Restoran yang megah, di sinilah Arwana mengajak Bintang untuk makan malam, senyumnya tak pernah luntur dan Bintang kadang-kadang memerhatikannya, sehingga dia semakin khawatir karena perasaannya semakin tidak tega pula untuk membuat pria di depannya patah hati. Namun bagaimana lagi? Dia harus menyelesaikan ini semua secara cepat atau sebelum terlambat, walau pada kenyataannya memang sudah terlambat sedikit. Perbincangan pun dimulai ketika keduanya telah selesai makan, di mana deheman Arwana membuat Bintang menatap pria itu. "Dik, ada yang saya utarakan ke kamu," ucap Arwana. Jantung Bintang berdebar kencang, bukan karena jatuh hati, melainkan semakin gugup, takut, juga khawatir, beserta tidak tegaan, empat perasaan tersebut berputar dalam hatinya sehingga ia campur aduk sekarang. "Eum .

