Bab 12

814 Kata
Bab 12 Bintang merasa badmood sekarang ini, Rejav membuatnya kesal karena pria itu benar-benar tega sekali, rasa suntuk pun menghampirinya karena sang ponsel sedang nyenyaknya tertidur. "Asalamualaikum, Bintang pulang," ucapnya lesu, sang ibu menatap dengan lekat ketika dia menghampirinya. "Mak, keknya Om Rejav gak suka deh sama Bintang, mending cari yang lain aja. Dia gak cocok sama aku yang masih bersifat remaja dan gak dewasa, padahal ... aku akan cuman manja saja, tapi gak melow juga," adunya, Suratih tersenyum lembut. "Sayang, sepertinya kamu juga harus berjuang deh untuk meluluhkan hati si Rejav ini, menurut penilaian kamu, dia itu seperti apa?" "Dia cuek, dingin, pemaksa, menjengkelkan, dan ... irit bicara, juga dewasa karena umurnya sudah 28 tahun," jawab Bintang, merasa mustahil untuk meluluhkan hati pria itu. "Seharusnya, kamu gak boleh ngeluh seperti ini, pelajari sifatnya dan cari tahu apa yang dia sukai dan tidak sukai. Jika dia tipe dewasa, kamu harus turut mengimbanginya, maksudnya ... tahu kondisi kapan melakukan ini, dan kapan pula melakukan hal itu, udah paham kan?" Suratih sudah tahu dari Adib bahwa anaknya itu cenderung cuek dan dingin, jadi Bintang harus berusaha keras untuk meluluhkan hatinya, maka dari itu, Suratih harus mengajari Bintang kiat-kiat dalam mendekati seorang pria seperti Rejav ini. "Mah, tapi Bintang orangnya cerewet, jujur loh aku ini." "Dingin dan cerewet, itu memang cocok. Kalau dua-duanya dingin, maka akan hambar, tapi jika kedua-duanya cerewet pastinya hangat. Namun, jika terjadi permasalahan kemungkinan akan menyipratkan ombak yang besar. Maka dari itu, dingin-cerewet adalah hal yang pas, tinggal kamu manfaatkan hal itu agar dapat meluluhkan hatinya Rejav," balas Suratih. Bintang mengembuskan napasnya kasar, masih belum mengerti sepenuhnya akan apa yang dikatakan oleh ibunya. "Bintang lemot, Mak." "Ish kamu ini, udah Emak jelasin panjang lebar tapi otakmu itu kek udang yang lelet. Intinya, kamu cari tau apa yang dia suka dan dia tidak suka, tinggal kamu kondisiin bagaimana sikap yang harus kamu keluarin ketika bersama dia, juga tetap ingat untuk jadi diri sendiri, okey?" "Nah, kalau ginikan Bintang langsung paham, jangan kek tadi, otakku langsung kosong buat nyernainnya, Mak." "Malam-malam, lepasin otakmu dari kepala terus ajak main karet, biar dia olahraga juga," balas Suratih, kemudian meninggalkan Bintang yang melongo. "Ya Allah, gini amat yah punya emak yang gak ada akhlak kalau ngomong." Sambil mengecas hp dalam kamar, Bintang saling berbalas pesan dengan Cici, yang akhirnya ia mengundang sahabatnya untuk datang ke rumah. "Asalamualaikum." Tak lama kemudian, ketukan pintu dan salam terdengar di luar kamar, Bintang pun membukanya dengan cepat lalu menyuruh Cici untuk duduk dan mendengar curhatannya. "Ci, kasih gue saran dong. Lanjutin buat perjuangin Om Rejav atau berhenti karena sikapnya yang nampak tidak suka dengan gue, gimana?" "Kalau gue sih, mending berjuang dulu." "Gue sih mau, tapi rasa-rasanya ragu. Karena tadi di mobil, dia tuh ngaku kalau ngelakuin pendekatan karena orang tuanya, bukan murni karena dia penasaran sama gue, sad banget, kan?" Mata Bintang berkaca-kaca sekarang ini, Cici tidak tega melihatnya dan akhirnya merasa tidak suka dengan Rejav yang hampir membuat sahabatnya menangis pilu. "Ish, gue pengen banget deh dia kena karma dan narik omongannya itu. Tadi kan dia bilang semuanya karena orang tua, lo harus manfaatin orang tuanya biar kalian menikah, ngerti?" "Sumpah, Ci. Kejam banget, jadi gue sama dia menikah bukan karena cinta, tapi karena terpaksa?" Cici mengangguk. "Eits, tapi gak sampai di situ, lo jalanin aja dulu dan sebisa atau seberusaha mungkin harus narik hatinya, kalau memang udah lelah, gampang, tinggal cerai dan sad ending, deh." "Sini kepala lo, gue siram pakai air keras, kejam banget lo sama gue. Dikira nikah kek pacaran, apa? Naudzubillah, Ci. Allah benci yang namanya permainan, kita sama aja mempermainkan sumpah," balas Bintang, yang menurutnya Cici sudah gila dengan pemikiran seperti itu. "Terus, mau gimana lagi? Mending lo rebut hati calon mertua dulu, baru anaknya, biar makin lancar jaya," ujar Cici. "Iyah, gue bakal usahain senatural mungkin, karena gue gak yakin deh kalau pura-pura berakting, gue gak pandai kek lo." "Bangke, lo ngomong seolah-olah gue ahlinya bermuka dua." "Gue kira lo muka 9, Ci. Ha ha." Beberapa hari kemudian, apa yang disarankan oleh Suratih dan Cici, perlahan-lahan Bintang lakukan. Seperti sekarang ini, Rejav mengajaknya untuk datang ke rumahnya, jika ditanya soal gugup, tidak sama sekali! Karena Bintang sudah percaya diri untuk merebut hati calon mertuanya. Namun, sebelum masuk ke rumah, Rejav terlebih dahulu mengancam Bintang, "Jangan berpura-pura baik di hadapan orang tuaku, untuk merebut hatinya, paham?" "Berpura-pura, Om? Mana ada? Emangnya saya mau jadi jahat gitu? Mohon maaf, jangan samakan saya dengan tokoh-tokoh yang ada di flm sinetron, mengerti, Om?" balas Bintang, kemudian turun dari mobil tanpa perintah pria itu, karena Bintang sudah jengah mendengar pengusiran secara halusnya. "Ck, kenapa dia menjadi seberani ini?" tanya Rejav heran. Bintang belum masuk karena dirinya menunggu yang punya rumah terlebih dahulu, juga dia akan terkesan tidak sopan jika main masuk saja. Ketika melihat Rejav yang sudah ada di sampingnya, Bintang pun menekan bel tiga kali lalu mengucapkan, "Asalamualaikum."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN