5.

1070 Kata
Kanda Pov Saat ini aku sedang berada di salah satu rumah temanku yang bernama Bram. Barusan itu, kita berdua habis membicarakan masalah acara kondangan nanti malam. Di samping itu pula. Selain diriku yang bertujuan untuk sekedar berkunjung membicarakan acara kondangan nanti malam. Diriku pun sambil iseng mencari-cari informasi kepadanya, mengenai kabar berita, apakah ada orang yang ingin menjual tanah, rumah, sawah dan empangnya. Kalau memang ada orang yang ingin menjual beberapa produk yang telah aku sebutkan tadi, aku ingin langsung menyurveinya. Namun ternyata, aku tidak mendapatkan informasi tersebut darinya. Namun, bukan berarti obrolan santai kita berdua berakhir begitu saja. Sambil duduk menikmati sebatang rokok dan juga menikmati hidang jamuan yang di berikan Bram di taman yang berada di samping halaman rumahnya ini, kita berdua melanjutkna obrolan santai yang lainnya. "Oh iya sob? Bagaimana dengan perkembangan pernikahanmu ini? Apakah istrimu sudah mengandung anak dari benih yang kamu tanam itu?" Celotehnya Bram. Telapak tangan kananku bergerak, mendaratkan rokok ke mulutku. Aku menghisap sebatang rokok. Di dalam hatiku ini, sangat malu untuk diriku menjawabnya. Bagaimana aku tidak merasa malu kepadanya? Selain diriku yang merasa terlalu tua untuk menikah. Sampai saat ini, aku belum dapat memberikan anak kepada Dini istriku. Sementara temanku yang bernama Bram ini, sudah memiliki dua ekor anak. Anak pertamanya Bram pun sudah besar dan sudah sekolah menengah pertama. Sementara untuk anaknya yang satunya, masih sekolah di sekolah dasar. "Fyuuhh.." Suara hembusan nafas, saat diriku menghembuskan asap rokok barusan. "Belum bro. Istri saya belum bisa mengandung." Ucapku menjawabnya. "Kenapa memangnya sob? Apa ada masalah, dari salah satu kalian?" Ucap Bram. "Apa, kalian juga pernah mencoba untuk memeriksakan diri ke dokter, atau ke tempat terapi?" Sambung ucapannya Bram yang membuat perasaanku semakin merasa tegang untuk menjawabnya. Meskipun begitu. Aku tetap santai menghadapinya. Telapak tangan kananku bergerak, aku menghisap rokok lalu menghembuskannya kembali. "Sudah. Kita berdua sudah pernah memeriksakan diri ke dokter. Katanya, tidak ada masalah apapun dari kita berdua." Ucapku lalu menghisap rokok kembali. "Syukurlah kalau begitu. Tapi, istrimu juga tidak memasang KB kan?" Tanya Bram. "Tidak. Istri saya tidak pernah memasang KB, setelah menikah dengan saya. Dia juga, sebenarnya sangat ingin untuk segera mendapatkan anak dari saya. Ya, mungkin belum saatnya saja, kita di berikan anak." Jawabku. Sejujurnya, perasaanku ini cukup lumayan merasa risi juga dengan obrolan santai ini. Namun apa boleh buat. Inilah yang terjadi. Aku juga seringkali memutarkan otakku ini, untuk menjawabnya. "Syukurlah sob, kalau memang seperti itu adanya. Saya yakin, kalian berdua tidak akan lama, untuk mendapatkan seorang anak." Ucap Bram. "Kalau bisa nih? Kamu juga harus menghajarnya setiap malam? Biar rahimnya sitrimu itu mendekat dan terkena semburan cairan kentalmu itu sob?" Celotehnya yang membuat diriku tersenyum lalu tertawa pelan. Kita berdua pun tertawa pelan sejenak. "Boleh juga, dengan masukanmu ini bro? Nanti lah, saya akan mencobanya, untuk menggempur istri saya setiap malam." Jawabku. Bram tertawa lepas sejenak. "Iya lah sob. Kamu harus menggempurnya setiap malam? Biar rahim istrimu itu semakin dekat dengan lubangnya. Dengan begitu, cairan kenal yang keluar dari penismu itu, dapat masuk ke dalam rahimnya." Ucap Bram. Tidak tahu saja, kalau sebenarnya, diriku pun sudah mencoba untuk melakukan, seperti dengan apa yang dia katakan barusan. Aku sudah lah mencoba untuk menggempur istriku diatas ranjang setiap malam. Namun faktanya? Cairan kental yang keluar dari tubuhku ini, belum dapat membuahi rahimnya Dini istriku. Aku dan Dini pun, memang sudah pernah untuk memeriksakan diri ke dokter, sekedar untuk memeriksakan diri. Dan hasilnya, sesuai dengan apa yang aku katakan barusan kepada Bram. Kita berdua tidak ada masalah apapun. "Oh iya bro, kalau memang sekiranya nanti kamu mendengar ada orang yang ingin menjual sawah, tanah, rumah atau empang? Tolong, kamu langsung kabari ke saya? Tenang, semua itu ada fee-nya juga koq untuk kamu." Ucapku sekedar mengalihkan perkataan. Agar Bram tidak melanjutkan obrolannya, mengenai seputar rumah tanggaku ini. "Tenang sob? Kalau memang nanti saya mendengar ada orang yang ingin menjual rumah, tanah, sawah, maupun empangnya? Saya akan langsung memberikan kabar kepada kamu." Ucap Bram lalu menghisap rokoknya dengan santai. "Oh iya nih bro? Ngomong-ngomong, istri dan anak-anakmu ini sedang kemana? Perasaan, dari tadi saya mengobrol dengan kamu, saya tidak melihat keberadaannya mereka?" Ucapku. "Kedua anak-anak saya, masih berada di sekolahnya. Dan untuk istri saya, dia sudah pergi dari pagi. Biasa lah sob, Ibu-ibu arisan? Suka berkumpkul sekedar ngerumpi." Ucap Bram. Aku langsung tertawa pelan sejenak, setelah mendengar Bram berkata, kalau istrinya ini suka berkumpul sekedar untuk ngerumpi. "Kamu ini bro? Ada-ada saja? Pantesan saja, kopi yang kamu buat ini terasa berbeda. Ternyata, sedari tadi ini, saya meminum kopi buatanmu sendiri ya?" Ucapku. Bram tertawa pelan sejenak. "Ya seperti itulah sob. Saya sendiri yang membuatnya. Maklumlah, sekarang ini saya belum mendapatkan pengganti pembantu yang baru." Ucap Bram. Kring! Suara ponselku yang berdering sangat keras. "Sebentar ya bro? Saya lihat dulu ponsel saya?" Ucapku. "Silahkan sob." Ucap Bram. Ponselku ini masihlah berdering dan bergetar diatas meja. Telapak tangan kananku bergerak meraih ponsel. Jari telunjukku langsung menekan tobol reject. Aku membuka aplikasi pesan. [Kenapa Don?] Aku mengirimkan pesan kepada Doni keponakanku. [Jadi tidak mas? Ingin melihat rumah teman sayanya?] Doni. [Lah, memangnya sekarang kamu tidak sedang sibuk?] Pesanku membalasnya. Biasanya, Doni suka tidak ada di rumahnya kalau di siang hari. Makanya, nanti malam itu, memang sengaja di adakan sebuah acara keluarga, sekedar untuk bertemu dan makan malam saja. [Tidak mas. Sekarang ini, saya sedang santai saja di rumah. Jadi bagaimana mas? Mau menyurvei rumah teman saya atau tidak? Mungpung, hari ini teman saya sedang ada di rumahnya.] Doni. [Jadi. Sebentar lagi, saya akan berangkat ke rumah kamu. Sekarang ini, saya masih di rumahnya teman saya.] Pesanku. [Ya sudah kalau begitu. Saya tunggu ya mas?] Doni. [Iya. Selamat menunggu.] Pesanku bercanda kepadanya. [Hahaha..] Doni. Percakapan via pesan pun telah berakhir. Aku menaruh ponsel diatas meja kembali. "Kenapa tidak di angkat saja sob? Teleponnya?" Ucap Bram. "Tidaklah. Lagian bukan dari siapa-siapa ini. Hanya dari keponakan saya saja." Ucapku. "Oh iya bro. Sepertinya, sudah saatnya, untuk saya pulang? Tadi, istri saya juga mengirimkan pesan untuk menyuruh saya pulang, soalnya." Ucapku sekedar beralasan, karena diriku ini merasa tidak enak kalau harus beranjak pergi dari rumahnya, namun tidak memiliki alasan yang pasti. Yang pastinya, kalau diriku tidak beralasan seperti itu, dia akan menahanku. "Wah-wah, panjang umur juga istrimu itu sob? Sedang di obrolin malah mengirimkan pesan seperti itu." Ucap Bram. "Ya sudah kalau memang begitu ceritanya. Saya tidak bisa menahanmu." Ucap Bram. Aku bangkit berdiri, mengambil barang-barangku dari atas meja. Aku melangkah keluar dari rumahnya Bram, di antarkan olehnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN