Semangat Dari Gerald

1170 Kata
Setelah hampir seharian aku berjalan- jalan, menghabiskan kembali waktu bersama lelaki yang di sapa Gerald tersebut. Menghabiskan beberapa waktu yang memang hampir setengah tahun ini menghilang begitu saja dengan berbagai badai yang datang silih berganti. Ada rasa seperti aku kembali menemukan apa yang aku cari hingga aku hampir saja melupakan keraguan yang sempat melekat di dalam d**a. “Terima kasih ya buat hari ini.” Kataku saat Gerald sudah berhenti di depan pintu gerbang rumahku. Lelaki itu mematikan mesin mobilnya dan tersenyum ke arahku. Seakan ia juga merasakan bahagia yang sama sepertiku. “Aku yang terima kasih sama kamu, Sayang.” Katanya sambil menciumi punggung tanganku. “Kenapa begitu?” tanyaku. “Soalnya kamu udah mau percaya sama aku.” Jawabnya. “Oh ya, aku harap kedepannya nanti nggak ada masalah sebesar ini lagi.” Seruku yang berharap semua penderitaan ini hanya sampai saat ini saja dan kami bisa kembali menyusun rencana tentang masa depan hubungan kami. “Terus besok kamu mau apa? Kalau nggak kerja di kantor lagi?” tanyanya. “Heem belum tahu aku.” Jawabku dengan nada putus asa karena sejak aku tidak di kantor Papa. Aku hanya sibuk di rumah. “Kamu kan punya Cafe kenapa kamu nggak lebih aktif aja disana sembari ngembangin bisnis disana. Kan ilmu yang kamu dapat di kantor Papa kamu bisa kamu pakai nantinya.” Usul Gerald yang membuatku kembali bersemangat hingga mengangkat kepalaku. “Tapi apa aku bisa? Itu kan masih usaha kecil.” Jawabku ragu yang mengingat usaha yang kami rintis ini terlihat sangat baru. “Aku yakin kamu bisa kok. Kamu coba aja dulu, siapa tahu berhasil. Kalau gagal kan seenggaknya kamu udah berusaha.” Tambah Gerald yang tak henti memberi nasihat dan semangat untukku. “Ya udah besok aku coba omongin ini sama Tania lagi.” Seruku yang membuatnya tersenyum. “Kalau begitu sekarang kamu masuk terus istirahat ya.” Suruh Gerald sambil melirih ke arah rumah. Aku pun hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil. Aku mengambil tasku dan membuka pintu mobil. “Aku masuk ya, kamu langsung pulang ya. Oh ya jangan lupa salam juga buat bunda.” Seruku padanya saat aku sudah berada diluar mobil. Ia pun menjawabnya dengan sebuah anggukan dan sebuah senyuman manis. Aku menutup pintu mobil dan berjalan masuk menuju rumah. Sesaampainya aku di dalam kamar, aku meletakkan beberapa tas dan kantung belanjaanku di atas meja. Lalu aku membanting badanku di atas tempat tidur. Aku merasa sangat senang dan bahagia mengingat hari ini terlewatkan begitu sempurna. Raut wajah Gerald menghiasi langit- langit kamarku. Sosok itu seakan sedang tersenyum sambil mengucapkan kata- kata pengantar tidur. Akankah malam ini aku bisa tertidur nyenyak? Tanpa harus bermimpi buruk kehilangan sosok Gerald? Entahlah, aku mulai merasa sangat mengantuk dan perlahan menutup mataku. # # # Pagi ini seperti ucapanku pada Gerald, aku datang ke Cafe untuk merencanakan perkembangan bisnis Cafe dengan Tania. Kali ini aku datang lebih awal dari biasanya. Aku ingin memeriksa beberapa data mengenai pemasukan dan pengeluaran Cafe. Aku juga sudah janjian dengan Tania untuk datang lebih pagi. Suasana pagi itu masih sepi, hanya ada beberapa kendaraan milik karyawan yang terpampang di parkiran yang memang di khususkan untuk karyawan kami. Aku merapihkan kembali rambutku sebelum benar- benar keluar dari mobil. “Pagi, Bu Gladis.” Sapa Pak Anton saat aku sudah turun dari mobil. “Pagi juga, Pak.” Sapa ku balik pada beliau. “Tumben pagi sekali hari ini?” tanya beliau lagi. “Oh iya, saya ada meeting bareng Bu Tania hari ini, Pak. Tapi kayaknya belum datang ya” ucapku seraya menyusuri setiap titik untuk mencari keberadaannya. “Bu Tania, memang belum datang. Mungkin sebentar lagi, Bu.” Ucap Pak Anton lagi. “Ya sudah saya masuk duluan ya, Pak.” Pamitku seraya berjalan masuk menuju Cafe yang notabennya memang masih sepi dan hanya ada beberapa karyawan. “Pagi, Bu..” sapa salah seorang karyawan setelah ia membukakan pintu untukku. “Pagi juga.” Sapaku balik padanya sambil tersenyum. Aku kembali berjalan menuju ruang office yang berada di lantai dua. Tapi sebelumnya aku sempat meminta salah satu karyawan untuk membuatkan scangkir teh hangat. Sesampainya di ruang office, aku meletakkan tasku diatas meja dan mulai menyalakan laptop yang memang biasa di gunakan untuk urusan Cafe ini. Tanganku pun mulai terampil mencari beberapa data yang memang aku ingin tahu. Aku tersenyum lebar saat tahu kalau perkembangannya semakin membaik walau sempat ada perunan di beberapa minggu terakhir. Sejujurnya masih ada beberapa data yang mungkin masih berantakan namun aku tak ingin menyalahkan Tania karena mungkin ia juga cukup kelelahan untuk menanganinnya sendirian, “Pagi, Bu Gladis.” Sapa Tania dari balik pintu sambil tersenyum. “Apa sih? Formal banget.” Tania berjalan masuk sambil membawa satu kantung makan yang entah berisi apa. Dan juga membawa senampan yang berisi dua cangkir minuman. Aku yang melihatnya nampak kesulittan itu berusaha beranjak untuk berdiri tapi gadis itu menggeleng. “Aku bisa kok.” Katanya sambil berjalan tenang menuju meja kerja yang sedang aku tempatin ini. “Udah sarapan belom? Aku bawa bubur nih yang beli di depan.” Tawar Tania saat ia sudah meletakkan semuannya diatas meja dan duduk di kursi depan sehingga membuat kami sambil berhadap- hadapan.aku merarik sudut wajahku yang terlihat seperti sebuah senyuman. “Tahu aja sih, aku belum sarapan.” Seruku sambil menyeruput secangkir teh. “Tahulah, lagian kamu semangat banget minta aku buat dateng pagi- pagi. Ada apa?” tanya sambil mengambil styrofoam yang berisikan bubur dan memberikannya padaku. “Kamu inget nggak dulu kita mau punya cabang cafe kita di Bali?” tanyaku yang di jawab anggukan olehnya. “Gimana kalau kita mulai wujudkan jadi nyata.” Kataku dengan tatapan dengan penuh harap. “Kamu serius, Dis?” tanyanya yang antusias. “Iya seriuslah lagian perkembangan Cafe kita cukup bagus kan di sini.” Kataku sambil menunjukkan catatan data perkembangan Cafe kepadanya. setelah gadis itu melihatnya kami saling tersenyum dan menatap satu sama lain. “Aku setuju, tapi siapa yang mau urusan untuk opening disana?” tanyanya. “Aku bisa, kan aku udah nggak kerja di kantor Papa makanya aku mau kembangin usaha kita ini. Kita tinggal cari tempat, vendor sama sdmnya aja. Gimana?” tanyaku lagi. “Oke, aku setuju mau kita mulai kapan?” tanyanya lagi. “Hari ini aku bakalan mulai merapihkan beberapa data dulu, sedangkan kamu untuk saat ini bantu aku kalau memang ada yang terlewat dan fokus dulu sama Cafe disini.” Jelasku padanya. “Oke kalau begitu, tapi kita sarapan dulu ya.” Katanya sambil membuka sekotak bubur yang masih hangat itu. Aku pun menurutinya untuk sama- sama sarapan terlebih dahulu. Tania memang sahabatku yang paling pengertian. “Oh ya, kemaren aku dengar kamu sama Ge udah mulai kencan lagi ya?” tanya Tania yang membuatku tersipu malu. “Siapa yang kencan? Orang Cuma jalan- jalan sama nonton aja sih.” Jawabku santai. “Itu namanya kencan sayang. Lagian Ge kepentok apaan bisa tiba- tiba ingat kamu?” tanyanya lagi. “Nggak tahu sih.” “Tapi aku aneh aja gitu. Siang dia jalan sama cewek itu dan malamnya aku dengar dari Dimas dia ke rumah kamu. Aku merasa ada yang nggak beres deh.” Seru Tania yang membuatku terdiam. Ternyata perasaan raguku tidak hanya aku yang merasakannya melainkan juga di rasakan oleh sahabatku. Tapi kejadian kemarin juga membuatku perlahan menghapuskan keraguan itu. “Dis..” panggil Tania yang membuyarkan lamunanku. “Eh, iya kenapa?” tanyaku. “Heem kenapa kamu bengong?” tanya Tania yang penasaran. “Nggak apa- apa kok. Yaudah yuk kita makan lagi.” Seruku seraya kembali menyendok bubur yang sedang aku makan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN