Chapter 4

2252 Kata
    "Ayo, Adit. Jadi, di mana kita akan melakukannya? Di hotel, apartment-mu, apartment-ku, atau di mana? Kita tidak mungkin melakukannya di rumah sakit ini, ‘kan?" tanya seorang wanita yang bergelayut manja di lengan Aditya.     "Kau masih di sini?" Bukannya menjawab, Aditya malah balik bertanya. Pria itu kira wanita itu sudah pergi.     "Tentu saja. Aku menunggumu. Jadi, bagaimana jawabannya?" tanya balik wanita itu yang masih bergelayut manja.     Aditya menepis lengan tangan wanita itu dengan kasar—kesal. "Pergilah, Celina!" perintahnya. Kaki panjangnya melangkah pergi meninggalkan wanita itu seorang diri.     Seketika wajah wanita itu memerah tanda emosinya naik. Ia kemudian berlari mengejar Aditya.     "Mengapa kau seperti ini, huh?! Kau sendiri yang menyuruhku datang. Aku bahkan rela meninggalkan pemotretanku di Milan, karena kau!" teriak wanita yang bernama Celina.     "Aku sudah mentransfer uang untuk mengganti tiket pulang pergimu. Sekarang kau bisa kembali ke Milan," ujar Aditya yang mencoba menahan emosi. Ia lebih mirip menampakkan wajah lemah dan frustasi.     "Kukira kita akan ...," ujar Celina terhenti tak kalah frustasi.     "Bercinta?" sela Aditya seraya terkekeh. "Jangan bermimpi Celina. Kau tahu aturannya, bukan? Dokter bilang mungkin kau sehat, tapi ada jejak pria lain di tubuhmu. Itu bahkan sangat baru. Dan kau tahu aku tidak pernah menyukai itu. Sekarang pergilah! Aku bahkan telah berbaik hati kepadamu. Seharusnya aku tidak perlu mengganti tiketmu," tambahnya.     "Tapi, Adit," sanggah Celina terbata-bata.     "Pergilah! Sebelum aku berubah pikiran untuk menarik kembali uangnya," pinta Aditya. Tanpa memedulikan Celina, ia berlalu begitu saja, meninggalkan wanita yang sedang menahan kecewa.     ***     Dengan langkah gontai Aditya merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Sesekali ia mengusap wajahnya gusar. Kantung mata yang menghitam menandakan ia sudah tidak tidur selama beberapa hari.     Sudah tiga hari Aditya tidak tidur. Apa lagi kalau bukan karena mencari ibu kandung Aira. Andai ia ingat, ia mungkin dengan mudah menyeleksi wanita siapa saja yang ia tiduri dengan menghitung usia kandungan sampai usia Aira saat ini, termasuk menghitung kemungkinan bayinya lahir prematur. Tapi sayang, ia benar-benar tidak ingat wanita mana yang ia tiduri di bulan-bulan itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk menghubungi semua wanita yang pernah menemaninya 1,5 tahun ke belakang.     Celina adalah wanita kelima yang Aditya perintahkan ke rumah sakit. Bukan untuk memeriksa apakah wanita itu sehat atau tidak, lalu bercinta dengannya. Tapi, pria itu hanya ingin mengetahui apakah wanita itu pernah melahirkan enam bulan terakhir ini atau tidak. Untuk melancarkan keingintahuannya, pria itu tentu tidak terang-terangan pada setiap wanita kalau mereka sebenarnya hanya diperiksa apakah sudah melahirkan atau belum, termasuk apakah caesar atau normal.     Pikiran Aditya menerawang jauh, ia masih mencoba mengingat-ingat kembali siapa tahu ada wanita yang belum ia hubungi, kemudian mengingat percakapannya tadi di rumah sakit sebelum bertemu dengan Celina.     "Maafkan aku, Adit. Andai saja aku tidak membuang data-data wanitamu yang pernah diperiksa di rumah sakit ini, tentu setidaknya masih ada remang-remang. Memangnya kau benar-benar tidak ingat sama sekali?" tanya Wildan, dokter sekaligus pemilik rumah sakit tempat Aditya memeriksakan semua wanitanya sebelum mereka melangkah ke tahap yang lebih jauh.     Wildan adalah sahabat Aditya. Bisa dibilang ia adalah sahabat Aditya paling lama, karena mereka sudah saling mengenal sejak Sekolah Dasar. Di antara keempat sahabat Aditya, hanya pria itulah yang paling jernih pikirannya. Namun bukan berarti ia tidak b******k seperti yang lainnya. Hanya saja sekarang ia sudah bertaubat dan berencana untuk menikah.     Enam tahun yang lalu ibu Wildan meninggal, karena menderita kanker servic. Ibu Wildan adalah wanita baik-baik. Siapa lagi kalau bukan ayah Wildan sendiri yang menularinya, karena sering berganti pasangan. Ingin sekali Wildan membunuh ayahnya untuk melampiaskan kekesalannya. Namun sayang, ayahnya malah sudah meninggal terlebih dahulu satu bulan sebelum ibu Wildan meninggal. Akhirnya, ia hanya mampu menjual warisan perusahaan ayahnya dan membeli rumah sakit yang kebetulan sedang kolaps.     Ketika sudah berganti kepemilikan, rumah sakit itu Wildan renovasi besar-besaran dan membuatnya menjadi salah satu rumah sakit swasta terbaik di Indonesia. Itu semua demi almarhumah ibunya. Ia ingin menyelamatkan wanita-wanita tak bersalah seperti ibunya yang sakit, karena kebiadaban lelaki.     Namun begitu, tak ada satu pun di antara sahabat Wildan yang ikut taubat seperti dirinya. Mereka seolah tak tersentuh dengan kisah ibunya. Mereka mengatakan semua itu takdir dan tak bisa berlaku untuk umum. Pria itu hanya berdoa dalam hati supaya sahabat-sahabatnya itu kelak bisa kembali ke jalan yang benar. Mungkin Tuhan sudah mempersiapkan jalan mereka masing-masing. Ia mungkin sadar, karena ibunya. Romi kini mulai sadar, karena anak dan istrinya. Kini, pria itu bisa melihat sahabatnya, Aditya, akan menyesalinya setelah kehadiran Aira.     Ya ... Aditya menceritakan tentang Aira kepada Wildan—hanya pria itu—satu-satunya sahabat yang bisa ia percaya. Selama ini Wildan telah membuktikan kesetiaannya bahwa selama ini ia merahasiakan kebiasaannya—memeriksa wanitanya terlebih dahulu sebelum bercinta—dari keluarga Aditya, sehingga tak ada satu pun anggota keluarganya yang mengetahui kelakuan buruknya itu. Lagi pula, Aditya juga menaruh saham sebesar lima belas persen di rumah sakit itu. Ia juga menyuruh sahabatnya itu merahasiakan hal ini dari siapa pun, termasuk kepada sahabat-sahabat lainnya.     "Tidak apa-apa, Dan. Terima kasih sudah membantuku," ujar Aditya menghela napas.     "Mungkin kini sudah saatnya kau taubat. Ingatlah, anakmu perempuan. Kau tidak ingin kelak ia mendapat karma, karena perbuatanmu itu, ‘kan?" tanya Wildan sambil menatap tajam Aditya.     "Kalau begitu, aku ingin dia mati agar kelak ia tidak mendapat karma dariku dan juga karma ibunya tentunya, karena jika ibunya wanita baik-baik ia tidak mungkin lahir tanpa status. Bisakah kau menyuntikannya racun agar dia mati? Kalau kau yang melakukannya tentu tidak ada pihak yang tahu kalau ia mati, karena keracunan," pinta Aditya sambil mendekatkan wajahnya kehadapan Wildan yang tak kalah tajam.     "Istt ... jangan pernah menyuruhku seperti itu. Kau akan menyesalinya seumur hidupmu," sanggah Wildan. Pria itu terperangah mendengar usulan gila sahabatnya."Baiklah, katakan saja jika aku berhasil melakukannya dengan sangat rapi. Tapi, tidak menutup kemungkinan kau tidak akan pernah mempunyai anak lagi. Kau akan hidup menua tanpa ada anak yang menyayangimu di sampingmu. Kau mau?" tanyanya.     "Ah ... kau sama saja memusingkan kepalaku," ujar Aditya sambil mengacak-ngacak rambutnya, mengerang frustasi.     Wildan terkekeh. "Terima saja Aditya Kafka Akyas yang tampan, kaya, cerdas namun pelupa dan juga beruntung karena telah diberi kepercayaan oleh Tuhan dengan hadirnya bidadari kecil!" ujarnya dengan nada meledek.     Aditya tidak membalas perkataan Wildan. Kalau Wildan bukan sahabatnya, pasti ia sudah menyumpal mulut sahabatnya, memberikan pukulan-pukulan, atau bahkan melemparnya dari kaca jendela rumah sakit.     ***     Bunyi nyaring dari dering benda pipih berbentuk persegi panjang membangunkan Aditya, karena tak sengaja terlelap sehabis dari rumah sakit tadi.     "Halo!" sapa Aditya dengan suara berat khas bangun tidur.     "Assalamu'alaikum, Aditya," balas ibu Aditya di seberang line.     "Wa'alaikumussalam, Bu," balas Aditya. "Ada apa, Bu?" tanyanya.     "Apa kau sudah menemukan wanita itu?" Bukannya menjawab pertanyaan putranya, ibu Aditya malah balik bertanya tak sabaran.     "Belum. Aku sudah berusaha, tapi hasilnya nihil," jawab Aditya kecewa.     "Apa kau sudah memastikannya? Memangnya berapa banyak wanita yang kau tiduri sampai kau tak bisa menemukannya?" tanya ibu Aditya kesal.     "Aku tidak tahu, Bu. Kebanyakan aku tidak sadar ketika melakukannya," jawab Aditya dengan santainya.     "Adit!!!" pekik ibu Aditya. Seketika Aditya menjauhkan handphone-nya dari telinganya. "Kalau Ibu ada di sana, Ibu akan menamparmu lagi," tambahnya.     "Maaf, Bu. Aku menyesal," lirih Aditya menyesali perbuatan yang kini telah memporak-porandakan ketenangan hidupnya.     "Dengar, ayahmu dan Aira sudah boleh pulang. Sekarang kami sedang bersiap-siap. Kau tidak usah menjemput kami. Kami akan langsung ke rumahmu," ujar ibu Aditya dengan nada tinggi.     "Baiklah. Hati-hati, Bu. Salam untuk Ayah dan malaikat kecilku, Aira," ujar Aditya dengan nada rendah, menghormati malaikat yang sudah melahirkannya ke dunia ini.     ***     Sementara itu, ayah dan ibu Aditya telah mendarat, kini mereka sedang berada di perjalanan menuju rumah Aditya. Sebelumnya mereka terlebih dulu membeli perlengkapan bayi untuk Aira, sehingga mereka sedikit terlambat sampai di rumah putranya.     "Apa kau yakin dengan keputusanmu itu?" tanya ibu Aditya dalam mobil sambil menggendong Aira yang sedang terlelap dengan damai dalam buaiannya.     "Tentu saja. Aku tidak akan salah mengambil keputusan," jawab ayah Aditya tegas.     "Kau bilang menyayangi Aira. Tapi, mengapa kau menyerahkan Aira pada Adit?" tanya ibu Aditya bingung. "Kau tahu, Adit pasti tidak akan bisa menjaganya," tambahnya.     "Dia ayahnya. Dia yang harus menjaganya. Walau aku menyayangi Aira melebihi rasa sayangku pada putraku sendiri, tapi tetap saja Aditlah yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Lagi pula bukankah dia juga menyayangi putrinya? Kita akan melihat sejauh mana dia menyayangi dan memperlakukan putrinya itu," jawab ayah Aditya tersenyum miring.     Ibu Aditya hanya bisa menatap dan mengelus surai lembut Aira. Sejujurnya, ia tidak ingin membiarkan cucu perempuannya tinggal dengan Aditya. Bagaimana cara putranya mengurus Aira, sedangkan putranya itu tidak bisa menjaga dirinya sendiri? Namun, perkataan suaminya itu benar, Aditya harus mampu menjaga dan menyayangi putrinya.     Tak beberapa lama kemudian  mereka pun sampai di kediaman Aditya. Suara klakson mobil membuat sang pemilik rumah segera membuka pintu seraya menyambut kedatangan kedua orangtuanya dan tentu saja Aira.     "Syukurlah kalian sudah sampai. Ayo Ayah, Ayah harus istirahat," ajak Aditya mempersilakan masuk. Namun matanya membelalak, melihat box tempat tidur bayi dan segala peralatan bayi dikeluarkan dari mobil ayahnya itu.     Apa-apaan ini? tanya Aditya dalam hati.     "Di mana saya harus menaruh semua ini, Tuan?" tanya seorang penjaga pada ayah Aditya.     "Taruh saja di kamar Aditya. Biar nanti ibunya yang bereskan," jawab ayah Aditya. Dari wajahnya menampakkan wajah kesal, marah dan dingin.     Aditya menautkan kedua alisnya. "Kamarku?"     "Tentu saja. Kau kira dia akan tidur di mana? Jika dia beda kamar, kau akan kesulitan menjaganya ketika ia bangun tengah malam," sahut ayah Aditya.     Oh, Aira. Kau benar-benar menang saat ini. Terima kasih Tuhan, hukumanmu sangat berhasil, gerutu Aditya dalam hati. Sabar, Dit. Sabar, tambahnya.     "Kalian jangan berdiri saja. Ayo masuk!" ujar ibu Aditya yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah. Yang merasa dipanggil pun masuk.     "Ayah, mau minum apa?" tanya Aditya canggung. Sedari tadi ayahnya hanya diam dan menatapnya dingin. Sementara ibunya berada di kamar Aditya untuk mengatur di mana perlengkapan Aira.     "Tidak usah basa-basi. Lagi pula Ayah bisa mengambilnya sendiri," jawab ayah Aditya ketus. "Coba ceritakan, bagaimana hal ini terjadi? Sejak kapan kau bermain dengan wanita? Dan mengapa tadi di telepon kau bilang belum menemukan ibu Aira?" tanyanya dengan nada tinggi. Sebenarnya itu hanya gerutunya saja untuk menghajar putranya itu.     Aditya tertunduk lemah. Orangtua adalah kelemahannya. Bukan hanya karena mereka adalah orang yang harus ia hormati, melainkan ayahnya itu pasti dengan sekejap bisa meluluhlantakan harta yang ia punya walau itu hasil kerja kerasnya sendiri.     "Maaf!" cicit Aditya.     "Maaf, kau bilang?! Dasar anak sialan!" teriak ayah Aditya sambil melayangkan tangannya pada pipi mulus Aditya. Dilihatnya Aditya hanya meringis sambil mengelus pipinya yang merah. Dalam hati ayah Aditya ingin tertawa saat melihat ekspresi putranya yang kesakitan. Astaga, seharusnya aku jadi artis saja, karena bisa ber-acting antagonis seperti ini. Kena kau, Aditya, batinnya.     "Aku sudah berusaha mencarinya, tapi sia-sia," ujar Aditya dengan pandangan menunduk.     "Jawab pertanyaanku, Adit. Sejak kapan kau mulai bermain wanita?!" tanya ayah Aditya. Kali ini, ia sambil menggebrak meja.     "Sejak dua setengah tahun terakhir," jawab Aditya. Kali ini pria itu jujur. Namun, tidak sepenuhnya benar, karena tahun-tahun sebelumnya ia dan wanitanya hanya sampai pada tahap saling menyentuh.     Bunyi nyaring dari tangan yang dilayangkan itu harus kembali mendarat di pipi Aditya. Sungguh Aditya yang malang.     "Pantas saja kau tidak tahu wanita mana saja yang kau tiduri!" bentak ayah Aditya sambil menggeleng tak percaya. Putra bungsunya ternyata sudah lama membohonginya.     "Aku menyesal. Aku tidak akan mengulanginya lagi," ujar Aditya sambil mengepalkan tangannya—menahan panas yang menjalar di pipinya akibat tamparan tadi.     "Tentu saja kau harus menyesal. Apalagi anakmu perempuan. Semoga Tuhan tidak menaruh karma padanya," balas ayah Aditya.     Karma, karma dan karma. Hari ini, sudah dua orang yang menyebut kata itu di depan Aditya.     Benarkah Aira akan mendapat karma, karena diriku? Semoga saja tidak, karena itu bukan merugikannya saja, tapi juga mencoreng nama baikku, pikir Aditya.     ***     Setelah satu jam ibu Aditya menata kamar Aditya. Akhirnya ibunya bergabung dalam pembicaraan putra keempatnya dengan ayahnya.     "Kau benar sudah mencarinya dengan benar?" tanya ibu Aditya.     Aditya mengangguk. "Benar, Bu. Aku tidak bohong. Aku bahkan tidak tidur berhari-hari, karena mencarinya."     Dari wajah Aditya, wanita paruh baya itu bisa melihat kalau tidak ada kebohongan pada diri putranya.     "Baiklah kalau begitu. Jadi, kau harus menjaga Aira sendiri. Setiap hari Bu Farida akan bekerja seperti biasa dan pulang seperti biasa. Setelah kau pulang, maka tugasnya dialihkan kepadamu yang harus menjaga Aira sampai pagi. Kau mengerti?" tanya ibu Aditya. Dilihatnya Aditya seperti tidak mau. "Jangan membantah! Kau yang berbuat, kau juga yang harus bertanggung jawab," perintahnya mutlak.     "Satu hal lagi. Kau tahu, Ayah sakit-sakitan. Maka daripada kau nanti kaget saat Ayah sudah meninggal, jadi Ayah akan memberitahumu sekarang kalau seluruh bagian warisan untukmu telah dialihkan kepada putrimu, Aira," ujar ayah Aditya. Lagi-lagi Aditya hanya membelalakkan matanya tak percaya. "Kenapa? Kau tidak suka? Bukankah kalau kau meninggal, maka hartamu akan diwariskan kepada anakmu?"     "Bukan begitu, Ayah. Hanya saja Ayah tidak boleh berkata seperti itu. Ayah pasti sehat dan panjang umur. Ayah pasti akan menyaksikan cucu-cucu Ayah, termasuk Aira tumbuh besar dan menikah," sanggah Aditya bersilat lidah seraya menampakkan wajah yang sedih. Pria itu benar-benar seorang manipulator yang ulung.     "Syukurlah kalau kau tidak keberatan," ujar ayah Aditya. Dalam hati ia tahu kalau putranya itu tidak akan menerima keputusannya.     Aditya hanya bisa menerima dengan penuh keterpaksaan. Sebenarnya ia masih ragu, siapa sebenarnya ibu Aira. Ada dua wanita lagi yang setahunya belum diperiksa. Hanggini, wanita itu diberitakan meninggal enam bulan yang lalu. Entah karena alasan apa, keluarganya menutupi kematiannya itu. Aditya ingin sekali mencocokan DNA Hanggini dengan Aira, tapi pastinya keluarga Hanggini tidak memperbolehkan makam wanita itu dibongkar. Dan wanita satu lagi, ia adalah Amber. Wanita itu telah menikah tepat sehari setelah Aira dibuang di depan rumah Aditya. Andai Aditya bisa menyusul Amber, tapi wanita itu kini berada di luar negeri tinggal bersama suaminya itu. Sialnya, ia tidak tahu di negara mana tepatnya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN