Chapter 10

1630 Kata
    Nina tengah berdiri memandangi gadis kecilnya yang sedang menggambar di atas meja makan. Namun, ia bisa merasakan dari raut yang ditampakan gadis kecilnya itu ada begitu besar kekecewaan. Ia masih ingat kalau setiap malam gadis kecilnya selalu bergumam menyebut nama ayahnya. Membuat suhu tubuh gadis kecil itu menjadi panas tinggi. Gadis kecilnya demam bukan karena ia baru saja terjatuh, tetapi karena ia merasa dirinya ceroboh.     "Maafkan Aira, Ibu. Pasti Ayah kecewa kepada Aira, karena Aira tidak bisa berjalan dengan hati-hati. Ibu benar, uang kita belum cukup. Pasti uang yang Ayah dapat dipakai untuk biaya rumah sakit Aira, jadi Ayah harus bekerja lagi. Aira janji, lain kali Aira akan lebih hati-hati," ujar Aira.     Nina ingin sekali meneteskan air mata saat mendengar penuturan Aira. Namun apalah daya, ia hanya bisa menahannya dalam hati. Ia harus tegar di hadapan gadis kecil itu. Aira mengira kalau uang ayahnya habis digunakan untuk biaya rumah sakitnya. Padahal pada kenyataannya, ayahnya tidak mau membayar biaya rumah sakit itu.     "Ayah tidak kecewa kepada Aira. Ayah hanya khawatir takut Aira kenapa-napa. Ayah sangat menyayangi Aira," ujar Nina.     "Aira juga sayang Ayah," balas Aira sambil tersenyum memeluk wanita itu.     Kini satu minggu sudah setelah kejadian di mana Aira terjatuh dari tangga. Sebelumnya Aira harus menjalani rawat inap selama empat hari dan selama itu, wanita itu tak pernah meninggalkannya sendiri di rumah sakit. Hanya dia yang ia miliki.     Pernah suatu hari, ketika Aira meracau nama ayahnya dengan suhu yang begitu tinggi dari demam biasanya, wanita itu sempat mencoba menghubungi Aditya namun gagal. Pesan-pesan yang ia kirim juga tidak pernah dibalas. Wanita itu tidak habis pikir, kesalahan apa yang pernah gadis kecilnya lakukan sampai lelaki itu seolah tak peduli akan putrinya. Apa karena Aira dilahirkan dari rahim wanita yang tak pernah Aditya cintai atau entahlah ... apa alasannya, yang jelas seharusnya lelaki itu tidak memperlakukan putrinya seperti itu.     "Kau sedang menggambar apa?" Nina melirik gadis kecilnya, sementara tangannya masih berkutat memotong sayuran.     "Hanya menggambar pelangi," jawab Aira menatap Nina dengan senyum yang dipaksakan. Gadis kecil itu selalu bersikap tegar. Biasanya ia selalu membantu wanita bercadar itu memasak atau membereskan sesuatu. Namun kali ini, wanita itu melarangnya membantunya, karena kondisinya yang belum pulih benar.     "Bagus. Tapi, mengapa tanahnya ada yang berwarna biru?" tanya Nina ketika menghampiri, lalu melihat apa yang digambar oleh Aira. Pelangi dan di bawahnya terdapat bunga-bunga yang mekar.     "‘Kan habis hujan, Bu. Jadi airnya menggenang di atas tanah," jawab Aira. "Ibu pernah bilang kalau pelangi itu datang setelah hujan. Seperti senyum yang datang setelah tangis. Aira rasa tangis itu bukan tangis karena sedih, tapi tangis karena bahagia. Iya, ‘kan? Coba Ibu lihat, gara-gara hujan bunga-bunga itu menjadi mekar," celotehnya.     "Benar. Malaikat kecil Ibu memang pintar. Kau tahu, di dunia ini tidak ada tangis karena sedih," ujar Nina sambil duduk di kursi sebelah putrinya.     "Ada. Kalau jatuh, Aira suka menangis. Disuntik seperti yang dilakukan dokter di rumah sakit itu juga sakit sampai Aira menangis," sanggah Aira.     "Tidak ada, Sayang. Itu semua hanya kita yang menganggapnya sakit dan kesedihan. Tuhan membuat kita sedih dan sakit, karena Tuhan mau kita menjadi orang yang kuat agar nanti kita bisa dengan mudah menerima surga dan kenikmatannya," ujar Nina dengan gemas. Sesekali ia menyentil dagu Aira. "Kau tahu, semua orang di dunia ini ingin menangis yang sering walau itu katanya menangis karena sedih. Kenapa? Karena surga itu ternyata indah. Dan yang bisa memasukinya hanya orang-orang yang menganggap kesedihan itu sebagai kekuatannya," tambahnya.     "Kok aneh, ya, Bu. Jadi kita harus banyak-banyak menangis, ya?" tanya Aira dengan segala rasa penasarannya.     "Iya. Tapi, alangkah baiknya kita menangis hanya ketika kita bersujud kepada-Nya. Selebihnya jika kita ingin menangis, justru kita harus menahannya dan menampakkan senyuman bahwa kita kuat," jawab Nina sambil mencium puncak kepala Aira dengan sayang.     "Oh begitu, Aira mengerti." Aira mengangguk paham sambil tersenyum.     Nina lantas beranjak dari kursi yang ia duduki untuk melanjutkan kegiatannya memasak. Namun, tiba-tiba tubuhnya terasa lemas. Wanita itu pun bertopang pada sisi meja agar ia tidak jatuh.     "Ini, Ibu," ujar Aira sambil menyerahkan sehelai tisu yang ia ambil dari tempat tisu di atas meja makan. "Hidung Ibu berdarah," celetuknya dengan wajah yang panik.     Nina mengambil tisu yang diberikan Aira, lalu membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Jika tak ada siapa-siapa, terkadang ia memang membuka niqob. "Tidak apa-apa. Ibu hanya kelelahan," ujarnya.     "Pasti karena merawat Aira. Coba kalau Aira bisa membereskan rumah, pasti Ibu tidak akan kelelahan," sesal Aira dengan raut sedih.     "Nanti kalau Aira sudah besar, Aira pasti membantu Ibu. Sekarang tugas Aira hanya menjadi anak yang baik, rajin belajar dan juga mendoakan Ayah dan Ibu. Ok." Nina mengulas senyum sambil mengusap kepala Aira.     "Iya, Bu," ujar Aira sambil mengangguk.     Aktivitas ibu dan anak itu harus terhenti ketika dentang bel terdengar memanggilnya. Nina kebingungan. Tidak mungkin ada yang bisa memencet bel di dinding rumahnya.     Tidak ada siapa pun yang bisa masuk ke rumahnya, karena gerbang selalu dikunci. Adapun tamu yang hendak berkunjung ke rumahnya pasti memencet bel yang ada di dekat gerbang. Tapi, suara bel ini ... suara bel rumah dan hanya bisa dibunyikan oleh ... Aditya. Tapi, bagaimana mungkin pria itu datang kemari? Ini bukan jadwalnya berkunjung.     Aira mengernyit. "Ibu, kenapa Ibu diam saja? Apa Ibu masih sakit? Biar Aira yang membuka pintu, ya."     "Ibu tidak sakit, Sayang. Sebentar, Ibu bukakan pintunya dulu," balas Nina seraya memasang niqob yang menggantung di lehernya.      Menarik langkah seribu, Nina berjalan ke arah pintu dengan hati-hati. Ketakutan seolah sedang menggerogotinya, takut ada orang jahat yang masuk ke rumahnya.     "Cepat buka pintunya!" teriak seseorang dari balik pintu. Suara seseorang itu tentu tidak asing lagi.     Nina segera membuka pintu, lantas pandangannya jatuh pada netra abu-abu Aditya yang sedang berdiri dan menatapnya dengan wajah dingin. Sedangkan wanita itu hanya bisa mematung tak percaya.     "Maaf," cicit Nina seraya menunduk.     "Selalu saja begini. Kau selalu membuatku menunggu," geram Aditya sambil melangkah masuk.     "Mau aku buatkan kopi, teh, atau apa?" tawar Nina.     "Aku tidak akan lama. Ke mana anak itu?" balas Aditya. Ia bahkan tidak duduk.     "Dia sedang menggambar di dapur," jawab Nina     "Cepat panggilkan dia," perintah Aditya.     Belum juga Nina ke dapur, tiba-tiba Aira sudah datang dengan menjinjing kertas gambar dan krayonnya.     Aira tersenyum bahagia ketika ia melihat ayahnya datang. Ingin sekali ia berlari, namun itu ia urungkan. Ia tidak ingin terjatuh di hadapan ayahnya lagi. Ia tidak ingin ceroboh.     "Ayah datang," ujar Aira dengan langkah tenang menghampiri Aditya.     Aditya tidak menjawab, malah ia memalingkan mukanya. "Cepat kemasi pakaian kalian. Malam ini kalian akan menginap di rumah Ibu," perintahnya dengan nada mengintimidasi.     "Kita akan menginap di rumah Grandma. Asyik!" pekik Aira kegirangan.     Aditya memberikan kantong yang dibawanya dengan wajah datar pada putrinya. "Ini untukmu."     "Apa ini?" tanya Aira bingung. Ia kemudian duduk di lantai dan menaruh gambar dan krayonnya di atas meja tamu.     "Ini gambarmu?" tanya Aditya sambil mengambil gambar yang Aira letakan, sementara putrinya hanya mengangguk kemudian fokus pada kantong yang diberikan Aditya. "Jelek! Kenapa kau hanya bisa membuat coretan seperti ini? Menghabiskan kertas dan krayon saja," ejeknya retoris sambil meletakkan gambar tadi di atas meja.     Hati Aira terluka, kristal bening kini saling berlomba menuntut segera dikeluarkan kala mendengar penuturan sang ayah, padahal tadi ibunya memuji gambarnya bagus. Namun, ia teringat ucapan ibunya tadi di dapur. Ia harus menahannya. Ia harus berpikir positif, mungkin ayahnya ingin agar ia bisa lebih baik lagi dan tidak cepat puas akan apa yang dicapainya.     Untuk beberapa saat Aira bergeming. Perlahan ia mengembuskan napas panjang, lalu memilih membuka sebuah kotak yang dibungkus kertas kado yang ada di dalam kantong tadi, dilihatnya itu adalah sebuah gaun yang sangat indah. Gadis kecil itu tersenyum bahagia. Ibunya benar, ayahnya sangat menyayanginya.     "Terima kasih, Ayah," ujar Aira dengan posisi kedua tangan yang sudah memeluk Aditya secara spontan. Kini ia seperti baru merasakan hadirnya pelangi setelah hujan.     "Ayo, cepat pakai. Aku ingin melihatnya. Kalau itu kebesaran atau kekecilan aku akan menukarnya," ujar Aditya tanpa mau menatap wajah putrinya yang berbinar terang. "Dan kau ... kenapa masih berdiri di situ? Cepat kemasi pakaian kalian!" perintahnya kepada Nina.     Nina tersentak, kemudian segera melakukan perintah Aditya dengan tatapan bingung. Pria yang di depannya memberikan Aira hadiah yang sebelumnya tidak pernah pria itu lakukan. Bahkan untuk kado ulang tahun malaikat kecilnya saja, wanita itu yang beli dengan mengatasnamakan Aditya.     "Bisa Ayah bantu ritsletingkan," pinta Aira. Ia sudah memakai gaunnya, tapi ia tidak bisa meraih ritsleting yang ada di punggungnya.     "Tunggu saja ibumu," tolak Aditya.     "Tapi, Ibu sedang berkemas," ujar Aira.     "Ya sudah. Sini." Dengan penuh keterpaksaan Aditya menritsletingkan gaun Aira.     "Cukup, Ayah. Ini terlihat sangat bagus. Apa aku cantik memakainya?" tanya Aira sambil berputar-putar.     "Tanpa gaun itu kau memang sudah cantik," puji Aditya tanpa sadar. Seketika Aira kembali memeluk erat dirinya yang sedang berlutut, karena tadi memasangkan ritsleting putrinya itu. "Lepaskan, Aira. Kau membuatku tak bisa bernapas," ujarnya tersengal-sengal.     "Maaf," sesal Aira sambil melepaskan pelukannya.     "Kau sama saja seperti ibumu. Hanya bisa meminta maaf, tapi tak pernah membuatku senang," ketus Aditya.     "Terima kasih, Ayah. Pasti ini sangat mahal." Senyum terbit di bibir mungil merah Aira. Senyum yang membuat Aditya tergila-gila selama ini.     "Ya. Sini, kita copot lagi. Nanti di pesta kau bisa memakainya lagi," ujar Aditya dengan nada yang lebih bersahabat. Aira pun mengangguk sambil tersenyum, lalu berdiri membelakangi ayahnya. Membiarkan ayahnya membuka ritsletingnya, lalu melipat dan menyimpannya kembali ke dalam kotak.     Tak beberapa lama kemudian, Nina datang dengan tas berisi pakaiannya dan pakaian Aira yang disatukan, lengkap dengan perlengkapan lain termasuk buku dongeng Aira, karena setiap hari anak itu selalu harus dibacakan dongeng. Namun sebelumnya ia pergi ke dapur untuk membereskan potongan sayur yang tadi hendak ia masak.     Aditya ikut ke dapur, setelah mengambil jus di dalam kulkas, ia duduk di kursi ruang makan. Sepersekian detik selanjutnya ia mengernyit. "Darah siapa ini?" tanyanya.     "Itu darah Ibu," celetuk Aira yang ikut menemani Aditya dan ibunya ke dapur.     "Darah apa? Tanganmu terluka?" tanya Aditya dengan tatapan menghunus.     "Hanya luka kecil biasa," jawab Nina sambil meraih tisu bekas mimisannya tadi.      Tak ingin memakan waktu, setelah itu mereka semua pun pergi ke rumah orangtua Aditya. Di sepanjang perjalanan, Aira hanya mengunci mulut sambil sesekali melihat pemandangan dari balik jendela mobil. Dalam hati ia bingung kenapa ibunya tidak jujur itu darah dari hidung ibunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN