7. Janji Angga
"Memulai semuanya dari awal."
***
"Kalau sakit lebih baik di rumah, jangan sampai kamu merepotkanku karena sakit itu." Angga melarang Amanda untuk bekerja setelah melihat wanita itu sedikit pucat. Sejak malam itu Amanda telah berubah, wanita itu tidak banyak bicara seperti biasa dan lebih banyak diam.
"Aku nggak pa-pa, pekerjaanku banyak di kantor." Amanda memalingkan wajah ketika Angga menatapnya. Pusing itu masih terasa meskipun sudah meminum obat, Amanda bingung harus memberikan jawaban seperti apa nantinya. Angga masih memperhatikan Amanda yang berbeda, jelas terlihat tidak ada rasa semangat dalam raut mukanya.
'Aku kenapa coba, sejak kapan mulai peduli sama dia. Apa karena ucapan mama waktu itu?'
"Awas saja kalau sampai kamu sakit," ancamnya, sambil menatap Amanda cukup tajam.
Amanda menoleh, menatap Angga dengan bingung. "Kamu khawatir sama aku?" tanya Amanda spontan.
"Jangan ge-er kamu, aku hanya menjalankan janji yang pernah diucapkan dan itu salah satunya, memastikan kamu baik-baik saja," bantah Angga akan pertanyaan Amanda, karena pria itu merasanya demikian. Amanda hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
***
Amanda tercengang, pengakuan Yuda yang tiba-tiba membuatnya tak percaya. Kemarin pria itu melamarnya di jam makan siang dan kini, mengatakan bila telah mencintai Amanda sejak SMA sampai saat ini.
"Kamu mau, 'kan, jadi bagian dalam hidupku?" tanya Yuda penuh kesungguhan, menggenggam kedua tangan Amanda yang berada di atas meja dan menatap wanita itu penuh harap.
"Kenapa harus aku?"
"Kamu sempurna Amanda, aku juga mencintai kamu."
Amanda menarik tangannya dan menggeleng, ia shock dengan kejujuran Yuda, apalagi pria itu bersungguh-sungguh dengan keinginannya. Amanda menunduk, lalu mengatakan kalau ia tak bisa menerima pernyataan lelaki itu.
"Maaf, Yud. Aku nggak bisa terima kamu."
"Kenapa?" tanya Yuda tidak percaya dengan penolakan Amanda.
Amanda menarik napas pelan. "Aku anggap kamu sebagai sahabat, nggak lebih. Lagipula aku mencintai orang lain, Yuda," terang Amanda langsung. Ia akan meyakinkan Yuda bahwa pria itu akan tetap menjadi sahabatnya tidak akan lebih.
Yuda tertegun, hatinya sakit bagai ditikam ribuan pisau, Amanda---wanita yang ia cintai sejak lama---menolaknya karena telah mencintai pria lain. Bahkan, sepertinya tidak akan pernah memiliki perasaan lebih dari sahabat kepadanya.
Amanda beranjak dari tempatnya, menatap Yuda dengan tatapan sendu dan meminta maaf, karena tak bisa membalas perasaan pria itu. Dari dulu sampai saat ini perasaannya terhadap Yuda tetap sama, hanyalah sebatas sahabat.
Setelah pertemuannya dengan Yuda Amanda semakin pendiam, jujur saja ia merasa bersalah telah menyakiti pria itu. Namun, tidak ada cara lain lagi, ia tak ingin Yuda terus mengharapkannya karena hati Amanda telah di miliki pria lain. Ia menoleh, menatap Angga yang hanya fokus dengan jalanan di depannya, pria itu selalu seperti itu.
'Meskipun banyak yang lebih, aku akan selalu mencintai kamu Angga, suamiku,' gumamnya dalam hati lalu tersenyum menatap wajah serius sang suami.
Angga melihatnya, ketika Amanda sedang berbicang serius dengan salah satu pegawai keuangan---Yuda, pria itu menggenggam tangan Amanda dengan tatapan serius. Jujur saja ia penasaran, apa yang sedang mereka bicarakan sampai menggenggam tangan sekaligus. Ia menoleh sebentar, melihat Amanda yang sedang menatap ke jendela mobil dengan senyuman. Dia tersadar, mungkinkah Amanda bahagia karena pria itu, tetapi kenapa Angga justru merasakan perasaan lain.
***
Amanda terbangun tengah malam ketika terdengar suara teriakan, keluar dari kamar dan mendapati Angga yang sudah terbangun dengan gawai menempel di telinga. Terlihat jelas raut cemas di wajah suaminya itu,tetapi Amanda memilih diam tidak banyak bertanya.
"Mau ke mana?" tanya Amanda pelan ketika melihat Angga menaiki anak tangga menuju kamar. Namun, Angga bergeming, tetap melangkah untuk mengambil sesuatu. Amanda mendesah pelan, awalnya ia berpikir Angga sedikit berubah, ternyata asumsinya salah.
"Tetap di rumah. Jangan ke mana-mana! Jangan bukain pintu untuk orang asing," pesan Angga pada Amanda yang diangguki kepala oleh wanita itu. Meskipun bingung dan penasaran Amanda tetap menurut.
Angga keluar dari rumah menggunakan mobilnya, entah mengapa Amanda jadi merasa cemas setelah melihat raut khawatir tergambar jelas di wajah sang suami. Ia hanya bisa berdoa semoga Angga baik-baik saja.
***
Lengkap sudah semua penderitaan dan air matanya, Amanda benar-benar hancur. Dunia, semangat dan harapannya untuk bertahan serasa sirna. Menangis dan berdiam diri, hanya itu yang mampu ia lakukan. Ia pun telah berubah, menjadi sosok Amanda yang lain. Lebih pendiam dari sebelumnya.
"Nda, yakin nggak ikut? Kita berangkat bersama ke sana," tanya Lina yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Amanda.
Lina, Adisty dan Ifa saling melempar pandangan, sejak tujuh hari yang lalu Amanda tiba-tiba berubah, mereka pun tidak tahu apa alasan berubahnya. Ketiganya mendesah pelan, meninggalkan Amanda yang masih diam di tempat.
***
"Kita cari makan dulu, aku–"
"Aku mau langsung pulang, capek," sambar Amanda membuat Angga mengatupkan mulut. Memilih menurut dan langsung menuju rumah.
Sejak Dewi dan Feri meninggal seminggu lalu Amanda berubah, Angga tahu wanita itu merasa kehilangan. Namun, tak menyangka bahwa Amanda akan terpukul sedemikian hebat. Wanita itu jarang bicara sekarang. Dulu ... meski Angga malas mendengar ocehannya, Amanda masih menyapa, tetapi sejak kejadian itu semua berubah. Sesampainya di rumah, Amanda langsung memasuki kamar dan menguncinya.
Angga tidur di kamar sebelah setelah kamar itu bersih dari peralatan kerja. Ia menghela napas pelan dan mengembuskannya, sekarang ia tak menyukai situasi seperti ini.
Rumah megah Feri dan Dewi berencana akan disewakan, Angga tak berniat untuk tinggal di rumah itu. Ia juga tak mungkin mengajak Amanda terlalu lama di sana, ia tak ingin mengingatkan wanita itu tentang semua perhatian Dewi selama ini. Amanda masih berkabung dan entah kenapa Angga justru membenci itu. Tak ada lagi senyuman tipis yang biasa terlihat di bibirnya, permintaan maaf dan suara takut wanita itu.
***
Angga mengembuskan napas berat, mendapati Amanda selalu melamun di tempat yang sama–balkon kamarnya. "Amanda."
"Kenapa? Mau makan," tanya Amanda yang langsung tersadar setelah Angga panggil.
Angga menggeleng, melangkah mendekat dan berdiri di samping Amanda. Mengungkapkan rasa tak sukanya, karena wanita itu terlalu akrab dengan pegawai keuangan di kantor.
"Aku nggak terlalu suka kamu terlalu deket sama pegawai keuangan itu."
"Maksud kamu Yuda?" tebak Amanda, lalu menatap wajah Angga yang entah sudah berapa hari ia abaikan.
Angga mengangguk tanpa mau menatap wajah Amanda, memilih menatap langit malam yang kosong tanpa adanya bintang-bintang dan detik berikutnya ia tersadar. Apa alasannya ia melarang Amanda berdekatan dengan Yuda? Bukankah pria itu lebih dulu dekat dengan Amanda dan sejak kapan ia peduli wanita itu dekat dengan siapa.
"Kenapa?"
Angga menoleh, matanya bersitatap dengan mata milik Amanda membuatnya terpaku untuk beberapa saat hingga ia tersadar, memilih mengalihkan pandangan tanpa mau menjawab pertanyaan sang istri.
"Cepat tidur! Besok kita harus berangkat lebih awal." Angga melangkah menuju pintu membuat Amanda bingung dengan sikap aneh pria itu.
***
Angga berlari dari anak tangga paling atas, menghampiri Amanda yang duduk di atas lantai dengan pisau kecil di tangannya. "Kamu, gila!" pekik Angga, lalu merampas pisau di tangan Amanda dan melemparnya asal. Wanita itu hampir saja menyayat pergelangan tangannya sendiri.
Amanda tak tinggal diam, ia beranjak dari duduknya dan mengambil pisau lain di atas meja. Namun, lagi-lagi Angga merampasnya, membuang pisau itu dan memegang kedua tangan istrinya yang berniat berbuat konyol.
"Apa, sih, yang mau kamu lakukan, hah!" bentak Angga tak mengerti dengan jalan pikiran Amanda. Sefrustasi itu hingga ingin mengakhiri hidup.
"Buat apa aku hidup? Selama ini aku bertahan demi bunda, tapi dia pergi. Aku kembali bertahan demi mama-papa dan kini mereka juga pergi." Amanda menunduk, memeluk lututnya yang sudah ia tekuk beberapa menit lalu. "Aku nggak mau hidup sendirian, aku nggak punya siapa-siapa lagi, jadi kumohon! Biarkan aku mati dan menyusul mereka." Amanda mendongak, menatap Angga dengan mata berair. Angga hanya diam, ia tak tahu harus berbicara apa lagi.
"Sekarang kasih tahu aku! Buat apa aku hidup, semuanya sudah nggak berarti. Aku kesepian dan seorang diri," lanjut Amanda yang mulai terisak. Ia teringat dengan ucapan Angga yang tak akan pernah menganggapnya ada.
"Biarkan aku mati, Angga. Aku tahu mereka pasti sedang menungguku di sana," pinta Amanda seraya mendongak, menatap langit-langit seolah ketiga orang yang di sayang sedang melihatnya.
"Lalu ninggalin aku begitu saja," sahut Angga tiba-tiba. "Kamu masih punya aku, Amanda. Kita masih suami-istri secara hukum dan agama," lanjutnya yang sudah berlutut di depan Amanda, menatap iba kepada wanita itu.
"Aku tahu ... tapi aku yakin setelah ini kamu juga akan pergi. Kamu nggak suka sama aku, benci dan muak, 'kan?" tutur Amanda membuat Angga kembali terdiam. "Jadi aku mohon! Biarin aku pergi. Aku mau tenang sama mereka di sana, aku capek, Angga. Biarin aku mati saja," imbuhnya sambil menatap wajah Angga penuh harap.
"Aku di sini Amanda, aku janji akan jagain kamu. Kamu masih punya aku," bujuk Angga, kemudian memeluk tubuh Amanda yang kini semakin menangis dalam pelukan pria itu.
"Biarin aku pergi, aku capek terima semua kebencian dari kamu. Aku sudah nggak sanggup lagi." Amanda masih berceloteh, menginginkan mengakhiri hidupnya dari pada terus menderita seperti ini.
"Ada aku sekarang, kamu nggak akan kesepian lagi. Berhenti punya pikiran seperti itu." Angga mengeratkan dekapannya, membiarkan Amanda menangis sampai puas di dadanya. "Aku di sini, janji akan selalu menjaga kamu. Kamu nggak sendirian, Amanda."
Amanda menulikan telinga, mengingatkan diri bahwa semua yang Angga ucapkan tak akan pernah terjadi. Pria itu pasti akan pergi dan mulai mencari keberadaan Nessa---wanita yang sangat dicintainya.
***
Angga menatap lekat wajah Amanda yang tertidur pulas, setelah lama menangis dia tertidur dalam dekapannya, untuk pertama kali dalam lima bulan menikah, ia sedekat ini dengan Amanda---wanita yang selalu ia sakiti.
Angga menghela napas berat tak menyangka bahwa Amanda akan sefrustasi ini hingga ingin mengakhiri hidu7. Janji Angga
"Memulai semuanya dari awal."
***
"Kalau sakit lebih baik di rumah, jangan sampai kamu merepotkanku karena sakit itu." Angga melarang Amanda untuk bekerja setelah melihat wanita itu sedikit pucat. Sejak malam itu Amanda telah berubah, wanita itu tidak banyak bicara seperti biasa dan lebih banyak diam.