#29 Keputusan Farisha 2

2037 Kata
Aku baru saja selesai makan siang ketika melihat layar handphone ku menyala. Kulihat ada empat panggilan tak terjawab dari Ghulam. Aku sudah mengira, Farisha pasti tetap tak mau mengatakan keputusannya kepada Ghulam, dan Ghulam akan penasaran lalu mencoba mencari jawabannya dariku. Belum sampai handphone kutaruh, Ghulam menelpon lagi. "Apa yang dikatakan Farisha kepadamu tadi?" Tanpa basa-basi Ghulam langsung berkata demikian begitu panggilannya aku angkat. "Mengapa kau tidak tanya sendiri padanya." Jawabku sambil menimbang-nimbang, apakah aku perlu mengatakan pada Ghulam atau tidak perihal keputusan Farisha untuk resign. "Dia menangis sepanjang perjalanan dari kantormu sampai kantor kami. Dia tidak menjawab pertanyaanku satu pun. Apa keputusan yang dia ambil?" Ghulam berkata dengan nada khawatir, ketika mendengar itu, tanpa kusadari, aku ikut merasa sakit. Aku membayangkan menjadi Ala, bagaimana perasaan ku jika suamiku sangat mengkhawatirkan perempuan lain. Aku diam saja bingung menanggapi. "Haloo, Biv. Kau mendengar kata-kataku?" Ghulam berkata lagi setelah sekian lama tidak kurespon. "Aku tidak bisa mengatakannya di telepon, kau bisa menemuiku nanti setelah jam pulang kantor jika ingin tahu." Jawabku akhirnya. Ghulam terdiam beberapa saat, kemudian menjawab, "baiklah." Lalu memutus panggilan nya. Aku menghela nafas panjang. Dalam hati aku berpikir, aku tidak boleh gegabah mengatakan apapun, rencana Farisha untuk resign dari pekerjaannya adalah rencana yang baik sekalipun aku sangat kasihan kepadanya. Jika aku gegabah, bisa-bisa Ghulam menghalangi rencana itu. Mereka harus dipaksa. Aku masih ada pekerjaan sampai jam pulang kantor nanti yaitu ada satu sesi konseling dengan klien limpahan dari Pak Malik, klien itu minta ganti konselor karena menganggap Pak Malik kurang konsisten dengan perkataannya. Ya, aku memaklumi karena Pak Malik sudah cukup tua, mungkin beliau lupa dengan apa yang ia katakan. Ghulam mengajakku bertemu di sebuah restoran cepat saji di dalam mall karena dia baru saja bertemu dengan seseorang di mall itu, baiklah aku menurut saja. Sebenarnya aku bukan tipe perempuan mall, aku jarang sekali masuk ke mall kecuali menemani ibu belanja bulanan, atau Zahra yang memaksaku menemaninya kulineran di dalam mall, itu pun jarang sekali. Dan hari ini aku masuk mall lagi untuk menemui klien juga. Ghulam sudah di restoran itu ketika aku datang, dia sedang menghabiskan makanannya. Dia menawariku untuk memesan makanan, aku hanya memesan minuman es teh. "Tidak usah terburu-buru, habiskan saja dulu makananmu, aku bisa menunggu." Melihatku datang, Ghulam terlihat terburu-buru menghabiskan makanannya. Aku lihat, laki-laki ini tidak kehilangan nafsu makannya, meskipun sedang masalah yang cukup rumit. Kalau perempuan, setahuku, sudah akan kehilangan nafsu makannya. "Kenapa untuk mengatakan masalah itu kita harus bertemu?". Tanya Ghulam setelah selesai makan dan kembali dari mencuci tangan. "Sebelum aku mengatakan itu, izinkan aku bertanya terlebih dahulu." Kataku, Ghulam mengangguk. "Seberapa besar keinginan mu mempertahankan rumah tanggamu?" "Maksudnya?" Ghulam bingung, "itu sudah tak perlu kau pertanyakan lagi." "Sangat besar?" Tanyaku lagi, Ghulam mengangguk mantap. "Besar mana antara keinginanmu mempertahankan rumah tangga, atau pekerjaan?" Mendengar perkataan ku, wajah Ghulam berubah, ia terlihat malas menanggapi, dia membuang mukanya ke arah yang lain. "Tidak bisa memilih, dan aku memang tak memintamu memilih. Tapi betapa beruntungnya kamu, aku bisa tetap bekerja dan mempertahankan rumah tangga tanpa harus memilih yang satu dan melepas yang lain." Lanjutku, Ghulam menatapku tidak mengerti. "Tolong bicara dengan kalimat yang jelas, aku tidak paham apa maksudmu." Katanya kemudian sambil menyeruput es teh. "Farisha memutuskan resign dari pekerjaannya." Kataku. Ghulam melotot mendengar kalimatku. "Kamu menekannya untuk berhenti bekerja." Ghulam bertanya seperti sedang mengancamku. "Aku sama sekali tidak pernah mengancamnya, jangankan mengancam menyarankan atau memberinya ide pun tidak pernah, itu murni keputusan nya." Kataku tegas membalas tatapannya yang tajam. Ghulam hanya diam, masih sambil menatapku tajam. "Kamu harusnya terimakasih dengan keadaan ini, kamu tidak bisa memilih, kan? Farisha yang memilih. Dan dia, berjiwa besar dengan memilih itu, semua itu berat untuknya, tapi dia perempuan baik yang paham mana yang harus dipilih mana yang harus dilepas." Ghulam mendengus masih sambil membuang muka. Dari situ aku melihat, dia sedang marah, tangannya mengepal seperti ingin memukul meja. Aku mengambil nafas dalam-dalam mengatur emosi. "Farisha tidak salah apa-apa, mengapa harus dia yang berkorban?" Ghulam berkata masih tanpa menatapku. "Siapa yang harusnya berkorban?" Jawabku, Ghulam langsung melotot menatapku, dia seperti marah dengan kata-kataku "Apakah Alana dan Kavya?" Lanjutku. Ghulam menggeleng. "Harusnya aku yang keluar dari pekerjaan itu, bukan Farisha." Ghulam berdiri sepertinya dia hendak pergi. "Ya, aku yang akan mundur dari pekerjaan, Farisha tidak boleh." Ghulam pergi meninggalkanku tanpa berpamitan. "Kau mau kemana?" Tanyaku setengah berteriak, Ghulam hanya menoleh tapi tidak menjawab apapun, lalu meneruskan langkahnya. Huftt aku menghela nafas panjang, kuteguk es teh yang sedari tadi belum tersentuh yang ternyata sangat dingin. Aku mengira-ngira, apa yang dilakukan Ghulam, apakah dia akan menghalangi Farisha untuk resign, benarkah dia yang rela akan resign? Aku berjalan keluar dari mall dengan hati dipenuhi tanda tanya. Ya Tuhan...baru kali ini sejak menjadi konselor, aku terlibat dalam kasus dengan klienku sedemikian dalam. Dan sudah sedalam ini pun, aku belum menemukan benang merahnya. *** Aku kaget ketika, begitu menepikan mobil di depan pagar rumah, ada mobil lain di sana. Ya, itu mobil Ala. Sedang apa dia di sini, mengapa tidak mengabariku dulu. Dan rasa penasaran ku segera terjawab karena, begitu aku keluar dari mobil, Ala dan Kavya diantar oleh ibu keluar dari pagar rumah. Tangan Ala menarik sebuah koper, ya, itu koper yang ia gunakan untuk mewadahi bajunya ketika menginap di rumah. Dia mungkin mengambilnya kembali. Dan Kavya, begitu melihatku, dia berlarian memelukku, aku pun reflek berjongkok menyambut pelukannya. Melihat Ala dan Kavya, aku merasa tidak enak sendiri, beberapa menit yang lalu, aku bertemu Ghulam. Tapi sepertinya dan tentu saja mereka tidak tahu. Dan aku pun tidak akan memberi tahu mereka. Masalah akan semakin runyam jika Ala tahu. "Maafkan aku, Biv. Aku baru sempat mengambilnya sekarang." Kata Ala begitu aku melepas pelukan Kavya dan menyapanya. "Itu sama sekali tidak merepotkan kami, jadi tidak perlu meminta maaf." Jawabku. Aku dan Ala berpelukan sebentar sebelum akhirnya dia pamit. "Aku meminta makan malam di sini, tapi dia malah segera pulang." Kata ibu. "Maaf, Ibu. Aku sudah berjanji pada Ghulam untuk makan malam bersama. Semoga lain waktu bisa makan bersama lagi ya, Bu?" Ala memeluk ibuku. Kemudian Ala masuk mobil dan berlalu. Apakah yang terjadi di rumah Ala sedang damai-damai saja. Apakah Ghulam berpura-pura ketika di dalam rumah, padahal dia sedang bergumul dengan masalah di rumah. Ahh ini terlalu rumit. Aku dan ibu masuk rumah, ibu menuntunku langsung ke meja makan. "Cobain smoothies bikinan ibu dulu, mumpung masih fresh." Ternyata smoothies bikinan ibu sangat enak, meskipun terbuat dari melon, buah plum, seledri dan lemon tapi rasanya sangat soft dan segar. Cukup lumayan meredam pikiranku yang sedang panas. "Bu, aku tadi baru saja bertemu dengan Ghulam, tapi Alana tidak tahu." Kataku setelah gelas smoothies ku sisa separuh, ibu merapat dengaku menyimak. "Apakah ada masalah besar lagi?" Tanya ibu, aku mengangguk. "Sebenarnya bukan masalah besar, tapi cukup rumit. Ibu ingat Farisha teman kerja Ghulam?" Tanyaku pada ibu, ibu menganhy cepat. "Tadi siang, dia diantar Ghulam ke kantor, dia bilang akan resign dari pekerjaan nya demi keutuhan rumah tangga Ghulam dan Ala. Aku kasihan sekali melihatnya, tapi kukira ini keputusan yang baik. Dia berbicara ketika Ghulam di luar, Ghulam sangat penasaran apa yang terjadi karena Farisha terus menangis, Farisha tidak mau menceritakan padanya. Lalu Ghulam penasaran dan bertanya padaku, tapi aku tidak bisa memberi tahunya lewat telepon, dia pasti tidak terima dengan keputusan Farisha. Sekalipun kujelaskan secara langsung, Ghulam tetap tidak terima." "Jadi Ghulam menghalangi Farisha?" Tanya ibu begitu melihatku berhenti bercerita. "Tidak secara langsung, Bu. Dia bilang, dia yang akan resign. Tapi aku tidak tahu." Ibu diam saja meskipun aku selesai bercerita. Aku ikut diam, kami saling diam karena kukira sama-sama bingung. "Bu, apakah Ala masih pantas mempertahankan Ghulam? Apakah Ghulam pantas kita perjuangan kan? Apakah kami sebaiknya berhenti?" Aku menatap ibu dalam-dalam, kali ini, karena ibu terlanjur terlibat, aku banyak meminta pertimbangan beliau. Biasanya jarang sekali aku berbagi masalah klienku pada ibu. "Kita lanjutkan saja perjuangan sampai kenyataan mengatakan kita harus berhenti. Kita tidak tahu ujungnya bagaimana, kita jalan saja dulu." Aku mengangguk, menghabiskan sisa smoothies ku dan segera berpamit ke kamar untuk bebersih. *** Aku mendapat tugas dari Kaizan untuk survey lokasi secara virtual, mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang beberapa wilayah potensial untuk kami jadikan tempat acara. Jadi, selepas makan malam dengan ibu, aku langsung pamit masuk kamar, menyalakan laptop dan berselancar di dunia maya. Pukul delapan malam, ketika aku sedang tengah asyik menjelajahi beberapa lokasi di berbagai daerah Yogyakarta secara virtual, handphone yang kuletakkan di meja kerja bergetar-getar. Ada nama Alana berkedip-kedip di sana. "Iya, Ala?" Kataku membuka percakapan, tidak ada suara Ala hanya ada suara isakan. Mungkin Ala menangis. Beberapa saat tetap seperti itu. "Ala, apa yang terjadi? Ada yang bisa aku bantu?" "Ghulam belum pulang sampai sekarang. Padahal kami ada janji makan malam bersama." Di sela isakan, Ala berkata demikian. Aku melirik jam dinding, pukul sembilan lebih sepuluh. "Kavya akhirnya tertidur, padahal dia belum makan karena sejak sore sudah kubilangi, makannya nunggu papa." Lanjut Ala, aku belum menyela apa-apa karena sepertinya bicaranya belum tuntas. Ia sibuk, seperti terdengar membersihkan ingus. "Aku mencoba menelpon handphone nya, tidak aktif. Aku mencoba menelpon kantor, tidak ada yang mengangkat, mungkin sudah tidak ada orang di kantor. Aku telepon beberapa temannya, tidak ada yang tahu. Ada satu orang teman yang menjawab tahu, dan itu sangat menghancurkan hatiku. Dia mengatakan sesiang tadi melihat Ghulam pergi bersama Farisha." Tangis Alana langsung meledak lagi mengakhiri kalimatnya. Aku bisa menduga, Ghulam pasti sibuk menemui Farisha, atau mencari cara agar Farisha tidak jadi resign. Tapi kenapa selama itu? "Ala, maafkan aku untuk tidak bercerita tentang ini, sebenarnya mereka tadi siang ke kantorku." Kataku setelah sekian lama Ala hanya terisak-isak. "Apa?" "Farisha memutuskan resign dari pekerjaannya. Tapi Ghulam tidak tahu tentang itu. Ghulam tahu, setelah tadi sore bertemu denganku. Sepertinya, dia yang akan resign dari pekerjaannya karena….karena merasa kasihan dengan Farisha." Aku hati-hati sekali berkata-kata, aku takut kalimatku menunjukkan seolah aku membela Farisha atau menunjukkan Ghulam berat melepas Farisha sekalipun kenyataan lebih terlihat demikian. Aku hanya ingin menjaga perasaan Ala, bukan bermaksud membohongi nya. "Jadi, sekarang mereka masih bersama?" Tanya Ala begitu aku selesai bicara. "Itu yang aku tidak tahu. Apa perlu aku teleponkan Farisha untuk meminta kejelasan." "Iya, tolong ya, Biv." Ala menutup teleponnya. Aku pun menelpon Farisha. Tidak langsung diangkat, panggilan satu tidak terjawab, begitu pun panggilan dua dan tiga, tapi setelah panggilan tiga, Farisha mengirimiku sebuah pesan. "Tolong jangan ganggu aku malam ini, aku hanya meminta malam ini. Setelah itu aku akan pergi dari kehidupan Mas Ghulam selama-lamanya. Jika Alana yang meminta, sampaikan pada dia, suaminya baik-baiknya, kami hanya bicara menghabiskan malam." Aku tidak membalas pesan itu, handphone kututup dan aku bingung harus bagaimana. Aku tahu, Alana pasti menunggu jawabanku, apakah aku perlu mengatakan bahwa telepon Farisha tidak diangkat, atau aku jujur apa adanya. Ya Tuhan… Aku bingung, lalu kumatikan handphoneku, ingin tidak terlibat kasus ini. Tapi sejenak ku berpikir dan ku-nyalakan lagi karena kasus ini mau bagaimana pun adalah tanggungjawab ku. Aku keluar mencari ibu, meminta pertimbangan. Tapi sepertinya ibu sudah tidur, kamarnya sudah gelap. Aku mondar-mandir di ruang tengah kebingungan. Lalu ibu keluar. "Kenapa, Biv?" Ibu sepertinya membaca kegelisahan ku. Aku menceritakan semua pada ibu tanpa terkecuali, ibu menyimak dengan baik, meskipun sepertinya ibu sangat mengantuk. "Telepon Ala, dan katakanlah tidak usah menunggu suaminya. Suaminya sedang menyelesaikan suatu permasalahan yang lebih baik dia tidak tahu. Segera telepon Ala, karena dia pasti menunggu kabar darimu." Setelah berkata demikian, ibu izin masuk ke kamarnya lagi karena sangat mengantuk. Aku memeluk ibu dan mengucapkan terimakasih sebelum beliau masuk kamarnya. Ibu benar, kejujuran adalah keharusan, tapi menjaga perasaan tidak boleh ditinggalkan. Kutelpon Ala dan hanya satu kali terdengar nada dering langsung diangkat, ibu benar, Ala menungguku. Dia sudah tidak menangis lagi. "Bagaimana, Biv?" Sambutnya begitu telepon kami tersambung. "Kamu tidak perlu menunggu Ghulam, dia sedang menyelesaikan permasalahan dengan Farisha, malam ini permasalahan itu akan tuntas dan besok Ghulam akan seutuhnya milikmu. Percayalah padaku, mereka tidak melakukan hal yang buruk, aku yang menjamin." Aku mengatakan itu dengan data berdegup-degup mengingat konsekuensinya adalah kredibilitas ku sebagai seorang konselor, tapi aku tidak ada cara lain untuk meyakinkan Alana. Aku berdoa dalam hati semoga memang demikian adanya. Setelah aku mengatakan itu, Ala mengucapkan terimakasih dan menutup teleponnya. Aku bersyukur suaranya terdengar lebih tenang. Selanjutnya, sepanjang malam sebelum tidur, aku terus berdoa semoga kenyataan tentang Ghulam dan Farisha demikian adanya seperti yang kukatakan pada Alana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN