#25 Farisha

1861 Kata
Hari ini aku ada jadwal evaluasi program kerja bersama tim Hizi pukul setengah satu siang atau selepas makan siang. Tapi aku masih berkutat di ruang Pak Ruslam dengan teman-teman lembaga yang lain menyelesaikan urusan data psikotest proyek kantor yang sedang menggarap perusahaan besar, butuh waktu cepat dan hasil maksimal demi kredibilitas lembagaku ini. Pukul sebelum aku sudah mulai ancang-ancang mau izin, tapi belum berani karena semua tampak sibuk. Bahkan Pak Ruslam yang biasanya hanya memberi komando, juga ikut turun tangan. Zahra pun yang biasanya banyak bicara, sekarang banyak kerjanya. Aku ragu, apakah aku pantas izin dalam siatuasi seperti ini. Akhirnya pukul dua belas, Ghulam mengirimiku sebuah pesan jika aku bisa bertemu dengan Farisha pukul dua siang. Aku langsung memiliki ide untuk dinas luar. Aku menemui Pak Ruslam untuk izin menemui klien selepas jam makan siang di caffe, klien ini tidak mau bertemu di kantor karena alasan tertentu. Tentu saja Pak Ruslam mengizinkan, tapi tentu saja, yang paling tidak rela atas kenikmatan orang lain adalah Pak Malik. Aku minta maaf kepada seluruh temanku di ruangan Pak Ruslam, mata-mata mereka agak kurang setuju, tetapi tetap mengiyakan, aku sebenarnya tidak enak, tapi mau bagaimana lagi. Aku makan siang bekal dari ibu di dalam mobil yang sudah ku parkir di depan kantor utama Hizi. Hari ini kami akan evaluasi bersama bapak direktur. Belum sampai habis, jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah satu, akhirnya makan siang kusudahi. Aku dan Rafael datang paling akhir di ruang rapat, semua sudah di sana termasuk Kaizan dan Pak Wayan, tapi kami belum terlambat, kurang dua menit. Begitu kami duduk, rapat di mulai. Aku menghela nafas, untung tidak telat. "Saya sangat berterimakasih atas kerja keras kalian untuk sebuah program kemanusiaan dan promosi Hizi Corp. Teman-teman adalah orang-orang baru, ya sebagian besar anggota tim adalah orang baru, tapi sudah mampu mengikuti alur kerja Hizi, ya seperti inilah Hizi. Saya tidak akan mengevaluasi kesalahan-kesalahan, itu sudah biasa, tidak perlu kita sesali, tapi akan tetap kita koreksi untuk melangkah dengan lebih baik dan lebih bijak." Pak Wayan memberikan sambutan yang sangat manis dan hangat, tergambar dari cara bicaranya beliau orang yang lembut tapi memiliki etos kerja yang tinggi. Panti sih Hizi bisa sebesar ini di tangan beliau. Selanjutnya, sesudah memberi sambutan, Pak Wayan meninggalkan ruang rapat dan kami kembali pada rapat evaluasi sesungguhnya bersama Kaizan. "Mungkin teman-teman mengira, terutama teman-teman yang baru, acara kita kemarin sempurna, tidak ada kesalahan dan berjalan dengan baik. Berjalan dengan baik, iya. Tapi tidak lepas dari kesalahan." Ciri-ciri Kaizan ketika bicara, diplomatis dan kharismatik. Aku sengaja tidak menatapnya, pandanganku kuarahkan ke meja di depanku. Aku takut jatuh cinta. Kaizan terus berbicara mengevaluasi banyak hal, membeberkan hal yang tidak seharusnya dan memberi masukan pada kami, termasuk aku. Dia mengomentari caraku memimpin yang masih kurang lugas dan terlalu membawa perasaan. Aku hanya mengiyakan karena memang demikian dan ini bagiku wajar karena ini yang pertama kali. Kami selesai melakukan rapat evaluasi pukul tiga sore. Aku sudah mengirim pesan kepada Ghulam agar mengundur pertemuan dengan Farisha. Dan dia setuju. Nanti, aku hanya akan bertemu dengan Farisha, Ghulam tidak ikut. Aku lansung meluncur ke sebuah cafe bernama Olio Cafe. Aku baru pertama kesini. Kata Ghulam, Farisha yang meminta di tempat ini. Tempatnya cukup jauh dari Hizi, tapi tidak masalah. Aku sampai pukul tiga lima belas. Aku masuk cafe dan celingukan mencari Farisha. Kuingat-ingat wajahnya tapi aku sedikit lupa. Lalu kutelpon Ghulam, dan kata Ghulam, Farisha ada di rooftop dan dia berbaju ungu. Aku baru menyadari cafe itu ada rooftopnya. Di rooftop tidak banyak orang, hanya beberapa. Dan hanya ada satu perempuan berbaju ungu muda atau perempuan-perempuan biasa menyebutnya dengan lilac. Aku segera mendekatinya. "Farisha?" Tanyaku begitu di dekat perempuan itu. Dia mengangguk. "Maaf aku terlambat." Lanjutku. "Silakan duduk." Katanya sopan. Aku mengambil duduk tepat di depannya. Di hadapanku tampak jelas wajah Farisha, lebih manis daripada di foto f*******:. Ia tidak putih glowing seperti perempuan masa kini. Kulitnya sawo matang, agak ke gelap tapi wajahnya sangat bersih. Ia memiliki t**i lalat di atas bibir kanannya yang membuatnya lebih manis. Farisha hari itu memakai kemeja warna lilac dan celana kulot warana cream. Rupanya, sama seperti Ala. Dia memiliki style fashion yang hampir serupa. Rambut Farisha sangat lurus sebahu, terlihat natural bukan hasil smoothing dannia biarkan tergerai. Rupanya, Farisha sudah memesan minuman, sudah berdiri cantik gelas kaca tinggi langsing berisi cairan warna biru, mungkin sesuatu dengan rasa blueberry. "Terimakasih sudah datang." Kataku memulai pembicaraan. "Kakak bisa pesan dulu." Dia menyodorkan buku menu. Aku mengangguk, memilih es kopi lalu meminta waiters untuk mengambil buku menu itu. "Dengan senang hati kak." Jawab Farisha kemudian. "Jangan panggil aku kakak, panggil saja aku Bivi." Kataku, lalu disambut senyum manis Farisha. "Apa yang dikatakan Ghulam untuk memintamu datang kesini? Ohya maaf, sebelumnya perkenalkan, aku adalah konselor pernikahan Ala dan Ghulam. Saat ini, aku sedang berjuang untuk membantu mereka menemukan jalan keluar dari masalah rumah tangga mereka." "Apakah masalah rumah tangga mereka karena aku?" Kata Farisha cepat-cepat begitu aku selesai bicara. "Awalnya bukan." Aku diam mengatur kalimat. "Mereka mengalami masalah yang cukup rumit, tapi beberapa hari terakhir ini masalahnya meruncing karena dugaan Ghulam dekat denganmu." Aku hati-hati sekali berbicara, Farisha hanya diam. "Maafkan aku jika terkesan menyudutkanmu, aku masih memperdalami semuanya dan bisa jadi ini semua hanya kesalahpahaman." Farisha mengangguk-angguk lagi, ada wajah sedih di raut mukanya, aku gamang mau melanjutkan. Aku yakin, dia sepertinya memang terjebak perasaan. "Setidaknya begitulah yang diceritakan Ghulam padaku kemarin. Dia bilang, tidak ada hubungan apa-apa diantara kalian. Hanya sebatas rekan kerja." Tanpa kuduga sebelumnya, Farisha menangis mendengar kalimatku itu. Dia tidak berkata apa-apa, aku menyodorinya selembar tisu yang kuambil dari tasku, dia menerima. Kutunggu dia hingga selesai menangis. "Sekali lagi aku minta maaf." Kataku. "Tidak apa-apa, lanjutkan." "Jadi, apa yang kamu rasakan tentang Ghulam?" Lanjutku. Farisha menyeka sudut matanya lalu berkata, "Yang dikatakan Mas Ghulam barangkali memang benar, kami tidak ada apa-apa. Tidak pernah ada kata cinta seperti yang dituduhkan." Perempuan itu berkata dengan lebih tenang. Aku mengangguk menyimaknya. "Tapi," lanjutnya, "mungkin aku yang berlebihan menerimanya. Aku tahu Mas Ghulam sudah memiliki keluarga. Dan dia mencintai keluarganya, sangat mencintai. Tapi aku menikmati kedekatan dengannya. Dekat yang tanpa status apapun. Itu dosaku." Air mata Farisha tumpah lagi, dia berhenti sebentar, kali ini aku tidak memberinya selembar tisu tapi sewadah kecil tisuku kuberikan semua padanya. "Tapi percayalah, kami hanya dekat sebagai seorang teman, sebagai rekan kerja. Dan aku sama sekali tidak pernah berniat merusak rumah tangga orang. Kemarin ketika Mas Ghulam mengatakan bahwa konselor pernikahannya ingin bertemu denganku, aku langsung mengiyakan, karena aku berharap, ini bisa menjadi jalan keluar dari hubungan yang rumit ini." Aku tidak menyangka akan mendapat respon seperti ini. Tadi ketika berangkat ke cafe ini, yang kubayangkan aku akan bersitegang dengan seorang perempuan karena ia tidak terima kutuduh selingkuh. Tapi Farisha tidak seperti itu, dia juga memiliki harapan baik. Dia ingin terlepas dari belenggu hubungan haram. Aku menatap Farisha dengan iba, Ghulam benar, dia gadis yang baik. Seseorang terkadang memang terseret sebuah hubungan tanpa berniat untuk masuk ke dalamnya. Yang membuat beda adalah, apakah ia terus menikmati termobang-ambing dalam arus itu atau berusaha menepi mencari pegangan agar bisa mendarat. Pesanan minumanku datang, aku segera menyeruputnya. Es kopi espresso yang sedikit pahit dan dingin membuat hatiku lumayan ikut menjadi dingin. "Jadi apa yang harus aku lakukan?" Farisha memecah kebekuan diantara kami. Sejujurnya aku sendiri masih belum menemukan jalan keluar, sekarang ini, bukan hanya Ala yang bergantung padaku, tapi Farisha juga. "Apakah kalian bisa bertukar jabatan atau posisi dengan orang lain di kantor kalian?" Kataku kemudian. "Maksudmu?" "Ghulam kemarin mengatakan, posisi kalian di kantor sangat terkait, susah bagi kalian untuk terlepas satu sama lain. Dan kalian sudah tahu resiko jika kalian terus bersama, kan?" "Aku belum memikirkan ini, nanti akan kami bicarakan." "Aku berharap, kalian bisa saling membatasi diri. Bukan demi siapa-siapa, untuk diri kalian sendiri." "Apakah mereka akan bercerai?" "Aku sedang berjuang untuk menyatukan Ala dan Ghulam, karena kulihat banyak kebaikan jika mereka rujuk dan akur." "Apa kamu mengira mereka akan bercerai, apakah Ghulam pernah menceritakan ini padamu?" Pertanyaan Farisha kunilai janggal, dari pertanyaan itu, kutangkap suatu maksud. Bahwa ia tidak ingin hubungan Ala dan Ghulam rusak, tapi juga merasa sakit jika mereka terus bersama. Farisha menjawab dengan sebuah gelengan kepala, ia cepat-ceoat menggeleng, seolah takut aku menuduhnya. Aku tersenyum mencoba menenangkan nya. Aku tahu Farisha tidak dalam posisi yang benar, tapi juga dia tidak butuh penghakimanku, dia juga butuh pertolongan ku. Dan aku butuh kerjasamanya agar masalah klienku segera tuntas. "Ada yang lain yang bisa kubantu?" Farisha bertanya, ia seperti berancang-ancang hendak pergi. Aku diam sebentar mengamati nya. "Aku minta tolong, bantu Ghulam mempertahankan rumah tangganya." Aku menatap Farisha dalam-dalam, dia balik menatap ku, lalu mengalihkan pandangannya. "Aku tidak tahu apakah aku bisa." Jawab Farisha. "Aku sudah terlanjur mempercayaimu, aku tahu semua kondisi ini bukan keinginanmu, aku tahu kamu gadis baik dan bijak yang akan berhati-hati dalam melangkah. Maukah kau membantuku?" Kini aku memegang punggung tangannya, tangannya terasa dingin, tatapannya kemudian juga berubah menjadi dingin. "Maaf, aku harus pergi." Tanpa menunggu kata-kata lain dariku, Farisha pergi setengah tergesa. Sepertinya ia pergi sambil menahan tangis. Ya Tuhan, mengapa orang ketiga itu adalah Farisha, gadis yang sepertinya baik-baik. Aku segera menghabiskan espressoku, entah kenapa di bagian akhir terasa sangat pahit, mungkin seperti itulah kepahitan mencintai seseorang tapi tak mungkin memiliki. Aku berjalan menuju kasir untuk membayar, tapi ternyata Farisha sudah membayarnya. Aku berjalan keluar menuju mobil dan melihat Farisha di tepi jalan, ia tampak berulang kali menelpon dan mengecek handphone. Mungkin dia memesan ojek online. "Farisha!" Aku memanggilnya dari jauh, akan kutawari dia tumpangan. Aku tidak tahu rumahnya dimana, tapi hatiku iba melihatnya yang sepertinya terluka sendirian, di tepi jalan, menunggu ojek. Dia menoleh, tapi begitu aku mencoba mendekat. Sebuah mobil menepi menghampirinya, mungkin ojek onlinenya sudah datang, Farisha menoleh padaku sebentar, lalu masuk mobil dan berlalu. Aku masuk mobil dan kuhempaskan badanku di kursi kemudi. Bingung dengan apa yang kulakukan dan kurasakan hari ini. Di sisi lain, mengapa aku sangat merasa kasihan pada Farisha, dia orang ketiga dalam rumah tangga Ala dan Ghulam, klienku. Sekalipun tidak secara frontal selingkuh, dia tetap membawa masalah, memperumit hal yang akan kuselesaikan kan. Aku melihat dia orang yang tidak berdaya, sendiri, dan bingung harus berbuat apa karena terjebak perasaan. Tapi di sisi lain, di sini, aku sebagai Bivisyani seorang konselor pernikahan. Yang harus profesional menangani masalah klienku. Ala, Ghulam dan Kavya mengharapkan ku bisa membantu mereka. Tidak fair bagi mereka jika aku turut memihak Farisha. Dan memang aku tidak ingin memihaknya. Ketika melihat Farisha, aku ingat diriku sendiri. Aku beruntung masih di permulaan jatuh cinta, atau belum jatuh cinta, ya, aku memang menyukai Kaizan dan aku merasa sakit karena tidak ada harapan memilikinya. Tapi perasaan ini hanya sepihat, tidak seperti Farisha. Ghulam salah besar di sini, dia memberi harapan Farisha, dia memupuk benih-benih cinta di hati Farisha sehingga tumbuh dan berbunga. Aku menghela nafas, menyalakan starter dan mulai melakukan mobil. Aku berpikir keras, apa yang selanjutnya akan kulakukan untuk hubungan Ala dan Ghulam ini. Apa yang akan kuceritakan pada Ala tentang pertemuan ku dengan Ghulam. Apakah aku akan bercerita tentang pertemuan dengan Farisha? Aku melintasi jalanan utama kotaku, kondisi lalu lintas sedang padat merayap. Aku hanya bisa melajukan mobil dengan pelan. Tiba-tiba aku teringat ibu, Ibu pasti sudah menungguku di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN