika Kakaknya memilih untuk membiarkannya. Tidak suka! Perempuan itu menangis sambil menatap dirinya di cermin, seperti anak kecil. Suara ponselnya sudah berulang kali terdengar, namun tak digubrisnya sama sekali. Bukannya takut pada Arkana, namun karena Isabela tidak ingin melihat siapa orang yang menghubungi dirinya. Isabela takut jika Arkana tidak lagi menyapanya, tidak lagi perhatian padanya, tidak lagi memarahinya, tidak lagi tersenyum padanya, dia sangat takut jika Arkana berubah padanya. Sangat takut! Klek! Terdengar suara pintu tertutup dari luar. Isabela buru-buru keluar dari kamarnya, memastikan Arkana tidak kemana-mana. Namun tebakan Isabela salah, Arkana keluar sendiri tanpa memberitahunya. Isabela hanya mengintip Arkana dari tirai jendela, melihat Arkana yang berjalan menjauh dari rumah mereka tanpa berpamitan. Isabela menangis, kali ini lebih kencang. Perempuan itu kembali ke kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat. Isabela tidak suka dengan suasana seperti ini; suasana ketika marahan dengan orang yang dia sayangi. Dia tidak tahu rasanya diabaikan oleh Arkana sebelumnya, karena Arkana begitu sangat perhatian dan sayang padanya. Isabela terdiam, berusaha untuk tenang, namun tangisannya semakin kencang. Teleponnya kembali berbunyi, kali ini Isabela mengangkat telepon dari orang diseberang sana. "Halo, ... Sayang? Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya orang yang menelepon dirinya, Gala. Isabela terisak sebentar, "tidak! Kakak bahkan meninggalkan rumah tanpa bicara padaku. Dia benar-benar marah sekarang." Dari suara Isabela yang panik dan takut, Gala bisa menyimpulkan bahwa semuanya memang tidak baik-baik saja. "Mau aku datang menemanimu? Aku akan bicara dengan Arkana—" ucapan Gala terpotong dengan jawaban dari Isabela yang lebih mirip dengan penolakan. "Tidak, kita bisa bertemu besok. Aku tidak mau membuat suasana semakin memanas. Kakak sedang marah dan aku tidak ingin membuatnya semakin marah padaku. Aku sudah bersalah padanya karena tidak mendengarkan dirinya. Aku salah!" Ucap Isabela yang merasa sangat menyesal. Gala menghela napas panjang untuk kesekian kalinya, "Isabela, ... hidupmu bukan hanya tentang Arkana. Kamu bisa melakukan segala hal yang kamu inginkan karena memang kamu ingin. Arkana tidak seharusnya menyetir segalanya, kehidupanmu, itu hakmu. Kenapa kamu tidak bisa menentukan apa yang benar-benar kamu mau? Kamu bukan boneka! Kamu juga bukan anak-anak. Dan satu lagi, kamu sudah dewasa." Semua tekanan itu semakin masuk ke dalam pikirannya. Isabela tidak bisa berpikir jernih kali ini. Matanya pun terasa berat karena terlalu banyak menangis. Perempuan itu juga lelah berdebat dengan siapapun, termasuk Gala. Mengapa hubungannya tidak berjalan baik? Padahal Isabela mau menerima Gala karena dia pikir ini yang terbaik. Tetapi tampaknya, semua memburuk! "Kakak bisa memarahiku nanti! Kali ini aku sedang lelah dan tidak ingin berdebat. Jika Kak Gala ingin terus bersamaku, setidaknya Kakak tidak berkata demikian. Kak Gala tahu jika aku tidak bisa hidup tanpa Kakakku. Jadi, tolong mengertilah. Kak Arkana tetap akan menjadi yang terpenting di dalam hidupku. Walaupun nantinya aku sudah menikah sekalipun. Maaf Kak, aku akan istirahat sekarang. Selamat malam!" Tandas Isabela yang memilih untuk menutup telepon mereka. Perempuan itu keluar dari kamarnya, tidak tidur seperti yang dikatakannya kepada Gala. Isabela hanya tidak mau berdebat yang akan membuat dirinya sangat kelelahan. Isabela mengambil sebuah sketchbook yang diberikan Arond. Dia menatap sampulnya dan melihat ada namanya; yang ditulis dengan sangat indah. Pasti Arond yang menuliskannya. Perempuan itu bisa sedikit tersenyum. Namun yang Isabela pikirkan sekarang adalah, dari mana Arond tahu rumahnya? Dia kembali melihat pesan-pesan yang pernah dikirimkan Arond pada dirinya. Tentang banyak hal-hal lucu atau sekedar pengalaman yang bisa mereka bagi berdua. Sayangnya, tak ada lagi canda dan tawa diantara mereka. Semuanya sudah berakhir semenjak Isabela menerima cinta Gala. Dia pikir, bersama dengan Gala akan membuatnya merasa nyaman. Ternyata semuanya malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. "Kakak, aku menerima Kak Gala karena aku kasihan padanya. Dia tidak mempunyai siapapun lagi. Dia mengatakan bahwa aku dan Kakak adalah orang yang bisa dipercayai olehnya. Lalu aku berpikir bahwa Kakak akan setuju, tetapi ternyata tidak. Lalu aku marah dengan hal yang tidak jelas dan tidak pasti pada Kakak. Aku minta maaf! Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Kak Gala. Bisakah Kakak memaafkan aku?" Isabela mengirimkan pesan suara kepada Arkana, meskipun nomor Arkana tidak aktif. Hari semakin larut, Isabela tidak bisa memejamkan matanya. Perempuan itu pun memilih mengambil jaketnya dan payung yang berada di tempat payung. Lagi-lagi dia mengingat saat Arkana keluar dari rumah dengan terburu-buru dan membawa payung ini. Pasti Arkana sangat khawatir saat dirinya belum pulang. Perasaan yang sama seperti yang dia rasakan ketika Arkana belum pulang. Sebelum pergi, Isabela mengirimkan pesan suara meminta ijin pada sang Kakak yang meskipun tidak terkirim lagi. Isabela bergegas keluar dari rumahnya, menggunakan payung—menerjang hujan lebat malam ini. Sebenarnya ada tujuan yang jelas untuk kepergiannya kali ini. Perempuan itu merapatkan jaketnya dan berjalan pelan. Sebuah mobil berhenti di depan perempuan itu. Membuat raut wajah Isabela yang tadinya tenang menjadi panik. Isabela berjalan mundur untuk segera kabur. Namun seseorang yang berbadan besar sudah menarik lengannya. "Lepaskan!" Teriak Isabela dengan kencang, namun sayangnya tidak akan terdengar oleh siapapun. Kawasan ini sepi, ditambah hujan lebat yang meredam suaranya. Lalu seseorang lainnya mendekat, menarik lengan Isabela yang lainnya. Seluruh tubuh perempuan itu bergetar hebat dan membuat ketakutan. Tangisan menjadi hal pertama yang Isabela lakukan. Perempuan itu tidak bisa melawan, hanya meminta tolong dan menatap dua orang berbadan besar yang menarik-narik tubuhnya. Tubuh perempuan itu oleng ketika sebuah benda memukul punggung dan juga lehernya. Isabela tersungkur, pandangan matanya kabur, namun dia bisa merasakan kesakitan yang amat sangat. Sampai akhirnya dia lupa dengan semua rasa sakitnya karena matanya benar-benar menutup. Sebuah mobil warna hitam baru saja berhenti di depan rumah. Laki-laki itu, Gala, mencoba menghubungi Isabela—namun tidak ada jawaban sama sekali. Gala tampak gusar dan kesal karena kekasihnya itu. Padahal dia tidak perlu bertindak sampai sejauh ini, mengkhawatirkan Isabela yang menjadi bahan balas dendamnya. Namun mengapa dirinya sampai repot-repot datang kesini hanya untuk melihat kondisi Isabela? "Apa dia sudah tidur?" Tanya Gala kepada dirinya sendiri dan menatap layar ponselnya yang menunjukkan foto seorang perempuan. "Ah, kenapa dia tidak mengangkat teleponku. Apa dia benar-benar tidur? Atau dia marah padaku? Kenapa aku peduli?" Sambung Gala frustasi. Laki-laki itu membuka pintu mobilnya dan membentangkan sebuah payung sambil mencoba untuk menghubungi Isabela lagi. Namun sebuah cahaya kecil namun redup, mengalihkan perhatiannya. Gala berjalan mendekat ke arah cahaya, sebuah ponsel tergeletak. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak karuan. Diambilnya ponsel yang berkedip itu, ada namanya di sana. Gala sedikit takut, matanya fokus melihat ke seluruh penjuru yang gelap tanpa penerangan. Sampai dia bisa melihat sosok perempuan yang terkapar di pinggir jalan—kehujanan dan tak terlihat. Gala berlari ke arah perempuan itu, memangku kepala perempuan itu sambil menyoroti wajahnya dengan senter yang ada pada ponselnya. "Isabela," panggil Gala dengan panik sambil menepuk-nepuk pipi Isabela dengan pelan. "Sayang, ... bangun! Aku di sini. Isabela, kamu kenapa sayang?" Sambungnya khawatir. Tidak ada respon dari perempuan itu. Isabela tidak sadarkan diri. Gala yang begitu khawatir, menggendong Isabela dan memasukkannya ke dalam mobilnya. Barulah di dalam mobil, Gala bisa melihat bagaimana keadaan Isabela yang sebenarnya. Banyak luka di wajahnya, bahkan ada goresan di lengannya. "Apa yang terjadi, Sayang? Isabela, kamu bisa mendengarkan aku? Aku minta maaf." Ucap Gala yang terlihat sangat khawatir. Wajahnya bahkan tidak menunjukkan kepura-puraan. Gala memegang tangan Isabela yang dingin dan dia buru-buru menstater mobilnya untuk membawa Isabela ke rumah sakit. Selama di perjalanan, Gala tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Isabela yang penuh dengan luka. "Apa yang terjadi padamu?" Ucap Gala dengan memegang jemari Isabela yang sangat dingin. Saat itu, Gala tidak berpikir bahwa Isabela adalah orang yang sangat dia benci karena adik dari orang yang telah membunuh Ayahnya. Yang ada dalam pikiran Gala saat ini adalah bagaimana dirinya bisa segera menyelamatkan Isabela. Sesampainya di rumah sakit, Gala langsung menggendong Isabela ke UGD. Membuat banyak orang yang mungkin mengenal Gala, menaruh perhatian kepada laki-laki itu. Tidak ada yang bertanya, mereka hanya ikut menyaksikan bagaimana Gala terus meminta dokter untuk menangani dan menyelamatkan perempuan yang dibawanya tadi. Apakah Gala tulus? ~~~~~~~~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN