Kaizan meminta panitia kecil berkumpul malam ini juga, ada masalah mendesak yang harus kami selesaikan. Jadilah hari Selasa ini menjadi hari yang cukup padat. Pagi hari, aku diminta Pak Ruslam dinas luar untuk mengisi undangan penyuluhan psikologi di sebuah sekolah hingga siang. Selepas makan siang, aku ada janji dengan dua klien sekaligus. Jadilah hingga sore, aku tidak beristirahat kecuali makan siang tadi.
Aku masuk ruang sudah yang paling akhir, tapi belum terlambat. Mereka semua tahu, aku selalu begitu karena jarak kantor Hizi dengan lembaga tempat ku bekerja lumayan jauh. Sehingga aku sering mengantisipasi dengan izin terlambat terlebih dulu.
Saat aku sampai ruang Hizi untuk Indonesia, semua senyap. Sepertinya saat aku masuk, sedang berlangsung pembicaraan serius.
"Selamat bergabung Bivi, silakan duduk. Saya lanjutkan." Kata Kaizan begitu aku datang. "Jujur, saya sangat kecewa hal ini bisa terjadi. Hizi untuk Indonesia ini adalah suatu terobosan agar masyarakat Indonesia semakin mengenal dan mencintai Hizi." Lanjut Kaizan. Jujur, aku masih bingung dengan apa yang ia bicarakan, aku hanya diam menyimak pura-pura tahu.
"Yang terjadi ini, justru m*****i citra perusahaan." Kaizan masih terus bicara tentang suatu masalah. Aku melirik Rindani dan memberikan kode 'ada apa?' dia menggeleng. Entah maksudnya tidak tahu atau nanti saja.
"Virza tolonh jelaskan, apa kesalahan yang sudah kamu buat, agar tidak terulang oleh teman kita yang lain dan bisa dijadikan pelajar."
Seseorang yang bernama Virza berdiri. Virza wajahnya pucat dan sepertinya gemetaran. Aku menduga dia yang melakukan kesalahan yang dibicarakan Kaizan. "Sebelumnya, saya mau mohon maaf kepada teman2 satu tim panitia kecil. Atas kesalahan yang sudah saya lakukan, yaitu." Virza diam sejenak. "Saya tidak sengaja menjembatani, belum sampai menjembatani sebenarnya."
"Itu sudah menjembatani." Potong Kaizan, nadanya cukup tinggi, semua terdiam. Baru kali ini aku melihat Kaizan semarah itu. Aku semakin penasaran, kesalahan apa yang dibuat Virza.
"Iya, saya khilaf. Saya menjembatani salah seorang oknum pengusaha untuk memasukkan proyek mereka ke dalam agenda kita di Yogyakarta untuk sebuah promosi terselubung. Salah saya, saya tidak berkoordinasi dengan Kaizan selaku pimpinan Hizi untuk Indonesia."
"Kamu sudah menerima dana berapa?"
"Jujur, Zan. Aku belum menerima."
"Rencananya berapa?"
Virza terdiam. Aku mulai mengerti permasalahannya. Virza adalah bagian humas. Survey di Yogyakarta kemarin, dia seharusnya ikut, namun dia tidak bisa karena harus menemani ibunya yang opname di rumah sakit.
"Tidak besar sih, sepuluh aja."
"Tidak besar? Sepuluh juta tidak besar ya? Tapi Vir, Ini bukan masalah besar atau tidak. Ini integritas kamu untuk Hizi. Jadi seburuk itu niat kamu?" Nada bicara Kaizan sudah tidak setinggi tadi, cukup datar namun tajam. Virza justru semakin menciut.
"Sekarang, atas semua yang sudah saya lakukan, saya mohon maaf atas nama saya pribadi untuk Hizi dan teman-teman. Saya bersedia mendapatkan sanksi sesuai ketentuan." Virza menggigit bibirnya sambil menunduk dalam.
"Baik, saya tunggu surat pengunduran diri kamu." Tegaa Kaizan berkata begitu. Semua di ruangan terkejut, aku pun demikian. Selanjutnya semua kasak kusuk saling berbisik. Tapi aku hanya diam, lagi-lagi aku memandang Rindani, dia jua memandang ku. Kami tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tapi Zan, bukan kah peraturannya, untuk kesalahan pertama adalah mendapatkan surat peringatan? Bukan kah harusnya Virza masih mendapatkan surat peringatan saja bukan diberhentikan?" Siska mengangkat tangannya, diantara kami, dia yang berani speak up. Aku juga membatin demikian, tapi aku tak cukup berani bicara. Kami semua mengangguk-angguk menyetujui Siska.
"Terserah kalian setuju atau tidak, surat peringatan itu hanya untuk kesalahan biasa, bukan kesalahan fatal. Apa yang dilakukan Virza adalah bentuk pengkhianatan perusahaan, tidak ada maaf untuk itu." Jawab Kaizan tegas. Kami semua diam, tidak ada yang berani membantah. Virzapun juga hanya mengangguk. Dalam keheningan, handphone Kaizan berdering. "Maaf, saya permisi mengangkat telepon dari Pak Wayan."
"Sabar ya Vir."
"Semoga masih bisa dinego ya Vir."
"Semoga telepon dari Pak Wayan menjadi angin segar buat kamu Vir." Kami saling menyemangati Virza, Virza masih terdiam pucat hanya mengangguk. Kaizan kembali masuk setelah telepon dan langsung mengatakan, "Maaf, pertemuan kita akhiri sampai di sini, saya mendapat panggilan mendesak untuk menghadap Pak Wayan. Dan untuk Virza, saya tunggu pertanggungjawaban kamu."
Kaizan keluar ruangan dengan langkah tegap, wajahnya masih datar tanpa senyum. Sepertinya ia memang sedang sangat marah.
Tim kami tidak langsung bubar. Semua mengerubungi Virza untuk meminta penjelasan. Tapi Virza diam tanpa kata, malah segera minta izin untuk pulang, ibunya masih sakit.
"Mungkin Virza melakukan itu karena terdesak." Kata Siska begitu Virza meninggalkan ruangan. Di ruangan kami, tersisa aku, Rindani, Siska, Raka dan Lintang.
"Iya, ibunya sakit cukup serius. Pasti butuh banyak biaya." Kata Raka.
"Tapi, Kaizan tau nggak sih tentang ini?" Tanyaku menambahi. Mereka semua menggeleng.
"Kalau soal integritas, Kaizan memang lurus dan kaku memegang erat tentang itu. Dia tidak bisa tawar menawar, itu sudah sering kulihat di kantor." Kata Rindani.
"Tapi, jika benar karena ibunya sakit, kasihan juga sih." Siska menyahut.
Kami semua diam, aku tidak bisa membayangkan menjadi Virza, saat ibunya sakit, dia terancam kehilangan pekerjaan. Apalagi selain menjadi freelancer di Hizi, dia masih dalam status mahasiswa di sebuah perguruan tinggi. Kami ikut tegang dengan permasalahan ini.
Sore ini, aku kembali mengantar Rindani. Beberapa hari, aku tidak bisa mengantarbya karena pulang terburu-buru. Aku senang sekali memberi tumpangan Rindani karena dia teman bicara yang menyenangkan.
"Menurutmu, apakah kita harus melakukan sesuatu untuk Virza?" Tanyaku pada Rindani begitu mobilku melaju keluar halaman kantor Hizi. Rindani menggeleng.
"Aku tidak tahu, selama ini, jika dihadapkan masalah demikian, Kaizan memang selalu tegas, tapi dia mengembalikannya kepada Pak Wayan, Pak Wayan biasana yang tetap memutuskan. Tapi kan ini sub bagian perusahaan, tidak langsung di bawah Pak Wayan, ini di bawah pimpinan Kaizan, karena itu aku tidak tahu lagi." Kata Rindani, pandangannya lurus ke depan mengarah pada jalanan di depan kami.
"Rin, gimana kalau kita jenguk ibunya Virza?" Kataku secara tiba-tiba. "Kamu tahu nggak rumahnya?"
"Ide bagus, tapi aku nggak tahu rumahnya. Eh tapi, kita bisa tanya Siska. Dia punya semua data tim kita."
"Okay, aku menepikan mobil, kamu telepon Siska ya."
Rindani menelpon Siska, tidak membutuhkan waktu yang lama, kami mendapat alamat lengkap Virza. Siska pun sangat mendukung rencana kami menjenguk ibu Virza.
Setelah mendapat alamat Virza, kami putar balik karena tujuan kami ternyata berseberangan dengan rumah Rindani. Tak lupa, kami mampir ke toko buah untuk membeli sekeranjang buah-buahan segar untuk oleh-oleh.
Alamat Virza cukup mudah, terletak di dalam perumahan. Tak perlu mencari-cari, kami langsung bisa menemukannya. Kami berhenti cukup lama di depan rumah Virza, ragu hendak masuk karena rumahnya nampak sepi.
"Kita perlu telepon Virza dulu nggak ya?" Tanyaku setelah kami hanya diam melihat-lihat dari jauh.
Rumah Virza tampak seperti umumnya rumah-rumah di perumahan kelas menengah. Bukan yang kategori besar, juga tidak kecil. Dari luar, penampakan rumah tampak kurang terawat, banyak rumput tumbuh tidak beraturan tingginya di depan pagar, halamannya pun seperti lama tidak di sapu.
"Langsung aja deh, sudah di depannya juga kan?" Jawab Rindani, aku mengangguk. Kami turun dengan masih sedikit perasaan ragu.
"Permisi! Assalamualaikum." Rindani sedikit berteriak agar terdengar. Sekali tidak ada jawaban. Rindani memanggil lagi. Belum juga di jawab. "Kalau yang ketiga belum juga ada respon, kita balik aja ya?" Kata Rindani kemudian, aku mengangguk setuju.
Tapi begitu panggilan Rindani yang ketiga tak berselang lama kemudian, ada sahutan dari dalam rumah. Kami menghela nafa lega.
Seorang perempuan keluar dari rumah, usianya kira-kira empat belas atau lima belas tahun, berjalan terseok-seok. Baru kami sadari, perempuan itu memiliki kaki berbentuk huruf O. Dia melempar senyum begitu melihat ke arah kami.
"Cari siapa, Mbak?" Tanyanya begitu sudah dekat dengan pagar. Kami berdiri di depan pagar.
"Mau jenguk ibunya Virza." Jawabku to the points.
"Oh...temannya Bang Iza. Mari-mari masuk." Begitu mendengar kami menyebut nama Virza, dia langsung buru-buru membuka pintu pagar. Dia sedikit kesulitan karena pagar besi sepertinya sudah berkarat, sehingga cukup berat ketika di dorong. Rindani cekatan membantunya.
"Maaf ya Lama...lagi nyuapin ibu. Ayo masuk sini, ibu di ruang tamu kok." Gadis itu terseok-seok berjalan di depan kami. Entah kenapa, melihatnya demikian, membuat hatiku teriris-iris. Terlihat sekali ia sangat kesulitan berjalan. Badan bergoyang-goyang ketika berjalan. Bahkan ia setengah merentangkan tangan nya agar seimbang, namun tetap sempoyongan. Siapa gadis ini? Apakah dia adik Virza?
Gadis itu membawa kami masuk ke ruang tamu. Ruang tamu yang cukup berantakan. Piring, gelas dan wadah sayur bekas makan masih berserakan di meja. Sampah-sampah plastik juga beberapa masih berserakan di meja dan kursi.
Dia menyuruh kami duduk di sofa. Di sofa berbentuk sudut itu juga, seorang perempuan usia paruh baya sedah duduk bersandar. Mungkin itu ibu Virza, beliau tersenyum ketika kami masuk dan meletakkan sekeranjang buah di atas meja. Senyum yang terlihat seperti senyum kesakitan.
Gadis tadi berusaha merapikan dan membersihkan meja dan kursi. "Maaf ya, rumah kami berantakan." Katanya sembari menumpuk piring-piring. Ketika ia hendak berjalan ke dalam rumah, tak sengaja kakinya tersandung kaki meja hingga ia terjatuh. Dua piring yang di tangannya ikut terjatuh. Syukurlah piring itu terbuat dari plastik. Aku tak bisa membayangkan jika itu tadi piring kaca
"Sudah, Dik. Tak perlu dirapikan." Kataku ketika dia baru datang dari dalam rumah dan hendak mengambil gelas. Dia tertawa kecil menggeleng, dia tetap mengambil gelas-gelas itu, menggunakan teko, dengan sempoyongan lagi. Aku dan Rindani hanya bisa menarik nafas dalam-dalam melihatnya.
Ketika akhirnya gadis itu duduk di sofa, di sebelah ibunya, aku menghela nafas lega, kukira Rindani juga. Ibunya hanya terdiam dari tadi, nafasnya terengah-engah.
"Saya Bivi dan Ini Rindani. Kami temannya Mas Virza di kantor." Kataku kemudian. Gadis itu mengangguk-angguk tersenyum lebar. Mendengar penjelasanku, Ibu Virza juga tersenyum, masih sambil menahan sakit.
"Aku Lilian, Adiknya Bang Iza. Dan ini ibu kami." Dia tersenyum lebar lagi sesudah mengatakan itu.
"Ibu sakit apa, Dik?" Tanya Rindani.
"Kanker p******a stadium dua."
Aku dan Rindani kaget dan menganga mendengar jawaban Lilian. Kami berusaha menyembunyikan keterkejutan kami dengan ber-oh ria.
"Sudah dibawa ke rumah sakit?" Tanyaku.
"Sudah, sudah boleh di bawa pulang. Sekarang rawat jalan, dan kemoterapi setiap pekan." Lilian tersenyum lagi. Aku heran, kenapa dia senang sekali tersenyum, bahkan untuk hal yang kukira sedang tidak butuh senyuman.
"Ibu mau operasi bulan depan, dapat jadwalnya bulan depan pakai BPJS." Tambah Lilian lagi ketika kami hanya diam.
"Kalian hanya berdua di rumah? Virza kemana? Belum pulang?" Tanyaku hati-hati.
"Kami hanya berdua karena ibu sudah lama berpisah dengan ayah. Dan anak ibu hanya aku dan Bang Iza. Bang Iza kalau sore selepas kuliah atau kerja biasanya narik ojek online. Sampai tengah malam, aku suka kasian lihat Abang. Tapi aku juga tidak bisa membantu apa-apa."
"Kamu masih sekolah?" Tanya Rindani, Lilian menggeleng.
"Dulu SD masih sekolah, saat itu masih ada bapak. Sejak bapak kabur dengan perempuan, tidak ada biaya untuk sekolah. Bang Iza pun susah payah banting tulang menyelesaikan kuliahnya. Dia harus lulus kuliah biar bisa jadi orang sukses katanya, dan biar ibu bisa sembuh dan tidak sedih lagi.
Kami tak berlama-lama di rumah Virza karena jujur, tak kuat melihat kemalangan di depan mata kami. Apalagi mengingat fakta bahwa Virza pun telah akan diberhentikan kerja. Aku tak bisa membayangkan bagaimana nasib ibu dan adik Virza jika dia benar-benar diberhentikan.
Di rumah Virza, kami dikejutkan lagi oleh sebuah fakta yang sebelumnya tidak pernah kami tahu. Salah satunyaVirza jadi sopir ojek online. Aku sungguh tak menyangka, diantara teman kami ada yang berjuang sedemikian rupa. Dia harus membiayai ibunya yang sakit dan adiknya yang berkebutuhan khusus. Dan memiliki seorang ayah yang kabur dengan perempuan lain.
"Rin, kayaknya aku nggak bakal tega lihat Virza berhenti kerja." Kataku sesampainya di mobil. Rindani mengangguk, mengiyakan.
"Aku juga, Biv. Kita harus berbuat sesuatu, kita tidak boleh diam mengetahui semua fakta ini. Kita bicarakan besok bersama anak-anak ya. Kita harus menyusun strategi agar hati Kaizan luluh dan memaafkan Virza, entah bagaimana caranya.
Selanjutnya, aku dan Rindani saling diam, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Tapi aku yakin, kami memikirkan hal yang sama, yaitu kenyataan yang baru saja kami saksikan tentang keluarga Virza.
Ahh Virza, semoga kami dapat membantu kamu.