Erida terus menitikan air mata di luar ruang operasi Laras, begitu pun dengan Billy, Raihan dan Rifki yang sama menunggu dengan khawatir. Kondisi Laras memang sudah sangat parah, bahkan operasi pun belum tentu berhasil. "Sabarlah, Erida. Laras pasti baik-baik saja," ujar Rifki sambil mengelus-elus punggung Erida. "Aku tidak bisa sabar, Rifki. Sahabatku sedang berjuang di sana," ujar Erida yang terus terisak-isak. "Berdoalah, semoga Tuhan memberi yang terbaik untuknya," ujar Rifki terus menyemangati. Erida tak membalas perkataan Rifki. Ia terus menggenggam kedua tangannya. Keringat dingin sudah mulai membasahi tubuhnya. Tak lama kemudian pandangannya teralihkan pada seorang pria yang sedang menggendong anaknya. Erida melangkah mendekati pria itu dan di luar dugaan, wanita itu terus mem

