Terkejut

1007 Kata
Pagi ini setelah mengantarkan Tania ke bandara dan menemaninya hingga pesawatnya lepas landas. Aku memutuskan untuk sarapan di salah satu restoran Junk Food yang namanya sudah tidak asing yaitu Mcd. Rasanya jika sampai tempat ini aku seperti sudah berada di surga. Setelah memarkirkan mobilku, aku segera melangkahkan kakiku masuk ke dalam gedung tersebut dan seperti biasa aku memesan makanan favoriteku Double Cheseburger, Apple pie, dan Mc Flurry choco. Kali ini aku sangat senang karena tidak akan ada yang melarangku seperti Mama, Papa, Kak Dimas dan juga Gerald. Aku bisa makan, makanan ini sepuas hatiku. “Tapi tunggu? Aku menyebutkan nama Gerald? Ya ampun, Dis. Gerald nggak akan peduli juga sama kamu kok!!” batinku kesal, ketika sadar kalau sosok lelaki itu kini tinggal kenangan antara kami berdua. “Sayang, habis ini aku mau pesan buat di bawa pulang ya.” Ucap seorang wanita yang duduk di seberang tempat dudukku bersama kekasihnya. “Kamu ini, udah makan banyak masih mau di bawa pulang.” Tegur kekasihnya. “Tapi aku masih belum puas, sayang.” Rengek wanita itu lagi pada kekasihnya yang terlihat seperti anak kecil. “Oke, asal kamu habiskan ya.” Imbuh lelaki itu yang membuat palung hatiku menangis. Kejadian itu seakan mengingatkanku kembali dengan sosok Gerald yang selalu melarangku untuk makan Junk Food terlalu banyak. “Huftt.. Andaikan kamu ada di sini, Ge.” Seruku sambil membuang nafas panjang. Aku mulai mengotak- atik ponselku, untuk melihat- lihat sosial media. Namun sayangnya bukan menghilangkan rasa sedihku malah semakin membuat hatiku semakin teriris pasalnya, aku melihat postingan Gerald bersama Marissa yang sedang sama- sama memasangkan cincin pertunangan mereka. Aku merasa semakin panas saat aku mulai melihat – lihat postingan lama Gerald di sana semua momen kebersamaanku dengannya pun sudah tidak ada. Aku yang kesal langsung memblokir semua sosial media yang berhubungan dengan lelaki itu. Setelah itu aku meletakkan ponselku dan kembali menghabiskan makananku. “Tega kamu, Ge!!” gerutuku dalam hati sambil melahap potongan terakhir Burgerku. Setelah itu aku memutuskan untuk berjalan- jalan sebentar untuk menghilangkan rasa sedih dan kesalku. Kali ini aku berjalan- jalan di pasar Sukawati, pasar yang memang paling tersohor di Bali yang letaknya ada di Gianyar. Walaupun aku sendirian aku sangat menikmati jalan- jalanku itu, anggap saja ini Me Time. Banyak turis dan pengunjung lokal yang berlalu lalang sedang asyik berbelanja. Aku pun hampir kalap mata karena memang barang- barang di sini bagus dan unik. Aku menikmati saat- saat ini sebelum waktu menjelang siang karena siang nanti aku masih harus ke Cafe untuk bertemu Vendor yang menangani Cafe tersebut. # # # Dua hari sudah aku di Bali sendiri tanpa Tania dan keluargaku. Tak banyak hal yang aku kerjakan kecuali bolak- balik melihat Cafe yang memerlukan sedikit renovasi. Karena Cafe belum beroperasi, aku merasa sangat bosan dan sepi. Apalagi ketika Bibi Ira dan Pak Rudy minta ijin untuk pulang ke rumah anaknya yang berada di lombok. Keadaan ini membuatku semakin teringat dengan kenangan bersama Gerald. Sore ini setelah mandi, aku memutuskan untuk berjalan- jalan sebentar di pesisir pantai yang memang tak jauh dari Villa. Walau hari semakin gelap, pesisir pantai masih ramai dikunjungi oleh sebagian orang. Aku berdiri sambil memejamkan mataku lalu merentangkan kedua mataku. Khayalanku pun mulai berlari merasakan Gerald datang untuk memelukku dari balik punggungku serta mengatakan kata- kata sayang di telingaku. Ah rasanya itu hanya mimpi indah saat ini, aku pun membuka mataku saat aku sudah tersadar. “Kruyukk...” bunyi perutku yang membuatku malu. Aku melirik ke sekelilingku berharap tak ada orang yang melihatnya. Dan untunglah tidak ada orang di dekatku. Ya tuhan, di saat sedang galau seperti ini masih saja perutku berbuat hal konyol yang membuatku tertawa geli, melupakan sejenak kesedihanku. Hawa dingin pesisir pantai membuatku lapar. Aku pun memutuskan untuk segera beranjak dari tempatku berdiri. Mencari tempat makan yang berada di dekat sini sebelum pulang. Tapi saat aku merogoh saku celanaku, aku memutuskan untuk makan di Villa saja. Karena aku lupa membawa dompet bahkan ponsel milikku yang masih tertinggal di kamar. Lima menit sudah aku berjalan dari pesisir pantai menuju Villa. Suasana malam ini terlihat begitu gelap karena lampu di sekitar sedang padam. Aku juga bergidik ngeri karena takut kalau ada orang jahat yang mengikutiku. Sesampainya di dekat rumah, aku lihat seseorang sedang mengendap- endap mengawasi rumahku dari pintu gerbang. Aku sebenarnya takut dengan sosok itu tapi aku juga penasaran siapa sosok orang tersebut. “Heh.. Siapa kamu?” seruku sambil menepuk bahunya. “Setan...” teriak orang itu saat menoleh ke arahku dan ia terjatuh ke tanah karena ketakutan. Aku melihat wajah orang itu walau tidak terlalu jelas, aku hafal dengan suaranya dia adalah Arya. “Arya.. Ini aku Gladis.” Seruku sambil membantunya berdiri. “Bu.. Bu.. Gladis.” Ucapnya gugup sambil meyakinkan dirinya. Ia kini berdiri di hadapanku dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. Seketika lampu yang tadinya padam mulai menyala hingga kami bisa saling menatap satu sama lain. “Eheem..” dehemku saat kami sudah beberapa detik saling menatap sejak lampu menyala. Ia pun sesaat langsung tersadar. “Maaf, Bu..” serunya sambil menjauhkan tangannya di wajahku. Ia pun mengambil tas selempangnya yang sempat terjatuh tadi. “Nggak apa- apa, ya udah sekarang masuk yuk.” Ajakku sambil membuka gembok yang menggantung di pintu gerbang. “Kamu kenapa kesini?” tanyaku seraya mendorong pintu gerbang lalu menoleh ke arahnya. “Saya di suruh Bu Tania, buat temani sekaligus bantu- bantu Ibu Gladis di sana.” Jelasnya yang terlihat canggung. Aku tersenyum tipis. Sebegitu perhatiannya sahabatku ini. “Tania, masih aja khawatir sama saya. Ya udah yuk masuk.” Ajakku sambil berjalan masuk ke dalam namun tak kudapati suara langkah kaki atau koper yang mengikuti hingga aku berbalik. Dan benar ternyata Arya masih diam mematung di depan pintu. Aku pun menghampirinya dan menarik tangannya. “Kamu mau sampai kapan mematung di depan pintu begitu?” tanyaku yang geram karena hawa lapar yang sudah meronta- ronta. Sesaat aku melepaskan tanganku yang tadi menarik tangannya. Aku menutup pintu gerbang sebelum masuk ke dalam rumah. “Iya, Bu maaf ya.” “Nggak apa- apa tenang aja. Oh ya kalau lagi nggak depan karyawan lain panggil Gladis aja ya, lagian kita seumuran kok.” Pintaku karena memang sejujurnya aku risi dengan panggilan itu kalau tidak terpaksa. “Iya, Bu eh Gladis.” Serunya sambil tersenyum dan kami segera melangkahkan kami menuju ke dalam rumah bersama- sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN