Sudah 3 hari Eunkyung tidak bersekolah. Dia sudah mencari sekolah kesana kemari tapi tidak menemukan sekolahan yang murah.
"Bagaimana ? Kamu sudah menemukan sekolah yang cocok?" Tanya Eomma nya (Ibunya)
Eunkyung menggeleng "Semua sekolah mahal biaya nya. Aku tidak tahu harus mencari sekolah kemana lagi,"
Eomma Eunkyung menghentikan aktifitas memasaknya. setelah mematikan kompornya, Ia berjalan menghampiri Eunkyung dan duduk disampingnya "maafin eomma, andai saja eomma sanggup membiayai sekolahmu pasti Kamu tidak akan kesusahan mencari sekolah yang murah," ucapnya sambil mengusap pelan rambut putrinya.
"Gwenchana eomma, besok Aku akan cari sekolah lainnya. Eomma tidak perlu khawatir. Yasudah Aku mau kekamar dulu,"
Sesampainya di kamar, Eunkyung langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Saat ingin memejamkan matanya, Sebuah pesan masuk dari Juno masuk kedalam ponselnya.
Juno : "Yak Eunkyung!! Kamu pindah sekolah dimana ? Kenapa tidak memberitahuku!"
Eunkyung : "Miane, Jun. Aku belum menemukan sekolahan yang murah. Aku sudah mencari kesana kemari tapi tidak kunjung ketemu sekolah yang murah,"
Juno : "Apa? Jadi Kamu belum masuk sekolah ? Kenapa tidak bilang dari kemarin? Apa perlu Aku membantumu mencari sekolah?"
Eunkyung : "Andwae! (Jangan). Aku tidak ingin kekasihmu itu marah. Sudahlah Aku ngantuk mau tidur,"
Sambil mengacak rambutnya frustasi, Eunkyung menutup matanya erat. Rasanya hari ini sungguh melelahkan.
,,,,,,,,,,,,,,,,,
"Dari mana saja Kamu jam segini baru pulang?" Tanya Tuan Kim (Ayah Kim Jaehyun)
"Aku tidur di apartemen," jawab Jaehyun datar sambil terus berjalan kekamarnya.
"Yak Kim Jaehyun. appa sedang bicara !!" teriak Teriak Tuan Kim tapi tak dihiraukan oleh Jaehyun.
"Sudahlah, Mungkin dia lelah. Biarkan dia istirahat dulu," Sahut Eomma tiri Jaehyun menenangkan suaminya itu.
Selang 10 menit kemudian Jaehyun keluar dari kamarnya dengan pakaian seragamnya. Pria itu melangkahkan kakinya keluar rumah begitu saja tanpa mengucapkan apapun.
"Pulang sekolah langsung pulang. Nanti malam kita ada undangan makan malam dengan keluarga Jung," Sahut Tuan Kim.
,,,,,,,,,,,,,,,,,
Eunkyung sedang membantu eommanya melayani pelanggan yang makan di kedai ayam gorengnya. Seperti biasa setiap hari nya kedai ayam eomma Eunkyung selalu ramai. "Eunkyung, Tolong antar pesanan ini ke meja nomor 10 ya,"
"Ne eomma,"
Setelah mengantar makanan tadi, Eunkyung dikejutkan dengan kedatangan Juno. Pria itu tiba-tiba saja datang ke kedai nya. "Ada yang mau Aku bicarakan denganmu," Ucapnya kemudian mendudukan dirinya disalah satu kursi.
"Ada apa? Cepat katakan, Aku harus membantu Eomma,"
"Iya iya aku hanya ingin menawarimu sesuatu. teman appa ku, dia mempunyai sebuah sekolahan yang cukup terkenal. Dan katanya akan ada program beasiswa untuk beberapa murid yang berprestasi. Apa Kamu mau ikut?"
"Apa? Kamu serius kan?" Tanya Eunkyung antusias.
"Ne mana mungkin aku bohong. Kalau Kamu mau nanti biar aku bilangin ke appaku. Besok Kamu datang saja ke alamat ini. Tapi ingat, Jangan sampai telat! Malam ini belajar yang giat karena besok Kamu akan langsung di tes,"
"Wahh gomawo (Terima kasih) Juno-ah. Kamu memang sahabat terbaikku. Oke Kamu mau makan apa ? Tidak usah bayar, Semuanya gratis!"
Juno terkekeh mendengar tawaran dari sahabat nya ini "Wah tawaran yang sangat bagus. Tapi Aku buru-buru harus ke tempat Les sekarang. Lain kali Aku akan menagih gratisannya, Kalau begitu Aku pergi dulu ya. Bye, Jangan lupa besok!"
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Malam harinya Eunkyung terlihat sangat bersemangat belajar. Dia tidak ingin mengecewakan eomma nya. Dia harus Lulus seleksi agar bisa masuk sekolah gratis dengan beasiswa. "Eunkyung, Ayo makan dulu, belajarnya lanjut nanti," ucap sang eomma menghampiri Eunkyung di kamarnya.
"Ne. eomma duluan saja nanti Aku menyusul,"
"Iya. Cepat turun ya, Eomma tunggu diluar,"
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
"Anyeonghaseo, Joneun Park Eunkyung Imnida," Sapa Eunkyung pada beberapa petugas yang mengurus seleksi beasiswa.
"Kamu yang bernama Eunkyung? Silahkan ikut denganku,"
Eunkyung pun mengikuti salah satu pembimbing. Gadis itu disuruh masuk kedalam sebuah ruangan. Disana hanya ada 3 orang saja yang mengikuti seleksi. Bukan karena tidak ada yang berminat, tapi memang yang bisa ikut seleksi hanya lah orang-orang tertentu. Setelah masuk ruangan mereka ber-4 disuruh mengerjakan soal yang sudah dipersiapkan.
Setelah kurang lebih 3 jam berlalu, Kini giliran mereka menunggu hasilnya karena hasil akan langsung diumumkan saat itu juga.
"Baiklah setelah kita menilai jawaban dari soal yang kalian jawab. Hanya akan ada 1 yang Akan lulus dan mendapat beasiswa untuk bersekolah di VT high school," ucap sang pembimbing
"Ya tuhan Aku mohon beri aku kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ini. Hanya ini jalan satu-satunya agar Aku bisa bersekolah. Dan Aku juga tidak ingin mengecewakan eomma," Doa Eunkyung dalam hati.
"1 orang yang berhasil mendapat beasiswa adalah Park Eunkyung. Selamat kamu mendapat beasiswa bersekolah di VT high school hingga lulus nanti,"
"Yang lainnya maaf ya, kalian bisa mencobanya tahun depan. Dan untuk Eunkyung ? Besok kamu sudah bisa masuk sekolah. Saya akan mengurus semuanya. Tapi kamu harus membeli seragamnya sendiri. Kami hanya menanggung uang sekolah, buku dan yang lainnya," jelas sang pembimbing.
"Baik, Terima kasih,"
Eunkyung keluar dari gedung itu dengan perasaan yang sangat senang. Sebelum pulang, di menyempatkan diri untuk mampir ke toko seragam guna membeli seragam.
"Permisi Nona, Ada yang bisa Saya bantu?" Tanya salah satu pelayan toko.
"Saya ingin mencari seragam VT High School,"
"Baik, Silahkan ikut Saya,"
Eunkyung terlihat sangat terkejut melihat seragam VT High School yang akan menjadi seragamnya nanti. Seragam itu terlihat sangat bagus.
"Maaf, Untuk murid baru. Seragam mana yang wajib digunakan?"
"Nona murid baru? Biasanya ini seragam wajib nya," Jawab pelayan itu sambil menunjukkan salah satu seragam VT High School yang sangat bagus.
"Berapa harga nya?"
"Untuk seragam wajib ini harganya 900 ribu won (kurang lebih 10,5jt rupiah),"
Betapa terkejutnya Eunkyung mendengar harga seragam itu. Bahkan seragam nya di sekolah yang lama saja tidak sampai 100 ribu won. "Mian, Apa tidak bisa dikurangi lagi harganya?" Tanyanya sedikit ragu.
"Maaf Nona, ditoko tidak bisa ditawar,"
"Hmm yasudah kalau begitu saya permisi dulu. Besok saya kembali lagi," Eunkyung membungkuk lalu keluar dari toko itu.
Sepanjang perjalanan pulang, Gadis itu tidak bisa berhenti berguman kesal mengingat harga seragam yang sangat mahal tadi "Seragam macam apa tadi? 900 ribu won? Bahkan itu belum semuanya. Uang tabunganku tidak cukup. Aku harus bagaimana ? Ya tuhan kenapa ada saja cobaanku,"
Ditengah jalan Eunkyung melihat ada keramaian orang yang sedang berkerumun. Karena penasaran, Ia pun langsung melihatnya. Ternyata ada seorang kakek yang terlihat tengah terkena serangan jantung. Orang-orang yang ada disana hanya diam tanpa berniat menolong nya.
"Kenapa semuanya diam? Cepat panggil ambulance!!"
"Ah lama, Taxi!!" Teriak Eunkyung saat melihat sebuah Taxi.
Eunkyung meminta supir taxi dan orang-orang disana untuk membantu kakek itu masuk kedalam taxi. "Ahjushi (paman) tolong antar Kakek ini ke rumah sakit,"
"Siapa yang akan bertanggung jawab nanti?"
Karena tidak ada yang menjawab, Akhirnya Mau tak Mau Eunkyung pun ikut mengantar kerumah sakit.