Perlahan-lahan Erida menghampiri Laras yang sedang berbaring di atas brankar menunggunya menggungkapkan berita baik dengan pandangan menunduk. Erida benar-benar bingung. Ia tak tahu harus melakukan apa. Bahkan ia juga tidak tahu apakah Rifki dapat menerima janin yang ada dalam kandungannya atau justru malah menyangka janin itu adalah benih dari pria lain. Erida masih ingat betul ketika suaminya menatapnya dengan tatapan penuh kebencian dan mengatainya jalang kecil. Kejadian itu membuatnya sangat menyesal, karena dulu ia tidak bisa membuka hati untuk orang sebaik Rifki. Beberapa saat Erida masih menunduk sambil duduk di dekat Laras, mengelus perutnya yang masih datar seraya meneteskan air mata yang sudah tak terbendung. Ia sudah ikhlas dibenci Rifki, tapi ia tidak kuat kalau kelak suaminy

